Saksi berikutnya bukan Nirwa. Auditor forensik, kata Dodi pagi, kop legal, satu paragraf. Tanggal, temuan, tiga cangkang, dua belas kontrak, bukan perut April. Nirwa membaca di meja, kopi setengah — tangan. Ia tidak ke pengadilan. Ia ke papan. 'Ibu tidak perlu hafal mulut orang lain,' tulis Intan. 'Hafal milik Ibu sudah selesai. Yang ini milik jaksa dan auditor. Kalau dipanggil lagi, kami kabari. Sekarang gedung.' Nirwa: 'Gedung.' Satu kata. Cukup. Cukup untuk tidak jadi murid di selasar.
Ia membaca paragraf Dodi dua kali, lalu menutup. Dua kali bukan duet portal. Dua kali adalah memastikan ia tidak perlu ke ruang itu. Tidak perlu adalah hak. Hak yang Intan jaga. Ia ke papan. Palet pagi masih noda. Noda menenangkan. Noda tidak bersaksi. Noda hanya telat atau tidak. Hari ini lebih tidak. Ia tulis di sudut: *auditor. bukan saya. jangan hafal. jangan datang.* Empat baris. Kepala. Bukan rilis. Rilis mulut orang lain adalah mencuri kesaksian. Mencuri senjata. Senjata ditolak.
Lorong menempel lagi, tipis, karena portal memasang muka auditor yang tidak dikenal lantai. Orang takut pada yang tidak dikenal. Nirwa tidak meratakan. HR: satu orang keuangan minta pindah tim lagi, tertulis, konsentrasi. Dodi: sah, prosedur, jangan dibaca pengkhianatan. Nirwa paraf. 'Jangan saya telepon. Telepon CEO ke orang takut adalah tekanan.' Sinta catat. Nirwa delay. Palet. Kepala operasional merengek telat satu hari. 'Telat. Bukan cangkang. Pilih.' Mereka pilih telat. Ruangan kerja. Ketukan. Ia suka ketukan lebih daripada judul 'saksi kunci'. Saksi kunci adalah naskah. Naskah portal. Mejanya suku cadang.
Siang Lestari rapat angka, Dodi hadir lima menit. 'Saya tidak longgar karena auditor bicara,' kata Lestari. 'Bicara auditor bukan izin invoice jembatan. Tertahan tetap. Covenant tidak saya percantik.' Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Setelah Lestari pergi, Dodi menambah, hati-hati: 'Roni masih angin. Tangerang kosong, Batam senyap. Arman belum tanam nama baru. Kalau tanam, IR: permintaan aparat, tidak buru. Ibu tidak korek.' Nirwa: 'Tidak korek. Tidak peta. Tidak mesin pencari.' Tangan ke kertas delay. Tangan yang ke peta adalah buru. Buru naskah intimidasi. Intimidasi peluru Wiryo.
Setelah Dodi pergi, Nirwa tidak membuka berkas forensik lama. Berkas itu sudah di jaksa. Membuka lagi adalah jadi murid, atau jadi jaksa. Dua-duanya ditolak. Ia ke delay, berdiri di depan papan sampai kepala ritel selesai menunjuk palet. Ia bertanya satu hal tentang suku cadang. Jawaban jujur. Ia pergi. Di lift seseorang hampir, 'Bu, kami dengar auditor...' Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato auditor di lift adalah kultus data. Data milik ruang sidang. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun. Sabun ia pakai.
Sinta tahan tiga wawancara 'CEO diam di kantor saat suami disidang'. Tolak. Format spekulasi rumah tangga. IR diam. Pasar goyang singkat, datar. Nirwa ruang sebelah, tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Ia mencatat. Tidak masuk muka. Ratu di bingkai makanan. Ratu di sebelah kendali. Setelah call lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, pegang wastafel, napas empat, gelas, kembali. Sinta kopi pahit. Nirwa minum. 'Warna Ibu manusia,' kata Sinta, lalu menyesal. Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota siang. Mulut orang lain sudah di ruang hakim. Mulutnya tutup. Tutup kerja. Kerja tahta.
Sore Intan: sidang cerai masih sebulan, hakim tumpuk, tidak dipercepat karena pidana ramai. 'Arman akan bilang Ibu memakai ramai untuk menekan cerai. Kita tidak percepat, tidak tunda. Tempo hakim. Ibu kering kalau dipanggil. Sekarang tidak.' Nirwa di pantry, air, angguk ke telepon. 'Tidak percepat. Tidak tunda. Tidak nonton pidana. Tiga tidak. Kerja iya.' Intan: 'Makan. Enam. Tagihan Rahmi, tagihan saya.' Tutup. Nirwa ke logistik sebentar, bukan parade: satu pertanyaan palet, jawaban angka, pergi sebelum muka belas tersusun. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal.
Malam, sebelum nasi, ia mandi. Mandi bukan keran lima belas menit. Mandi, lalu keran singkat, lalu piring. Kolom. Badan yang tadi lutut wastafel lebih menurut. Menurut bukan damai. Damai antri. Ia tidak mengulang kalimat auditor di kepala. Mengulang adalah hafalan yang bukan miliknya. Hafalan miliknya sudah selesai di podium dulu: Minggu, rantai, bukan April, bukan belas. Cukup. Cukup untuk tidak mencuri mulut orang lain.
Malam dapur, nasi, teh, tidak TV. TV auditor. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Daftar: *auditor saksi; Roni angin; cerai sebulan tetap; tidak nonton; capek lutut.* Lima baris. Kolom: *nasi. air. coba enam.* Ia duduk di bangku rendah, bukan sofa. Sofa terlalu lebar. Rumah besar. Ia tidak menghafal temuan auditor. Menghafal temuan orang lain adalah jadi jaksa. Jaksa ditolak. Saksi sudah. CEO sekarang. Ia tidur. Gagal pukul dua, keran singkat, kembali. Cermin: 'Mulut orang lain bukan mulut saya. Papan saya. Papan truk.' Cermin tidak berdebat. Pagi telur, teh, satpam, gedung. Lorong. Map. Kopi. Lestari kaku. Truk. Sidang orang lain boleh ramai. Ramai bukan undangan. Undangan yang sah: delay. Delay ia buka. Buka kerja. Kerja cukup. Tidak damai. Damai antri. Antri palu. Palu hakim. Hakim banyak. Banyak bukan meja ini. Meja ini palet. Palet noda. Noda jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak gerbang. Tidak selasar. Tidak judul diam-karena-takut. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima ia bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Sidang orang lain bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong menempel tipis. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Mulut auditor biar ruang hakim. Mulutnya sudah selesai dulu. Selesai bukan vonis. Vonis antri. Antri ia jalani di papan, bukan di balkon. Balkon penonton. Penonton ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup untuk hari mulut orang lain. Tidak damai. Damai antri di belakang banyak tangga. Tangga itu bukan miliknya hari ini. Hari ini truk. Truk jujur. Jujur cukup.