“Huh?”
Perkataannya itu seperti serangan tiba-tiba yang membuatku langsung membeku sesaat. Bahkan otakku seakan-akan kehilangan fungsi berpikirnya dalam beberapa detik sebelum akhirnya kembali sadar karena keningku disentuh oleh jari telunjuknya.
“Bisa kamu ulangi?”
Velia hanya tersenyum dalam diam selagi kedua matanya melihatku dengan pandangan ketertarikan.
Ada dua hal yang bisa aku simpulkan dari ekspresinya. Ia sedang bosan dan mencari sesuatu untuk menghibur dirinya sendiri atau empati miliknya memang berjalan baik dan niatnya murni ingin membantuku.
Karena aku tidak terlalu mengenal sosoknya terlalu dekat, aku tidak tahu apa niatnya berkata seperti itu kepadaku. Ini membingungkan. Apalagi saat ini aku memang sangat tidak ingin membicarakan masalahku dengan Reya kepadanya.
Aku pun membenarkan posisi tubuhku lalu duduk menunduk sambil menghela napas.
“Jadi... ada yang bisa aku bantu, Velia?” tanyaku balik dengan nada malas.
“Yup. Aku penasaran apa yang sedang kamu lakukan di sini, Kuro,” jawabnya lalu mengeluarkan sebungkus kue kering dari saku kemeja putihnya.
“Tidak ada yang spesial. Hanya sedang menikmati rehabilitasi ‘kecil’ yang sedang aku jalani sekarang”
“Hmmm... oh! Ngomong-ngomong tadi pagi aku baru saja selesai memanggang beberapa kue kering. Apa kamu mau?” tanyanya tanpa beban.
“Hei... sebaiknya kamu katakan itu pada orang-orang yang sedang melihat kita dengan tatapan bermusuhan itu,” jawabku sambil menghela napas.
Ada apa dengan orang-orang itu, apa mereka adalah penggemar Velia? Atau hanya beberapa penguntit yang iri karena aku memiliki akses spesial menuju kue kering buatannya? Hahh... hidup memang tidak berpihak baik kepadaku.
“Mau?” tanyanya sekali lagi sambil menyerahkan kue kering itu dengan tangan kanan.
Aku pun menghela napas sekali lagi. “Terima kasih dan... umm, bisa kamu urus mereka terlebih dahulu?”
Velia memiringkan kepalanya. “Mereka?” tanyanya singkat lalu menoleh ke arah kiri.
Ketika ia berusaha melihat ke arah yang aku tunjuk, orang-orang itu langsung bersembunyi dengan sangat sempurna, bahkan Velia sendiri pun kebingungan.
“Tapi aku tidak melihat siapa-siapa di sana. Apa jangan-jangan kamu salah lihat?”
“Wajar kalau mereka bersembunyi,” gumamku lalu mengambil satu gigitan.
Velia tersenyum tipis, tapi di sisi lain aku merasa seperti target amukan dari orang-orang yang mungkin adalah penggemarnya. Ini menakutkan, belum apa-apa sudah jadi sasaran amarah dari orang yang tidak dikenal, padahal ‘kan aku hanya ingin bersantai lalu mengapa bencana ini datang kepadaku?
“Enak?”
“Kalau tidak enak juga nanti aku muntahkan, kok”
“Jahatnya. Padahal sedikit bohong dan mengatakan enak juga tidak ada salahnya, ‘kan?” tuturnya sambil memasang ekspresi memohon.
“Aku bukan orang sebaik itu, jadi jangan terlalu berharap.”
Sejujurnya kue buatannya sangat enak, tetapi karena suasana hatiku sedang buruk, semua makanan atau minuman yang aku rasakan jadi sedikit aneh. Namun, meskipun seperti itu aku tetap mengunyahnya dengan rasa syukur karena masih ada orang mau peduli terhadapku.
Aku cukup kagum dengan keberaniannya mendekatiku karena bersikap tenang setelah melihat seorang lelaki yang sedang duduk di bangku taman kota sendirian tepat ketika matahari akan terbenam. Apakah ia tidak merasa aneh, ya? Aku bahkan membuat pose tidak menyenangkan dengan sesekali menghela napas untuk mengeluarkan rasa kesal.
Namun, ia tetap datang menghampiriku meski aku tahu sebenarnya ini bukanlah suatu kebetulan. Hahh... dasar, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Nona muda yang satu ini?
“Jangan khawatir. Kamu bisa melihatnya sendiri”
“Oh! Senangnya, berarti kue buatanku enak, ya?”
Aku pun menoleh lalu menatapnya datar. “Biasa saja.”
Velia menghela napas. “Hehehehe. Jarang-jarang lho aku membagikan kue dengan orang lain, apalagi jika itu orang yang baru aku kenal. Jadi jangan menyia-nyiakan niat baikku,” tuturnya sambil menyentuh pipi kiriku dengan jari telunjuk.
Mengingat betapa bersahabatnya Nona muda yang satu ini, aku jadi meragukan diriku sendiri. Biasanya kalau sedang baik pasti ada maunya... Fear. Perempuan di sampingku ini sedikit mirip denganmu, apa dirimu baik-baik saja di sana?
“Baiklah. Aku bersyukur atas kuenya, Nona Velia. Akan lebih baik lagi jika kamu bisa mengusir sekelompok orang di sana yang sedang menatapku tajam penuh dengan rasa iri,” tuturku lalu melirik ke arah semak-semak di sekitar pinggir jalan.
Aku pun langsung menjentikkan jari sambil merapal sedikit sihir angin. Sihir ini aku peruntukan untuk mereka agar tidak bisa bergerak ke mana-mana dan diam di sana dalam posisi berdiri.
Mengikat kaki serta tubuh mereka dengan sihir tidak berbahaya sama sekali tidak melanggar peraturan kerajaan. Apalagi mereka tidak terluka, hanya terikat sementara.
“Bagaimana? Apa kamu mau melakukannya? Aku sudah memberikanmu sedikit bantuan di sana.”
Ia pun hanya tertawa kecil. “Menggunakan cara itu... sungguh curang. Kalau begitu izinkan aku untuk mengabulkan permintaan kecil dari seorang calon instruktur,” balasnya dengan senyum tipis.
“T-tunggu dari mana—ah! Tentu saja kamu mengetahuinya.”
Setelah itu Velia bangkit dan beranjak pergi menuju orang-orang yang kini masih berada dalam kendali sihir anginku. Aku tidak tahu apa yang ia beritahukan kepada mereka, tetapi setelah beberapa saat kemudian mereka semua langsung bubar.
Walaupun seperti itu, aku masih bisa merasakan tatapan permusuhan. Hahh... seharusnya aku menyadarinya dari awal kalau seandainya seorang putri anggun nan cantik dengan pesona seperti Velia pasti memiliki penggemarnya sendiri.
Apalagi saat ini ia juga berada di dalam jajaran Kesatria Legiun. Itu artinya ia berhasil memenangkan Cheias Vastica.
Aku kembali tenggelam ke dalam pikiranku sendiri hingga tak sadar kalau sosok anggun yang tadi kulihat seperti menegur mereka kini telah kembali duduk sambil menyimpuhkan kedua tangannya di atas pangkuan paha.
“Aku sudah menyelesaikan permintaanmu, Kuro. Jadi bisakah kamu mendengarkan permintaanku kali ini?” pintanya sambil mencondongkan tubuh ke arahku.
“Ughh... e-e-eumm. Aku tidak yakin bisa memuaskan rasa keingintahuanmu,” jawabku ragu.
“Fufufu. Tenang saja, aku tidak akan meminta hal-hal yang terlalu sulit, kok. Setidaknya untuk saat ini... “
“H-hei. Apa maksudmu ‘untuk saat ini’?”
“Hehehe. Rahasia~”
▼▼▼
Cahaya matahari yang bias perlahan mulai terlelap. Selagi langit melepaskan selimut gelapnya yang gemerlap, suasana kota mulai memasuki mode meriahnya.
Aku dan Velia sedang berjalan di antara kerumunan orang yang berdiri menonton pertunjukan jalan.
“Aku tidak menyangka permintaanmu cukup unik juga”
“Benar ‘kan? Aku tidak meminta hal yang aneh-aneh,” sahutnya dengan nada lembut.
“Meskipun masalah itu kamu bawa sendiri, tapi ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.”
Sebenarnya masalah orang-orang itu adalah masalahnya sendiri. Aku hanya memintanya untuk menyelesaikan masalah sendiri dan seharusnya aku tidak memiliki kewajiban untuk mengiyakan permintaannya.
Permintaannya ini sedikit mencurigakan karena memintaku untuk menemaninya berkeliling kota. Aku merasa seperti seorang penjaga dari putri elit sekaligus pasangannya... mungkin? Entah, aku tidak ingin memikirkannya lagi.
Ada banyak hal yang bisa kami lihat di kota ini.
Kedai-kedai yang ramai akan teriakan antusias para pelanggannya. Orang-orang berbaris menanti pertunjukan seorang pemusik di jalanan. Pemandangan indah di sekitar distrik timur dan barat. Para penari yang bisa ditonton pada panggung teater dalam kota dan sebagainya.
Aroma makanan matang di malam hari lebih terasa kental. Sajian hidangan di waktu ini juga adalah yang paling menggiurkan karena penuh akan daging serta isian banyak.
Banyak sekali kedai-kedai yang melakukan atraksi memasak terbuka agar bisa ditonton oleh orang-orang. Dengan cara ini mereka bisa menarik perhatian lalu mendapatkan pelanggan di saat yang sama juga.
Namun, dari semua hiburan yang Velia minta kepadaku. Ia hanya ingin mengobrol sambil menikmati kota ini denganku.
“Nah, Kuro... dari dulu aku ingin menanyakanmu sesuatu, tetapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertanya kepadamu”
“Hmm? Bertanya? Kepadaku? Tentang?... “
“Umm. Kenapa kamu berpakaian seperti ini? Padahal kamu bisa saja menggunakan pakaian yang lebih menarik”
“Ya... ini seleraku. Apa aku tidak boleh memakai baju yang kuinginkan sendiri?” tanyaku balik sambil menoleh ke arahnya.
“Bukan begitu, tapi aku merasa kita sepertinya pernah bertemu di suatu tempat. Ya... aku merasa tidak asing denganmu karena itulah aku menanyakan hal ini,” ungkapnya dengan pipi yang merona.
“Jangan terlalu berharap. Lagi pula aku sudah melupakan masa laluku sendiri. Setidaknya aku bisa bertahan hidup dengan mengingat dan menjadikannya sebagai titik balikku”
“Eumm... sepertinya berat, ya? Maaf kalau aku menanyakan sesuatu yang aneh—ouchh!”
Aku pun langsung menyentil dahinya. “Jangan membuat ekspresi seperti itu lagi kalau tidak mau terkena sentilan kedua,” potongku cepat sambil tersenyum tipis.
“Uuu. Bahkan ayahku tidak pernah menyentilku seperti itu,” tuturnya sambil mengusap dahi beberapa kali.
“Aku bukan ayahmu, Velia. Kamu harus mengingatnya... selain itu, apa tidak ada yang lain? Kita dari tadi hanya berjalan santai di sekitar distrik barat”
“Ah! Aku baru ingat. Cecile pernah mengatakan kalau ada kedai krep manis yang cukup populer di sekitar sini,” ucapnya dengan wajah antusias sambil bertepuk tangan sekali.
“Cecilia?”
Ughh... aku tiba-tiba saja mengingat bagaimana kaki lentik nan kuatnya itu menendang Reya dengan ekspresi kesal. Ternyata pepatah jangan menilai buku dari sampulnya memang benar. Aku saja hampir tertipu dengan penampilan perempuan itu ketika pertama kali bertemu dengannya.
Aku kira ia memiliki sifat tenang dan bertindak menggunakan kepala dingin, tetapi nyatanya ketika kesal aku bahkan bisa melihat sosok menakutkan dari balik senyumnya itu.
“Maksudmu salah satu temanmu di Kesatria Legiun?” tanyaku memastikan.
“Yup! Itu dia. Apakah mereka berdua tidak melakukan hal yang aneh-aneh ketika mengantarkan makanan dariku?”
“A-ahahaha. Tidak terlalu juga, tetapi meminta dua orang Kesatria Legiun untuk mengantarkan semangkuk bubur ke rumahku. Apa itu tidak berlebihan?” tanyaku sambil memijat kening.
“Hehehe. Tidak juga, lagi pula mereka langsung penasaran kenapa aku repot-repot membuatkan makanan untuk orang asing”
“Mendengar itu darimu, sepertinya kalian cukup dekat juga”
“Begitukah? Aku tidak terlalu seakrab itu, kok. Apa mereka belum pernah melihat seseorang membuatkan bubur untuk orang yang sakit?” tanyanya sambil memiringkan kepala.
“Kamu ini polos atau sengaja polos?”
