Gosip lantai lebih cepat daripada undangan. Sinta kanal tertulis pagi: tidak ada keputusan sebelum rapat dewan; kerja; jangan spekulasi kewenangan. Tetap belah. Satu sisi: Ibu akan dibagi wewenang karena sidang. Satu sisi: Ibu menang lagi nanti. Menang judul. Nirwa tidak menjinakkan dengan pidato. Ia menjinakkan dengan papan. Palet. Lorong. Tengah. Tidak meratakan.
Pagi itu Nirwa makan telur di dapur lebih pelan dari kemarin. Pelan kolom. Kolom menahan tangan agar tidak membuka portal 'dampingan'. Portal warung. Warung tidak. Gedung iya. Di mobil Sinta tidak tanya undangan. Tidak tanya adalah belas yang sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai takut'. Takut dicatat sebagai suasana kalau diangkat ke pidato. Pidato ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku. Kaku sabun.
Di gedung, Sinta sudah tahan satu permintaan bunga karyawan 'untuk Ibu di hari sulit'. Tolak. Bunga lobi dulu sudah dikembalikan. Bunga lantai adalah kultus yang sama, hanya lebih dekat. Dekat lebih berbahaya. Nirwa paraf tolakan, kaku. 'Kerja. Bukan karangan. Karangan naskah.' Ia ke papan. Palet. Kepala ritel tidak menyinggung dewan. Bagus. Truk tidak punya dampingan. Truk punya delay. Delay ia jaga.
Seorang supervisor logistik kirim ke Sinta: *Gudang tidak baca dampingan, Bu.* Nirwa: *Bagus. Teruskan Pak Harun.* Ia lewat logistik, noda kerja, angguk, tidak berhenti. Berhenti wawancara. Di pantry dua staf diam, lalu salah satu berani, pelan: 'Bu, kami kerja.' Nirwa angguk. Tidak pidato. Pidato sebelum rapat dewan adalah kultus. Kultus senjata. Gelas jujur. Air. Sepuluh detik. Kembali.
Siang portal: Wiryo belum akun panjang — masih merawat sepi. Sepi sementara. Dessy diam. Diam mahal. Nirwa tidak isi. Rahmi pesan: *Independensiku yang basah masih izin. Kekosongan bunyi. Jangan kirim buah. Kamu truk.* Nirwa truk. IR ingin paragraf penenang 'perusahaan tidak terpengaruh sidang'. Nirwa: 'Tidak terpengaruh janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' IR diam. Bagus. Diam lebih mahal daripada tenang. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Lestari angka. Nirwa mencatat. Tidak masuk muka.
Setelah call, Nirwa ke delay lagi, sengaja, sampai ketukan palet menutup gosip di telinganya. Gosip tidak hilang. Gosip hanya tidak diberi mikrofon. Mikrofon rilis. Rilis diam. Diam kerja. Seorang kepala toko telepon, alihkan ke prosedur. Janji lorong adalah makan malam. Makan malam sudah ditinjau, ditolak, dicatat. Ia paraf alih. Email kaku. Sabun. Di kaca keuangan orang menempel. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan berjalan di kiri dan kanan. Ia di tengah. Tengah bukan damai. Tengah hak untuk tidak jadi naskah.
Badan memberontak tipis. Bukan lutut lantai — tangan ingin kopi ketiga. Rahmi sudah bilang. Nirwa taruh kopi, air, tutup pintu lima menit kosong. Kepala meja. Berat. Bukan pecah. Sinta ketuk. 'Bu, Intan: ringkas sidang hari ini, saksi vendor fiktif, bukan Ibu. Gilang diam. Arman ramai. Ibu tetap jangan datang.' Nirwa: 'Tidak datang. Air. Kerja.' Ia buka pintu, muka kerja. Kerja. Bukan dokter. Bukan cuti. Cuti jeda. Jeda yang mau hidup lagi di undangan. Ia tidak sewa. Ia minum air. Cukup untuk delay. Tidak cukup untuk damai.
Setelah lima menit kosong, Nirwa cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin kecil yang bukan cermin rumah: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Intan untuk 'apakah saya harus datang kalau vendor disebut'. Datang naskah. Naskah selasar. Selasar ditolak. Intan sudah cukup: jangan datang. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur cukup untuk tidak jadi penonton saksi orang lain.
Sore komite tata kelola — bukan Nirwa — kirim paragraf: tinjauan makan malam lanjut, kwitansi Roni masih, usul pengawasan baru masuk bahan. Rahmi: *Jangan kejar yang izin. Kejar intimidasi. Kamu kerja truk.* Nirwa kerja truk. Sinta print undangan, Nirwa baca sekali lagi, coret kata 'perlu' yang terdengar memohon. Memohon dada. Dada keran. Kertas hanya dampak. Dampak boleh jelek. Jelek jujur. Ia ke jendela senja, napas empat, kota. Lantai belah. Ia di tengah. Tengah bukan damai. Tengah tata kelola. Tata kelola tidak meratakan cuaca orang takut dan orang bangga. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Meratakan kultus atau belas, sama-sama naskah. Naskah ditolak. Angka diterima.
Pulang, sebelum restoran, ia sempat berdiri di pantry gedung, gelas, sepuluh detik, tidak pidato. Staf baru mengangguk terlalu dalam. Ia angguk datar, pergi. Dalam adalah belas. Belas di gedung adalah naskah paman yang menyelinap. Gedung bukan warung. Warung tidak. Angka iya. Angka delay. Delay ia tutup untuk hari itu. Tutup kerja. Kerja cukup. Cukup untuk kuah Rahmi. Kuah tagihan. Tagihan telur. Telur ia bayar dengan makan, bukan dengan sewa kursi.
Malam restoran kecil, Rahmi, kuah, tagih telur dan enam jam. 'Lantai belah itu bukan gagalmu. Gagalmu kalau kamu pidato meratakan. Jangan. Datang ke rapat. Bawa angka. Jangan peluk Dessy dengan mata. Peluk tekan.' Nirwa makan pelan. 'Tidak peluk. Tidak telepon. Tidak nonton. Tidak klarifikasi rapi. Empat tidak. Kerja iya.' Rahmi: 'Bagus. Wiryo akan bilang suasana. Suasana bukan metrik. Covenant iya. Tidur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Daftar: *lantai belah; undangan; tidak meratakan; saksi vendor bukan saya; capek kopi.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak meratakan. Saya tidak sewa. Saya tidak penonton. Tiga. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Tidur. Lebih dekat enam. Keran singkat. Pagi lift. Tengah. Map. Air, bukan kopi dulu. Lestari kaku. Truk. Belah biar lorong. Lorong bukan undangan meratakan. Undangan dewan iya. Iya datang. Datang kering. Kering kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Masih. Cukup begitu.
Rumah malam itu tetap besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'CEO vs dewan'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Kesepian nanti, kalau palu sudah jatuh di dua meja dan kursi masih harus diduduki tanpa musuh di koran. Nanti bukan malam ini. Malam ini tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Cukup untuk datang kering.