Amplop itu kop kejaksaan, bukan bunga, bukan paman. Sinta tidak buka. Intan dan Dodi datang bersama, resmi, ruang kecil. Panggilan saksi Nirwa Tanjung, sidang pidana pertama — tanggal, tiga minggu setelah hari itu. Bukan vonis. Bukan palu akhir. Tangga baru. Sidang yang ramai di koran masih jauh; ini pintu.
'Ibu datang. Jujur. Insting Minggu, rantai, tidak perut April. Tidak belas Karina yang dijanjikan paman. Tidak pentung cerai. Pidana meja ini. Cerai meja itu. Hafal sampai mulut kering,' kata Intan. Dodi: 'Perusahaan siapkan dokumen lewat saya, bukan lewat Ibu di podium. Ibu saksi, bukan jaksa. Jangan rilis 'saya akan meruntuhkan'. Runtuh judul. IR diam, proses hukum.' Nirwa duduk, amplop di meja, tidak di dada. Dada keran nanti. 'Saya datang. Tidak bingkai. Tidak pesta. Tidak cuti panjang. Triase rapat, Sinta, seperti minggu cerai. Bukan jeda Wiryo. Napas.' Sinta di luar, lalu dipanggil untuk jadwal mobil — Intan yang atur, beda kop. Sinta angguk, pucat, kerja. Nirwa menatap amplop lama, tidak membuka lagi. Sekali cukup. Dua kali duet dengan takut. Takut boleh di keran. Tidak di lobi. Ia ke jendela ruang kecil, kota siang, napas empat. Tiga minggu. Tangga. Ia sudah naik tangga cerai dua kali. Yang ini negara. Negara lebih ramai. Ramai bukan alasan pecah. Pecah judul. Judul Arman. Ia pilih kertas. Dodi merapikan salinan, pergi dulu. Intan tinggal sebentar. 'Ibu makan siang.' Nirwa: 'Telur nanti. Roti sekarang kalau ada.' Sinta roti di laci, bukan bunga. Nirwa makan dua suap di ruang kecil, cuci tangan. Kolom. Badan. Amplop kerja. Kerja bukan pesta. Pesta ditolak sejak karangan di lobi. Lobi tidak bunga. Ruang ini tidak tepuk. Tepuk naskah. Naskah senjata. Senjata ditolak. Saksi diterima. Diterima. Satu kata. Cukup untuk pagi. Tidak damai. Damai antri. Antri tiga minggu. Tiga minggu ia bayar tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba kerja. Kerja ratu. Ratu masih di kursi. Kursi tidak sewa. Tidak. Amplop tidak menyewa. Amplop memanggil. Panggil datang. Datang kering. Kering nanti. Sekarang tangan bersih dari roti. Tangan ke papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur ia pilih. Pilih cukup.
Siang Nirwa ke papan delay, sengaja, sebelum portal menebak amplop. Palet. Lestari kaku, rapat lima menit: tertahan tetap, vendor bersih, jangan longgar karena saksi. Nirwa: 'Jangan longgar. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk, foto antrian biasa. *Terima kasih.* IR belum ditanya, sudah siaga diam. Wiryo belum akun — masih siang. Nirwa pantry, air, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir penuh. Rahmi pesan, entah dari mana tahu amplop: *Jangan jadi jaksa. Jadi saksi. Telur. Aku jaga dewan. Dessy diam. Jangan telepon.* Nirwa: *Saksi. Telur.* Satu dada, tiga jalur, sekarang tanggal ketiga di kalender: cerai berikut, pidana pertama, covenant bank. Ia tulis di kertas pribadi, bukan rilis: tiga tanggal, tiga kop. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam sudah mati. Sinta kopi. Pahit. Nirwa minum. Kerja. Amplop di map Intan, bukan di laci Sinta. Beda kop. Beda itu sabun.
