Laporan dari Dodi masuk pukul enam pagi, satu paragraf di bawah kop firma hukum, ditulis dengan cara yang sudah Nirwa kenali: tidak ada kata sifat, tidak ada penilaian, hanya urutan kejadian.
Karina diperiksa dalam sidang sebagai pihak terkait. Bukan tersangka, bukan terdakwa. Pengacaranya berbicara lebih keras di depan wartawan daripada di dalam ruangan, dan sudah ada satu kutipan yang beredar sejak semalam — kalimat tentang seorang perempuan muda yang katanya dikorbankan demi panggung orang lain.
Nirwa membacanya di dapur, berdiri, dengan teh yang masih terlalu panas untuk diminum.
Ia tidak membuka satu pun portal berita. Ia hanya memotret layar ponselnya dan meneruskannya ke Intan, dengan satu kata di bawahnya: pola.
Selalu pola. Itu yang diajarkan Intan sejak bulan pertama: jangan bereaksi pada kalimatnya, catat siapa yang mengucapkan, kapan, dan lewat siapa. Kalimat berubah tiap minggu. Polanya tidak.
Ia menggoreng telur. Mencucinya sendiri. Memasukkan kunci ke saku, bukan ke tas — kebiasaan lama sejak masa ketika tasnya pernah dibuka orang lain di ruang rapat.
Tiga hal ia larang untuk dirinya sendiri pagi itu, dan ia mengulangnya dalam hati di depan pintu.
Tidak bicara kepada satpam tentang berita. Tidak membuka portal. Tidak membuka lemari tempat berkas-berkas lama disimpan.
Intan menelepon ketika ia sudah di dalam mobil.
'Itu bukan undangan untuk Ibu datang ke pengadilan,' katanya, langsung ke pokok. 'Kesaksian Ibu sudah diberikan dan sudah tercatat. Kalau jaksa memerlukan lagi, akan ada panggilan resmi. Sekarang tidak ada.'
'Saya tidak berencana datang.'
'Bagus. Dan satu lagi.' Suara Intan turun sedikit. 'Rasa kasihan Ibu kepada keluarga besar bukan bentuk kesaksian. Kalau Ibu muncul di sana dengan wajah prihatin, besok fotonya yang jadi berita, bukan berkasnya.'
Nirwa memandang jalan yang mulai padat.
'Karina itu anak kakak sepupu saya,' katanya. 'Waktu dia lima tahun, saya yang mengantarnya ke sekolah selama tiga bulan.'
'Saya tahu,' kata Intan. 'Dan justru karena itu, semua orang di seberang sana tahu di mana harus menekan.'
Percakapan itu tidak berlangsung lama. Sebelum menutup, Intan menyebutkan satu hal lagi — bagian yang membuat Nirwa menegakkan punggung.
'Arman akan mencoba menarik nama Karina ke perkara perceraian. Itu bukan urusan yang sama. Karina bukan pihak di sana. Kalau ketiga urusan ini tercampur dalam satu napas, Ibu yang kering.'
'Tiga jalur,' kata Nirwa. 'Dewan, jaksa, cerai. Tidak dicampur.'
'Tidak dicampur,' Intan mengiyakan.
Di basement gedung, ia berjalan melewati lorong menuju lift seperti biasa. Orang-orang membelah jalan sedikit lebih rapat daripada kemarin — bukan karena hormat, melainkan karena ada yang ingin melihat wajahnya pagi ini.
Ia berjalan di tengah, memegang map, dan tidak memberikan apa pun kepada siapa pun. Bukan senyum, bukan wajah sedih. Wajah prihatin di lorong ini akan sampai ke warung di seberang gedung sebelum makan siang, dan dari warung itu akan berpindah ke tempat yang jauh lebih mahal akibatnya.
Di ruangannya ia menyalakan lampu, menggantung jaket, dan berdiri sebentar di depan jendela dengan kota yang mulai penuh di bawah.
