Sidang cerai dalam tempo sebulan itu datang Kamis. Pintu belakang. Radio mati. Intan. Setelan hitam. Nirwa makan telur pagi, air, kopi setengah — tangan. Keran lima menit. Cermin: 'Kering. Bukan belas. Bukan ramai pidana. Bukan notulen dewan. Forum ini. Langkah.' Mobil. Intan tidak mengisi sunyi. Sunyi belas yang Nirwa terima. Macet. Debu. Ia hitung napas. Badan lebih utuh dari minggu lutut. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk tangga ini. Tidak cukup untuk damai.
Mobil. Intan menyetel AC, tidak radio. Nirwa menatap kaca spion sekali, muka utuh, lalu tidak lagi. Utuh cukup. Menang belum. Menang kata portal. Hari ini hanya datang, kering, forum ini. Forum itu biar jaksa. Jaksa bukan Intan. Intan cerai. Beda kop. Beda sabun. Sabun ia pakai sebelum selasar. Debu macet di sepatu. Sepatu ia ketuk di basement pengadilan, pelan, bukan ritual. Ritual naskah. Naskah ditolak. Langkah.
Selasar cerai lebih sepi daripada selasar pidana, tetap bersuara. Gilang ada, Arman, kamera lebih sedikit. Nirwa tidak menoleh. Wartawan sayang, dingin, Karina, dampingan. Intan: tidak ada pernyataan. Pintu. Duduk. Napas empat. Kursi kayu. AC dingin. Hakim. Arman panjang: suasana pidana ramai, saksi bank, nama terkait, 'istri yang merampas panggung lalu merampas tempo'. Intan pendek: penetapan tunda sudah ditolak; forum pidana bukan alat cerai; ramai bukan alasan campur; kelengkapan akta sesuai, tinggal di rumah, kunci ganti, tidak klaim kotor. Nirwa ditanya, singkat. 'Saya tidak menuntut rekening yang sudah di penyidik. Saya menuntut putusnya ikatan dan pembagian yang sah. Tidak, saya tidak cabut. Tidak, saya tidak mediasi. Tidak, saya tidak akan merinci sidang pidana di sini. Pidana meja itu. Ini meja cerai.' Kering. Tidak menoleh ke jas. Hakim mencatat, belum putus akhir, perintah satu kelengkapan lagi, tanggal berikut masih dalam antrian. Tempo. Bukan palu damai. Bukan palu pidana. Dua palu, dua antrian. Nirwa berdiri, langkah, selasar, tidak bicara, mobil, air, sunyi sepuluh menit.
Intan: 'Bagus. Tidak campur, tidak belas, tidak mata, tidak pesta notulen. Gilang menunggu Ibu bawa ramai ke sini. Ibu tidak bawa. Ibu pisah forum. Pisah itu yang tidak bisa di-klip — jangan rilis kata kemenangan forum.' Nirwa: 'Tidak rilis. Basement. Truk.' Kaca: utuh. Utuh cukup. Lutut tidak ingin lantai. Di macet ia tutup mata tiga menit, buka, kota. Gilang titik, bukan parfum. Titik boleh. Ia tidak tanya apakah Gilang menoleh. Mata ke basement.
Di basement, sebelum lift gedung nanti, Nirwa cuci tangan. Bukan karena kotor. Karena selasar menempel di kulit seperti debu yang tidak kelihatan. Sabun. Sabun yang sama. Ia menggosok lebih lama daripada perlu, lalu berhenti. Berhenti sebelum jadi ritual. Ritual naskah. Naskah selasar. Selasar sudah selesai. Sore truk. Truk angka. Angka tidak tanya siapa tinggal di rumah, tidak tanya ramai pidana. Angka delay. Delay ia pilih.
Gedung. Papan. Lorong. Seseorang menelan turut. Forecast. Palet. Kepala ritel pilih delay. Lestari satu baris: *tertahan tetap.* Nirwa: *Bagus.* Nasi kotak. Pintu ke Sinta. Empat mata 'bagaimana cerai' ditolak. Sinta kanal: kerja, jangan spekulasi rumah tangga. Nirwa paraf. Ia tidak baca portal dingin atau serakah atau menang forum. Ketiganya judul. Mejanya palet. Palet jujur. Sinta kopi. Pahit. 'Bu, warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kerja.' Ia ke jendela. Kota senja. Tahta masih. Ikatan belum putus. Pidana belum palu. Pisah forum sudah di mulut, kering. Mulut itu kerja. Kerja tidak pesta.
Sore Dodi: sidang pidana jalan, saksi masih, Ibu tidak dipanggil. 'Jangan campur hari ini ke rilis perusahaan. Perusahaan bukan penggugat. Ibu yang penggugat, kop Intan. Beda.' Nirwa: 'Beda. Truk. Terima kasih tidak mencampur.' Dodi pergi. Nirwa napas empat. Tiga jalur. Badan lebih utuh. Capek masih. Capek kolom, bukan cuti. Ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Email kaku. Sabun. Di jendela senja ia tidak mencari wajah Gilang di kepala. Wajah titik. Titik boleh. Parfum tidak. Forum kering sudah di mulut. Mulut tutup di selasar. Selasar lewat. Gedung sekarang. Gedung palet.
Sore ia tidak ke Bekasi. Ritual ditahan. Sidang cerai bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia lewat logistik, noda, angguk, pergi. Supervisor angka. Nirwa suka angka. Angka tidak tanya forum. Forum Intan. Intan sudah cukup. Ia paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Putus belum. Palu pidana belum. Pisah sudah. Sudah di mulut. Mulut tutup. Tutup kerja. Kerja cukup. Cukup untuk dapur. Dapur nasi. Nasi kolom. Kolom bukan pesta forum. Pesta ditolak.
Malam dapur, nasi, teh. Tidak buka lemari. Cerai dibaca kering, parfum tidak perlu. Cincin laci. Bangku rendah, piring kecil, lampu kristal mati. Meja makan gelap. Delapan tahun tidak ia nyalakan. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Ia tidak nyala. Dapur cukup. Daftar: *cerai kelengkapan lagi; tidak campur pidana; putus belum; saksi pidana masih; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur pagi. nasi. tidak selasar.* Cermin: 'Saya tidak mencampur forum. Saya pisah. Pisah tahta yang saya rebut: hak tidak dicampur.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Sendirian masih perang. Kesepian nanti. Sekarang akta, truk, jaksa yang tidak ia kejar. Putus antri. Palu pidana antri. Antri ia jalani kering. Kering kerja. Kerja ratu. Lampu mati. Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam. Sidang kemarin bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Cerai di map Intan. CEO di papan. Beda kop. Beda sabun. Sabun ia pakai. Pakai cukup. Campur tidak. Tidak. Satu kata. Cukup. Masih.
Pukul lima ia bangun, telur, teh. Satpam. Forum kemarin bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Map. Air. Lestari kaku. Truk. Campur tidak. Tidak. Kerja. Tahta masih. Masih. Cukup begitu. Palet. Noda. Jujur. Kerja. Forum pisah. Pisah kerja. Kerja cukup. Palet jujur. Jujur masih. Kerja. Truk. Cukup. Masih. Ya.