Rahmi: 'Yang setuju usul penguatan pengawasan operasional selama sidang terbuka?'
Wiryo: setuju. Satu independen — yang tidak basah — tidak. Yang lain: tidak. Loyalis ayah: tidak. Komisaris muda tidak ada, izin, kekosongan tercatat. Dessy diam tiga detik yang lebih mahal dari dulu, lalu: 'Tidak.' Suara kecil, cukup untuk notulen. Wiryo tidak menoleh. Tidak menoleh barang. Nirwa tidak berterima kasih. Terima kasih undangan. Terima kasih menjadikan kata itu utang. Rahmi: 'Ditolak. Tidak ada tim pengawasan sementara. Tidak ada tanda tangan bersama. CEO tetap pada wewenang yang ada, dengan CFO interim dan jalur audit yang sudah berjalan. Komite tata kelola lanjut. Kerahasiaan lanjut. Tutup.'
Sebelum tutup Wiryo masih sempat satu kalimat, untuk notulen, bukan untuk tepuk. 'Saya mencatat keberatan. Sidang terbuka akan membaca dewan yang menolak kehati-hatian. Sejarah akan baca.' Nirwa menatapnya, tenang. 'Sejarah baca kertas, Pak. Bukan akun. Notulen hari ini kertas. Keberatan Bapak tercatat. Wewenang tidak pindah. Negara tetap punya hakim. Perusahaan tetap punya angka. Mencampur dua di meja ini adalah makan malam yang sudah ditinjau dan ditolak.' Rahmi ketuk lagi. Selesai. AC. Kursi bergeser. Nirwa tidak berjabat tangan. Jabat tangan duet. Ia kumpulkan dua map, berdiri, keluar lebih dulu, tidak berfoto. Di koridor Dessy tidak menyusul. Wiryo tidak menyusul. Kekosongan itu sudah ia kenal: faksi kehabisan jas, belum kehabisan naskah. Naskah akan pindah ke portal. Portal nanti. Sekarang lift.
Di basement Sinta menunggu, tidak tanya. Nirwa: 'Kanal tertulis: tidak ada perubahan jabatan. Kerja. Jangan spekulasi. Jangan kata menang.' Sinta ketik di tablet, tangan sedikit gemetar, lalu tidak. Gemetar boleh. Rilis tidak. Nirwa masuk mobil, radio mati, napas empat. Palu hari ini notulen. Bukan dada. Dada nanti, keran. Sekarang kota, macet, dua map di pangkuan. Ia tidak tersenyum di kaca. Senyum judul dingin pecah. Pecah Arman. Ia pilih muka utuh. Utuh cukup. Menang belum.
Di macet ia tutup mata tiga menit, buka, kota. Notulen sudah. Portal belum. Belum ia buka. Membuka duet. Duet ditolak. Dua map di pangkuan berat. Berat kerja, bukan kemenangan. Kemenangan judul. Judul ia larang di kanal. Kanal Sinta sudah jalan. Jalan kaku. Kaku sabun. Sabun ia pakai sampai gedung.
Gedung. Lorong. Seseorang menelan. Seseorang hampir selamat. Nirwa tidak meratakan. Sinta sudah kirim kanal. Lantai akan baca menang. Menang ia jinakkan dengan papan. Palet. Kepala ritel ingin bahas dewan. Nirwa: 'Dewan di luar agenda. Delay di dalam. Pilih.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan tepuk. Tepuk kultus. Kultus senjata. IR tidak rilis kemenangan. Kemenangan dirilis jadi 'CEO meraih'. Meraih emosi. Emosi peluru. Lestari mampir, lima menit, resmi: 'Covenant aman hari ini. Saya tidak percantik. Invoice berbau tetap tertahan. Sidang terbuka bukan izin longgar.' Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan tetap, bahkan pada hari notulen baik.
Nirwa nasi kotak. Pintu ke Sinta. Empat mata 'mengucapkan selamat' ditolak, termasuk yang ingin 'Ibu lolos jilid dua'. Selamat bunga. Bunga dikembalikan. Email: *Diterima. Kerja.* Kaku. Sabun. Ia ke delay lagi, berdiri lebih lama daripada duduk, menahan tangan agar tidak ke ponsel. Ponsel portal. Portal Wiryo belum. Sepi sementara. Sepi ia tidak isi. Isi duet. Duet ditolak. Pak Harun: *Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Dua kata. Gudang sabun. Di keuangan kaca, kepala ke layar, menempel, kurang rapat. Ia tidak masuk. Tidak meratakan dengan senyum Kamis. Senyum Kamis klip.
Sore, sebelum Dodi, Nirwa cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Dessy untuk 'terima kasih'. Terima kasih utang. Utang kudeta versi lain. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur cukup untuk tidak memiliki kata orang takut.
Sore Dodi: sidang pidana besok ramai, saksi ahli rekening, kamera lebih banyak. 'Ibu tidak datang. Tidak kirim siapa pun. Kalau portal pasang notulen dewan di samping klip Gilang, kita tidak klarifikasi. Klarifikasi judul campur. Campur makan malam.' Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Tidak nonton. Truk.' Intan telepon, singkat: cerai tetap antri, sebulan belum jadi tiga minggu ajaib. 'Jangan campur notulen ke cerai. Arman akan coba. Kita forum. Ibu kering. Makan. Enam.' Nirwa: 'Kering. Telur. Tidak nonton.' Tutup. Pantry. Air. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan puas sebagian. Sebagian utang ranjang tamu.
Sore ia tidak ke Bekasi. Ritual ditahan. Notulen bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia lewat logistik, noda, angguk, pergi. Supervisor angka. Nirwa suka angka. Angka tidak mengucapkan selamat. Selamat naskah. Naskah ditolak. Ia paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Sewa gagal lagi. Gagal Wiryo. Bukan pesta Nirwa. Pesta ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup untuk kuah. Kuah Rahmi. Rahmi tagih tidur. Tidur ia coba.
Malam Rahmi restoran, kuah, sendok. 'Dessy menolak lagi. Bukan jasmu. Takutnya pada meja yang bisa diisi Wiryo. Jangan peluk. Jangan telepon. Wiryo akan elegan lagi. Kamu diam di luar notulen. Tidur.' Nirwa makan pelan. 'Tidak peluk. Tidak telepon. Tidak pesta. Tidak nonton besok.' Rahmi: 'Bagus. Empat tidak. Kerja iya. Telur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang. Dapur. Teh. Cincin laci. Daftar: *dampingan ditolak lagi; Dessy tidak; jangan peluk; sidang ramai besok tanpa saya; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. teh. coba enam.* Cermin: 'Kata itu bukan milik saya. Notulen kertas. Wewenang tidak pindah. Saya bukan penonton. Cukup untuk Kamis. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Bukan vonis. Bukan rujuk. Bukan pesta sewa yang gagal. Tahta masih. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak Dessy. Tidak judul meraih. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Notulen kemarin bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Kata Dessy bukan miliknya. Tidak memiliki itu tata kelola. Tahta masih. Masih. Cukup.