Pagi itu Intan mengirim satu baris, kop pengacara, bukan kop Tanjung. *Sidang pidana lanjutan hari ini. Ibu tidak dipanggil. Jangan datang. Jangan nonton. Gedung.* Nirwa membaca di dapur, telur masih di wajan, teh belum dituang. Ia tidak membalas panjang. 'Gedung,' ketiknya. Lalu membalik telur. Kolom tubuh lebih dulu. Kalender jaksa bukan izin lapar.
Sinta jemput seperti biasa. Radio mati. Nirwa tidak membuka portal. Portal akan memasang muka Gilang di selasar, jas terdakwa, dagu yang dulu ia kenal delapan tahun. Menonton itu menjadi istri di kursi penonton. Penonton naskah. Naskah ditolak sejak amplop. 'Kalau lantai tanya sidang,' kata Nirwa di macet, 'kanal: proses hukum, kerja, tidak ada pernyataan perusahaan. Saya tidak di pengadilan. Saya di papan.' Sinta: 'Siap. Saya blokir siaran. Ibu tidak perlu layar.' Nirwa: 'Blokir. Sekali Intan cukup kalau ada yang harus saya tahu. Dodi kop perusahaan. Beda.' Beda sabun. Sabun ia pakai sebelum lift.
Gedung. Lorong masih belah, kurang rapat dari hari saksi. Seseorang menelan. Seseorang mengangguk terlalu cepat. Nirwa berjalan di tengah, tidak meratakan. Map delay. Kopi pahit. Lestari lima menit, resmi: tertahan tetap, tutup buku terkendali, jangan longgar karena 'hari sidang orang lain'. 'Hari sidang orang lain bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin satu kalimat tentang 'suasana luar'. Nirwa: 'Luar di luar agenda. Delay di dalam. Pilih.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi palu di ruang yang bukan miliknya.
Di meja, layar Sinta sudah gelap dari siaran. Nirwa hampir meminta dinyalakan, lalu tidak. Hampir adalah dada. Dada keran nanti. Ia membuka forecast ritel, angka yang tidak peduli jas terdakwa. Angka jujur. Jujur ia pilih. Pilih itu yang menahan jari agar tidak mencari nama Gilang di kolom berita. Mencari adalah menonton dengan huruf. Menonton ditolak, termasuk yang diam-diam. Ia paraf satu halaman, berdiri, ke jendela, napas empat. Kota siang tidak memberitahu apakah hakim sedang mencatat. Kota hanya panas dan macet. Macet jujur. Jujur cukup. Ia kembali duduk. Kopi sudah dingin. Dingin ia minum. Pahit. Pahit kolom. Kolom tubuh. Tubuh yang tidak ia bawa ke selasar.
Siang Dodi masuk, resmi, tidak duduk lama. 'Gilang hadir. Arman panjang. Saksi bank: rekening, tanggal, bukan hati. Hakim minta kejelasan rantai, bukan teater. Ibu tidak disebut berlebihan. Wartawan di luar lebih lapar daripada hakim. IR diam. Saya diam di luar notulen perusahaan — perusahaan bukan terdakwa.' Nirwa mencatat tiga baris, bukan rilis. 'Tidak nonton. Tidak rilis. Truk.' Dodi: 'Bagus. Kalau Ibu muncul di selasar hari ini, judulnya istri datang menyaksikan jatuh. Jatuh naskah. Naskah Arman.' Nirwa: 'Saya tidak jatuhkan siapa pun dari balkon. Saya jaga suku cadang.' Dodi hampir, hampir, terlihat puas. Puas tidak ia minta. Ia minta kop yang tidak campur.
Sinta ragu di ambang. 'Bu, dua orang lantai minta izin 'mendukung Ibu di pengadilan'. Format cuti mendadak.' Nirwa: 'Tolak. Pendukung di selasar adalah kultus. Kultus senjata. Kerja. Kalau ingin dukung, palet tepat.' Sinta ketik, kaku. Nirwa pantry, air, sepuluh detik, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan bilang hampir kerja. Ia kembali ke meja. Jendela. Kota. Sidang di suatu gedung yang bukan ini. Tahta di sini. Beda alamat. Beda itu yang Intan jaga. Ia jaga dengan tidak menonton.
Sore, sebelum Pak Harun, Nirwa ke lantai operasional sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi. Orang menatapnya seperti orang menatap yang seharusnya ada di TV. Ia tidak isi tatapan itu. Mengisi adalah pidato. Pidato 'saya tidak nonton karena profesional' adalah judul yang sama dengan 'saya tidak nonton karena takut', hanya lebih mahal. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya selasar. Selasar milik hakim. Hakim bukan dewan. Dewan nanti, kalau Wiryo benar-benar mengirim undangan. Nanti bukan sore ini. Sore ini truk. Truk ia jaga sampai lampu lorong ganti satu tingkat.
Sore Pak Harun pesan, bukan foto sidang: *Gudang baca truk. Orang tanya TV. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus.* Dua kata. Gudang sabun. Portal, kata Sinta, sudah pasang klip Gilang naik tangga, lalu potongan Arman soal 'orkestrasi'. Nirwa tidak buka. Sekali Dodi cukup. Dua kali duet. Duet ditolak. Ia ke delay lagi, berdiri lebih lama daripada duduk, menahan badan yang ingin tahu. Ingin tahu adalah dada. Dada keran nanti. Sekarang angka. Angka tidak terdakwa. Angka delay.
Malam Rahmi telepon, tidak teratur. 'Aku tidak nonton juga. Aku baca ringkas Dodi. Kamu di papan, bagus. Wiryo akan bilang Ibu menyembunyikan muka. Sembunyi judul. Kamu kerja. Makan. Enam. Dia akan usul dampingan lagi — suasana sidang terbuka, kata dokter baru. Aku jaga notulen. Kamu jangan telepon Dessy.' Nirwa di dapur, telur, teh, lampu kristal mati. 'Tidak telepon. Tidak nonton. Tidak dampingan. Kertas kalau datang. Telur sekarang.' Rahmi: 'Telur. Jangan jadi penonton suami. Penonton itu cara orang menyewa dadamu.' Tutup. Nirwa cuci piring. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *sidang tanpa saya; tidak nonton; kultus ditolak; Wiryo dampingan mungkin; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. air. coba enam.* Cermin kecil: 'Saya saksi sudah. Saya bukan penonton. Saya CEO di papan. Tiga. Tidak dicampur.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu belum. Kursi iya. Kerja besok. Tidak selasar. Tidak klip. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Sebelum lampu mati ia hampir menyalakan TV, ibu jari di remot, lalu meletakkan. Meletakkan adalah kerja kedua hari itu, setelah tidak datang. Kerja kedua lebih sunyi. Sunyi belas yang sah. Belas yang tidak sah: klip suami di tangga. Ia ke kamar tamu. Tidur. Gagal sebentar. Keran tidak. Keran sudah cukup pagi. Pagi telur. Telur jujur. Jujur cukup untuk tidak jadi penonton di kursi yang bukan tahta.