“Ada alasan khusus mengapa aku menginginkanmu....”
Itu adalah sebuah jawaban yang sangat bias yang bahkan tidak bisa aku pahami sama sekali. Jawabannya secara tidak langsung mengatakan bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya.
Jika saat ini kalian berada diposisiku sekarang, apa yang akan kalian katakan kepadanya? Apa kalian akan langsung pergi tanpa berkata-kata atau menerimanya begitu saja?
Aku pun mengambil napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya kembali.
“Jawabanmu terlalu bias dan memiliki banyak makna. Aku tidak tahu yang mana itu, tetapi yang pasti aku juga tidak akan bisa menebaknya. Kamu mengerti ‘kan, apa maksudnya?”
Aresya mengangguk.
“Itu sama seperti kamu sengaja memasukkan faktor asing ke dalam perbincangan ini yang sama sekali tidak ada kaitannya sama sekali. Jika aku adalah orang lain... katakanlah orang asing lalu tiba-tiba saja mengajakmu ke tempat aneh dan berkata ‘Ada alasan khusus mengapa itu harus kamu’... apakah kamu akan dengan mudahnya menerima ajakan tersebut?” tanyaku sambil menghela napas.
Aku bisa melihat bagaimana perubahan ekspresi Aresya yang sebelumnya rumit kini berubah menjadi kompleks.
“Dengar... meski begini-begini juga, aku bisa mengatakan kalau ajakkanmu itu adalah penawaran paling menggiurkan yang pernah aku dapatkan. Siapa juga yang tidak ingin mendapatkan penghasilan tetap dan mungkin saja bonus di kemudian hari? Setiap orang pasti menginginkannya, apalagi jika pekerjaan itu adalah menjadi seorang instruktur di akademi bergengsi yang terkenal seperti Akademi Magistra,” ungkapku panjang lebar sambil memasang wajah ragu.
“Aku mengerti dengan maksudmu.” Aresya pun kembali tegap dan ekspresinya pun kembali tenang. “Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku menginginkanmu,” lanjutnya sambil menekankan kata terakhir.
“Baik... aku menghargai dedikasimu karena masih memilihku sebagai kandidat instruktur. Sayangnya pernyataanmu itu menghancurkan dasar kepercayaanku yang sudah aku coba bangun”
“Walaupun begitu... aku... “
“Hahh, Baiklah-baiklah... jangan memasang wajah seperti itu, bisa-bisa aku dikatai sebagai laki-laki tidak berperasaan. Langsung saja... apa yang bisa kamu berikan kepadaku sebagai kompensasi atas sifat keras kepalamu itu?” tanyaku sambil menghela napas. “Asal kamu tahu, kalau itu uang aku tidak terlalu mengkhawatirkannya, dan aku suka kebebasan—“
“AKU AKAN MEMBERIKAN DIRIKU SENDIRI!” potongnya cepat sambil menggebrak meja.
Dalam keheningan singkat yang membuatku suasana terasa menegangkan itu. Bukan hanya aku yang menyemburkan air yang ingin kuminum, bahkan orang-orang di sekitar kami mulai memperhatikan gelagat Aresya yang sangat agresif.
Aku pun menutup mulutnya secepat mungkin. “Kamu gila, ya?! Kenapa harus menggebrak meja segala? Lalu pelankan suaramu, bodoh!” ucapku spontan dengan keringat dingin bercucuran.
Aresya pun langsung menjentikkan jarinya dan pada saat itu juga sebuah angin lembut yang memancarkan aura hangat menyebar luas.
Semua orang yang sebelumnya memperhatikan kami kembali mengurusi urusannya masing-masing. Syukurlah... untung saja jantungku masih berada pada tempatnya dengan aman.
“Lalu apa manfaatnya untukku?” tanyaku sambil mempersiapkan pertahanan batin.
“Tentu saja aku akan menjadi ibu dari anakmu, istri yang baik hati sekaligus agresif di ranjang. Bahkan jika kamu mau bermain sedikit kasar, aku juga tidak keberatan, kok,” jawabnya dengan pipi merona.
Mendengar jawabannya kali ini seperti terkena hujan anak panah yang langsung menghunjam jantungku bertubi-tubi. Aku ingin pingsan saja... siapa pun, cepat datang! Dan selamatkan aku dari wanita gila ini!
“Berhentilah dengan sandiwara itu. Apa kamu tidak malu dengan gelarmu?”
Meski singkat, tetapi Aresya termenung sambil menggumamkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya secara jelas meski suasana di sekitar kami cukup tenang.
“Hahahaha. Jangan terlalu di anggap serius, tetapi kamu bisa meminta apa saja selama itu masih berada dalam wewenangku,” jawabnya dengan senyum mengembang.
Setelah ia menyerang batinku dengan akurat dan berhasil mengguncangnya beberapa saat, kini ia memberiku senyum ramah yang entah mengapa aku rasa sama berbahayanya seperti pernyataan yang sebelumnya.
“Tapi... kalau yang tadi juga boleh, kok...,” lanjutnya dengan tersipu malu.
Sialan. Mau sampai kapan kau akan membuat jantungku copot, huh?
Ia cukup beruntung juga karena terlahir sebagai perempuan. Jika sampai perkataan itu datang dari seorang laki-laki, maka aku tidak akan sungkan, dan dengan senang hati langsung memukul wajahnya sekuat mungkin.
“Bagaimana dengan permintaanku?” tanyaku memastikan.
“Itu juga termasuk.”
Aku pun mulai mempertimbangkannya kembali. Memang benar ini adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan, tetapi aku tidak bisa menjanjikan gaya mengajarku seperti instruktur atau guru formal lainnya.
Anggap saja sebagai gaya yang khas dengan sedikit rasa... nakal.
“Jadi maksudmu semuanya tergantung diriku asalkan sesuai dengan kurikulum acuan Akademi Magistra?” tanyaku sekali lagi memastikan.
“Begitulah, tetapi perlu diingat juga kalau seandainya terjadi apa-apa dengan murid yang mana itu adalah kesalahan instrukturnya. Maka kami selaku pihak Akademi Magistra dengan tegas akan memberimu hukuman yang keras,” jawabnya mengingatkan sambil memetik buah anggur di meja lalu memakannya.
“Apa aku terlihat seperti p***********k muda?”
Aresya pun mengangkat alisnya sebelah lalu kedua matanya berpaling dan kini memandangi Fear selagi mulutnya tersenyum penuh akan makna mengerikan.
“Dia ini adalah ROH! Jangan samakan aku dengan penjahat kelamin di penjara kerajaan, sialan!”
“Fufufufu. Aku harap kamu bisa menjaga perkataan itu, Kuro. Ohh, satu lagi... “
“Masih ada lagi?”
“Aku mengucapkan selamat datang di akademi kebanggaanku, kebanggaan kerajaan ini. Selamat datang, Kuro, di Akademi Magistra,” tuturnya lalu meraih tanganku.
“Basa-basimu tadi itu sangat mengerikan. Jika aku orang lain, mungkin sudah salah paham,” balasku lalu menjabat tangannya.
“Ohh! Sebenarnya itu memang harapanku dari awal, kalau kamu tidak keberatan aku akan sangat senang bisa menerimamu di ranjang panasku,” balasnya genit.
“Hahhh. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini,” ucapku dengan nada lemas.
Setelah itu Aresya hanya terkekeh-kekeh dengan tawa puas. Berdoalah agar aku tidak datang membawa palu penghakiman kepadamu, wanita sialan.
▼▼▼
Beberapa saat kemudian kami berpisah dan Fear juga sepertinya sudah selesai dengan permennya.
Namun, sebelumnya Aresya memberiku sebuah selebaran kertas yang tampaknya tidak asing. Ketika aku memeriksanya, selebaran itu berisi tentang informasi detail seekor monster.
Bisa aku katakan monster ini bukanlah sembarang monster karena tingkatnya berada jauh di atas monster rata-rata. Ada sebuah perbedaan yang sangat jauh antara Tenebris dan juga monster biasa.
Monster biasa pada umumnya tidak memiliki aura kegelapan dan mereka rentan terhadap serangan normal. Namun, mereka juga biasa hidup berkelompok dengan kawanannya.
Seandainya monster itu berada di dalam tingkat yang lebih tinggi... aku akan mengambil contoh pemimpin monster. Jika pemimpin monster ini muncul, maka kemungkinan besar mereka memang datang secara berkelompok, dan jarang sekali hidup sendiri.
Mereka yang hidup sendiri biasanya telah memiliki pengalaman lebih mendalam tentang pertarungan yang sekaligus dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan dan kekuatan mereka. Contoh jelasnya adalah selebaran informasi yang aku terima saat ini.
Informasi yang ada di dalam kertas ini adalah sebuah informasi terbatas yang hanya diperuntukkan bagi mereka—para penjelajah atau petualang yang memiliki pengalaman bertarung dan jam terbang yang sangat lama.
“Mengapa perempuan itu memberikannya kepadaku?”
Sebenarnya aku sendiri heran sekaligus penasaran tentang langkah Aresya ini. Apakah informasi sepenting ini baik-baik saja ia berikan kepadaku?
Namun, sepertinya kekhawatiran itu tidak berlangsung lama ketika aku melihat sebuah catatan kecil pada bagian pojok bawah kirinya.
—Pssttt... informasi ini baru aku terima kemarin dan belum aku beritahu siapa-siapa. Kamu bisa menganggapnya sebagai pengesahan pertunangan kita... tertanda tunangan tercintamu, Aresya.
“Apanya yang pertunangan?!” rutukku sambil meremas selebaran.
Selera humornya sangat mengerikan, bahkan aku tidak bisa memikirkan alasan logis mengapa ia memilih kalimat itu sebagai penegasan. Hahh... wanita yang sangat sulit ditebak.
Oh! Aku hampir lupa untuk menjelaskan perbedaan antara Monster dan Tenebris. Bagian Tenebrisnya hampir saja tertinggal, untung aku masih mengingatnya.
Dibandingkan dengan Monster, Tenebris lebih mengerikan. Mereka adalah entitas yang terlahir atas kebengisan dewa kegelapan... itulah yang tertulis dalam buku sejarah dan juga alkitab di gereja kerajaan.
Namun, pada kenyataannya mereka bukanlah ciptaan dewa kegelapan, melainkan para Tenebris lahir atas kebencian manusia yang memuncak. Tergantung seberapa kental dan dalam emosi negatif yang terkumpul menjadi satu, semakin banyak dan pekat emosi negatif yang menjadi satu, maka Tenebris pun akan semakin kuat.
Karena sebab inilah saat itu aku harus mengalahkannya secepat mungkin. Jika dibiarkan begitu saja, maka keberadaannya akan menjadi sebuah bencana yang dapat berjalan.
Tenebris juga muncul atas keinginan seseorang untuk menciptakan entitas yang bisa merusak kehidupan. Memorak-porandakannya, menghancurkan, membuat gelisah, dan membinasakan setiap kebahagiaan makhluk hidup.
Dengan kata lain mereka sebenarnya memang bencana yang muncul akibat emosi negatif. Jika mereka adalah sebuah bencana, maka tentu ada pencegahannya. Musuh alami Tenebris sendiri ialah Roh.
Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, jika Monster bisa dikalahkan dengan cara biasa tanpa ada hal khusus apapun, maka Tenebris hanya bisa dikalahkan dengan bantuan kekuatan Roh.
Mengapa begitu? Karena mereka akan terus menyembuhkan kerusakan yang muncul di tubuh mereka berkat emosi negatif yang konstan. Dan karena inilah kekuatan Roh adalah solusi atas pertanyaan itu.
Kekuatan Roh berasal dari doa bumi, langit, dan keinginan atas hasrat setiap makhluk hidup untuk dapat saling hidup berdampingan. Tanpa keinginan itu, kekuatan Roh akan berkurang bahkan mungkin lebih buruknya lagi mereka akan menghilang dari kehidupan ini.
Energi positif murni yang Roh hasilkan akan menjadi sebuah medium untuk dapat memberantas para Tenebris.
Pengklasifikasiannya pun beragam dan diurut berdasarkan tingkat bahayanya. Hewan yang tidak mengancam kehidupan manusia akan tetap tergolong sebagai hewan, tetapi jika mereka menyerang tanpa alasan yang pasti, maka mereka masuk ke dalam kategori Monster.
Sedangkan untuk pengurutan kategori Tenebris tidak menentu karena kemunculan mereka juga sangat acak dan terkadang muncul tiba-tiba tanpa orang-orang sadari.
Setelah semua penjelasan itu aku merasa melupakan sesuatu yang penting. Hmm... ah! Aku ingat sekarang....
“Apakah aku tidak punya pilihan lain selain mengerjakan misi ini?” tanyaku sendiri sambil menggosok dagu beberapa kali.
“Hmm? Apa itu sama kayak misi kemarin, Kuro?”
Mengapa gadis kecil aneh ini baru sekarang bicaranya? Kenapa bukan di saat aku sedang berbicara dengan Aresya saja? Hahh... Fear terkadang kamu ini polosnya keterlaluan.
“Tidak terlalu sih. Setidaknya di sana tidak ada Tenebris, hanya monster biasa, tetapi jika kamu membaca keterangannya. Tingkat bahayanya setara dengan menaklukkan p*********n monster sedang,” jelasku singkat sambil menghela napas.
“Ohhh~ Apa itu artinya aku bisa meminta jatah lebih banyak lagi?”
“Kamu ini, ya... hahhh. Kayaknya itu tidak mungkin”
“Ehhh! Kalau begitu aku tidak mau, aku mau ikut kalau jatah permenku juga bertambah,” tuntutnya sambil memasang raut tidak senang.
“Itu tergantung diriku, Fear. Lagi pula kamu juga sudah punya banyak jatah permen dari pemberantasan Tenebris kemarin, ‘kan?” balasku lalu mengacak-ngacak rambut panjangnya.
“Uuuhhh... jangan rambutku juga, Kuro,” keluhnya dengan nada kesal.
“Habisnya kamu ini kayak pingin dielus gitu. Jadi tanganku refleks langsung mendarat di atas kepalamu.”
Walaupun samar, aku bisa melihat pipi Fear yang menggembung sekaligus memerah. Ekspresinya itu memang menggemaskan meski terkadang menyebalkan di saat yang sama.
“Jadi?” Fear memiringkan kepalanya.
“Tunggu sebentar. Aku ada janji dengan pengrajin besi.” Aku pun kembali mengingat sambil mengeluarkan kertas kecil dari saku kemeja. “Sekalian jalan-jalan juga,” lanjutku lalu memastikan jika aku tidak salah hari.
“Boleh~ Ayo!”
Aku terkekeh kecil melihat tingkah lakunya, setelah itu kami beralih menuju bagian timur kota.
Berjalan melewati orang-orang yang berlalu-lalang. Tempat ini memang sama sekali tidak pernah berubah dengan desain arsitektur interiornya.
Walau bagaimana pun juga, hanya ada sedikit perubahan yang terjadi pada tempat ini setelah kepergianku 10 tahun lalu.
Langit-langit yang dulunya kosong kini penuh akan tali bendera, memanjang dari satu tiang ke tiang lainnya. Selain itu juga hiasan bendera Kerajaan Ronove memperlihatkan kesan kebesarannya meski tidak angin yang mengibarkan benderanya.
Untuk bagian jalannya sendiri mungkin sedikit rapi dari yang aku ingat. Dulu jalanan di kota ini masih menggunakan bebatuan dengan ukuran yang bereda, tetapi sekarang hampir semuanya menggunakan bebatuan balok dengan sisi yang sama.
Pengecualian untuk beberapa anak tangga yang menanjak dan juga jembatan. Keduanya masih menggunakan batu-batu sebelumnya, hanya saja kini diwarnai agar terlihat cerah.
Rumah-rumah di sini juga telah berubah. Yang sebelumnya lekat dengan rumah kayu, kini semuanya menjadi menggunakan batu khusus. Itu artinya ketahanan rumah tersebut menjadi lebih kuat dan tidak rentan akan kerusakan.
Aku tidak tahu siapa yang berada di balik revolusi desain kota kerajaan ini, tetapi siapa pun orangnya. Kerja bagus, dia berhasil mengubah kota yang dulunya hampir menyerupai sarang penjahat menjadi tempat yang benar... benar... benar layak untuk dihuni.
Bagian barat kerajaan adalah tempat khusus penjual makanan manis, jika kita menggesernya sedikit ke arah timur, maka di situlah kedai-kedai penjual makanan siap saji yang biasa aku kunjungi ketika uangku habis.
Sedangkan bagian timur adalah pusat para pengrajin menonjolkan kebolehannya. Tidak hanya sebatas pengrajin atau pandai besi, tetapi pakaian, aksesoris, dan semua barang kreatifnya selalu bisa kita temukan di sana.
Menuju bagian tengah khusus untuk taman kerajaan yang sangat luas dan menjadi pusat relaksasi atau pun berkumpulnya para penjelajah yang sedang mencari teman satu tim.
Dan yang terakhir adalah bagian dalam dekat dengan kastil merupakan bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi para pejabat yang mengurus administratif serta tempat tinggal bangsawan.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan ide semacam ini. Begitu sentral dan ditumpuk menjadi satu, wilayah khusus bangsawan. Namun, setidaknya selama ini aku tidak mendengar kabar-kabar tidak sedap dari wilayah itu.
Walaupun ini bukan urusanku, tetapi hanya memikirkan para bangsawan itu bertindak seenaknya membuatku jengkel. Mungkin jika aku bertemu dengan salah satu dari mereka yang membuat onar, aku tak akan segan-segan lagi kepadanya.
“Hahhh... hidup, hidup. Memang aneh,” gumamku pelan sambil menghela napas.
“Unn? Kuro?”
“Ahh. Bukan apa-apa, kok. Santai, santai... sebentar lagi kita akan sampai di sana,” jawabku sambil tersenyum tipis.