Undangan dewan datang Rabu pagi, kop sah, agenda dua poin: laporan komite tata kelola, dan 'usul penguatan pengawasan operasional selama proses sidang terbuka'. Bahasa dokter baru. Baju lama. Nirwa membacanya di meja, kopi masih panas, dada sudah dingin dari keran tadi. Ia tidak membalas dengan marah. Marah dicatat sebagai suasana. Suasana peluru.
Sinta sudah siaga dengan print. Nirwa baca undangan sendiri, sekali, tidak minta ringkas dulu. Ia perlu nada itu di kepala. Pola. Selalu pola. Kata 'sementara' di kertas Wiryo dulu sudah ia tolak. Kata itu kembali, hanya diselip 'sidang terbuka'. Sidang terbuka milik hakim. Hakim tidak minta CEO disewa. Yang minta adalah orang yang kalah voting, merawat elegansi, lalu mengganti jas. Ia taruh print di folder dewan, bukan di laci Sinta. Beda kop. Beda sabun.
Sinta di ambang. 'Bu Rahmi minta Ibu tidak telepon siapa pun. Jalur: kertas tandingan sebagai bahan, bukan perang di kop. Beliau bilang: ini dampingan yang sudah ditolak, diganti jas sidang.' Nirwa: 'Masukkan sebagai bahan. Saya tidak tulis kata kudeta. Saya tulis dampak vakum. Sama seperti dulu. Sama karena isinya sama.' Ia buka folder lama — kertas Lestari, Dodi, covenant — lalu minta Sinta undang rapat resmi, notulen, tiga fungsi, bukan restoran, bukan empat mata. Pola. Selalu pola. Wiryo tidak punya ide baru. Ia punya tempo baru. Tempo sidang terbuka. Tempo itu bukan alasan sewa kursi.
Rahmi telepon, tidak teratur. 'Dia minta CEO didampingi 'tim pengawasan sementara' selama pidana ramai. Keputusan material tanda tangan bersama. Nama kamu tetap. Wewenang pindah. Kudeta pelan, jas hakim. Kamu datang. Kamu jangan marah di notulen. Aku jaga independen. Dessy diam. Jangan telepon. Komisaris muda masih izin, kekosongan tercatat.' Nirwa: 'Datang. Angka. Tidak telepon. Tidak nonton sidang sebagai alasan cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Kerja.' Tutup. Ia ke jendela. Kota. Usul yang sudah mati di voting dulu belum dikubur. Belum dikubur adalah naskah yang dirawat. Naskah ia lawan kertas, bukan studio.
Sebelum rapat tiga fungsi, Nirwa ke papan sepuluh menit. Bukan kampanye. Kampanye tidak. Ia perlu noda di mata sebelum angka covenant, supaya kertas tandingan tidak jadi naskah pahlawan. Pahlawan pecah. Pecah judul. Palet jujur. Jujur ia bawa ke ruang kecil. Ruang kecil notulen. Notulen sabun. Sabun tiga kop.
Siang Lestari, Dodi, notulen. Lestari datar: 'Saya baca ini sebagai CFO yang menandatangani covenant, bukan sebagai orang Ibu. Sidang terbuka tidak mengubah rasio. Vakum mengubah. Saya tidak percantik jelek kalau dewan pilih vakum.' Nirwa: 'Jangan bela saya. Bela covenant.' Dodi: 'Jejak tiga fungsi lagi. Arman akan bilang orkestrasi. Sabun: kop masing-masing, tanggal, bukan satu naskah meja CEO. Rapat dewan belum. Undangan dulu. Ibu diam di portal. IR diam.' Nirwa paraf undangan terima, nada datar. Sinta yang kirim. Marah tidak tercatat di kop. Marah tercatat di keran, dan keran tidak punya notulen.
Sore, sebelum papan, Nirwa makan nasi kotak, pintu ke Sinta. Bukan empat mata rahasia — prosedur asisten, pintu terbuka cukup untuk tidak jadi naskah. 'Kalau lantai bilang Ibu akan dibagi wewenang, ulang kanal. Jangan tambah. Tambah judul.' Sinta: 'Siap. Kopi?' Nirwa: 'Pahit. Bukan pesta undangan.' Ia minum. Pahit jujur. Jujur kolom. Kolom siang terisi. Badan belum lunas. Lunas antri. Antri ia bawa ke delay. Delay bukan dewan. Dewan belum. Belum boleh marah di kop. Kop sudah terima. Terima datar. Datar kerja.
Sore ia ke papan delay, sengaja, sebelum lantai menggosip dampingan. Palet. Kepala ritel menelan kata pengawasan, pilih suku cadang. Nirwa tidak berterima kasih atas telenan. Ia minta forecast. Ketukan. Pak Harun truk biasa. *Terima kasih.* Empat mata 'menyikapi usul dewan' ditolak. Email: *Tidak ada keputusan sebelum rapat. Kerja. Jangan spekulasi kewenangan.* Kaku. Sabun. Di keuangan kaca, kepala ke layar, menempel. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Capek di bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah istri yang takut sidang. Ia CEO di lantai. Paraf satu angka, jendela, napas empat. Undangan di folder. Truk di papan. Beda kop. Beda ia jaga.
Sore, Sinta bawa dua permintaan wawancara 'CEO vs pengawasan dewan'. Tolak. Format spekulasi kewenangan. Nirwa tidak tambah kalimat. Tambah duet. Duet ditolak sejak hormat Wiryo yang tidak ia sambut. Ia pantry, air, angguk, pergi. Lutut menurut. Enam akan ditagih malam. Tagih ia coba bayar tanpa cuti. Cuti adalah dampingan yang masuk dari pintu tidur. Pintu itu ia tutup. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Undangan belum rapat. Rapat antri. Antri ia jalani kering.
Malam Intan: 'Dewan bukan jalur saya. Saya jaga cerai sebulan. Ibu jangan campur undangan ke selasar pidana. Mencampur adalah makan malam yang sudah mati.' Nirwa di dapur, telur, teh. 'Tidak campur. Tiga jalur. Dampingan kertas. Cerai kertas kamu. Pidana kertas jaksa. Saya papan.' Intan: 'Bagus. Gilang hadir terdakwa. Ibu tidak penonton. Kalau Wiryo bocor 'CEO terlalu rapi lagi', kita tidak klarifikasi. Klarifikasi judul.' Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Telur. Enam.' Tutup. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *undangan dampingan jas baru; kertas tandingan; Dessy diam; cerai sebulan; tidak nonton.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya pernah menolak sewa. Saya tolak lagi dengan angka, bukan dengan dada.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Palu dewan belum. Palu hakim belum. Kursi masih. Kerja besok. Tidak gerbang. Tidak selasar. Tidak jas dokter. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Sebelum tidur ia duduk di bangku rendah, undangan tidak di pangkuan — undangan di tas, tas di kursi, kursi bukan dada. Dada keran sudah. Ia dengar hujan, hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di kop sah. Ia tidak menelepon Rahmi untuk 'kita akan menang lagi'. Menang judul. Rahmi tidak suka judul. Rahmi suka telur dan angka. Telur sudah masuk. Angka besok. Besok kertas. Kertas tandingan. Tandingan bukan perang di portal. Perang di notulen, nanti, sah. Sah ia pilih. Pilih cukup. Jas dokter biar Wiryo. Jas kerja ia pakai. Pakai sampai lampu mati.