“Sepertinya takdir memang selalu berada dipihak kita, benar ‘kan, Kuro....“
“Ughh....”
Mengapa baru juga bertemu ia langsung mengibarkan bendera kematian? Terlebih dengan adanya gadis ini sekarang, bukankah perkataannya itu akan menimbulkan kesalahpahaman?
“Eh? Apa jangan-jangan Nona Aresya mengenal tuan ini?” tanyanya.
“Bukan hanya mengenal, tetapi ‘sangat’ mengenalinya...,” jawabnya dengan ekspresi yang hangat
“Ehhh... uhmm. Maaf, sebelumnya apa Nona Aresya memiliki keperluan dengan saya?”
“Ya. Bagaimana jika kamu duduk dulu di sana? Aku akan memeriksa beberapa dokumen terlebih dahulu dan—“
Untuk beberapa alasan aku merasa seperti dihiraukan, bagus! Sebaiknya aku kabur saja dari sini.
“—Kuro? Mau pergi ke mana?”
Sial! Kenapa ia bisa menyadariku secepat itu? Padahal aku yakin telah menipiskan hawa keberadaanku, bahkan gadis ini saja sama sekali tidak menyadarinya.
Aku pun menggaruk kepala. “Hahhh. Ternyata mata itu bukan hanya sekedar pajangan, huh?”
“Tentu saja. Kenapa kamu tidak menemani Velia dulu hingga aku selesai dengan urusanku di sini?”
“Velia? Maksudmu...,” ucapku lalu menoleh ke arah gadis di sampingku.
Ia pun menyentuh bagian bawah bahu kiri dengan telapak tangan lalu tersenyum ke arahku. “Perkenalkan, saya adalah Velia Priscelya putri angkat dari Duke Heinrich,” tuturnya lembut sambil merendahkan tubuh sedikit.
“D-Duke?! Jadi sebenarnya kamu adalah seorang putri bangsawan? A-aha-hahaha,” sahutku kaget.
“Fufufufu. Memiliki seorang pemandu seorang putri bangsawan, bukankah kamu cukup beruntung, Kuro~” goda Aresya dengan nada mengejek.
Tolong ampuni diriku. Ini sudah yang ketiga kalinya aku mendapatkan kejutan yang langsung membuatku ingin mengurung diri di rumah.
“Hmm. Sepertinya saya pernah melihat tuan—“
“Kuro... cukup itu saja. Kamu sudah mendengarnya dari Aresya, bukan?”
“Ahh! Kalau begitu... “
“Langsung menjadi akrab. Seperti yang aku harapkan dari tunanganku,” sela Aresya sambil membusungkan d**a besarnya.
“Ehh?!! Jadi tuan... maaf, maksud saya Kuro adalah tunangan Nona Aresya? Pantas saja saya baru pertama kali melihat ekspresi Nona Aresya seperti itu,” tuturnya dengan mata membesar.
Ughh... kepalaku sakit karena selalu mendengar bualan wanita sialan ini. “Duduk? Mungkin lebih baik kita duduk dulu dari pada terus berdiri di depan pintu,” saranku lalu berjalan ke arah sofa.
Velia mengangguk lalu mengikuti, kini ia duduk tepat di hadapanku. Saling berhadapan entah mengapa membuatku malu daripada canggung, mungkin karena efek perkataan Aresya langsung membuatku merasa tidak enak.
“Soal yang tadi, kamu bisa melupakannya. Dari awal wanita itu tidak akan pernah berkata serius,” tuturku lalu menyandarkan diri ke bantalan sofa.
“Begitukah? Saya sama sekali tidak menyangkanya.”
Setelah itu entah dari mana Aresya masuk ke dalam pembicaraan kami dan menjatuhkan dirinya tepat di sampingku.
“Ini adalah dokumen yang telah aku siapkan setelah acara kemenanganmu di Cheias Vastica,” ucapnya lalu meletakan dua buah dokumen ke atas meja. “Tentang sisanya sudah aku bereskan. Baik urusan pemindahan, pengurusan atas pelantikanmu, serta yang terakhir adalah persiapan untuk upacara pembuka. Karena kali ini sedikit spesial, pastinya pembukaan semester baru juga akan cukup meriah. Pastikan jangan datang terlambat, ya?”
“Umm... Nona Aresya?”
“Ya?”
“Saya rasa Kuro sedikit keberatan dengan Nona Aresya”
“Tampaknya ada yang sedikit peka juga. Jadi menyingkirlah dari sini, Aresya!” tuturku lalu melepaskan sihir angin kecil untuk menghempaskannya.
