Intan dan Dodi, ruang kecil, dua amplop jadwal. Cerai: sidang berikut sebulan, hakim tumpuk perkara, tempo. Pidana: sidang lanjutan, terbuka, saksi lain, Gilang hadir terdakwa, Nirwa tidak dipanggil tiap hari — saksi sudah, boleh dipanggil lagi. Bukan vonis. Bukan putus ikatan. Dua antrian memanjang. Sidang yang ramai di koran akan datang; hari ini masih pintu.
'Ibu tidak ke tiap sidang pidana sebagai tontonan,' kata Intan. 'Datang kalau dipanggil. Kalau tidak, gedung. Jangan jadi penonton suami. Penonton naskah. Dodi jaga kop perusahaan. Saya jaga cerai. Ibu jaga tidak campur dan jaga badan. Enam jam. Telur. Ini bukan selesai. Ini napas di antara tangga.' Nirwa duduk, dua kalender, tidak pelangi. 'Saya tidak penonton. Saya tidak jaksa. Saya tidak cuti. Triase tetap. Kursi tidak saya sewa karena sidang terbuka. Sidang terbuka milik hakim, bukan milik jeda Wiryo.' Dodi: 'Wiryo akan bilang suasana makin berat, dampingan lagi. Kita siap kertas covenant, sama seperti dulu. Lestari kaku. Ibu diam di luar notulen.' Nirwa: 'Diam. Kertas. Tidak pesta. Tidak belas. Tidak klarifikasi rapi.' Sinta dipanggil, jadwal, beda kop. Pucat, kerja. Nirwa menatap dua amplop, tidak merayakan. Merayakan antrian adalah pesta. Pesta ditolak sejak bunga lobi. Lobi tidak bunga. Ruang ini tidak tepuk. Tepuk naskah. Naskah senjata. Senjata ditolak. Kursi diterima. Diterima. Kerja.
Nirwa menatap dua amplop lebih lama daripada perlu, lalu menutupnya. Menutup bukan menolak. Menutup adalah tidak merayakan antrian. Antrian bukan pesta. Pesta ditolak sejak bunga lobi. Ia minum air, bukan kopi. Tangan. Tangan ke kertas triase. Triase tetap: ritel ke Lestari, delay di mejanya, covenant undangan wajib. Bukan jeda. Napas. Sinta mencatat tanpa warna. Polos. Polos tata kelola. Pelangi teater. Teater sudah cukup di portal.
Siang papan. Palet. Lorong masih belah, kurang rapat menempel dari hari saksi. Tidak meratakan. Lestari: tertahan tetap, tutup buku terkendali, tidak percantik. Nirwa: 'Jangan percantik. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk. IR diam. Pasar datar. Nirwa tidak bingkai. Empat mata selamat saksi ditolak. Email kerja. Rahmi pesan: *Blok belum mati. Kamu tutup baju dokter dan baju senjata. Mereka masih akun. Kamu masih kursi. Kursi itu kerja. Tidur.* Nirwa: *Kursi. Tidur. Telur.* Dessy diam. Roni angin. Karina terkait. Gilang terdakwa dan masih pihak cerai. Tiga jalur. Satu badan. Badan lebih utuh dari lutut lantai, belum damai. Sinta kopi. Pahit. Nirwa minum. Kerja. Amplop di map Intan dan Dodi, bukan di laci asisten. Beda kop. Beda sabun. Ia ke lantai operasional, bukan parade: papan, satu pertanyaan, pergi. Supervisor angka. Nirwa suka angka. Angka tidak penonton. Penonton sidang terbuka naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima. Diterima. Forecast. Paraf. Jendela. Kota. Dua antrian di kalender Intan dan Dodi. Satu kursi di sini. Kursi tidak sewa. Tidak. Satu kata. Cukup untuk siang. Tidak damai. Damai antri. Antri palu. Palu hakim. Hakim banyak. Banyak nanti. Nanti bukan siang ini. Siang ini truk. Truk jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Wiryo belum akun hari itu. Diam elegan. Diam tidak ia isi. Isi duet. Duet ditolak. Kerja. Palet. Kopi habis. Map terbuka. Ratu kerja. Masih.
