Informasi yang aku dapatkan dari Aresya adalah kemunculan Umbras di Dataran Alv. Wilayah yang subur akan rerumputan serta pepohonannya ini sering disebut juga sebagai surganya hewan-hewan mamalia.
Hampir keseluruhan tempatnya pun berupa Savana yang luas. Namun, jika kita menyelusurinya lebih dalam, maka akan ada satu lahan kosong yang luas.
Ada yang mengatakan bahwa tempat itu merupakan titik teraman apabila terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh monster. Semua itu karena ada sesuatu yang mendiami atau menghuni hutan itu sebagai sesosok penjaga.
Aku katakan sebagai hutan juga bukan, sekedar padang rumput biasa juga bukan, jadi satu-satunya hal yang tepat adalah perpaduan di antara keduanya.
Menurut laporan itu ada dua orang pedagang keliling yang tidak sengaja melihat Umbras di sekitar Dataran Alv. Selain itu mereka mengaku kalau makhluk ini sedang memakan sesuatu dan terkadang menggeram sambil membanting-banting tanah dengan senjatanya.
Secara teknik itu memang bisa saja terjadi. Aku tahu betul seperti apa tingkah laku para Umbras yang sedang makan, tetapi hal yang mengusikku kali ini adalah senjata yang dibawa oleh makhluk itu.
Karena itulah aku memerlukan konfirmasi lebih lanjut mengenai kabar terkini tentang Umbras. Dan cara paling efektif dan cepat adalah dengan cara mendatangi kedua pedagang ini.
Sejujurnya aku tidak tahu di mana mereka berdua saat ini. Namun, tanpa informasi yang lebih jelas, dan hanya sekedar berasal dari selebaran ini. Aku tidak yakin bisa mengatasinya dengan cepat.
Memiliki informasi juga merupakan suatu keunggulan dalam sebuah pertempuran. Dengan ini aku bisa mengetahui semua detail terkecil sekali pun dan merencanakan langkah selanjutnya yang harus kuambil demi memastikan kemenangan mutlak.
Namun, sebelum itu aku harus menemukan kedua pedagang ini. Jika informasi ini muncul dua hari yang lalu dan tiba di kerajaan ini, maka ada kemungkinan besar mereka sedang beristirahat di salah satu bagian kota.
Mengingat bagaimana para pedagang keliling selalu berpindah-pindah. Itu berarti aku tidak memiliki waktu lebih banyak lagi karena dua hari setelah mereka tiba di sini, mungkin sekitar satu atau kurang dari satu hari mereka akan kembali pergi meninggalkan kerajaan.
Sebenarnya aku tidak terlalu tahu tentang kebiasaan para pedagang keliling yang singgah di beberapa tempat. Contohnya saja aku tidak mengetahui berapa lama mereka akan menetap di sini.
“Saatnya bekerja, Fear,” bisikku halus sambil mengetuk Aeon.
Sosok Fear pun muncul dalam bentuk bola cahaya yang hangat.
“Padahal aku masih ingin tidur sebentar....”
Samar-samar aku mendengarnya sedang menguap lebar, meski saat ini komunikasi kami melalui telepati. Namun, aku bisa sangat jelas mendengar apa yang dikatakannya walaupun wujudnya masih dalam bentuk bola cahaya.
“Pekerjaan adalah pekerjaan. Aku tidak tahu senyaman apa di dalam sana, tetapi jika kamu tidak bekerja, maka tidak ada jatah permen untukmu. Mengerti?” ungkapku melalui telepati sambil melihat keadaan sekitar.
Setelah itu datang rengekan kencang yang membuat kepalaku hampir pecah.
“UWAHHHH!!! Uhuhuhuu... j-jadi aku harus melakukan apa?”
“Jangan khawatir. Ini tidak sesulit yang kamu bayangkan, kok. Hanya mencari dua orang pedagang”
“Pedagang? Baiklah—tunggu sebentar, pedagang ‘kan banyak! Kamu mau menjahili aku, ya?” tanya Fear dengan nada yang gemetar.
“Ahahahaha! Aku sendiri saja tidak tahu, bagaimana aku ingin menjahilimu, Fear?”
Ternyata instingnya tajam juga, padahal aku kira akan langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Sejak kapan roh tukang tidur ini bisa menggunakan “kepala”-nya?
“Ihhh!! Kuro!! Terus bagaimana aku bisa tahu kalau orang yang kamu cari berada di kerajaan ini?”
“Aku yakin kamu pasti punya caranya,” jawabku sambil terkekeh kecil.
“Uhhh! Kamu ini lagi ngigau atau pura-pura tidak tahu?”
“Ayolah. Aku yakin kita pasti bisa menemukan mereka berdua, nyatanya hal ini sudah sering kita lalui. Selain itu aku benar-benar tidak tahu seperti apa mereka,” jawabku sambil membuat pose meyakinkan.
“Awas, lho! Kalau sampai kamu bohong nanti aku hantui terus—“
“Lah? Bukannya kamu memang sudah hilang, ‘kan?” selaku sambil membuang napas.
“Ihhh!! Bukan kayak gitu juga, Kuro!! Hmph!”
Setelah itu Fear terbang melayang ke langi dan perlahan-lahan menghilang dari pandanganku.
“Mau manusia atau roh, kalau memang sifatnya kekanak-kanakan ternyata tidak ada bedanya, kah?”
Menyusul Fear yang kini pergi mencari keberadaan kedua pedagang keliling itu, aku pun mengambil arah sebaliknya. Jika Fear memilih ke arah selatan, maka aku akan mencari mereka ke area tengah kota.
Jika dilihat sekilas, kemungkinan roh gadis kecil itu menemukan mereka terlebih dahulu memiliki peluang yang lebih besar ketimbang aku yang mencarinya ke arah taman terluas di kerajaan.
Bagian kerajaan yang dipenuhi oleh para pengrajin juga selalu menjadi pusat tempatnya jual-beli. Sayangnya perkiraanku mereka tidak akan pergi ke sana, mengapa? Karena setelah mereka tiba di Kerajaan Ronove, tempat pertama yang akan dikunjungi adalah penginapan, atau setidaknya tempat pusat informasi... pertama.
Kedua, mereka akan mengambil waktu istirahat sementara waktu untuk mencari informasi lebih lanjut di dalam kerajaan. Tempat yang paling cocok dalam hal ini adalah kantor penyedia informasi atau serikat para penjelajah.
Dan yang ketiga adalah kedua tempat itu cukup dekat jika aku pergi ke bagian tengah kerajaan. Serikat penjelajah berada di area tengah kerajaan, sedangkan kantor penyedia informasi berada di bagian dalam hampir dekat dengan kastil.
Aku cukup yakin dengan perkiraanku ini. Selain itu ada faktor lain yang juga harus aku pertimbangkan sebelum pergi ke taman kerajaan, yaitu memperkirakan berapa lama mereka akan tinggal di Kerajaan Ronove ini.
“Tiga? Mungkin empat sampai lima hari..., tapi tujuh hari juga bisa kalau seandainya mereka memang sedang tidak terlalu buru-buru—“
Namun, pikiranku itu lenyap seketika begitu wajah Aresya muncul di dalam benakku.
“Mengapa harus wanita ini lagi?” gumamku sambil menghela napas sangat dalam.
Jawaban paling tepat dari akar semua ini tentu saja adalah Aresya. Kepala Sekolah Akademi Magistra ini yang memberiku informasi mengenai keberadaan Umbras melalui selebaran misi.
Jika aku ingin mempercepat misi ini, aku hanya perlu bertanya kepadanya di mana para pedagang keliling ini menetap.
“Sepertinya memang tidak ada pilihan lain....”
Kenapa aku tidak memikirkan ini sejak awal? Hahhh... Fear, maafkan aku.
▼▼▼
Melewati pertigaan di daerah selatan kerajaan, aku pun tiba di Akademi Magistra.
“Tempat ini memang besar, tetapi aku tidak menyangka akan seluas ini....”
Jika kalian ingin tahu sebesar apa akademi ini, maka bayangkan saja sepertiga dari besar kerajaan adalah luasnya.
Masuk lebih dalam ke area pengrajin dan setelah melewati pertigaan kalian akan sampai di tempat ini. Bahkan gerbangnya saja terbuat dari metal yang tampaknya tidak murahan, sangat tinggi... mungkin ada tiga kali dari tinggiku sendiri.
