Kalender Intan: sidang cerai kelengkapan akta, hari Kamis. Kalender jaksa: saksi, dua minggu lagi. Kalender bank: covenant. Tiga kop. Satu badan. Sinta menuliskan tiga warna di agenda CEO, lalu Nirwa minta hapus warna. Warna adalah naskah. Agenda cukup tanggal dan kop. 'Jangan jadi pelangi di layar. Pelangi campur. Campur makan malam.' Sinta hapus, kaku, kerja. Nirwa melihat layar yang sudah polos, puas kering. Polos tata kelola. Pelangi teater. Teater Arman. Ia paraf triase: ritel ke Lestari, delay tetap di mejanya, covenant undangan wajib. Bukan jeda Wiryo. Napas.
Sinta menghapus warna tanpa debat. Nirwa melihat layar yang sudah polos lebih lama daripada perlu. Polos menenangkan. Warna membuat mata mencari prioritas yang salah: merah pidana, biru cerai, hijau bank — lalu badan ikut panik. Badan tidak boleh panik karena tinta. Badan boleh capek karena tangga. Tangga ia naiki satu-satu. Satu-satu adalah urutan. Urutan sudah menyelamatkan rantai. Urutan akan menyelamatkan Kamis ini.
Kamis cerai. Pintu belakang. Radio mati. Telur pagi, kopi setengah, keran lima menit. Langkah. Selasar. Gilang, Arman, kamera. Tidak menoleh. Tidak pernyataan. Ruang. Akta rumah, BPKB, saldo bersih. Arman selipkan dakwaan lagi. Intan potong: forum. Hakim tegur, pelan, cukup. Nirwa singkat: akta sesuai, tinggal di rumah, kunci ganti, tidak klaim kotor. Kering. Belum putus. Tanggal berikut. Langkah. Mobil. Air. Intan: 'Bagus. Hakim mulai capek campur mereka. Ibu jangan senyum di selasar. Senyum judul dingin pecah.' Nirwa: 'Tidak senyum. Basement. Truk. Sore covenant.' Badan sudah satu sidang. Sore masih bank. Bank bukan belas. Bank angka. Di macet ia tutup mata tiga menit, buka, kota. Gilang titik. Titik boleh. Parfum tidak. Ia tidak tanya menoleh. Mata ke basement. Sinta SMS, tidak tanya sidang: *Covenant jam empat, ruang sebelah seperti biasa.* Nirwa: *Siap. Diam perusahaan.* Beda kop. Beda sabun. Sabun ia bawa dari selasar ke gedung tanpa mencampur debu kamera ke papan delay. Debu kamera naskah. Papan jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Putus belum. Belum boleh. Boleh antri. Antri kering. Kering masih.
Di basement, sebelum lift, Nirwa cuci tangan. Bukan karena kotor. Karena selasar menempel di kulit seperti debu yang tidak kelihatan. Sabun gedung. Sabun yang sama. Ia menggosok lebih lama daripada perlu, lalu berhenti. Berhenti sebelum jadi ritual. Ritual naskah. Naskah selasar. Selasar sudah selesai. Sore covenant. Covenant angka. Angka tidak tanya siapa tinggal di rumah.
Gedung basement. Papan. Lorong. Menelan turut. Forecast cepat. Lestari: *tertahan tetap. covenant siap.* Nirwa masuk rapat kredit, ruang sebelah, tidak bingkai. IR dan Lestari bicara tanggal, rasio, bukan saksi. Nirwa mencatat. Tidak masuk muka. Ratu bingkai makanan. Ratu sebelah kendali. Setelah call lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, pegang wastafel, napas empat, gelas, kembali. Sinta tidak tanya. Kopi. Pahit. Cukup untuk angka. Tidak damai. Kepala IR ingin satu kalimat 'perusahaan tenang'. Nirwa: 'Tenang janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' IR diam. Bagus. Diam lebih mahal daripada tenang. Ia ke delay, berdiri lebih lama daripada duduk, menahan badan yang baru sidang cerai supaya tidak kelihatan sebagai orang yang baru sidang cerai. Kepala ritel palet. Palet menyelamatkan. Setelah itu ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Telepon empat mata menyamar. Email kaku. Sabun. Lutut menurut, pelan. Pelan cukup. Cuti tidak. Cuti jeda. Jeda gagal. Kerja iya. Kerja tahta. Tahta masih di sebelah bingkai, bukan di dalam. Dalam makanan. Makanan ditolak. Kendali diterima. Diterima. Angka. Truk. Covenant. Tiga. Tidak dicampur ke selasar. Selasar pagi sudah cukup. Sore bank. Bank jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup.