Sore Nirwa ke gudang Bekasi, bukan pawai — sekali, tanpa konvoi, setelan tidak kamera, seperti dulu, karena ritual ditahan terlalu lama juga bisa jadi naskah sebaliknya. Pak Harun di loading. 'Bu datang. Orang kaget. Saya bilang kerja.' Nirwa: 'Bagus. Gaji sama. Kalau tanya sidang, tidak tahu, kerja. Kalau tanya jaksa, tidak tahu, kerja.' Teh manis kantor gudang, panas, angka delay. Satu truk mogok, vendor bersih. Ia tidak tarik mogok ke Gilang. Ratu yang menuduh setiap mogok sebagai kudeta adalah ratu lelah dan berbahaya. Ia minum, lima belas menit lapangan, pergi sebelum pawai. Bau kardus, solar, keringat. Gudang tidak berbohong dengan parfum. Beberapa pekerja menunduk terlalu dalam. Beberapa menatap terlalu lama. Nirwa tidak pidato dua belas ribu orang. Kalimat itu sudah di podium, sudah dipotong portal. Di sini cukup: kerja, gaji, truk. Sinta mengemudi. Radio mati. Nirwa tutup mata tiga menit. Buka. Kota. Rumah jauh. Gudang cukup untuk tidak jadi penonton di sidang orang lain. Penonton naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima. Diterima. Palet. Teh. Pulang. Pulang dapur. Dapur telur. Telur kolom. Kolom bukan pesta saksi. Pesta ditolak. Gudang jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Kursi besok. Besok gedung. Gedung angka. Angka tidak palu. Palu hakim. Hakim antri. Antri ia jalani. Jalani tanpa sewa. Tanpa sewa tahta. Tahta masih. Masih. Cukup.
Di jalan pulang dari Bekasi, Nirwa tidak membuka kalender. Kalender sudah cukup di dua amplop. Amplop bukan di tas gudang. Amplop Intan dan Dodi. Beda kop. Beda sabun. Bau solar masih di lengan setelan. Bau itu jujur. Jujur lebih mahal daripada judul saksi. Ia biarkan bau sampai rumah, lalu mandi. Mandi bukan keran lima belas menit. Mandi, lalu keran singkat, lalu telur. Kolom. Badan. Kursi besok. Besok bukan sidang. Besok truk. Truk ia pilih. Pilih itu yang menjaga supaya ia tidak jadi penonton di ruang orang lain.
Malam dapur, telur, teh, lampu mati. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *cerai sebulan; pidana terbuka tanpa saya tiap hari; Wiryo dampingan mungkin; Roni angin; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *teh gudang. telur. coba enam.* Ia tulis di kepala, bukan rilis: perang cerai dan dakwaan belum palu, kursi masih, urutan masih. Palu milik hakim, banyak, nanti. Nanti bukan malam ini. Malam ini kunci, kamar tamu, hujan sebagai hujan. Cermin: 'Saya saksi sudah. Saya penggugat masih. Saya CEO masih. Tiga. Tidak dicampur. Tidak sewa. Tidak pesta. Tidak belas. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk rumah tenang.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di ranjang tamu. Bukan vonis. Bukan rujuk. Bukan rumah yang tenang. Yang milik kalender ini: dua antrian, truk, telur, tahta yang tidak disewa. Tahta masih di sini. Kerja besok. Tidak gerbang. Tidak podium tiap hari. Tidak judul rapi. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Cukup begitu. Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap, satpam angguk. Tidak bicara. Gudang kemarin bukan alasan pawai hari ini. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Dua amplop bukan di mejanya. Mejanya delay. Delay jujur. Jujur cukup. Palu belum. Belum. Kursi iya. Iya. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup.