Kamis belum. Rabu sore folder sudah lengkap: undangan, kertas tandingan tiga kop, map delay, nada terima yang datar. Nirwa tidak merayakan kelengkapan. Merayakan undangan adalah pesta sebelum palu. Pesta ditolak sejak bunga lobi. Ia menaruh folder di tepi meja, jauh dari papan. Jauh itu tata kelola di atas meja yang sama.
Ia membuka kertas tandingan sekali lagi, coret satu kata 'hendaknya' yang masih memohon. Memohon dada. Dada keran. Yang tinggal: rasio, telat administratif yang sudah jujur, risiko vakum, CFO interim yang kaku, dua belas anak usaha yang tidak boleh ikut jadi pemilih suasana. Kalimat penutup Lestari, sama nadanya seperti dulu: sidang terbuka bukan metrik covenant. Covenant iya. Ia tutup map. Tutup bukan selesai. Selesai notulen. Notulen Kamis. Kamis belum. Belum boleh pesta. Pesta ditolak.
Sinta: 'Bu, dua media minta sikap 'CEO vs dewan jilid dua'. Saya tolak. Satu analis tanya covenant. Itu ke IR, angka, bukan muka.' Nirwa: 'Tepat. Jilid dua judul. Judul Arman. Kita kertas. IR diam atau rasio. Saya tidak di lobi.' Ia ke delay. Palet. Satu truk datang tepat. Tepat bukan pesta. Tepat kerja. Kepala operasional hampir bilang 'Bu, Ibu kuat'. Nirwa: 'Prosedur. Bukan saya. Lanjut.' Kalimat kuat adalah naskah pahlawan. Pahlawan pecah di selasar. Pecah judul. Ia potong. Orang kerja. Bagus.
Siang, sebelum Dodi, Nirwa ke ruang sebelah IR hanya sebagai pendengar. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur tidak. Rasio. Diam. Setelah call ia tidak minta kalimat 'dewan solid'. Solid janji. Janji peluru. Ia kembali ke delay. Palet. Folder di tepi. Tepi bukan dada. Dada keran. Keran sudah. Kerja sekarang. Kerja tahta. Tahta masih dudukannya, bukan karena undangan belum rapat, karena wewenang belum ia sewa. Sewa ditolak dulu. Ditolak akan ia ulangi dengan angka, bukan dengan muka marah.
Siang Dodi: sidang pidana besok lagi, saksi lain, Ibu tidak dipanggil. 'Jangan datang. Jangan kirim siapa pun dari perusahaan sebagai pendukung. Pendukung kultus. Kultus dibaca intimidasi.' Nirwa: 'Tidak kirim. Tidak nonton. Rapat dewan belum. Truk hari ini. Sidang orang lain besok. Beda kalender. Beda kop.' Dodi mengangguk. Intan menyusul di telepon: cerai tetap sebulan, tidak ada penetapan baru. 'Ibu tidur. Tagihan. Jangan hafal undangan sampai dada ikut. Dada keran. Kertas sudah ada.' Nirwa: 'Kertas. Keran. Telur.' Tutup. Pantry. Air. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir penuh. Rahmi akan puas sebagian. Sebagian utang. Utang bukan milik Wiryo. Utang milik ranjang tamu.
Siang, di antara Dodi dan delay, Nirwa menolak satu permintaan empat mata dari komisaris muda yang masih izin — surat, bukan hadir, minta 'dijelaskan suasana'. Menjelaskan ke orang yang tidak duduk adalah kejar. Kejar intimidasi yang dijual. Ia alihkan ke Rahmi, kop dewan, bukan kop CEO. Beda. Beda sabun. Sinta angguk, pucat, kerja. Nirwa pantry, air, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Menurut cukup. Menang belum. Menang judul. Judul jilid dua. Jilid dua ditolak.
Sore, sebelum tidak ke Bekasi, ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon operasional. Telepon empat mata menyamar. Format email. Kaku. Sabun. Folder undangan tetap di tepi, tidak di dada. Dada keran sudah. Kerja papan. Papan truk. Truk tidak baca jilid dua. Jilid dua judul. Judul ditolak.
Sore Nirwa tidak ke Bekasi. Ritual gudang ditahan. Kampanye tidak. Undangan bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia lewat keuangan, kaca, tidak masuk. Menempel. Tidak meratakan. Forecast. Paraf. Jendela. Kota. Folder di meja. Palu dewan antri. Palu hakim antri. Dua antrian, satu badan. Badan lebih utuh dari lutut lantai, belum damai. Sinta kopi. Pahit. Nirwa minum. Kerja. Empat mata selamat 'Ibu pasti lolos lagi' ditolak. Email: *Tidak ada keputusan. Kerja.* Kaku. Sabun. Ia tulis di sudut kertas, untuk kepala, bukan rilis: *undangan sama isi. jas beda. jawab angka. jangan Dessy. jangan selasar. jangan judul jilid dua.* Enam baris. Kepala. Lalu delay lagi. Palet. Kerja. Undangan sudah di mulut dewan, belum di notulen. Belum boleh. Boleh antri. Antri kering. Kering masih.
Malam, sebelum telur, ia hampir membuka lemari Gilang. Gagang. Lepas. Parfum ditunda. Tunda masih boleh. Undangan dewan bukan kunci parfum. Kunci parfum adalah perang yang ia tunda, dan tunda bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Ia ke laci cincin, tidak pakai, tutup. Dapur. Wajan. Telur. Urutan kecil menahan tangan agar tidak menelepon Dessy 'sekadar memastikan Kamis'. Memastikan empat mata. Empat mata ditutup sejak voting dulu. Ditutup tetap ditutup. Pola. Selalu pola. Pola ia jaga.
Malam hujan. Hujan sebagai hujan. Ia tidak membaca undangan sekali lagi. Sekali di sore sudah cukup. Dua kali di gelap adalah naskah takut. Takut boleh di keran. Tidak di folder. Folder sudah di tas. Tas sudah di kursi. Kursi bukan dada. Dada turun sendiri. Turun kerja. Kerja cukup untuk tidur.
Malam dapur, telur, teh, lampu mati. Tidak TV. TV akan pasang muka Wiryo atau muka Gilang, sama-sama bukan piring. Piring jujur. Cuci. Kunci. Cincin laci. Daftar: *undangan dampingan jas sidang; kertas tandingan siap; pidana tanpa saya; cerai sebulan; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin kecil: 'Saya pernah menolak sewa kursi. Saya datang lagi. Saya tidak sewa. Saya tidak penonton. Saya tidak rujuk. Saya tidak pesta. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk rumah tenang.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di ranjang tamu. Bukan vonis. Bukan putus ikatan. Bukan dampingan yang sudah jadi notulen. Yang milik kalender ini: folder yang sudah pernah ditolak isinya, sidang terbuka yang tidak ia tonton, truk yang masih noda, tahta yang tidak disewa. Tahta masih di sini. Kerja besok. Tidak gerbang paman. Tidak selasar suami. Tidak jas dokter. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Cukup begitu. Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap, satpam angguk. Tidak bicara. Undangan bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Folder di tas, bukan di dada. Dada keran sudah. Kerja. Palu belum. Kursi iya. Iya. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup.