“Oii! Tua bangka, pesananku sudah beres belum?”
Setelah kami menghabiskan sedikit waktu sambil menikmati kehidupan di kota ini. Fear selalu tergoda oleh makanan yang dijajakan oleh para pembuat kue ataupun permen.
Walaupun itu terbilang sebagai sampel, tetapi karena kelakuannya itu aku jadi telat. Yahh... mungkin akhir-akhirnya juga bakal terkena semprot dari si pria tua.
“Rupanya kau sudah ada di sini, ya, bocah b******k?”
Orang yang aku sapa ini adalah pemilik salah satu toko senjata sekaligus pengrajin material. Aku sudah biasa membeli keperluan di sini dan ia juga tahu mengapa aku datang kemari.
Toko Senjata Gast adalah rumah sekaligus tempat di mana setiap ciptaannya terpajang dengan elegan. Begitu kalian memasuki toko ini, kalian akan disambut oleh dua buah bagian etalase yang bersih.
Etalase pertama berada di sebelah kiri dari pintu masuk, membentuk huruf L memanjang yang dipotong oleh pintu masuk ke bagian dalamnya. Sedangkan etalase kedua membentuk belahan garis memanjang yang berada di tengah-tengah ruangan.
Pajangan di sekitar dinding bagian kanan merupakan jajaran pedang dan perisai. Sedangkan untuk etalase bagian tengah adalah crossbow, belati, dan perisai kecil. Dan pada bagian etalase tempat di mana pria tua ini berada hanya memperlihatkan beberapa aksesori buatannya.
“Aku akan melupakan perkataanmu tadi, dengan syarat beri aku potongan harga, Gaston. Hehehehe,” tuturku dengan seringai lebar.
Gaston... pria tua ini sudah menekuni bidangnya selama hampir 30 tahun. Ia juga merupakan seorang pandai besi yang sangat dipercayai oleh para penjelajah lainnya.
Walaupun ada banyak sekali toko senjata di daerah sini, tetapi para penjelajah itu bisa lebih memilih untuk datang ke toko ini. Semua itu karena kredibilitas serta keunikan yang di miliki oleh toko ini.
Jarang sekali ada pengrajin material yang mau menerima pesanan pribadi. Biasanya para pengrajin di sekitar sini hanya menjual senjata dan barang yang telah mereka buat sendiri. Selain itu sisanya hanya menerima pesanan untuk memperbaiki perlengkapan.
Meskipun perawakannya tidak tinggi, tapi lebar. Rambut abu pucat dan mata sayunya itu tidak menggambarkan secara jelas bagaimana ketekunannya dalam menempa dan menciptakan pedang berkali-kali. Sungguh minat yang sangat murni.
“Patut dijuluki sebagai bocah b******k. Kau ini mintanya yang aneh-aneh meski aku senang sih,” sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Penyakitmu kumat lagi, ya?” tanyaku spontan.
“Kumat dari mananya? Lalu pedang yang sebelumnya ke mana, huh? Dibuang?” tanyanya kembali lalu berbalik mengambil sebuah kotak kayu panjang.
Aku pun melirik pedang kayu di pinggang kiriku. Setelah pertarungan melawan Tenebris kemarin, aku merasa pedang ini sudah mencapai batasnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum akhirnya hancur karena tekanan dari kekuatan Mana milikku.
“Pedang ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kuharap pedang buatanmu kali ini tidak mengecewakanku, Gaston,” tuturku lalu mengayunkan pedang kayu untuk terakhir kalinya.
Ketika aku mengayunkannya, aku merasakan sebuah reaksi yang hebat hingga membuat pedang ini bergetar. Tidak lama kemudian bintik-bintik cahaya bermunculan satu-persatu dan tanpa aku sadari pedang kayu yang telah menemaniku selama ini akhirnya hancur berkeping-keping.
Pedang kayu ini terbuat dari dahan pohon kuno yang ada di benua tengah. Tempat di mana aku pertama kali bertemu dengan Fear. Hanya karena ini merupakan sebuah pedang kayu, banyak orang yang sering meremehkannya, padahal kekuatannya bisa setara dengan pedang sungguhan—sebagai catatan, ini adalah perasaanku saja setelah menggunakannya bertahun-tahun.
Namun, kini semua itu telah tiada, dan sebelumnya juga firasatku tidak enak. Ternyata setelah mengalahkan Tenebris itu firasatku menjadi kenyataan. Daya tahan dari pedang ini sudah mencapai batasnya dan hanya mengalirinya dengan sedikit Mana, seketika itu juga pedang ini langsung hancur berkeping-keping.
“Aku turut berduka cita dengan hal itu, Kuro. Coba periksa dulu....”
Gaston langsung meletakan kotak kayu yang ia bawa ke atas etalase. Wajahnya sedikit tegang, tetapi di saat yang bersamaan juga lega.
Aku sangat mengerti dengan perasaan itu karena sebelumnya juga aku pernah mengalaminya.
Aku pun mengangguk lalu membukanya perlahan-lahan.
“I-i-ini... “
“Hahahaha! Ekspresi yang bagus, Kuro. Aku menyukainya,” ucapnya puas.
Sungguh... saat ini aku tidak bisa berkata apa-apa. Pedang yang aku inginkan dan selalu ada dalam bayang-bayangku menjadi kenyataan.
Pedang ini terbuat dari dua buah material langka yang hanya bisa didapatkan pada tempat-tempat tertentu. Bahan pertama adalah Kristal Albertium di dalam Gua Kehancuran Grimstal, tepatnya di atas langit-langit Danau Bawah Tanah Myst.
Kristal ini sangat kokoh dan zat yang terkandung di dalamnya juga setara dengan metal paling kuat di dunia, yaitu Adamantium. Serupa meski tak sama, itulah istilah yang cocok untuk menggambarkan keduanya.
Gua ini juga merupakan tempat pertemuanku dengan Fear. Ketika aku berada di titik terendah dan juga pada ambang batas kehidupan, roh gadis kecil inilah yang menolongku saat itu. Ia mengulurkan tangan kecilnya untukku dan berkat dirinya aku masih bisa berdiri di sini.
Sedangkan material yang kedua adalah Mineral Chesmite. Mineral ini hanya dapat tercipta ketika tiga buah inti sari murni dari sumber Mana saling bertemu.
Ketiga inti sari tersebut adalah Tetesan Air Farmus dari pucuk paling tinggi Pohon Anima. Kristal Vosbind dari dalam Danau Ol’s Trost dan yang terakhir adalah Kondensasi Inti Mana dari kumpulan doa peri dan roh, Dius Aether.
Kemampuan Gaston dalam mengolah dua material kompleks ini patut aku acungi jempol. Bukan hanya ia berhasil menciptakan sebuah mahakarya, tetapi pria tua ini juga mengubah imajinasi terliarku menjadi kenyataan.
Mengapa aku ingin menciptakan pedang ini? Jawabannya cukup sederhana, itu karena aku ingin membuat tempat tinggal baru bagi partnerku, Fear.
Selain menjadi wadah katalis untuk inisiasi pelepasan batas maksimum kekuatanku. Dengan kata lain pedang inilah yang akan menjadi jembatan tempat pertemuan kekuatan Fear dan juga diriku.
Sempurna tanpa batas. Bahkan pembatas yang selalu membuatku sakit kepala sepertinya tidak akan pernah lagi aku rasakan.
“Sepertinya kau benar-benar menyukainya, eh?” Gaston pun menggosok bawah hidungnya beberapa kali. “Beri nama. Itu adalah tugasmu selanjutnya karena tugasku di sini sudah selesai,” lanjutnya lalu menepuk bahu kananku dengan tatapan sungguh-sungguh.
Meskipun kedua material itu terdiri dari berbagai macam kumpulan Mana yang memadat. Warna yang dihasilkannya juga tidak secerah seperti pedang suci atau pedang pemberian dewa.
Warna pedang ini lebih menyentuh kegelapan. Tidak bersinar mengilap memantulkan kemilaunya, tetapi bersembunyi dalam kegelapan pasi demi membantu sang cahaya menjadi lebih kuat.
Aku menyukainya... karena itu aku akan memberinya nama....
“Aeon... itulah nama dari pedang ini,” tuturku halus sambil tersenyum lega.
“Aeon, huh? Terdengar keren, jadi apa artinya?”
“Dia sang penumpas kegelapan dari para perusak... “
“Hohohoho! Terkadang selera penamaanmu itu tidak bisa aku tebak sama sekali, tapi anehnya selalu luar biasa. Baiklah, jadi nama pedang ini adalah Aeon”
“Tidak keberatan, ‘kan?”
Gaston menggeleng. “Itu pedangmu, barang milikmu, dan sepenuhnya berada dalam kepemilikanmu. Orang waras mana yang mau menyangkalnya?” tanyanya lalu terkekeh kecil.
“Aku hampir lupa. Berapa harga yang harus aku bayar?”
