Keesokan harinya aku bangun sangat pagi dan melakukan sedikit pemanasan dengan menggunakan lahan luas sebagai tempat berlariku.
Melakukan aktivitas rutin yang selalu aku lakukan jika aku merasa kekuatanmu mulai menurun atau lebih tepatnya mengalami penurunan. Setelah bertarung melawan sosok misterius itu aku jadi sadar jika kekuatanku belum cukup untuk mengalahkannya.
Jika serangan sederhana itu sudah bisa membuatku pingsan dalam tiga gerakan, maka apa jadinya kalau kami kembali bertemu, dan aku masih sama seperti saat itu? Mungkin aku akan dibantai habis-habisan olehnya.
Karena itulah aku mulai melakukan latihan ringan yang bisa meningkatkan refleks dan mengangkat kekuatan ototku hingga menjadikannya ringan, tetapi berisi.
Pada hari biasanya aku selalu berlari tanpa menggunakan beban, tetapi kali ini aku menggunakan beban pada kakiku untuk meningkatkan daya tahannya. Selain bagian kaki, aku juga memborgol kedua pergelangan tangan dengan Rune pengekang.
Rune ini berfungsi sebagai pemberat dan membuat tanganku mati rasa untuk beberapa saat. Namun, setelah itu akan kembali seperti biasa, dan tidak ada bedanya dengan pemberat lainnya.
Selain itu dengan udara sedingin pagi ini, aku juga bisa mengolah pernapasan di saat yang sama.
Matahari belum muncul dan langit masih gelap. Sebelum matahari terbit setidaknya aku ingin merangsang tubuhku agar lebih aktif dan sehat untuk beberapa alasan tertentu.
Pertama adalah mempertahankan kadar aktivitasku dan membiasakan diri agar tidak malas. Kedua untuk mempersiapkan diri menghajar Reya. Ya. Kalian tidak salah baca, aku memang mempersiapkan tubuhku untuk menghajar anak kurang ajar itu dengan sangat kuat, jadi tolong nantikan gerakan pamungkasku di saat aku menghabisinya, ok.
Kalian juga jangan lupa untuk berolahraga karena aku yakin itu baik untuk kesehatan tubuh kalian. Ohh... mari kita kembali pada topik sebelumnya.
Biasanya aku selalu mengelilingi lahan luas ini hingga matahari terbit. Aku tidak tahu seberapa jauh aku berlari dari rumah ke tempat yang jauh lalu kembali lagi. Setidaknya aku yakin telah berlari cukup jauh dan memutuskan kembali ketika matahari akan terbangun.
Melihat matahari terbit itu juga menjadi momen yang cukup epik bagiku.
Setelah menyelesaikan lari pagi yang segar, aku meneruskannya dengan beberapa peregangan, serta gerakan sederhana seperti mengayunkan pedang berkali-kali, tapi dengan mempertahankan kecepatannya.
Jadi ketika aku pertama kali mengayunkannya dengan kecepatan sedang dan tenaga kuat, maka aku harus tetap konsisten melakukannya agar bisa mengetahui sudah seberapa jauh aku bisa mengendalikannya.
Pedang yang kini aku gunakan sebagai latihanku adalah Aeon. Pedang ini memiliki berat yang pas untuk aku jadikan rekan latihan, bukan cocok lagi, tetapi sangat cocok.
Tidak ringan, tetapi tidak terlalu berat juga. Ukurannya pas, panjang serta bagaimana hembusan angin mengalir melalui bagian pipih bilahnya terkadang menimbulkan getaran kecil.
Ini seperti aku sedang memotong sebuah sayuran dan potongannya itu sangat halus. Tidak ada bagian yang terkikis atau terpotong sedikit.
Di dunia ada sebuah ungkapan yang berkata bahwa kepuasan yang sesungguhnya datang dari kejujuran ego. Karena saat ini aku memang sedang mencurahkan segalanya ke dalam olahraga kecil ini sehingga semuanya terasa memuaskan.
Bahkan pikiranku pun menjadi tenang. Baik ketika aku berlari, melakukan peregangan, hingga mengayunkan Aoen. Aku bisa memfokuskan diri untuk mengembangkan kemampuan fisikku lebih jauh lagi.
Tidak lama kemudian sinar mentari yang aku tunggu-tunggu muncul di ufuk sana. Menjalar layaknya jaring laba-laba yang panjang dan cepat. Langit yang sebelumnya suram kini menjadi lebih berwarna.
Tepat ketika aku mengambil napas dan mengeluarkannya kembali. Matahari pun telah terbit dan keindahan pagi hari yang menjadi waktu penentuku akhirnya tiba.
Setelah ini aku akan kembali ke rumah untuk mandi dan sarapan pagi. Pertarunganku dengan Reya juga tidak lama lagi akan tiba. Selain hanya tersisa satu hari lagi sebelum hari itu tiba.
“Ahhh~ mandi di pagi hari memang sangat menyegarkan,” ucapku sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Aku pun mulai berjalan menuju ke ruang tengah dengan santai. Bunyi lantai kayu yang berdecit terkadang membuatku sedikit mengernyitkan dahi, pasalnya aku sudah memiliki rencana untuk memperbaikinya, tetapi sampai sekarang aku selalu lupa.
“Hmm... apakah sekarang toko perlatan buka? Masih pagi, kan? Aku tidak yakin toko seperti itu akan buka sepagi ini,” tuturku sambil menggaruk kepala. “Lebih baik sarapan dulu, lagi pula aku harus pergi ke tempat Gaston untuk mengambil pesananku.”
▼▼▼
“Seperti biasa para penjaga gerbang selalu santai di saat-saat seperti ini,” gumamku. “Hei!” seruku sambil melambaikan tangan.
Orang pertama yang menyadariku adalah Brad. Lelaki berambut bob cokelat itu melambaikan tangannya lalu menghampiriku.
“Lihat siapa yang datang“
“Hentikan itu, Kuro. Aku paham dengan kondisiku saat ini, tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan tugasku sebagai penjaga gerbang di sini,” sahutnya sambil memperbaiki posisi helm pasukan.
“Lukamu?”
Ia pun tersenyum lebar lalu memberiku jempol kanan. “Semua baik-baik saja berkat bantuan Nona Cecile. Aku juga harus berterima kasih kepadanya karena mau menyembuhkanku, tapi aku tidak tahu sekarang Nona Cecile ada di mana”
“Jangan terlalu berharap. Yang namanya elit, ya pasti sibuk. Tapi...,” ucapku terpotong sesaat lalu melihat tampangnya dari bawah sampai atas dengan mata jeli. “Baru dua hari, kondisimu terlihat sangat bugar, eh?”
“Oh. Hahahaha! Ini juga berkat perawatan para petugas di fasilitas kesehatan, setidaknya dengan ini aku bisa tetap menjalankan tugasku dengan baik”
“Baguslah. Lalu mengapa mereka sedikit bertingkah aneh?” tanyaku sambil mengintip penjaga lainnya dari samping kanan bahu Brad.
Brad memberiku tawa canggung lalu berbalik.
“Bagaimana jika kita membicarakan ini sambil berjalan saja, aku yakin saat ini kamu pasti akan pergi ke toko si tua Gaston, ‘kan?” tanyanya memastikan.
Aku pun mengangguk. “Begitulah, tapi kalau kamu tidak ingin memberitahuku. Aku tidak akan mengungkitnya lebih jauh,” jawabku lalu mengikutinya dari samping kiri.
Untuk beberapa alasan aku merasa Brad sedang kesulitan untuk mencari kata-kata yang tepat. Ya... mungkin terjadi sesuatu ketika aku tidak ingin memikirkannya dan bodohnya lagi kebiasaanku yang ingin mengetahuinya kambuh.
Namun, setidaknya aku menambahkan rasa empati pada pertanyaanku tadi. Selanjutnya aku hanya menunggu Brad. Bagaimana ia akan menjawabnya.
“E-eumm... tentang pertanyaan tadi. Aku tidak tahu apakah memberitahumu adalah pilihan yang bagus atau tidak”
“Jangan terlalu dipikirkan. Toh, kalau ini cuman masalah kecil juga tidak terlalu berpengaruh kok,” jawabku enteng.
Tiba-tiba saja langkah Brad terhenti lalu kepalanya menoleh ke arahku.
“Sebenarnya setelah insiden p*********n gerbang itu aku melihat para Kesatria Legiun pergi meninggalkan kerajaan. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi setelah itu aku mendengar rumor kalau mereka berhasil menemukan sekumpulan Umbras di Dataran Alv,” tuturnya sambil menggaruk pipi dengan jari telunjuk.
Umbras? Bukannya aku sudah mengatasi masalah itu? lalu dari mana datangnya Umbras yang baru ini? Tidak... aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, jika ini adalah rumor, kemungkinan bohongnya pun besar.
“Jadi... y-ya, seperti itulah. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku waktu itu. Jika saat itu kamu tidak datang, mungkin....”
Aku pun menepuk pundak kanannya. “Sudahlah. Jangan dibawa terlalu sentimentil, sekarang aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan ocehanmu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan”
“Kuro... ya! Baiklah”
“Kalau begitu aku pergi dulu. Kegugupan itu jangan sampai dibawa ke dalam pekerjaanmu, Brad,” tuturku sambil berjalan mendahuluinya.
“Terima kasih, Kuro!”
Aku pun memberinya lambaian tangan kanan singkat pertanda “Tidak masalah” setelah itu berjalan masuk ke dalam kota. Di sana aku juga disambut oleh para penjaga yang lain dan mereka juga tampaknya sudah sehat kembali.
Jika perkataan Brad tentang Umbras itu benar, maka itu sudah lebih dari dua hari yang lalu tepatnya ketika aku masih berbaring di ranjang. Namun, seharusnya keberadaan Umbras ini membuat kepalaku kembali berpikir.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana ketika aku berada dalam masa pemulihan. Namun, untuk saat ini ada satu hal yang perlu kupastikan.
Tidak lama kemudian aku pun tiba di depan tempat si tua Gaston. Kuharap pria gempal itu tidak bermalas-malasan dengan pesananku.
Aku pun membuka pintu perlahan-lahan dan bel kecil berbunyi. Semua etalase yang terlihat di dalam sangat bersih dan di pojok dekat meja konter pria gempal itu sedang mengelap sebuah bilah pedang dengan perlahan-lahan.
“Akhirnya kau muncul juga bocah b******k. Memintaku untuk melakukan pekerjaan gila seperti itu membuat jantungku tidak sehat,” ucapnya dengan nada kesal lalu berbalik ke arahku.
“Ahahahaha! Siapa juga yang mau tertipu dengan permainan sederhana itu. Lalu apa gunanya kau memiliki dua telinga jika tidak untuk mendengar, huh?”
Ia pun mendecakkan lidahnya. “Baiklah. Kali ini aku mengaku kalah, tapi lain kali tidak ada yang seperti ini lagi bocah berandal,” tuturnya lalu menyimpan pedang di tangannya ke atas meja.
Aku bersiul pelan. “Sepertinya pesananku sudah jadi nih. Bisa tunjukkan pada Papamu ini tidak?”
Gaston langsung terkekeh sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Papa? *Puhh* jangan mengingau terlalu jauh. Ini adalah anak yang kubesarkan sendiri, menganggapmu sebagai Papanya adalah penghinaan terbesar dalam hidupku,” ucapnya kesal.
“Lihat siapa pria tua yang tidak bisa menepati janjinya ini, Hahahaha!”
“Sialan. Awas saja kau, Kuro.”
Setelah itu ia pun mengeluarkan sebuah kotak kayu dari bawah meja konter dan meletakannya di samping pedang.
Kotak kayu itu tidak terlihat mewah atau apa pun yang memiliki sangkut pautnya dengan kemewahan. Tidak ada ukiran atau perhiasan yang menempel pada bagian luarnya, hanya sebuah kotak biasa, dan tidak lebih.
Namun, apa yang membuatnya berbeda adalah aura yang keluar dari sela-sela kecil penutupnya. Aura itu seperti berusaha keluar dari cangkang kecil yang telah mengurungnya sejak lahir.
Semua bahan dan biaya 100% dariku. Sisanya adalah tanggung jawab Gaston untuk menyelesaikannya menjadi mahakarya.
