Gladi saksi di kantor Intan, bukan di rumah, bukan di gedung. Rumah terlalu penuh laci. Gedung terlalu penuh kop perusahaan. Nirwa datang dengan roti di tas — kolom tubuh, tagihan Rahmi — dan map kosong. Map penuh milik Dodi dan Intan. Ia saksi, bukan arsip. Sinta tidak ikut. Sinta gedung. Beda kop. Beda sabun. Di ruang Intan AC, air mineral, bukan sampanye. Nirwa duduk, buka roti, makan dua suap dulu, baru dengar. Badan dulu. Mulut nanti. Nanti urutan. Urutan jaksa. Jaksa korek tanggal. Tanggal ia hafal tanpa perut. Perut kabut. Kabut ditolak. Roti jujur. Jujur kolom. Kolom cukup untuk mulai. Mulai gladi. Gladi kerja. Kerja bukan pesta. Pesta ditolak. Kertas Intan di meja. Kertas Dodi di samping. Mulut Nirwa di tengah. Tengah saksi. Saksi bukan senjata. Senjata ditolak. Jujur diterima. Diterima. Siap.
Intan menunggu sampai Nirwa menelan. Tidak buru. Buru membuat mulut cepat dan dada ikut bicara. Dada tidak boleh bicara di podium. Nirwa menaruh roti di tepi meja, menyeka jari ke tisu, baru mengangguk. 'Siap dengar.' Suaranya datar. Datar yang ia kejar. AC berbunyi pelan. Di luar, lift kantor pengacara bunyi, bukan lift gedung Tanjung. Beda. Beda itu yang ia rasakan di bahu: di sini ia bukan ratu yang harus meratakan lorong. Di sini ia orang yang akan ditanya tanggal, dan tanggal tidak boleh dicampur perut.
Intan berdiri, seperti orang mengulang langkah selasar. 'Jaksa akan korek tanggal. Minggu notifikasi, insting, kenapa tidak lapor hari itu, kenapa auditor dulu, kenapa barang bukti sebelum voting. Jawaban Ibu sudah ada di berita acara Sari. Jangan tambah perut April. Jangan tambah 'sebenarnya saya sudah curiga bulan ini'. Perut kabut. Kabut Arman. Pengacara Gilang akan bilang orkestrasi. Ibu jujur: insting, belum rantai, rantai, aparat, pecat. Urutan. Kalau ditanya Karina, fakta tablet dan slide, bukan teras, bukan parfum, bukan belas paman. Belas bukan kesaksian.'
Nirwa mengulang, kering, sekali, dua kali, tiga. Mulut hafal. Dada tidak perlu hafal. Dada keran. 'Kalau ditanya apakah saya menunda demi jebakan voting?' Intan: 'Ibu sudah jawab: voting diarahkan dokumen, bukan jadwal tidur. Ulang itu. Jangan marah. Marah peluru Wiryo yang pindah ke persidangan.' Nirwa ulangi. Air. Roti. Kolom. Intan tidak memaksa restoran. Restoran dekat kejaksaan mata. Mereka kerja satu jam, istirahat teh, kerja lagi. Dodi masuk siang, resmi, dokumen anak usaha yang boleh diserahkan lewat jalur perusahaan, bukan lewat saksi di podium. 'Ibu jangan jadi kurir kertas. Kurir saya. Ibu mulut. Mulut kering.' Nirwa: 'Mulut kering. Kertas Dodi. Kop beda.' Beda sabun. Sabun ia pakai. Intan menuang teh lagi. 'Kalau Ibu capek di podium, minta air, bukan pidato. Pidato naskah. Air manusia. Manusia boleh. Jaksa tidak butuh pahlawan. Jaksa butuh urutan.' Nirwa mengangguk. Pahlawan pecah di selasar. Pecah judul. Ia hafal urutan, bukan luka.
Mereka mengulang sekali lagi, lebih pelan. Intan menjadi jaksa. Nirwa menjawab. Dodi mencatat yang terlalu panjang. 'Pendek,' kata Dodi. 'Pendek lebih sulit dipotong.' Nirwa memendekkan. Kalimat dua belas ribu orang ia simpan untuk nanti, kalau ditanya motif, bukan untuk dibuka sendiri. Membuka sendiri adalah pidato. Pidato naskah. Naskah Arman. Teh kedua. Roti habis. Kolom tubuh terisi. Mulut kering dari latihan, bukan dari takut. Takut boleh. Takut tidak boleh jadi April.
