Publik belah lebih kencang daripada lorong. Portal pagi: satu kolom 'CEO dingin, tidak menonton suami'; satu kolom 'profesional, tidak mencampur'. Keduanya judul. Keduanya naskah. Nirwa membaca ringkas Sinta, sekali, layar mati. Sekali cukup. Dua kali duet. Duet ditolak. Intan: 'Kita tidak klarifikasi dingin. Klarifikasi dingin adalah mengaku hangat. Diam. Angka kalau analis. Ibu papan.' Nirwa: 'Papan. Tidak dingin di rilis. Tidak hangat di rilis. Kerja.' Telur. Teh. Gedung. Lorong. Tengah. Tidak meratakan dua cuaca di luar papan.
Pagi itu Nirwa makan telur di dapur lebih pelan. Pelan kolom. Kolom menahan tangan agar tidak membalas kolom dingin. Membalas duet. Duet ditolak. Di mobil Sinta tidak tanya belah. Tidak tanya belas sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai takut judul'. Takut dicatat sebagai suasana kalau diangkat ke pidato. Pidato ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku. Kaku sabun.
Sinta kanal tertulis: proses hukum, kerja, tidak ada pernyataan perusahaan soal sidang atau rumah tangga. Kaku. Tetap belah. Satu sisi lantai bangga. Satu sisi takut kelihatan dekat. Nirwa tidak pidato meratakan. Pidato meratakan kultus atau belas, sama-sama naskah. Ia ke papan. Palet. Kepala operasional merengek telat satu hari. 'Telat. Bukan cangkang. Pilih.' Mereka pilih telat. Ruangan kerja. Ketukan. Ia suka ketukan lebih daripada judul profesional. Profesional naskah yang dipuji. Puji kultus. Kultus senjata. Senjata ditolak. Kerja diterima.
Siang, sebelum IR, Nirwa ke delay, berdiri sampai ketukan palet menutup dua kolom di telinganya. Kolom tidak hilang. Kolom hanya tidak diberi mikrofon. Mikrofon rilis. Rilis diam. Diam kerja. Seorang kepala toko telepon, alihkan ke prosedur. Janji lorong makan malam. Makan malam sudah mati. Ia paraf alih. Email kaku. Sabun. Di kaca keuangan orang menempel. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan berjalan di kiri dan kanan. Ia di tengah. Tengah bukan damai. Tengah hak untuk tidak jadi naskah.
Siang IR ingin paragraf penenang 'publik terbelah tidak memengaruhi operasional'. Nirwa: 'Tidak memengaruhi janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' IR diam. Bagus. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Lestari angka. Nirwa mencatat. Tidak masuk muka. Ratu di bingkai makanan. Ratu di sebelah kendali. Setelah call lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, napas empat, gelas, kembali. Sinta kopi pahit. 'Warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja. Jangan rilis belah. Belah cuaca. Cuaca bukan metrik.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota. Dua kolom di luar. Satu papan di sini. Papan truk. Truk tidak belah. Truk noda atau tidak. Hari ini lebih tidak.
Sore, sebelum bunga, Nirwa ke logistik sebentar, bukan parade: satu pertanyaan palet, jawaban angka, pergi sebelum muka belas tersusun. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul profesional. Profesional naskah. Naskah ditolak. Kerja palet. Palet noda. Noda jujur.
Sore bunga karyawan di lobi, kecil, kartu 'semoga kuat, Bu'. Sinta ragu. Nirwa: 'Kembalikan. Sopan. Kerja. Bukan karangan. Karangan naskah. Naskah lobi dulu sudah kita tolak. Lobi lantai sama, hanya lebih dekat. Dekat lebih berbahaya.' Sinta urus. Nirwa tidak berpidato di lobi. Pidato bunga kultus. Kultus senjata Wiryo: lihat, ratu yang butuh karangan. Ia ke delay. Palet. Pak Harun foto antrian biasa. *Terima kasih.* Dua kata. Gudang tidak nonton dua kolom. Gudang nonton truk. Itu yang ia jaga: supaya dua belas ribu orang tidak ikut jadi pemilih di perang cuaca.
Rahmi pesan: *Aku baca belah. Jangan klarifikasi. Jangan bunga. Makan. Enam. Wiryo sepi. Sepi sementara. Dessy diam. Jangan isi. Kamu truk.* Nirwa: *Truk. Telur. Bunga kembali.* Ia ke keuangan, kaca, tidak masuk. Menempel, kurang rapat. Tidak meratakan. Capek di bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah istri dingin yang ingin dibuktikan hangat. Ia CEO di lantai. Paraf satu angka, jendela, napas. Belah biar portal. Portal biar mereka. Mejanya palet.
Sore, setelah bunga kembali, Nirwa berdiri di pantry gedung, gelas, sepuluh detik, tidak pidato. Staf baru mengangguk terlalu dalam. Ia angguk datar, pergi. Dalam belas. Belas di gedung naskah paman yang menyelinap. Gedung bukan warung. Warung tidak. Angka iya. Angka delay. Delay ia tutup untuk hari itu. Tutup kerja. Kerja cukup. Cukup untuk kuah Rahmi. Kuah tagihan. Tagihan telur. Telur ia bayar dengan makan, bukan dengan judul hangat.
Malam restoran kecil, Rahmi, kuah, tagih telur. 'Dua cuaca itu bukan gagalmu. Gagalmu kalau kamu pilih satu judul supaya disayang. Jangan. Datang ke papan. Bawa angka. Jangan peluk lantai yang bangga. Peluk tekan, sama seperti Dessy.' Nirwa makan pelan. 'Tidak peluk. Tidak klarifikasi. Tidak bunga. Tidak nonton. Empat. Kerja iya.' Rahmi: 'Bagus. Vonis belum. Orang lapar palu. Lapar bukan alasan kamu jadi wasit. Wasit hakim. Kamu CEO. Tidur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Daftar: *publik belah; bunga kembali; tidak klarifikasi; saksi masih; capek bahu.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak dingin di rilis. Saya tidak hangat di rilis. Saya kerja. Dua cuaca biar luar. Papan saya. Cukup untuk Selasa. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Tidur. Lebih dekat enam. Keran singkat. Pagi lift. Tengah. Map. Air. Lestari kaku. Truk. Belah biar koran. Koran meja mereka. Mejanya noda. Noda jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak gerbang. Tidak balkon. Tidak judul dingin. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Rumah malam itu tetap besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'dingin'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Dua cuaca milik orang lain. Mejanya ranjang. Ranjang tamu. Tidur. Coba enam. Coba cukup. Cukup untuk datang kering. Kerja. Palet. Masih.