Kamis. Telur. Teh. Keran tujuh menit, lebih lama dari biasanya. Cermin kecil: 'Saya datang. Saya tidak sewa. Saya tidak telepon Dessy. Saya bawa angka. Dada di sini, bukan di notulen.' Cermin tidak berdebat. Komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Folder di tas, bukan di dada. Dada sudah dikunci di keran. Sinta jemput. Radio mati. Nirwa tidak membuka portal. Portal akan memasang 'jilid dua' sebelum rapat dimulai. Judul Arman. Mejanya map delay dan map tandingan. Dua map. Satu badan.
'Kanal siap,' kata Sinta di macet. 'Tidak ada keputusan sebelum notulen. Kerja. Jangan spekulasi kewenangan.' Nirwa: 'Paraf. Kalau ada yang minta empat mata di selasar dewan, tolak. Selasar dewan juga kamera.' Sinta angguk. Nirwa menatap kaca spion sekali, muka utuh, lalu tidak lagi. Utuh cukup. Menang belum. Menang kata portal. Hari ini hanya datang. Datang kering. Kering kerja.
Di lift dewan Nirwa tidak cek portal. Portal jilid dua. Mejanya dua map. Ia hitung napas. Empat. Empat cukup untuk tidak mencari mata Dessy nanti. Mencari peluk. Peluk tekan. Sinta turun di basement, tidak ikut naik. Beda kop. Beda sabun. Nirwa sendiri ke lantai dewan, sepatu kantor, debu tidak. Orang di selasar menunduk terlalu cepat. Ia angguk datar, masuk pantry, air, lalu ruang. Kerja. Bukan pawai. Pawai kultus.
Sebelum masuk ruang, Nirwa ke pantry dewan, air, sepuluh detik, bukan kopi. Tangan. Tangan ke map, bukan ke ponsel Dessy. Ponsel empat mata. Empat mata ditutup. Ia cuci tangan, sabun yang sama, lebih lama daripada perlu, lalu berhenti. Berhenti sebelum jadi ritual takut. Takut boleh. Takut tidak boleh tercatat di muka. Muka kerja. Debu tidak. Selasar dewan sunyi, bukan selasar pidana. Sunyi belas yang ia terima dari tidak ditanya Sinta. Tidak ditanya sah. Sah ia bawa masuk, dua map di pangkuan, dada di keran yang sudah selesai.
Ruang dewan, notulen yang tidak kosong. Air mineral, bukan sampanye. AC. Wiryo membuka dengan jas yang lebih gelap dari dulu, kertas yang sama tebalnya. 'Usul ini bukan mosi pecat. Nama Ibu tetap. Sidang terbuka mengubah cuaca pasar dan cuaca karyawan. Perusahaan butuh pemisahan emosi yang terlihat. Tim pengawasan sementara, ambang keputusan bersama, selama proses pidana. Setelah reda, wewenang kembali. Tempo. Bukan kudeta. Ini kehati-hatian yang dewan pernah tunda. Sekarang negara sudah di koran. Koran tidak menunggu kita.'
Nirwa menunggu titik. Tempo. Reda. Kembali. Tiga kata yang sudah ia tolak, hanya diselip negara. Negara milik hakim. Hakim tidak minta CEO disewa. Ia membuka map delay dulu, sengaja, supaya ruangan melihat palet sebelum mendengar dada. 'Catat,' katanya. 'Saya tolak sewa. Nama di kartu tanpa wewenang adalah boneka. Sidang terbuka milik pengadilan, bukan milik komite yang Bapak isi. Saya tidak sakit. Saya tidak penonton. Saya tidak cuti. Rantai masih basah. CFO interim kaku. Kredit berjalan. Saham tidak ambruk. Yang ambruk adalah naskah suasana yang kalah voting, lalu diganti jas hakim. Beda baju, sama tangan. Tangan itu saya tolak dulu. Saya tolak lagi.'
