Amplop itu kop kejaksaan, bukan bunga, bukan paman. Sinta tidak buka. Dodi dan Intan datang bersama, resmi, ruang kecil. Bukan panggilan saksi. Bukan vonis. Penetapan jadwal: requisitoir jaksa, dua minggu; pembelaan menyusul; vonis tidak di tanggal itu. Tangga baru. Sidang yang ramai di koran akan makin lapar; ini masih pintu, hanya lebih dekat ke palu daripada saksi.
'Ibu tidak datang ke requisitoir sebagai tontonan,' kata Intan. 'Datang kalau dipanggil. Kalau tidak, gedung. Jangan jadi penonton tuntutan. Penonton naskah. Dodi jaga kop perusahaan. Saya jaga cerai. Ibu jaga tidak campur dan jaga badan. Enam jam. Telur. Ini bukan selesai. Ini tanggal. Tanggal bukan palu.' Nirwa duduk, kertas di meja, tidak di dada. Dada keran nanti. 'Saya tidak penonton. Saya tidak jaksa. Saya tidak rilis segera. Segera judul. Dua minggu requisitoir. Vonis antri di belakang itu. Saya papan.' Dodi: 'IR diam. Kalau analis tanya tanggal, proses hukum, tidak berkomentar vonis. Vonis milik hakim. Hakim belum. Arman akan tanam "CEO mengatur kalender". Kita tidak bantah atur. Bantah atur adalah judul. Diam.' Nirwa: 'Diam. Kertas. Tidak pesta tanggal. Tidak belas. Tidak klarifikasi rapi.' Sinta dipanggil untuk jadwal — tahu tanggal, bukan untuk rilis. Pucat, kerja. Nirwa menatap kertas lama, tidak membuka lagi. Sekali cukup. Dua kali duet dengan lapar palu. Lapar boleh di keran. Tidak di lobi.
Ia ke jendela ruang kecil, kota siang, napas empat. Dua minggu. Tangga. Ia sudah naik tangga cerai lagi. Yang ini negara, lebih dekat. Dekat bukan alasan pecah. Pecah judul. Judul Arman. Ia pilih kertas. Dodi merapikan salinan, Intan tinggal sebentar. 'Ibu makan siang.' Nirwa: 'Telur nanti. Roti sekarang kalau ada.' Sinta roti di laci, bukan bunga. Nirwa makan dua suap di ruang kecil, cuci tangan. Kolom. Badan. Tanggal kerja. Kerja bukan pesta. Pesta ditolak sejak karangan di lobi. Lobi tidak bunga. Ruang ini tidak tepuk. Tepuk naskah. Naskah senjata. Senjata ditolak. Antrian diterima. Diterima. Satu kata. Cukup untuk pagi.
Siang Nirwa ke papan delay, sengaja, sebelum portal menebak amplop. Palet. Lestari kaku, lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'tanggal sudah dekat jadi aman'. 'Tanggal bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Jangan longgar. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk. IR belum ditanya, sudah siaga diam. Wiryo belum akun — masih siang. Nirwa pantry, air, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Rahmi pesan, entah dari mana tahu: *Jangan jadi jaksa. Jangan merayakan tanggal. Telur. Aku jaga dewan. Dessy diam. Jangan telepon.* Nirwa: *Tanggal. Bukan palu. Telur.* Satu dada, tiga jalur, sekarang tanggal keempat di kepala: cerai berikut, requisitoir, vonis yang tidak tertulis, covenant. Ia tulis di kertas pribadi, bukan rilis: empat, tiga kop plus hakim. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam sudah mati.
Sore portal bocor tanggal requisitoir, sumber dekat. Arman tanam 'kalender diatur'. Intan satu kalimat: proses hukum, tidak berkomentar. Nirwa tidak tambah. Pasar goyang singkat, datar. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Lestari angka. Nirwa delay. Lorong menempel. Tidak meratakan. Bunga tidak. Tanggal bukan pesta. Kepala ritel menelan berita, pilih palet. Nirwa minta forecast. Ketukan. Sinta tahan tiga wawancara 'kapan vonis'. Tolak. Kapan milik hakim. Hakim belum. Wiryo, menjelang sore, dua baris hormat: hukum, suasana, pengawasan. Nirwa baca sekali, folder, tidak duet. Dessy diam. Paman belum surat baru. Belas sudah ditolak. Tanggal tidak mengubah tolakan jadi lunak. Lunak rumah tua. Rumah tua tidak. Ia ke pantry, gelas, angguk, pergi. Lutut menurut. Enam jam akan ditagih malam. Tagih ia bayar, pelan, tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal dua kali. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Tanggal kerja. Bukan pesta. Bukan palu. Antri. Kering. Nanti. Sekarang truk.
Sore, sebelum pulang, Nirwa ke delay lagi sampai senja. Jendela. Kota. Tanggal di kepala. Tanggal bukan di rilis. Rilis diam. Diam kerja. Kerja tahta. Tahta masih dudukannya, bukan karena palu dekat, karena wewenang tidak ia sewa. Sewa ditolak dua kali. Ditolak ia jaga dengan angka, bukan dengan muka lapar palu. Lapar biar koran. Koran meja mereka. Mejanya palet. Palet noda. Noda ia pilih. Pilih cukup untuk senja. Tidak damai. Damai antri. Antri requisitoir. Requisitoir bukan vonis. Vonis hakim. Hakim belum.
Malam Intan di telepon, Nirwa dapur, telur, teh. 'Dua minggu. Ibu tidak nonton requisitoir. Saya jaga. Ibu tidur enam. Tagihan Rahmi, tagihan saya. Vonis tidak di kertas ini. Vonis antri. Antri bukan jauh seperti dulu. Antri kelihatan. Kelihatan bukan jatuh. Jatuh hakim. Hakim banyak. Banyak nanti.' Nirwa: 'Enam. Saya coba. Saya tidak rujuk. Saya tidak belas. Saya tidak sewa. Saya tidak penonton. Empat. Tanggal bukan undangan pesta. Tanggal kerja.' Tutup. Ia masak telur pelan. Makan berdiri, lalu duduk. Cuci. Tidak TV. TV kalender jaksa. Mejanya piring. Piring jujur. Kunci. Laci cincin. Daftar: *requisitoir dua minggu; vonis belum; spin atur kalender; cerai antri; Roni angin; capek.* Enam baris. Cliff yang tidak meledak di dewan: palu hakim sudah punya tangga yang kelihatan, dan badan harus cukup untuk tidak jadi naskah lapar atau naskah belas. Nirwa Tanjung tidak mengira menang. Ia mengira urutan. Urutan akan ia bawa ke papan, ke gudang yang baca truk, ke Lestari yang kaku, ke keran. Ia matikan lampu. Rumah besar. Ratu di kamar tamu. Bukan pesta. Bukan vonis. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: tanggal, telur, tahta yang tidak ia sewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak balkon. Tidak judul segera. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Tidak damai. Damai antri di belakang palu yang belum jatuh. Palu itu tangga. Tangga ia tidak naiki sebagai penonton. Tidak. Satu kata. Cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Angka. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Tanggal bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Palet. Kerja. Requisitoir antri. Vonis antri di belakang. Belakang bukan jatuh. Jatuh hakim. Hakim belum. Kerja. Cukup.