Aku juga ingat perkataan Aresya tentang semester alih, itu artinya semester ini semua siswa Akademi Magistra libur. Ternyata ia memang mencoba merekrutku bertepatan dengan pergantian semester alih ini.
Sialan. Aku bahkan sudah tidak bisa menolaknya lagi karena berutang 1000 koin emas putih. Entah mengapa aku ingin sekali mencemoohnya saat ini... ahhh, aku mungkin akan melakukannya, tetapi kesampingkan dulu ego itu sebelum misi ini selesai.
Selain itu juga aku cukup beruntung karena tidak berpapasan dengan Fear yang mungkin saja masih mencari keberadaan pedagang keliling itu.
“Ughh... perutku sakit karena terlalu memikirkannya. Sebaiknya aku masuk saja, tetapi bagaimana aku bisa membuka gerbang besar ini?” aku pun mendongak kecil.
“Ohh? Apakah tuan ingin masuk ke dalam akademi?”
“Ahh, ya... “
“Kebetulan sekali, saya juga mendapatkan panggilan dari kepala sekolah untuk datang ke kantornya saat ini. Bagaimana jika kita pergi ke sana bersama-sama?”
“Wah! Terima kasih, aku sangat tertolong sekali dengan bantuan itu—tunggu sebentar....”
Aku pun langsung menoleh secepat mungkin dan mendapati seorang gadis anggun yang kini sedang memanggul tas gantung di bahu kirinya.
Rambut itu... matanya... sosok ini... sepertinya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Ahh! Aku ingat, gadis ini pernah berpapasan denganku di Toko Gaston. Namun, apa yang ia lakukan di sini?
“E-eumm... bisakah kamu mengulanginya sekali lagi?”
“Hmm?” Ia pun menyentuh dagu dengan jari telunjuk. “Saya mendapatkan panggilan dari Kepala Sekolah Nona Aresya untuk datang ke ruangannya di Akademi Magistra, apa itu cukup?” jawabnya kebingungan.
Aku pun membuang napas. “Jadi seperti itu, ke ruangannya langsung?”
Ia mengangguk lalu melepaskan sebuah garis cahaya berwarna violet ke arah tiang batu di sebelah kiri gerbang. Garis ini... Rune? Tampaknya gerbang ini hanya dapat dibuka dengan cara khusus seperti ini, huh?
Setelah itu gerbang di depan kami mengeluarkan bunyi denting ringan dan akhirnya terbuka perlahan-lahan.
“Karena tuan juga sepertinya ingin bertemu dengan Nona Aresya, kenapa tidak sekalian saja saya antar ke sana?” tawarnya sambil menoleh ke arahku.
“Baiklah, aku akan menerimanya dengan senang hati....”
Ia pun tersenyum tipis dan mulai berjalan di depanku.
Perasaan ini... ada apa denganku hari ini? Banyak sekali kejadian tak terduga yang bermunculan satu-persatu. Selain itu gadis ini entah mengapa seperti memiliki keterikatan denganku atau mungkin aku sedang berhalusinasi, huh?
Akademi Magistra adalah sekolah yang sangat luas dan juga memiliki beragam fasilitas yang diperuntukkan untuk mendukung pendidikan serta perkembangan siswa-siswinya.
Namun, kesan itu sepertinya tidak salah. Selama aku mengikuti gadis di depanku ini, aku melihat berbagai gedung, dan juga fasilitas yang wanita sialan itu ceritakan. Meski sekilas, tetapi aku merasa kualitas dari semua fasilitas ini tinggi.
Adapun halaman serta taman-taman kecil di berbagai tempat yang bisa aku lihat dengan jelas.
Saat ini kami berjalan menuju bangunan yang terletak di sebelah kanan dari arah gerbang depan. Memasukinya, sebuah lorong panjang membentang lebar dengan pilar-pilar batu berjarak yang menjadi tumpuan atapnya.
Aku bisa melihat pemandangan luar dari sela pilar itu dan benar saja akademi ini seluas apa yang diceritakan orang-orang.
Tidak lama kemudian kami tiba di sebuah perempatan. Arah kiri menuju taman kecil, kanan menuju ke gedung lain, sedangkan lurus tampaknya langsung naik ke lantai dua.
“Saat ini kita sedang berada gedung kelas tiga. Setelah menaiki tangga dan menyeberangi koridor selanjutnya, kita akan tiba di kantor kepala sekolah,” jelasnya tiba-tiba sambil bersenandung kecil.