Namun, pria tua ini hanya memberiku telapak tangannya.
“Apa yang kamu bicarakan, bocah?! Ambil ini sebagai hadiahmu saja.”
Aku pun sedikit tertegun beberapa saat lalu kembali sadar karena merasa ada suatu kewajiban yang perlu aku tuntaskan.
“Kau tidak usah membayarku sepeser pun. Lagi pula itu hadiah untuk perayaan atas terpilihnya dirimu sebagai instruktur di Akademi Magistra. Hahahaha! Siapa yang sangka kalau kau akan menjadi instruktur di akademi bergengsi itu,” ungkapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Saat itu juga aku terdiam membatu, bahkan jantungku kali ini benar-benar hampir copot. Ketika kita membicarakan topik itu, ada satu hal yang selalu menggangguku hingga saat ini.
“J-jangan katakan kalau wanita itu yang membayarkannya?” tanyaku memastikan dengan keringat dingin.
Gaston pun memberiku senyum terlebarnya. Aku bisa melihatnya dengan jelas, jajaran gigi alot nan tua itu terpampang seperti kepuasan tiada tara.
“Sialan! Apanya yang gratis?! Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan!” rutukku dengan nada kesal.
Aku ingin menghantamkan pedang ini secepat mungkin, tetapi karena ini berada di dalam toko milik Gaston, aku khawatir tokonya akan hancur pada saat itu juga. Hahhh... satu demi satu keberuntunganku mulai luntur, dengan ini aku benar-benar tidak bisa menolak ajakkannya.
Dasar wanita sialan, betina tidak tahu diri! Aku akan mengutuknya setiap pagi ketika aku bangun tidur dan malam ketika aku ingin tidur. Lihat saja nanti, aku pasti akan melampiaskan rasa kesal ini berkali-kali lipat.
“Ngomong-ngomong berapa yang wanita itu bayar?”
Gaston memberiku satu jari telunjuknya.
“Satu koin emas?”
Setelah itu ia menggeleng. “1000 koin emas putih,” tuturnya dengan seringai lebar.
Aku ingin mati! Aku ingin keluar dari kerajaan ini, sialan! Aku ingin pergi dari sini!
Uang sebanyak itu cukup untuk menghidupi kebutuhannya selama 40 tahun ke depan. Sialan, aku benar-benar ingin memukul wajah menyebalkannya itu.
Lagi pula mengapa aku tidak sadar kalau selama ini penguntit itu berusaha menjebakku dengan cara ini. Namanya penguntit pasti ia tahu semua tentangku, tetapi transaksi material langka ini dengan pembuatan pedang kulakukan ketika toko pria tua ini akan tutup.
Aku juga yakin tidak ada yang mengikutiku saat itu dan 100% percaya bahwa kemampuanku dalam mengendap-endap lalu menghilangkan hawa keberadaanku adalah yang terbaik di kerajaan ini. Namun, aku tidak bisa mempercayainya sama sekali kalau ia berhasil melakukan hal ini kepadaku.
“ARESYAAAAAA!!! PERSETAN DENGAN DIRIMU!!!”
Sementara itu Gaston tertawa terbahak-bahak membawa perut besarnya memantul beberapa kali.
“Ahahahahaha! Itu adalah momen paling indah dalam hidupku. Apalagi ketika melihat bocah b******k seperti dirimu sengsara adalah yang terbaik meski aku tidak tahu apa yang kau sesali,” tuturnya dengan nada sarkas.
Aku pun mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya berkali-kali sampai hatiku mendapatkan ketenangan batin.
Jika hal ini terus berlanjut bisa-bisa kehidupanku akan hancur. Mungkin sudah takdirku masuk ke dalam jaring perangkap wanita sialan itu.
Awalnya Fear menyemangatiku kemudian sikapnya berubah tiba-tiba dan kini meski ia berusaha menyembunyikannya, tetapi saat ini roh gadis kecil itu menertawaiku dengan wajah mungilnya.
Ohooo... jadi begitu, ya? JADI BEGITU?! Rupanya kamu juga ikut ke dalam rencananya, FEAR!!!
Aku memang mengatakan akan menambah jatah permennya. Namun, sepertinya janji itu akan aku ingkari karena ia telah bersekongkol dengan betina itu. Fear... tunggu saja pembalasanku nanti.
Untungnya aku telah menutup jalur komunikasi dengan Fear ketika memikirkan hal itu. Jika tidak, ia mungkin saja bisa mengetahui rencana superku ini.
