Pagi sidang ramai. Intan: *Jangan datang. Jangan nonton. Gedung.* Nirwa: *Gedung.* Telur. Teh. Radio mati. Sinta blokir siaran. Nirwa tidak meminta dinyalakan. Hampir adalah dada. Dada keran sudah. Ia ke papan. Palet. Lorong belah, lebih rapat menempel karena kamera di koran dan karena notulen kemarin. Dua cuaca. Ia di tengah. Tidak meratakan.
Pagi itu Nirwa makan telur lebih pelan. Pelan kolom. Kolom menahan jari agar tidak menyalakan siaran. Siaran selasar. Selasar milik hakim. Hakim bukan dewan. Dewan kemarin sudah. Hari ini truk. Di mobil Sinta tidak tanya ramai. Tidak tanya belas sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai nonton'. Nonton kultus. Kultus ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku.
Lestari lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'Ibu menang dewan jadi aman'. 'Menang dewan bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Dan saya tidak pakai kata menang di angka.' Nirwa: 'Tahan. Terima kasih tidak memakai kata itu.' Lestari pergi. Nirwa ke delay. Kepala ritel menelan berita selasar, pilih suku cadang. Nirwa tidak berterima kasih atas telenan. Ia minta forecast. Ketukan. Kerja. Bukan balkon pengadilan.
Siang, sebelum Dodi, Nirwa menolak satu permintaan IR untuk 'kalimat empat baris soal sidang ramai'. Empat baris rilis. Rilis judul. Judul sembunyi atau dingin, sama-sama naskah. 'Diam atau angka,' katanya. 'Saya tidak di lobi.' IR diam. Bagus. Ia ke delay. Palet. Kerja. Ramai biar selasar. Selasar bukan papan. Papan ia jaga.
Siang Dodi, resmi, tidak duduk lama. 'Ramai. Gilang hadir. Arman panjang. Saksi ahli: rekening, arus, tanggal, bukan hati. Hakim tegur kamera di dalam, tidak semua patuh di luar. Ibu tidak disebut berlebihan. Wartawan lapar campur: dewan kemarin, terdakwa hari ini, istri yang tidak datang. Judul yang akan dipotong: sembunyi atau dingin. Kita tidak jawab. IR diam. Saya diam.' Nirwa mencatat tiga baris, bukan rilis. 'Tidak nonton. Tidak rilis. Tidak datang. Truk.' Dodi: 'Bagus. Kalau Ibu muncul sekarang, judulnya istri menonton jatuh setelah menang voting. Dua naskah jadi satu klip. Klip Arman.' Nirwa: 'Saya tidak klip. Saya palet.' Dodi hampir puas. Puas tidak ia minta. Ia minta kop yang tidak campur.
Setelah Dodi pergi, Nirwa tidak membuka foto selasar. Foto duet. Duet ditolak. Ia ke papan, berdiri sampai kepala ritel selesai menunjuk palet. Satu pertanyaan suku cadang. Jawaban jujur. Ia pergi. Di lift seseorang hampir, 'Bu, kami lihat TV...' Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato ramai di lift adalah kultus data orang lain. Data milik ruang sidang. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun.
Sinta ragu. 'Bu, portal sudah pasang foto selasar. Saya tidak tampilkan. Tiga orang lantai minta cuti "hadir sebagai publik". Saya tolak format kultus.' Nirwa: 'Tepat. Publik sidang bukan agenda perusahaan. Kerja. Kalau ingin dukung, palet tepat, bukan balkon.' Sinta ketik. Nirwa pantry, air, sepuluh detik, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Ia kembali ke meja. Jendela. Kota. Sidang di suatu gedung yang bukan ini, lebih ramai daripada hari saksinya dulu. Tahta di sini. Beda alamat. Beda ia jaga dengan tidak menonton.
Sore, sebelum Pak Harun, Nirwa paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Telepon empat mata menyamar. Email kaku. Sabun. Ia berdiri di jendela, kota siang yang tidak memberitahu apakah hakim sedang mencatat. Kota hanya panas. Panas jujur. Jujur cukup. Ramai milik selasar. Selasar bukan sini. Sini palet. Palet ia buka lagi.
Sore Pak Harun: *Orang tanya TV ramai. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus.* Portal, kata Sinta, potong Arman 'orkestrasi' di samping foto Nirwa yang lama — foto dewan, bukan foto hari ini. Menempelkan kemarin ke hari ini. Menempel naskah. Naskah tidak ia kejar di kolom komentar. Kolom warung. Warung tidak. Ia ke delay lagi sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di kamera selasar. Kamera selasar sudah cukup makan muka orang lain. Muka sekarang kerja.
Rahmi pesan, tidak teratur: *Aku tidak nonton. Kamu di papan, bagus. Wiryo belum akun — merawat sepi. Sepi sementara. Jangan isi. Makan. Enam. Jangan jadi penonton ramai.* Nirwa: *Papan. Telur. Tidak nonton.* Ia ke lantai operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi sebelum muka belas. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul dingin.
Malam, sebelum telur, ia mandi. Mandi bukan keran lima belas menit. Mandi, lalu keran singkat, lalu piring. Kolom. Badan yang ingin tahu ramai lebih menurut setelah air. Menurut bukan damai. Damai antri. Ia tidak mengulang kalimat saksi ahli di kepala. Mengulang jadi jaksa. Jaksa ditolak. Saksi sudah. CEO sekarang. Tidak penonton. Tidak.
Malam dapur, telur, teh, tidak TV. TV ramai. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *sidang ramai tanpa saya; judul sembunyi atau dingin; kultus ditolak; Wiryo sepi; capek.* Lima baris. Kolom: *telur. air. coba enam.* Cermin: 'Ramai bukan undangan. Undangan yang sah papan. Papan truk. Saya bukan penonton. Saya bukan dingin di rilis. Saya kerja. Cukup untuk hari ramai. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Gagal pukul dua, keran singkat, kembali. Palu hakim belum. Palu dewan sudah. Dua. Tidak dicampur. Campur klip. Klip ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup. Ratu di kamar tamu. Tidak selasar. Tidak foto lama. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'sembunyi'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Ramai milik orang lain. Mejanya ranjang. Ranjang tamu. Tidur. Coba enam. Coba cukup.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Ramai kemarin bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Palet. Kerja. Tidak nonton. Tidak. Cukup.