“Kyaa! Kuro, kamu nakal, ya!”
Kurang ajar. Pertama menguntiku, kedua menjebakku dengan pembayaran Aeon, dan kini ia mengaku-ngaku sebagai tunanganku. Kurang apa coba lagi kesialanku di hari ini?
Untung Velia masih ada di sini, kalau tidak, aku pasti akan menghempaskannya jauh sekali.
“Sudahlah hiraukan saja masalah ini. Lebih baik selesaikan dulu urusanmu dengan Aresya,” tuturku sambil menghela napas.
Selain itu sepertinya Velia juga cukup pengertian karena sedari tadi ia tidak mengatakan apa pun dan lebih memilih untuk diam meski tahu ada yang salah dengan tingkah laku Aresya.
“Umm. Apakah ada yang lain? Jika tidak, maka saya akan kembali pulang untuk mempersiapkan beberapa hal”
“Ohh! Ya, itu sudah semuanya. Tidak ada yang kurang dan aku juga sudah memeriksanya beberapa kali”
“Jika seperti itu saya akan pamit terlebih dahulu. Sebelumnya terima kasih, Nona Aresya,” sahut Velia lalu berdiri dan membungkuk sedikit kemudian pergi meninggalkan kami berdua—Aku dan Aresya.
Akhirnya ia pergi juga, kali ini aku tidak akan segan lagi untuk menghempaskannya dengan sihir angin tingkat tiga.
Namun, seperti ada sesuatu yang memberitahunya. Ia pun langsung mengeluarkan sihir angin tepat ke bawah tubuhnya dan mengapung pelan sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna di sofa depan.
“Kamu bisa membaca jalan pikiranku, ya?”
“Anggap saja ini sebagai intuisi. Hehehe”
“Hahh. Terserahlah... kalau begitu tentang ini, bisa kamu beritahu di mana kedua pedagang itu?” tanyaku lalu meletakan selebaran misi penumpasan Umbras.
“Ah. Jadi ini kenapa kamu mencariku sampai ke sini, ya? Aku kira kamu mencariku karena sedang merindukan sosok aduhai ini,” sahutnya genit.
“Berhentilah bercanda, Aresya”
“Aha! Kebetulan ada yang sedang mencarimu sekarang,” sahutnya lalu menjentikkan jari.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara ketukan pintu. Jangan-jangan ia memang sudah merencanakannya? Atau ia tahu pergerakanku akan terbatas dan menunggu kesempatan ini untuk memberi kejutan?
Pertanyaannya adalah... siapa orang yang sedang mencariku ini?
Ketika Aresya mengizinkan orang yang ada di balik pintu itu masuk, di saat yang sama juga aku mendengar teriakan Fear samar-samar.
Seperti pemicu yang menghamburkan segalanya. Fear tiba-tiba saja masuk dari arah jendela dengan sangat cepat. Mengingat tubuhnya itu berupa roh yang transparan, bola hangat itu sayangnya langsung berubah menjadi bentuk raga dan kini menghinggap di kepalaku layaknya binatang pengerat.
Sementara itu sosok yang masuk dari arah pintu adalah dua orang pria paruh baya. Mereka mengenakan pakaian tradisional, kukira? Lengkap dengan atribut serta aksesori sederhana yang melambangkan bahwa mereka berdua memang memiliki pekerjaan sebagai pedagang keliling.
“Kuro!!! Huaaaa!!!”
“Terima kasih karena telah mengundang kami kemari, Nona Aresya.”
Namun, kabar yang mungkin saja dapat menggembirakan hatiku itu langsung berubah menjadi sebuah bencana. Telingaku sakit mendengar jeritan Fear dan sebaliknya aku lega karena kedua orang yang sedang kami—Aku dan Fear cari kini muncul di sini.
“Aku sama sekali tidak bisa menemukan mereka! Tapi kenapa kamu di sini, Kuro?!” tanya Fear sambil menggigiti lengan kananku.
“Karena aku tidak bisa menemukan mereka di taman kota makannya aku datang ke sini,” jawabku lemas.
Satu hal lagi, ingat para pembaca, kami sedang melakukan komunikasi melalui telepati. Jadi tentunya kedua orang ini tidak akan bisa mendengar perbincanganku dengan Fear, apa yang mungkin mereka lihat saat ini adalah seorang laki-laki yang sedang menundukkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
Aresya, kata kalian? Aku tidak tahu apakah wanita ini bisa mendengarkan pembicaraanku dengan Fear atau tidak. Mungkin ia bisa melihat sosok aslinya, tetapi karena kami saat ini menggunakan telepati, dan bukan komunikasi langsung. Aku ragu jika ia memang bisa melakukannya.
“Ohh! Sepertinya kami datang di saat yang kurang tepat. Apakah sekarang Anda sedang memiliki tamu lain, Nona Aresya?” tanya seorang pria paruh baya bertopi.
“Ya dan kebetulan sekali kalian datang sekarang. Perkenalkan, pria inilah yang kini mengambil permintaan kalian,” jawabnya dengan senyum tipis.
“Begitukah? Akhirnya kami bertemu dengan orang yang mau mengambil permintaan ini.”
Aku pun berdiri dan mulai memperkenalkan diriku sebagai Kuro tanpa adanya nama panjang. Setelah itu mereka berdua ikut duduk di sofa. Aresya sendiri kini kembali ke sampingku.
Mereka mulai menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana mereka bisa berpapasan dengan Umbras di sekitar Dataran Alv. Namun, sebelum mereka melanjutkannya, sang pria yang menggunakan syal cokelat menyerahkan sebuah kantung hitam kepada Aresya.
“Apa ini?”
“Itu adalah pembayarannya,” jawab laki-laki bertopi.
“Sebenarnya saya tidak terlalu memerlukannya, tetapi mungkin pria yang ada di samping saya sedang membutuhkannya,” sahut Aresya dengan senyum pebisnis.
Aku sebenarnya sudah tahu sedikit sifat wanita ini, tetapi mencoba mengalihkan isu yang ada dengan menggunakanku sebagai pengalihnya. Benar-benar, ya... aku memang seharusnya tidak datang ke tempat ini.
Mungkin jika aku ingin, bisa saja aku mengambilnya tanpa pamrih atau berbasa-basi. Namun, alasan aku mengambil misi ini karena aku ingin melunasi hutang Aeon secepat mungkin.
Seandainya aku mengambil hadiah ini, itu sama saja aku memperpanjang masa cicilanku. Aku tahu ini terdengar konyol, tetapi percayalah... dari balik cantik dan menawannya Aresya, tersimpan sebuah kengerian yang mungkin saja tidak bisa kalian bayangkan.
Dan selain itu aku tidak tahu mengapa Aresya menerima misi ini. Apakah mereka tidak mencoba untuk menaruhnya di papan misi atau menyerahkannya pada serikat? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Biar aku luruskan terlebih ahdulu sebelum membahas masalah ini lebih lanjut,” tutur Aresya. “Akulah yang mengambil misi ini karena langsung bertemu dengan mereka berdua tepat ketika keduanya sudah memasuki kerajaan. Jadi misi ini sebenarnya tidak terdaftar secara resmi di serikat atau misi bebas yang ada di papan misi taman kota. Apakah sejauh ini kamu paham, Kuro?”
“Jadi maksudmu ini adalah misi khusus?”
“Kamu bisa mengatakannya seperti itu. Walaupun mereka mendaftarkan permintaan ini langsung kepada serikat pun belum tentu ada yang mau mengambilnya. Hal ini karena tingkat kesulitannya saja bisa membuat para kesatria maupun penjelajah yang sudah berpengalaman tewas”
“Hehhh. Kedengarannya cukup menarik, tetapi mengapa kamu memintaku untuk menyelesaikannya, dan bukan dirimu saja?” tanyaku sambil memiringkan kepala sedikit.
“Aku mungkin bisa melakukannya, tetapi mengingat keadaan serta jabatanku sekarang. Ini akan menjadi sedikit rumit, kamu seharusnya tahu tentang ini.”
Aku juga tidak terlalu peduli dengan detail kecil seperti itu, tetapi mungkin ada baiknya juga mendengarkan penjelasan Aresya sebelum terjadi kesalahpahaman. Tentunya aku juga berpikir dua kali untuk melakukan misi berbahaya seperti ini.
Sebelumnya aku menghadapi Tenebris yang untungnya belum mencapai titik puncak dari pertumbuhannya. Umbras pun sama, seandainya makhluk berbahaya seperti ini dibiarkan begitu saja. Kemungkinan besar ketika waktunya telah tiba, makhluk ini akan membawa kawanan monster ke dalam kerajaan ini.
Mengingat perlindungan yang diberikan oleh Pelindung Arkeos hanya mengatasi masalah Tenebris. Kemunculan Umbras ini memang sedikit mengganggu dan tidak bisa terdeteksi oleh pelindung milik sang raja.
“Lalu?”