“Hehehehe. Oh! Lihat itu, kalau tidak salah tempat itulah yang Cecile bicarakan ketika kami sedang makan bersama saat istirahat siang,” serunya lalu berlari sambil menarik lengan kananku.
“T-tunggu... o-oii!!!—“
Setelah itu aku ditarik olehnya seperti seekor hewan peliharaan. Ya, aku menganalogikannya seperti itu meski ada analogi yang lebih baik. Namun, seberapa keras aku berusaha untuk menghentikannya ia terus saja menarikku seperti benar-benar telah menanamkan pemikiran di benaknya bahwa aku adalah hewan peliharaan.
Tak mendengar, bertindak sesuka hati, dan sedikit egois. Padahal aku tidak terlalu dekat dengannya.
Setelah ia memesan dua buah krep; satu rasa anggur dan satu lagi cokelat. Kami pun mencari tempat duduk yang kosong dan kebetulan berhasil menemukannya dekat dengan pagar pembatas jalan.
“Umm... terima kasih, meski sebenarnya aku tidak perlu mengatakannya”
“Sama-sama? Kenapa?”
“Lupakan saja.”
Velia mengambil satu gigitan sambil memegangi pipi kirinya.
Pipinya yang merona bisa kulihat jelas berkat penerangan lampu jalan. Dengan suasana yang pas dan tempat ini juga cukup ramai, biasanya aku selalu bersama Fear, tetapi kali ini ada seseorang yang entah dari mana datang tiba-tiba, dan menggantikan tempatnya sementara.
Kami berdua biasanya memesan makanan yang berbeda. Namun, Fear lebih menyukai Lasagna yang penuh keju dan aku Mi Asam Manis dengan perasan Jeruk Lime yang cukup asam.
Selain rasanya yang unik dan enak. Aku juga jadi lebih segar di malam hari dan bertahan lama hingga tengah malam hanya untuk memandangi langit tanpa alasan yang jelas.
Fear....
“Kuro?”
“Hmm? Ahh... “
“Kenapa kamu tidak memakan krepnya?”
“Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang nakal,” jawabku sambil menekankan kata terakhir.
“Hehhh... aku jadi tambah penasaran. Hehehehe”
“Dasar. Habiskan saja krepnya, setelah ini kita pulang”
“Tapi aku ingin lebih lama lagi di sini”
“Justru itu masalahnya. Dari tadi aku heran mengapa putri seorang duke seperti dirimu tidak memiliki pengawal atau pelayan pribadi? Itu membuatku jadi lebih berhati-hati,” ungkapku lalu mengambil gigitan pertama pada krep.
“Itulah mengapa aku mengikuti Cheias Vastica agar aku bisa menguatkan suaraku dan bingo! Permintaanku langsung dikabulkan oleh ayah”
“Pantas saja kamu bisa sebebas ini. Jadi karena menang pertandingan itu, huh? Kenapa aku tidak memikirkannya sejak awal? Hahhh... sudahlah.”
Setelah itu kami berdua saling berbincang-bincang kecil dari hal yang paling sederhana hingga ke hal rumit. Hal yang paling tidak aku duga adalah bahwa ia memiliki anggota keluarga lain selain dari keluarganya saat ini.
Ia juga menceritakan sedikit bagian masa lalunya yang entah kenapa sedikit janggal. Meski kami menghabiskan waktu bersama, mengungkapkan masa lalu seperti itu adalah topik yang sedikit sensitif apalagi jika menyangkut perihal keluarga.
Yah. Aku juga menceritakan tentang diriku dengan versi yang berbeda, tetapi ketika topik makanan favorit, tempat keren, dan hal-hal trivial lainnya... aku sama sekali tidak menyembunyikan sedikit pun informasi itu darinya.
Menurutku itu adalah hal yang biasa orang beritahukan. Mereka cenderung menceritakannya ketika sedang bersama teman ataupun orang yang mereka anggap nyaman untuk diajak bicara.
Tidak lama kemudian kami berpisah karena sudah terlalu malam dan tempat ini juga perlahan-lahan menjadi sepi. Selain itu kami berada dalam kasta yang berbeda di mana rumahnya masuk lebih dalam ke bagian kerajaan sementara aku keluar kerajaan yang mana jauh dari perlindungan kerajaan.
Namun, ada satu hal yang sama... kami sama-sama memiliki ketertarikan atas selera makanan. Padahal aku cukup yakin kalau selera makanan favoritku aneh dan tidak ada yang menyukainya.