Sore ke gedung satu jam. Triase Sinta: rapat yang bisa diwakilkan ke Lestari, covenant tetap undangan Nirwa. Bukan jeda. Napas. Lestari kaku, lima menit: tertahan tetap, vendor bersih, jangan longgar karena gladi. Nirwa: 'Jangan longgar. Terima kasih kaku.' Papan delay. Palet. Kepala ritel pilih truk, bukan jaksa. Pak Harun: *Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Lorong menempel. Tidak meratakan. Empat mata 'menyemangati saksi' ditolak. Email: *Kerja. Sidang bukan agenda perusahaan.* Sinta kopi pahit. Nirwa minum, tidak pesta gladi. Gladi kerja. Kerja bukan bunga. Bunga ditahan. Di lift seseorang hampir 'Bu, kami doakan'. Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato kultus. Kultus senjata. Ia masuk ruang, jendela, napas empat, kota. Mulut masih basah teh Intan. Teh bukan naskah. Teh kolom. Kolom ia jaga supaya podium nanti tidak gemetar karena lapar. Lapar naskah. Naskah Arman. Ia ke lantai logistik sebentar, bukan parade: satu pertanyaan suku cadang, jawaban jujur, pergi sebelum muka belas tersusun. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal. Di meja ia tulis di sudut kertas, untuk kepala: *urutan. bukan April. bukan belas. air, bukan pidato.* Empat baris. Bukan rilis. Kepala. Lalu delay lagi. Palet. Kerja. Gladi sudah di mulut. Mulut tutup di gedung. Tutup sabun. Sabun ia pakai. Pakai cukup untuk sore. Tidak damai. Damai antri. Antri podium. Podium nanti. Sekarang truk. Truk jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup.
Rahmi pesan, tidak teratur: *Jangan jadi jaksa. Jadi saksi. Enam jam. Aku jaga dewan. Wiryo akan bilang Ibu terlalu rapi lagi. Rapi biar di mulut kering, bukan di akun. Jangan telepon Dessy.* Nirwa: *Saksi. Enam. Tidak telepon.* Ia pulang. Dapur. Telur. Teh. Lampu kristal mati. Menghafal di dapur adalah naskah. Ia tidak hafal luka. Ia cuci piring. Kunci. Tidak buka lemari. Kesaksian bukan parfum. Parfum tunda. Cincin laci. Sebelum tidur ia duduk di bangku rendah, bukan sofa — sofa terlalu lebar untuk seorang. Rumah besar. Hujan sebagai hujan. Ia tidak menelepon Intan untuk ulang urutan sekali lagi. Ulang di gelap adalah naskah takut. Takut boleh di keran. Tidak di telepon. Keran singkat. Daftar: *gladi; urutan Minggu; jangan April; jangan belas; capek.* Lima baris. Kolom: *roti Intan. telur malam. coba enam.* Tidur. Gagal pukul tiga, keran singkat, kembali. Cermin kecil: 'Saya saksi. Bukan senjata. Bukan keponakan. Bukan istri di podium pidana. Istri di cerai. CEO di gedung. Pisah.' Cermin tidak berdebat. Pagi telur, teh, satpam, gedung. Lorong. Map delay. Mulut masih hafal urutan. Urutan tahta yang Rahmi sebut: hak tidak dicampur. Ia bawa hak itu ke papan. Papan truk. Truk tidak korek tanggal. Truk korek suku cadang. Suku cadang ia jawab. Tanggal ia jawab nanti, di ruang yang bukan studio. Studio biar Arman. Ia pilih kertas. Pilih cukup untuk hari gladi. Tidak damai. Damai antri. Antri tiga minggu yang memendek. Memendek napas. Napas empat. Empat ia hitung di lift. Lift buka. Tengah. Kerja. Kering. Masih. Sinta di ambang, tidak tanya hafalan. Nirwa tidak cerita podium. Podium kop Intan. Gedung kop Tanjung. Beda. Beda sabun. Sabun ia pakai. Pakai cukup. Cukup begitu. Kopi pahit. Map terbuka. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak gerbang. Tidak belas. Tidak April. Kertas. Truk. Mulut kering. Kering kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Masih.
Malam itu, di bangku rendah, ia tidak menghafal lagi. Menghafal di gelap adalah naskah takut yang sudah ia tolak. Ia hanya duduk, mendengar hujan, hujan sebagai hujan, dan membiarkan dada turun sendiri. Keran tidak ia buka. Keran sudah cukup tadi malam. Cukup. Ia ke kamar tamu. Tidur. Gagal sebentar, kembali. Pagi bukan podium. Pagi truk. Truk ia pilih. Pilih itu yang menjaga mulut supaya tetap kering ketika tangga benar-benar datang.