“Bagaimana jika kamu mendengarkan penjelasan dari mereka?” sarannya lalu mengalihkan pandangannya menuju dua orang laki-laki yang ada di seberang.
“Baik... lah.”
Mereka berdua pun saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk.
“Sebenarnya kami memiliki satu orang teman lagi, tetapi ia mati karena berusaha melindungi kami dari serangan Umbras. Kami berdua panik lalu bergegas pergi meninggalkannya—“
“Berhenti... aku sudah tahu benang merahnya. Sejujurnya ini adalah permintaan yang sangat... aku tekankan sekali lagi, sangat berat. Tidak semua orang di dalam kerajaan ini bisa menanganinya, terkecuali pasukan khusus yang berada langsung di bawah perintah raja. Apakah kalian mengerti dengan hal ini?”
Laki-laki bersyal pun meremas celananya. “Kami tahu akan hal itu, tetapi kami tidak memiliki waktu lagi!”
“Waktu... katamu? Apakah kalian sedang terburu-buru?”
“Ya. Saat ini kami sedang mengejar kapal yang akan berangkat menuju ke Benua Avrelus,” jawab laki-laki bertopi.
“Kami tidak ingin kematian teman kami menjadi sia-sia dan waktu kami juga tidak lama. Sebelum berangkat, setidaknya kami ingin menguburkan jasadnya dengan layak. Setelah apa yang ia korbankan, tentunya kami tidak bisa berdiam diri,” timpal laki-laki bersyal dengan nada kesal.
Hmm... ternyata aku mendapatkan misi balas dendam, huh?
Sepertinya hubungan mereka sangat dekat. Jika mereka tidak memiliki hubungan yang dekat, biasanya rekan-rekan atau kawan satu kelompoknya tidak akan terlalu peduli. Dengan pengecualian mereka ingin mengincar hartanya, tetapi kedua orang ini ingin menguburkan jasad temannya dengan layak.
Umbras sendiri memiliki kebiasaan yang cukup unik. Makhluk ini pasti akan selalu meninggalkan kerangka kosong setelah memakan mangsanya. Seperti memuntahkan sisa-sisa tulang ataupun dalam kasus tertentu hanya menyisakan kepalanya saja.
Aku ragu jika jasad yang mereka bicarakan ini masih utuh. Syukur-syukur jika masih bisa menemukan tulang-belulangnya, kalau sampai tulang-belulangnya ikut dimakan juga, apakah mereka masih menerima sisa bekas pakaian untuk dikuburkan?
Aku pun menghela napas lalu kembali melihat kedua laki-laki ini dengan mata memicing.
“Kapan batas waktunya?” tanyaku serius.
“Besok malam... “
“Baiklah, tetapi sebelumnya ada sesuatu yang harus aku beritahu sebelum memulainya”
“Seperti?”
“Kemungkinan besar jasad teman kalian telah habis dan hanya menyisakan... mungkin pakaian atau barang-barang kepemilikannya saja. Kalian mengerti ‘kan dengan maksudku?”
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tentu saja hal ini terjadi, mengetahui kemungkinan jasad teman mereka lenyap sementara mereka menginginkan jasad ini untuk dikuburkan secara benar adalah dua hal yang berbeda.
Tanpa jasad bagaimana mereka ingin menguburkannya dengan layak? Dan apakah hanya dengan barang kepemilikannya saja sudah cukup untuk menggantikan jasad tersebut?
“Meski begitu kami masih ingin melakukannya, jadi tolonglah!” ucap laki-laki bertopi sambil membungkukkan kepala.
“Ya! Tolonglah!” timpal temannya juga sambil membungkukkan diri.
“Hehehehe. Ini sangat menarik untuk melihat reaksimu, Kuro,” celetuk Aresya dengan senyum mencurigakan.
Aku pun menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan lalu memberi isyarat kepada Aresya seperti “Dengan ini kuharap utangku bisa sedikit berkurang, ‘kan?” itulah kurang lebih.
Ia sendiri hanya membuat tawa kecil dan membalasku dengan “Tidak masalah”.
Sepertinya aku berhasil mendapatkan persetujuannya, kalau begitu sisanya terserah padaku.
“Aku mengerti, sisanya serahkan saja padaku....”
Setelah itu aku mendapatkan ekspresi lega dan senang secara bersamaan dari mereka. Tidak lepas juga dengan beberapa ucapan terima kasih yang berlebihan dan begitulah aku menerima misi ini.
Dengan tujuan yang jelas serta alasan meyakinkan, di tambah beberapa bumbu pedas seperti pengurangan utang, sepertinya aku perlu mendorong motivasiku lebih jauh lagi.