Ia menatap kursi kosong komisaris muda, tidak lama. Kekosongan tercatat tanpa pidato. Pidato kekosongan adalah kejar. Dessy hadir. Pucat. Tidak mempelajari kuku. Tidak menatap Nirwa. Tidak menatap Wiryo lama. Meja. Nirwa tidak peluk dengan mata. Peluk tekan. Rahmi sudah tagih itu. Ia jaga.
Nirwa tidak menambah pidato. Pidato kedua adalah dada. Dada keran. Ia membiarkan angka delay menggantung di ruangan: noda, jujur, tidak cantik. Tidak cantik lebih mahal daripada jas Wiryo. Seorang independen mencatat. Loyalis ayah mengangguk kecil, bukan selamat. Selamat naskah. Naskah ditolak. AC meniup leher. Ia biarkan dingin. Dingin menahan perut. Perut suasana. Suasana tidak.
Ia minta Lestari membacakan kertas tandingan. Lestari membaca kaku, covenant, rasio, risiko vakum, tidak membela Nirwa, membela angka. 'Sidang terbuka tidak mengubah angka yang saya tandatangani,' kata Lestari. 'Vakum mengubah. Saya tidak percantik jelek.' Dodi menambahkan jejak: tiga fungsi, tiga kop, bukan satu naskah meja CEO. Seorang loyalis ayah bertanya, pelan, apakah 'sementara' kali ini lebih sementara karena pidana. Lestari: 'Sementara di kertas sering jadi kebiasaan di meja. Kebiasaan tidak bisa saya bela di covenant.' Rahmi: 'Usul perubahan kewenangan. Kita dengar. Lalu voting. Bukan suasana. Bukan koran.'
Wiryo menatap Dessy, sebentar, seperti orang menagih utang yang tidak ditulis. Dessy menatap meja. Seorang independen yang tidak basah bertanya apakah usul ini beda substansi dengan yang ditolak. Wiryo: 'Beda konteks. Konteks negara.' Nirwa: 'Konteks negara tidak menyewakan kursi saya. Konteks negara sudah punya jaksa. Jaksa bukan dewan. Dewan jaga perusahaan supaya dua belas ribu orang tidak ikut jadi pemilih naskah. Itu yang saya jaga. Bukan muka di koran.' Ia minum air. Tangan tidak gemetar. Dada ya. Dada keran nanti. Di sini map. Rahmi ketuk. 'Cukup dengar. Voting sekarang, atau ada yang minta tunda sah?' Tidak ada yang minta tunda. Tunda suasana. Suasana peluru. Voting. Palu notulen dekat. Dekat bukan selesai. Selesai angka tangan. Tangan Dessy belum. Belum ia miliki. Tidak memiliki itu tata kelola. Ia duduk tegak. Utuh. Utuh cukup untuk menolak sewa sekali lagi, di meja yang sama, dengan jas yang dikira baru.
Sinta tidak di dalam. Nirwa merindukan ketukan di luar pintu, lalu tidak. Merindu asisten di voting adalah dada. Dada sudah di keran. AC berbunyi. Kursi bergeser kecil. Wiryo merapikan kertas. Nirwa tidak merapikan muka. Muka kerja. Debu tidak. Dewan. Angka. Palu yang memakai jas notulen, bukan jas dokter, bukan jas hakim. Palu itu milik Rahmi. Rahmi akan ketuk. Ketuk sah. Sah ia pilih. Pilih datang. Datang kering. Kering masih. Masih. Cukup untuk duduk. Tidak cukup untuk damai. Damai antri di belakang kata yang belum diucapkan orang yang pucat di seberang meja. Kata itu bukan miliknya. Tidak boleh jadi miliknya. Memiliki satu kata orang takut adalah kudeta versi lain. Ia tidak kudeta diri. Ia menunggu ketukan. Kerja. Tahta masih di kartunya. Wewenang belum pindah. Belum. Satu kata. Cukup untuk napas. Napas empat. Empat. Rahmi mengangkat tangan. Voting.