Senin. Elegansi Wiryo masih hangat di portal, Nirwa tidak membukanya lagi. Sekali Jumat cukup. Dua kali duet. Duet ditolak. Telur. Teh. Keran lima menit. Cermin kecil: 'Saya tidak nonton. Saya tidak segera. Saya papan. Dada di sini.' Cermin tidak berdebat. Satpam angguk. Sinta jemput. Radio mati. Dodi sudah kirim satu baris semalam, kop legal: *Sidang hari ini masih saksi. Bukan Ibu. Jangan datang.* Nirwa membalas di mobil, singkat. 'Gedung.' Satu kata. Cukup untuk tidak jadi penonton di minggu yang orang kira akan jadi palu.
Lorong gedung masih belah. Notulen dampingan yang ditolak dan selasar ramai membuat dua cuaca: orang yang ingin selamat, orang yang ingin menempel jauh. Nirwa berjalan di tengah, map delay, tidak meratakan. Lestari lima menit, resmi, kaku: tertahan tetap, vendor bersih, covenant terkendali, jangan longgar karena 'pidana sudah ramai jadi aman'. 'Ramai bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak percantik. Ibu kelihatan capek. Saya tetap kaku.' Nirwa hampir tersenyum. Tidak. 'Kaku. Terima kasih. Kalender jaksa bukan invoice. Kalender Intan bukan covenant. Tiga. Tidak dicampur.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa kopi pahit. Pahit jujur. Jujur kolom. Ia ke papan. Palet. Kepala ritel menelan berita saksi, pilih suku cadang. Nirwa tidak berterima kasih atas telenan. Ia minta forecast. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi palu di ruang yang bukan miliknya.
Di meja, layar Sinta gelap dari siaran. Nirwa hampir meminta dinyalakan, lalu tidak. Hampir dada. Dada keran nanti. Ia membuka forecast ritel, angka yang tidak peduli petugas bank. Angka jujur. Jujur ia pilih. Pilih itu yang menahan jari agar tidak mencari nama Gilang di kolom berita. Mencari menonton dengan huruf. Menonton ditolak, termasuk yang diam-diam. Ia paraf satu halaman, berdiri, ke jendela, napas empat. Kota siang tidak memberitahu apakah hakim sedang mencatat. Kota hanya panas dan macet. Macet jujur. Jujur cukup. Ia kembali duduk. Kopi sudah dingin. Dingin ia minum. Pahit. Pahit kolom.
Siang Dodi masuk, resmi, tidak duduk lama. 'Saksi hari ini: petugas bank koresponden, tanggal transfer, bukan hati. Gilang hadir. Arman korek "siapa yang perintah". Hakim minta kertas, bukan teater. Ibu tidak dipanggil. Wartawan tetap lapar muka Ibu. Kita tidak kasih. IR diam. Saya diam.' Nirwa mencatat tiga baris, bukan rilis. 'Tidak nonton. Tidak rilis. Truk.' Dodi: 'Minggu depan masih saksi. Requisitoir belum. Vonis lebih belum. Kalau analis tanya "kapan", angka perusahaan atau diam. Segera adalah judul.' Nirwa: 'Tidak segera. Tidak kapan. Palet.' Dodi hampir, hampir, terlihat lega. Lega tidak ia minta. Ia minta kop yang tidak campur. Setelah ia pergi Nirwa ke jendela, kota siang, napas empat. Saksi orang lain. Mulut orang lain. Mulutnya tutup. Tutup kerja. Kerja tahta.
Sinta ragu di ambang. 'Bu, dua media minta "sikap CEO di minggu saksi". Saya tolak. Satu orang lantai minta cuti nonton "supaya tahu kapan ramai selesai". Format kultus. Saya tolak.' Nirwa: 'Tepat. Ramai selesai milik hakim. Bukan cuti. Kerja. Kalau ingin dukung, palet tepat.' Sinta ketik. Nirwa pantry, air, sepuluh detik, pegang wastafel, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan bilang hampir kerja. Ia kembali ke meja. Jendela. Kota. Sidang di suatu gedung yang bukan ini. Tahta di sini. Beda alamat. Beda ia jaga dengan tidak menonton, dengan tidak menghitung kapan palu. Menghitung kapan adalah jadi penonton di kalender. Penonton naskah. Naskah ditolak.
Sore, sebelum Pak Harun, Nirwa ke lantai operasional sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi. Orang menatapnya seperti orang menatap yang seharusnya ada di TV. Ia tidak isi tatapan itu. Mengisi pidato. Pidato 'saya tidak nonton karena profesional' judul yang sama dengan 'saya tidak nonton karena takut', hanya lebih mahal. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya selasar. Selasar milik hakim. Hakim bukan dewan. Dewan sudah. Sudah notulen. Notulen bukan palu pidana. Palu pidana antri. Antri ia jalani di papan.
Sore Pak Harun: *Gudang baca truk. Orang tanya kapan ramai selesai. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus. Itu kalimat benar.* Dua kalimat. Gudang sabun. Portal, kata Sinta, pasang muka petugas bank yang tidak dikenal lantai. Orang takut pada yang tidak dikenal. Nirwa tidak meratakan. Ia ke delay lagi sampai lampu lorong ganti satu tingkat. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di kamera. Kamera selasar sudah cukup makan muka orang lain. Muka sekarang kerja. Kerja cukup. Tidak damai. Damai antri. Antri saksi. Saksi masih. Masih bukan palu. Palu jauh yang mulai kelihatan sebagai antrian, bukan sebagai pesta. Pesta ditolak. Antrian diterima. Diterima kering.
Malam Intan telepon, Nirwa dapur, telur, teh, lampu kristal mati. 'Cerai tetap antri. Arman akan bawa saksi bank ke meja cerai sebagai "suasana". Kita potong forum. Ibu kering kalau dipanggil. Sekarang tidak. Makan. Enam. Jangan hafal mulut petugas bank. Hafal milik Ibu sudah selesai.' Nirwa: 'Tidak hafal. Tidak nonton. Tidak campur. Telur.' Tutup. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *saksi bank; requisitoir belum; vonis belum; cerai antri; capek lutut.* Lima baris. Kolom: *telur. air. coba enam.* Cermin: 'Saya saksi sudah. Saya bukan penonton saksi orang lain. Saya CEO di papan. Tiga. Tidak dicampur. Cukup untuk Senin. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu hakim antri. Palu dewan sudah. Beda. Beda ia jaga. Kerja besok. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Saksi orang lain bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Mulut petugas bank biar ruang hakim. Mulutnya sudah selesai dulu. Selesai bukan vonis. Vonis antri. Antri ia jalani di papan, bukan di balkon. Balkon penonton. Penonton ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup untuk hari mulut orang lain. Tidak damai. Damai antri di belakang banyak tangga. Tangga itu bukan miliknya hari ini. Hari ini truk. Truk jujur. Jujur cukup.