“Kau tahu? Pesananmu aneh juga. Biasanya benda ini sepasang dan memiliki kegunaan sebagai pelindung tangan, tapi kau memesannya hanya sebelah. Aku jadi penasaran akan kau gunakan seperti apa sarung tangan ini,” ucapnya lalu membuka kotak itu perlahan-lahan.
“Tenang saja. Selama itu tidak melanggar norma dan juga peraturan kerajaan, aku akan menggunakannya sepuas mungkin,” sahutku dengan menekan dua kata terakhir sambil menyeringai kecil.
Gaston menghela napasnya dalam-dalam.
“Yah. Kuharap perkataanmu itu sesuai dengan apa yang aku maksud, tapi ya sudahlah. Aku juga tidak akan terkena imbasnya, paling-paling namaku akan tercoreng,” tuturnya sambil terkekeh. “Pesananmu kali juga cukup unik, huh? Sebuah sarung tangan hitam yang diimbuhi oleh penguatan Mana dan juga material khusus berbahan dasar Aura. Apa jangan-jangan kau ingin menggila? Setelah memiliki pedang baru itu, apa namanya?”
“Aeon”
“Ya. Itu dia... maksudku Aeon, mau seberapa jauh lagi kau akan membuat seisi kerajaan heboh?”
Aku pun merendahkan tubuhku sedikit lalu menyentuh sarung tangan itu dan memastikan semua detailnya sesuai dengan rancangan denah biruku. Setelah aku memeriksanya dan merasa tidak ada yang terlewat, aku menjentikkan jari sambil tersenyum puas.
“Yup! Inilah yang kuinginkan. Tidak ada yang kurang”
“Hahhh... sebenarnya kenapa aku mau menerima pesanan dari monster sepertimu, Kuro,” tutur Gaston sambil menghela napas.
“Jika menurutmu aku monster, maka dirimu adalah monster yang sesungguhnya karena berhasil mengabulkan permintaan terliarku, Gaston,” sahutku sambil menutup kotak itu lalu mengambilnya.
“Hahahahaha! Lidah yang bagus, Kuro. Aku suka ungkapan itu, tapi berhati-hatilah. Tidak semua orang senang dipanggil monster oleh orang segila dirimu.”
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Setelah itu aku beranjak pergi keluar toko.
Namun, apa yang menantiku setelah keluar dari Toko Gaston adalah seseorang berjubah hitam yang wajahnya tertutup rapat oleh tudung besar.
Sosoknya berdiri di seberang sana, di antara orang-orang yang berlalu lalang. Walaupun bagian atas wajahnya gelap, tetapi aku bisa melihat bentuk bibirnya dengan jelas.
Ketika semua suara lenyap dan menjadi hening serta pergerakan orang-orang menjadi lambat. Bibirnya itu bergerak seakan memberiku sebuah pesan.
“Apa Anda menyukai hadiah yang saya kirim?”
Suara itu seperti langsung masuk ke dalam gendang telingaku. Sangat jelas dan tidak ada sedikit pun nada kebencian di dalamnya. Seperti suara yang nyaman dan mengharapkan sesuatu dariku.
Sontak aku pun langsung berlari ke arahnya, tetapi begitu aku berusaha meraihnya, sosok itu menghilang meninggalkan pesan terakhir berupa “Bertambah kuatlah, saya akan menunggu Anda di akhir dunia” kurang lebih.
Dalam sekejap itu semuanya kembali menjadi normal. Orang-orang yang sebelumnya berjalan lambat, suara yang menghilang, bahkan nuansa kota yang sempat luntur kembali seperti semula. Begitu juga posisiku yang masih berdiri di depan Toko Gaston sambil menggenggam erat kotak kayu.
Semua itu berlalu sangat cepat dan aku sendiri bahkan tidak menyadarinya. Tindakanku tadi juga murni karena refleks dan juga suara yang mengatakan raihlah sosok itu secepat mungkin. Namun, di saat tanganku ingin meraihnya, keberadaannya menghilang seperti hantu.
“Sebenarnya apa yang baru saja kulihat tadi?” tanyaku sendiri.