Pernyataan Wiryo terbit Jumat pagi di sebuah portal bisnis, dan bentuknya persis seperti yang Nirwa duga: kalah yang dirawat rapi.
Ia menyatakan menghormati keputusan dewan. Ia menyatakan akan tetap mengawasi tata kelola sebagai kewajiban, apalagi di tengah sidang yang sedang berjalan. Dan di kalimat terakhir, ia menyatakan harapan agar kecepatan pengambilan keputusan tidak mengorbankan rasa aman para anggota maupun nama baik keluarga besar yang belakangan ini muncul di pemberitaan.
Tidak ada satu pun nama disebut. Tidak perlu.
Nirwa membacanya sendiri, sekali, dari awal sampai akhir. Ia tidak meminta Sinta meringkasnya lebih dulu seperti biasanya — kali ini ia perlu nada aslinya masuk ke kepalanya, karena nada itulah yang akan berulang di rapat-rapat berikutnya dalam bentuk yang berbeda-beda.
Pola. Selalu pola.
Sinta berdiri di ambang pintu, menunggu perintah.
'Tidak ada rapat tanggap,' kata Nirwa. 'Tidak ada pernyataan tandingan. Hormat tidak dijawab dengan hormat.'
'Dijawab dengan apa, Bu?'
'Dengan kerja.'
Sinta mengangguk dan pergi menahan dua permintaan wawancara yang sudah masuk sejak semalam — keduanya memakai kata yang sama dalam judul usulannya, kata yang mulai berkeliaran di lantai itu sejak hasil rapat dewan keluar.
Kemenangan.
Nirwa tidak menjinakkan kata itu dengan pidato. Ia menjinakkannya dengan papan keterlambatan pengiriman, yang pagi itu bertambah dua baris merah.
Intan menelepon menjelang siang, dan seperti biasa tidak membuang waktu.
'Kita tidak menjawab pernyataannya,' katanya. 'Tidak menjawab bagian tata kelola, tidak menjawab bagian keluarga. Diam itu jawabannya. Notulen rapat kemarin sudah bicara lebih keras daripada apa pun yang bisa Ibu katakan hari ini.'
'Dan Karina?'
'Nama Karina ada di berkas jaksa, bukan di berkas dewan,' kata Intan. 'Perceraian Ibu masih antre di jadwal yang sama, tidak dipercepat, tidak ditunda. Tiga hal itu tidak boleh Ibu sebut dalam satu tarikan napas, di mana pun, termasuk di rumah.'
'Tiga jalur,' kata Nirwa. 'Papan.'
Pasar bereaksi datar hari itu, hampir membosankan — dan bosan adalah keadaan yang paling ia inginkan sejak berbulan-bulan. Beberapa analis mencari komentar pendamping, tidak mendapatkannya, lalu kembali menulis tentang rasio utang seperti biasa.
Bagian hubungan investor menelepon sekali lagi, kali ini mengusulkan sesuatu yang terdengar tidak berbahaya: satu kalimat yang menyatakan dewan solid.
'Solid itu janji,' kata Nirwa. 'Saya tidak menjanjikan apa pun tentang orang lain. Kalau harus memilih, pilih diam.'
'Diam terkesan lemah, Bu.'
'Diam yang tidak bisa dikutip lebih mahal daripada solid yang bisa dibantah minggu depan,' katanya.
Sambungan ditutup. Sinta masuk membawa tiga surel ucapan selamat yang sudah disaring bagian hukum — dua bernada resmi, kaku, aman untuk dibalas dengan satu baris terima kasih.
Yang ketiga meminta pertemuan empat mata.
Nirwa membacanya dua kali, lalu meletakkannya di tumpukan yang paling jarang ia sentuh.
'Balas yang dua,' katanya. 'Yang ketiga jangan dibalas hari ini. Jangan juga besok.'
'Kalau beliau menelepon langsung?'
'Sampaikan saya sedang di lantai produksi,' kata Nirwa. 'Dan pastikan saya memang benar-benar di lantai produksi waktu Anda mengatakannya.'