“Hmm? Bisa mengetahui hal seperti itu. Sepertinya kamu pernah ke sini, ya?” tanyaku spontan.
“Iya. Ini adalah kunjungan kedua kalinya saya ke sini dan yang sekarang cukup spesial karena Nona Aresya lah yang langsung mengundang saya. Ohh! Berbicara mengenai hal ini, apakah tuan memiliki keperluan dengan Nona Aresya?”
“Hei, hei. Tidak seharusnya kamu ‘mengendus’ urusan orang lain, bukan?” tanyaku dengan seringai kecil.
Gadis ini... meski aku pada awalnya sedikit ragu. Namun, aku merasa kami seperti pernah berhubungan satu sama lain, dan perasaan itu semakin jelas setelah ia bertanya.
Perasaan tidak asing ini mirip sekali ketika aku berbicara dengan Aresya, ada aura familier yang keluar darinya.
“A-Ahaha. Maaf, sepertinya kebiasaan saya muncul lagi,” ungkapnya canggung lalu berhenti tepat di samping sebuah pintu cokelat. “Kita sudah sampai, inilah kantor Nona Aresya, dan mengenai hal yang tadi tolong maafkan saya,” lanjutnya berbalik lalu membungkuk pelan ke arahku.
Sifatnya yang sopan dan juga pengertian ini sangat terbalik dengan Aresya yang tidak mengenal area privasi.
Berkat ketulusan dan kejujurannya ini, tanpa aku sadari mulutku menyungging sendiri. Memang aneh, tetapi aku menyukai bagaimana ia menanggapi hal yang tidak seharusnya ia tanyakan.
“Tidak usah terlalu dipikirkan.”
Ekspresinya pun langsung menjadi lega. “Terima kasih,” ucapnya dengan senyum tipis.
Sebenarnya aku tidak merasa enak karena membuatnya membungkukkan diri. Lagi pula ini hanya permasalahan yang sepele, tetapi mungkin saja orang tua atau seseorang yang mengajarkannya memberitahu agar selalu meminta maaf ketika berusaha mencampuri urusan orang lain.
Entahlah. Itu hanya dugaanku saja, tetapi melihat reaksinya ini... aku salut kepadanya karena tidak banyak dari gadis-gadis di kerajaan ini yang memiliki sikap ramah dan tulus seperti dirinya.
Melihat penampilannya yang rapi dan terkesan elegan. Bahkan aroma tubuhnya pun harum, ini mengingatkanku akan para bangsawan di bagian area dalam kerajaan. Mungkin saja gadis di depanku saat ini merupakan salah satu dari mereka.
Jika benar, maka sikap, gestur, penampilan, dan bagaimana ia berucap akan sangat masuk akal sekali kalau ia memanglah seorang bangsawan. Namun, saat ini hal itu tidak terlalu aku pikirkan.
“Kalau begitu mari kita masuk ke dalam”
“Ya....”
Ia pun membuka pintu ruang tersebut lalu kami masuk ke dalam dan setelah itu menutupnya kembali.
Penataan interior yang minimalis dan tidak terlalu banyak barang-barang berserakan. Sebuah etalase besar didedikasikan untuk memajang beberapa piala dan juga berbagai piagam serta beberapa foto lengkap dengan potongan artikel.
Terdapat sebuah meja pendek dengan dua buah sofa di depan kami yang mungkin saja diperuntukkan untuk tamu. Sedangkan warna dari ruangan ini didominasi cokelat hangat, seakan-akan atmosfer ruang ini berikan seperti berada di tengah-tengah hutan yang tenang.
Aku pun mengambil napas karena merasakan ketenangan yang singkat itu. Namun, ketika perhatianku teralihkan oleh sosok yang kini sedang duduk di depan sana. Semua kesan itu pun langsung luntur.
Duduk tegap di atas kursinya, Aresya melipat tangan di atas meja, dan tersenyum ke arah kami.
“Ahh.. rupanya kamu sudah datang, ya? Hmm?”
Tiba-tiba saja pipinya merona dan matanya berbinar. Bersamaan dengan senyum manis serta gesturnya yang sedikit menggoda, ia pun menyapaku.
“Sepertinya takdir memang selalu berada dipihak kita, benar ‘kan, Kuro....“