Selama 10 menit penuh penderitaan itu akhirnya selesai dan aku bisa mengangkat wajahku kembali dengan perasaan berat hati. Ini pahit... benar-benar pahit, tetapi setidaknya rasa sesak, dan juga tersiksa ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih hebat.
Benar. Saat ini aku membicarakan tentang Aeon. Mungkin sudah waktunya aku menyinkronkan diri dengan Fear lalu mengubah Aeon ke dalam bentuk perwujudan pedang roh.
“Ohh... Gaston?”
“Hmm? Apa penyesalanmu telah selesai?” tanyanya dengan wajah puas.
“Sepertinya salah satu perisai di belakangmu retak,” tuturku tanpa ekspresi.
“Huh? Yang benar?!”
Ia pun langsung berbalik dan pada saat itu juga aku mengulurkan tanganku kepada Fear.
Roh gadis kecil ini paham dengan apa yang aku maksud. Ia pun meraih tanganku dan proses sinkronisasi dimulai.
[Inilah rumah bagiku. Tempat... hunian... dan segala sesuatu yang menyebutnya sebagai rumah]
[Melepas sigil dalam ambang batas. Perwujudan ketulusan, usaha, dan keringat perjuangan menjadi satu]
[Atas nama Roh suci yang mendiami langit dan bumi. Aku... Fear, menyatakan bahwa Aeon merupakan bagian dari “kami”]
Untuk sesaat pupilnya berubah menjadi suatu lambang tertentu, lima buah lingkaran sihir berwarna merah-keunguan muncul di atas Fear lalu perlahan-lahan turun.
Dalam seperkian detik itu, sang Roh gadis kecil akhirnya telah menyelesaikan sinkronisasi dengan Pedang Aeon. Kini aku bukanlah tempat yang cocok ataupun pas untuk menjadi persemayamannya, melainkan Aeon lah yang menggantikan peranku sekarang.
Pedang hitam pucat yang sebelumnya tidak memiliki ornamen garis di bagian pinggir bilahnya mulai mengeluarkan asap semu. Sebuah garis cahaya kecil merayap di atasnya dan perlahan-lahan membentuk ornamen yang menandakan kalau Aeon merupakan wilayah kekuasaan sekaligus tempat tinggal Fear.
Berkat ornamen itu juga, aku bisa merasakan kekuatan luar biasa yang keluar dari aura tipis di sekelilingnya. Ini memang sebuah mahakarya tanpa tanding.
Usahaku selama ini memang tidak sia-sia. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, aku selalu berada di ambang kematian karena mencari bahan-bahan untuk menciptakan Aeon ini.
Bayangkan berada di dalam kondisi hidup dan mati secara bersamaan. Sebenarnya aku bisa saja menyerah, tetapi hanya untuk Roh ini aku harus berusaha bekerja ekstra demi mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik.
“Hei, Kuro. Apa kau berusaha membalasku tadi?”
Setidaknya pria tua ini tidak melihat proses tadi dan Fear juga telah sukses melakukannya tanpa mengalami kejanggalan apa pun.
“Apa yang kau bicarakan? Ohh... sebelumnya terima kasih, aku akan pergi dulu,” tuturku dengan senyum tipis.
“Ah-ohh. Hmm? Aku tidak mengerti, tetapi aku berdoa untuk keberuntungan, dan juga pekerjaanmu di sana, Kuro. Dan terima kasih juga atas uangnya... hehehehe,” balasnya sambil menyilangkan kedua lengannya di atas d**a.
Aku pun berbalik dan pergi menuju pintu keluar sambil melambaikan tangan. Namun, sebelum pintu itu aku buka, seorang perempuan tiba-tiba saja masuk, dan melewatiku.
Ia memiliki wajah yang cantik dengan dua buah mata berwarna ungu-violet. Rambut panjangnya yang putih pasi tertiup angin dengan lembut.
Pakaiannya berupa seragam rapi dengan bawahan rok cokelat hangat. Ia pun berjalan santai menuju ke arah Gaston, tetapi sekilas itu... ya, meski itu hanya sekilas... kedua mata kami saling bertemu.
Aku mulai berpikir dan mengingat kembali perasaan aneh ini. Di mana aku pernah merasakannya, ya? Tunggu sebentar... perasaan ini mirip sekali dengan yang aku rasakan ketika berbincang-bincang dengan Aresya.
Pertanyaanku adalah mengapa sosoknya bisa menimbulkan perasaan aneh ini? Persis sekali dengan yang Aresya berikan pada waktu itu.