Sebelum turun, Sinta masuk sekali lagi dengan wajah yang menunjukkan ada sesuatu yang tidak enak.
'Ada wartawan menunggu di lobi bawah,' katanya. 'Sudah dua jam. Katanya cuma mau satu pertanyaan.'
'Pertanyaan apa?'
'Soal keluarga, Bu. Bukan soal perusahaan.'
Nirwa berhenti sebentar di depan lift.
Ada bagian dari dirinya yang ingin turun. Bukan untuk menjawab — melainkan untuk melihat sendiri wajah orang yang sudah menunggu dua jam demi satu kalimat yang bisa dipakai selama seminggu.
'Sampaikan tidak ada pernyataan,' katanya akhirnya. 'Dengan sopan. Jangan diusir, jangan dijanjikan besok.'
'Kalau beliau bertanya kenapa?'
'Jawab bahwa perusahaan tidak berkomentar tentang perkara yang sedang berjalan,' kata Nirwa. 'Itu benar, dan itu satu-satunya kalimat yang tidak bisa dipelintir.'
Sinta pergi. Nirwa menekan tombol lantai bawah, bukan lantai lobi.
Sebelum turun, ia membuka kembali surel ketiga itu sekali lagi — yang meminta pertemuan empat mata.
Isinya sopan, panjang, dan disusun oleh orang yang tahu persis cara menulis kalimat yang tidak bisa dijadikan bukti apa pun. Tidak ada tawaran di dalamnya. Tidak ada ancaman. Hanya permintaan untuk bertemu, di tempat yang akan ditentukan kemudian, dengan alasan yang tidak disebutkan.
Nirwa membacanya sampai habis, lalu meneruskannya ke Intan tanpa satu pun komentar.
Balasan Intan datang dalam tiga menit, dan hanya berisi dua kalimat.
Jangan dibalas sendiri. Kalau beliau menelepon, jawab bahwa semua komunikasi lewat kuasa hukum.
'Sudah saya duga,' gumam Nirwa.
Ia menandai surel itu dan memindahkannya ke folder yang isinya hanya berisi hal-hal yang tidak boleh ia tangani sendirian — folder yang setahun lalu belum ada, dan sekarang berisi belasan surat.
Sore itu ia turun ke gudang, memeriksa dua palet yang tertahan sejak Rabu, dan berdiri cukup lama di depan rak suku cadang bersama seorang kepala regu yang menjelaskan kenapa satu jenis komponen selalu telat dua hari.
Penjelasan itu memakan waktu dua puluh menit, penuh istilah teknis, dan sama sekali tidak menarik bagi siapa pun di luar ruangan itu.
Nirwa mendengarkan sampai selesai, mencatat dua hal, lalu memutuskan satu perubahan kecil pada jadwal pemesanan.
Di lift, ia sempat berpapasan dengan dua orang dari bagian keuangan yang sedang membicarakan pernyataan Wiryo pagi tadi. Keduanya langsung berhenti bicara begitu melihat siapa yang masuk.
Nirwa menekan tombol lantainya dan tidak berkata apa-apa selama enam lantai.
Menjelang pintu terbuka, ia berbalik sedikit.
'Kalau ada yang bertanya kepada kalian tentang berita itu,' katanya, 'jawab saja bahwa kalian tidak tahu. Itu jawaban yang jujur, dan itu melindungi kalian.'
Kedua orang itu mengangguk cepat.
'Dan satu lagi,' katanya sebelum keluar. 'Terima kasih sudah berhenti bicara waktu saya masuk. Itu artinya kalian tahu itu bukan pembicaraan yang pantas di lift.'
Pintu menutup di belakangnya.
Ketika ia naik kembali ke lantai atas, kata yang tadi pagi berkeliaran di koridor sudah tidak terdengar lagi — bukan karena dilarang, melainkan karena tidak ada yang memberinya bahan bakar sepanjang hari.