Sidang cerai kedua: harta. Pintu belakang. Radio mati. Intan. Setelan hitam. Nirwa makan telur pagi, air, kopi hanya setengah — tangan. Keran lima menit. Cermin kecil: 'Kering. Bukan belas. Bukan serakah. Bukan selasar.' Langkah. Di mobil Intan tidak mengisi sunyi dengan nasihat. Sunyi belas yang Nirwa terima. Macet. Debu. Ia hitung napas. Badan lebih utuh dari minggu lutut. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk tangga ini. Tidak cukup untuk damai.
Selasar bersuara. Gilang ada, Arman, kamera. Nirwa tidak menoleh. Wartawan sayang, dingin, dakwaan, Karina. Intan: tidak ada pernyataan. Pintu. Duduk. Napas empat. Kursi kayu, AC dingin, map di tangan Intan. Hakim. Daftar harta bersih: rumah komplek, dua mobil, rekening yang tidak di aparat, perhiasan yang tercatat. Sanggahan yang kotor: Singapura, Kuningan, tidak dibawa ke bagi. Arman panjang, 'motif kuasa', 'dakwaan sebagai alat', 'istri yang merampas panggung lalu merampas harta'. Intan pendek: penetapan tunda sudah ditolak; forum pidana bukan alat cerai; harta kotor bukan klaim penggugat; merampas panggung adalah naskah, bukan akta. Nirwa ditanya, singkat. 'Saya tidak menuntut apartemen itu di sini. Saya tidak menuntut rekening yang sudah di penyidik. Saya menuntut putusnya ikatan dan pembagian yang sah. Tidak, saya tidak cabut. Tidak, saya tidak mediasi. Tidak, saya tidak akan merinci perselingkuhan di luar yang perlu untuk dasar cerai.' Kering. Tidak menoleh ke jas. Menoleh selasar dalam ruang. Hakim bertanya satu kali soal rumah: siapa tinggal. Nirwa: 'Saya. Beliau tidak kembali. Kunci sudah diganti.' Fakta. Bukan dendam. Dendam parfum. Parfum tidak masuk berita acara cerai.
Hakim mencatat, belum putus akhir, perintah kelengkapan akta, tanggal berikut. Tempo. Bukan palu damai. Nirwa berdiri, langkah, selasar, tidak bicara, mobil, air, sunyi sepuluh menit. Intan: 'Bagus. Tidak serakah, tidak belas, tidak mata. Gilang menunggu Ibu luluh di harta. Ibu tidak luluh. Ibu pisah barang. Pisah itu yang tidak bisa di-klip — jangan rilis kata kemenangan.' Nirwa: 'Tidak rilis. Basement. Truk.' Kaca: utuh. Utuh cukup. Lutut tidak ingin lantai. Enam jam semalam kerja. Rahmi akan puas sebagian. Di macet ia tutup mata tiga menit, buka, kota. Gilang titik, bukan parfum. Titik boleh. Ia tidak tanya apakah Gilang menoleh. Mata ke basement.
Gedung. Papan. Lorong. Seseorang menelan turut. Forecast. Palet. Kepala ritel pilih delay. Lestari satu baris: *tertahan tetap.* Nirwa: *Bagus.* Nasi kotak. Pintu ke Sinta. Empat mata 'bagaimana harta' ditolak. Sinta kanal: kerja, jangan spekulasi rumah tangga. Nirwa paraf. Ia tidak baca portal dingin atau serakah — keduanya salah, keduanya judul. Mejanya palet. Palet jujur. Sinta kopi. Pahit. 'Bu, warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota senja. Tahta masih. Harta belum putus. Ikatan belum putus. Pisah barang sudah di mulut, kering. Mulut itu kerja. Kerja tidak pesta. Ia ke lantai logistik sebentar, angguk, tidak pidato sidang. Pidato sidang kultus. Supervisor jawab truk. Nirwa pergi. Basement pagi sudah cukup sebagai selasar. Sore ini gudang di dalam gedung. Gudang jujur. Selasar tidak. Ia pilih yang jujur. Pilih itu tahta. Tahta masih dudukannya. Kopi habis. Tidak isi pesta harta. Isi angka. Angka tidak bagi rumah. Angka delay. Delay ia jaga.
Sore Dodi: nama kecil ex staf distribusi kooperatif ke Sari, bukan buru perusahaan. Roni masih angin. Dakwaan jalan. 'Ibu jangan kejaksaan hari ini. Saksi dipanggil nanti, resmi. Sekarang CEO.' Nirwa: 'Sekarang delay. Terima kasih tidak mencampur.' Dodi pergi. Nirwa napas empat. Tiga jalur. Badan lebih utuh. Capek masih. Capek kolom, bukan cuti. Ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon operasional. Telepon empat mata menyamar. Format email. Kaku. Sabun. Di jendela senja, ia tidak mencari wajah Gilang di kepala. Wajah titik. Titik boleh. Parfum tidak. Harta kering sudah di mulut. Mulut tutup di selasar. Selasar lewat. Gedung sekarang. Gedung palet. Palet jujur. Jujur ia jaga sampai pulang. Pulang dapur. Dapur nasi. Nasi kolom. Kolom bukan pesta. Pesta ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup. Putus belum. Belum boleh. Boleh antri. Antri kering. Kering masih. Ia kunci saku, jaket, pulang. Radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Urutan. Cukup untuk sore. Tidak damai. Damai antri. Antri ia jalani. Jalani kering. Kering kerja. Kerja pulang. Pulang telur tidak, nasi iya. Nasi kolom. Kolom jujur. Jujur cukup.
Malam dapur, nasi, teh. Tidak buka lemari. Harta dibaca kering, parfum tidak perlu. Cincin laci. Ia duduk di bangku rendah, piring kecil, lampu kristal mati. Meja makan gelap. Delapan tahun di ruang itu, tidak ia nyalakan. Menyala adalah rujuk lampu, bukan rujuk orang — tetap naskah. Ia tidak nyala. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'serakah'. Tidak. Intan sudah cukup. Dua kali duet. Ia buka daftar: *sidang berikut harta; tidak klaim kotor; spin alat; Roni angin; capek terkendali.* Lima baris. Kolom tubuh: *telur pagi. nasi malam. tidak selasar.* Ia kunci. Tidur. Lebih dekat enam. Keran singkat. Cermin: 'Saya tidak serakah. Saya tidak belas di mulut paman. Saya pisah. Pisah tahta yang saya rebut: hak tidak dicampur.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Sendirian masih perang. Kesepian nanti. Sekarang akta, truk, jaksa yang tidak ia kejar. Ia tidak mengira putus minggu ini. Putus antri. Antri ia jalani kering. Kering kerja. Kerja ratu. Lampu mati. Kota jauh. Setelan di kursi. Bukan pesta. Tangga yang sudah naik. Tangga berikut. Cukup. Tidak damai. Damai antri. Cukup begitu. Angka besok. Kopi. Map. Tidak gerbang. Tidak teras. Tidak judul alat. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Pukul lima ia bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Sidang kemarin bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Harta di map Intan. CEO di papan. Beda kop. Beda sabun. Sabun ia pakai. Pakai cukup. Serakah tidak. Belas tidak. Kering. Masih. Masih cukup.