Sore portal bocor panggilan saksi, sumber dekat. Arman tanam 'CEO diarahkan jadi senjata jaksa'. Intan satu kalimat: proses hukum, tidak berkomentar. Nirwa tidak tambah. Pasar goyang singkat, datar. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Lestari angka. Nirwa delay. Lorong menempel. Tidak meratakan. Bunga karyawan tidak. Amplop bukan pesta. Kepala ritel menelan berita, pilih palet. Nirwa tidak berterima kasih atas telenan. Ia minta forecast. Ketukan. Bunyi. Sinta tahan tiga wawancara 'saksi vs istri'. Tolak. Sisi yang ada: diam perusahaan, kertas Intan, kertas Dodi. Tiga sisi tidak jadi satu judul. Satu judul senjata. Senjata ditolak. Wiryo, menjelang sore, dua baris hormat lagi: hukum, suasana, pengawasan. Nirwa baca sekali, folder, tidak duet. Dessy diam. Paman belum surat baru — masih pagi belas. Belas sudah ditolak. Amplop tidak mengubah tolakan jadi lunak. Lunak rumah tua. Rumah tua tidak. Ia ke pantry, gelas, angguk, pergi. Lutut menurut. Enam jam akan ditagih malam. Tagih ia bayar, pelan, tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Amplop kerja. Bukan pesta. Bukan senjata. Saksi. Kering. Nanti. Sekarang truk.
Malam Intan di telepon, Nirwa dapur, telur, teh. 'Tiga minggu. Gladi seperti cerai. Langkah selasar pidana lebih ramai. Ibu tidak menoleh. Saya jaga. Ibu tidur enam. Tagihan Rahmi, tagihan saya.' Nirwa: 'Enam. Saya coba. Saya tidak rujuk. Saya tidak belas jual. Saya tidak sewa kursi. Saya saksi. Saya penggugat. Saya CEO. Tiga. Amplop bukan undangan pesta. Amplop kerja.' Tutup. Ia masak telur pelan, seperti orang belajar lagi bahwa wajan jujur. Makan berdiri, lalu duduk. Cuci. Tidak TV. TV senjata jaksa. Mejanya piring. Piring jujur. Kunci. Laci cincin. Daftar risiko: *saksi pidana tiga minggu; spin senjata jaksa; cerai harta lanjut; Roni angin; nama kecil kooperatif; capek.* Enam baris. Cliff yang tidak meledak di dewan: negara sudah antri di kalender yang sama dengan cerai, dan badan harus cukup untuk dua selasar tanpa jadi naskah dingin atau naskah belas. Nirwa Tanjung tidak mengira menang. Ia mengira urutan. Urutan akan ia bawa ke dua pengadilan, ke gudang yang baca truk, ke Lestari yang kaku, ke keran yang kadang lima belas menit. Ia matikan lampu. Rumah besar. Ratu di kamar tamu. Bukan pesta. Bukan vonis. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: amplop, telur, tiga tanggal, tahta yang tidak ia sewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang paman. Tidak Karina belas. Tidak judul senjata. Kertas. Saksi. Kering. Cukup. Tidak damai. Damai antri di belakang sidang yang belum dibuka. Sidang itu tangga. Tangga ia naik. Satu per satu. Tidak dicampur. Cukup begitu. Pukul empat bangun, kebiasaan, bukan mimpi tablet. Dapur. Telur. Teh. Ia buka kolom: *makan. amplop kerja. jangan jaksa. jangan belas.* Inventaris. Satpam. Angguk. Gedung. Lorong menempel. Tengah. Map delay. Kopi pahit. Amplop tidak di laci Sinta. Amplop Intan. Beda. Beda ia jaga sampai tiga minggu. Jaga itu kerja. Kerja itu saksi yang tidak jadi senjata. Senjata ditolak. Truk diterima. Diterima cukup. Pesta tidak. Tidak. Satu kata. Cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Tidak menoleh. Angka. Truk. Tiga tanggal. Satu dada. Masih.