Empat kali napas. Lalu ke papan.
Papan itu tidak punya sepupu, tidak punya keponakan, tidak punya nama keluarga. Yang ada di sana cuma jadwal pengiriman, warna penanda untuk keterlambatan, dan angka suku cadang yang harus diputuskan hari itu juga.
Kepala ritel masuk pukul sembilan dengan wajah orang yang menahan diri untuk tidak menyinggung berita.
'Bagaimana yang komponen rem?' tanya Nirwa, sebelum orang itu sempat memilih basa-basi.
Rapat berjalan empat puluh menit. Tidak ada satu pun kalimat tentang sidang, tentang keluarga, tentang koran pagi.
Menjelang siang, bagian hubungan investor mengirim permintaan yang sudah bisa ditebak: empat baris pernyataan tentang situasi yang sedang ramai.
'Diam atau angka,' kata Nirwa. 'Saya tidak berdiri di lobi.'
Permintaan itu ditarik.
Menjelang pukul dua, ponselnya bergetar dengan nomor rumah keluarga besar. Ia membiarkannya berdering sampai berhenti.
Lima menit kemudian nomor itu menelepon lagi. Kali ini ia mengangkat, karena tidak mengangkat dua kali berturut-turut akan menjadi cerita tersendiri di kemudian hari.
Yang menelepon pamannya.
Percakapan itu berlangsung enam menit, dan sepanjang enam menit itu Nirwa hampir tidak bicara. Ia mendengarkan keluhan tentang wartawan yang datang ke rumah, tentang tetangga yang mulai bertanya-tanya, tentang ibu Karina yang tidak keluar kamar sejak kemarin.
Lalu datang kalimat yang sejak awal ia tunggu, dibungkus dengan nada yang sangat sopan.
'Kamu kan yang paling dekat dengan orang-orang itu sekarang,' kata pamannya. 'Bilang saja sedikit. Satu telepon dari kamu, semuanya beres.'
'Tidak ada telepon yang bisa membereskan berkas, Paman,' kata Nirwa.
'Kamu tidak mau menolong keluarga sendiri?'
Nirwa memandang papan di dinding ruangannya, dua baris merah yang belum selesai ia urus.
'Kalau saya menelepon siapa pun hari ini,' katanya pelan, 'besok yang jadi berita bukan Karina. Yang jadi berita adalah bahwa saya menelepon. Dan itu memperberat, bukan meringankan.'
Pamannya menutup telepon tanpa mengucapkan salam.
Nirwa duduk diam beberapa saat, lalu menulis satu kalimat di catatannya: paman menelepon, saya tidak menjanjikan apa pun, tidak ada nama yang saya sebut.
Sore harinya, Lestari mampir lima menit — bukan untuk membicarakan apa pun, hanya melapor bahwa penahanan sementara terhadap satu proses internal tetap berlaku, dan bahwa ia tidak akan melonggarkannya hanya karena keadaan di dewan sedang menguntungkan.
'Menang di dewan bukan izin untuk longgar,' katanya. 'Dan saya tidak memakai kata menang di laporan angka.'
'Terima kasih tidak memakai kata itu,' kata Nirwa.
Ia pulang pukul delapan. Radio tidak dinyalakan sepanjang jalan.
Di rumah, ia membuka lemari yang tadi pagi ia larang untuk dirinya sendiri — bukan untuk mencari berkas, melainkan untuk mengambil album lama yang tersimpan di rak paling atas.
Ia membukanya satu kali, di halaman yang sudah ia tahu isinya, lalu menutupnya lagi dan mengembalikannya ke tempatnya.
Itu saja yang ia izinkan untuk dirinya malam itu.
Nama keponakannya ada di koran hari itu. Nama itu juga ada di kepalanya sepanjang hari. Yang tidak ia lakukan cuma satu: memindahkannya ke mulut.