Sore Dodi: Roni — jejak baru, bukan Batam, sebuah sewa ruko di Tangerang atas nama mirip, penyidik yang kejar. 'Ibu tidak korek. Tidak satpam. Tidak mesin pencari. Kalau bocor, IR: permintaan aparat, tidak buru.' Nirwa: 'Tidak korek. Truk.' Ia ke delay. Palet. Kepala operasional merengek. Telat. Bukan cangkang. Pilih telat. Kerja. Pak Harun foto biasa. *Terima kasih.* Empat mata menyemangati dua kalender ditolak. Email kerja. Kaku. Ia tidak buka peta Tangerang. Peta buru. Buru naskah intimidasi. Tangan ke suku cadang. Suku cadang jujur. Ruko bukan meja CEO. Sinta menyusul dengan print kalender: Kamis cerai sudah lewat, saksi dua minggu, covenant selesai. Polos, tanpa warna. Nirwa paraf lihat. 'Bagus. Polos. Pelangi tidak kembali.' Sinta angguk. Nirwa pantry, air, angguk, pergi. Lutut lebih baik. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan bilang hampir kerja. Kerja cukup. Roni bukan meja. Meja palet. Palet jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup. Campur tidak. Tidak. Dua kalender. Satu badan. Badan dibayar. Kursi tidak disewa. Tidak. Cukup.
Malam Rahmi restoran, kuah, tagih telur dan enam jam. 'Dua sidang seminggu adalah cara badan pecah. Aku tidak minta jeda kursi. Aku minta Ibu tidak tambah rapat malam. Sinta sudah bicara padaku — bukan empat mata rahasia, prosedur asisten ke komisaris soal beban agenda, sah. Kamu marah?' Nirwa hampir marah, lalu tidak. Marah pada orang yang menagih tidur adalah naskah pahlawan. 'Tidak marah. Saya capek. Saya terima triase. Saya tidak cuti.' Rahmi: 'Bagus. Wiryo akan bilang faksi. Biar. Notulen beban agenda bukan faksi. Faksi makan malam. Makan malam mati. Tidur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *cerai akta; Roni Tangerang aparat; covenant; dua minggu saksi; capek.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Tidur lebih dekat enam. Keran singkat. Cermin: 'Dua kalender. Satu badan. Badan dibayar. Kursi tidak disewa. Roni bukan meja saya.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Pagi lift. Tengah. Map. Kopi. Lestari kaku. Truk. Kalender jaksa memendek. Memendek ia jalani urutan, bukan pelangi. Pelangi dihapus. Hapus sabun. Sabun ia pakai. Pakai cukup. Campur tidak. Tidak. Satu kata. Cukup untuk Jumat. Tidak damai. Damai antri di belakang dua tangga. Tangga cerai sudah naik lagi. Tangga pidana menunggu. Menunggu gladi masih di mulut. Mulut kering. Kering kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak gerbang. Tidak Tangerang. Tidak judul senjata. Kertas. Truk. Dua kalender. Satu dada. Masih.
Dua kalender di meja dapur malam itu tidak ia tempel di kulkas. Kulkas terlalu domestik. Domestik delapan tahun. Ia biarkan kertas Intan di tas, kertas Dodi di map, agenda Sinta di layar yang polos. Satu badan. Badan dibayar tidur. Tidur ia coba. Coba cukup. Cukup untuk Jumat. Jumat truk. Truk tidak punya warna. Warna sudah dihapus.