Saat ini aku sedang menyusuri jalanan distrik timur, tepatnya aku sedang pergi menuju ke tempat Gaston. Sebelum aku memenuhi tantangan Reya, ada sesuatu yang perlu kusiapkan terlebih dahulu.
Ini tidak terlalu meriah seperti perlengkapan atribut tempurnya yang sangat khas akan Keluarga Leshar. Namun, sesuatu yang aku siapkan kali ini lebih dari cukup untuk membuatnya tersadar.
Ya. Tersadar akan kenyataan bahwa tidak semuanya dapat diselesaikan hanya dengan tantangan belaka.
Tidak lama kemudian aku pun sampai di tempat Gaston. Kudorong pintu depannya dan lonceng kecil di sampingnya berbunyi. Pria tua yang sedang memoles perisai besar dengan seringai mengerikan itu langsung berbalik.
“Oh? Tumben kau datang ke tempat ini, apalagi dengan tatapan mengerikan seperti itu, Kuro,” tuturnya lalu mengelap kedua tangannya dengan sapu tangan bersih.
“Mengerikan, eh? Aku tidak akan menyebutnya dengan kata itu, Gaston. Determinasi... ini hanya sebuah determinasi,” balasku dengan nada ringan.
“Tidak setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, kawan kecilku,” sahutnya lalu memicingkan kedua matanya. “Jadi... pengecut mana yang berhasil membuatmu bisa mengeluarkan tatapan itu?”
Aku pun menghela napas. “Jangan menggalinya terlalu dalam, bisa-bisa aku mendorongmu jatuh, pria tua”
“Geh! Memang kau pikir siapa diriku ini, huh?!”
“Seorang pria gemuk yang suka berbicara m***m ketika mabuk,” jawabku dengan senyum mengejek.
“HEI! Itu sama sekali tidak dihitung, ok! Ehemm... mendekatlah ke sini jangan halangi pintu masuknya.”
Setelah itu aku berjalan mendekat ke meja konter di mana Gaston sedang melepaskan celemek kulit cokelat dari tubuh besarnya.
“Setidaknya pikirkan dulu apa yang ingin kau lakukan dengan tindakanmu ini. Aku yakin orang ini cukup penting”
“Dan juga pemberontak,” sambungku sambil melihat sekitar. “Ngomong-ngomong apa kau sudah melakukan rutinitasmu?”
Apa yang aku maksud adalah rutinitasnya sebagai pengrajin atau pandai besi, tetapi aku lebih menyinggungnya pada tugasnya dalam membersihkan semua pajangan di dalam toko ini.
Untuk beberapa alasan aku bisa melihat setidaknya ada tiga buah sarang laba-laba yang kini bersarang di pojok setiap sisi langit-langitnya.
“Apa kau ingin mengajakku berkelahi, huh?” tanyanya dengan nada kesal.
“Bagaimana jika aku mengambil jatah Ale milikmu di kedai?” tanyaku balik dengan seringai beribu makna.
Wajahnya membeku sesaat dan bahkan matanya ikut membesar. Setelah itu ia mengambil napas sambil memegangi perutnya yang persis seperti bukit berkembang.
“Jangan bercanda, Kuro. Aku tahu kau pasti mengerti kenapa alasannya aku menyukai Ale, bukan? Jadi jangan mengharapkan yang tidak-tidak,” tuturnya sambil mengusap perut.
“Yah... bisa dibilang begitu sih”
“Lalu apa urusanmu di sini. Dari yang apa kulihat, semua perlengkapanmu tidak ada yang bermasalah. Kau juga tidak membutuhkan aksesoris penambah kekuatan seperti kebanyakan para bocah kaya di luar sana”
“Coba tebak lagi... jika benar aku beri satu koin emas secara cuma-cuma, tapi—”
Alisnya terangkat sebelah dan sambil kembali berdeham, pria gemuk buntal ini memperbaiki postur malasnya dengan sungguh-sungguh. Kini aku bisa seorang pebisnis yang bersiap mengambil kesempatan itu dengan sungguh-sungguh.
“Jangan menyesalinya, pria kecil. Namun, aku cukup terkenal hebat dengan tebakanku ini... hehehe,” potongnya cepat.
Aku harap ia tidak menyesalinya nanti, padahal aku belum menyelesaikan perkataanku
“Coba saja, aku malah ingin melihat perjuanganmu untuk menebaknya,” ucapku sambil terkekeh kecil.
Sembari mengambil napas dalam-dalam, perut gempalnya itu sedikit berguncang. Aku juga bisa melihat kerutan pada wajah alotnya yang kini tampak mengencang karena sebab yang tidak diketahui.
Apakah mendengar uang gratis tanpa usaha bisa membuat kulitnya kembali mengencang?
“Dari percakapan kita yang tadi. Aku rasa kau sedang membutuhkan sesuatu. Pedang Aeon juga tampaknya baik-baik saja, tipe orang sepertimu ini anti dengan perisai atau baju zirah berat. Hmm... aku yakin kau sedang membutuhkan senjata rahasia, ‘kan?” tebaknya dengan raut sangat meyakinkan.
Aku hanya bisa tersenyum tipis melihatnya.
“Tebakanku pasti benar dan mataku juga tidak pernah salah menilai orang lain. Hahahahaha!” tuturnya dengan tawa girang.
Walaupun samar, entah mengapa aku melihat hidung Gaston seperti bertambah panjang. Apa aku sedang berhalusinasi?
“Seperti yang kau katakan. Itu benar—“
“Ahahahaha! Uang, uang, uang... cepat berikan uang itu kepadaku, pria kecil,” selanya cepat dengan nada menggebu.
“Dan juga salah,” sambungku dengan seringai puas.
“Eh? Apanya yang salah?”
“Aku memang benar membutuhkan senjata, tetapi bukan senjata rahasia. Yang aku minta hanyalah sebuah pedang kayu usang yang biasa kau simpan sebagai model”
“Huh? Tunggu sebentar..., tapi aku tetap mendapatkan uangnya, ‘kan?”
Matanya pun berkilauan dan gelagat pebisnis yang cinta uang ini mendenguskan napasnya tanpa rasa malu.
Aku mengangguk. “Sebelum uang mendarat di kantungmu, aku ingin kau menyerahkan pedang kayu itu”
“Apa otakmu baik-baik saja? Untuk apa kau menginginkan pedang rusak seperti itu, huh?”
“Sudah serahkan saja kepadaku,” jawabku bersikeras.
Gaston menggaruk kepalanya lalu menghilang ke dalam ruangan di belakangnya. Tidak lama setelah aku mendengar suara denting dan beberapa suara aneh lainnya, sosoknya kembali dengan wajah dipenuhi oleh debu hitam.
“Bersyukurlah atas kebaikanku. Ambil pedang rusak ini dan berikan kepadaku uang itu, cepat!” ketusnya lalu melemparkan pedang kayu.
“Eits! Tahan dulu sebentar pria gempal, apa kau pikir aku akan berbaik hati dengan langsung memberikan uang ini kepadamu?”
“Grrrr! Jadi apa maumu, aku juga sudah memberikan salah satu pedang kayu model itu. Jangan katakan kau mengingkari perkataanmu sendiri?” tanyanya dengan nada mengejek sambil menyilangkan kedua lengan.
Aku pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya. Aku tidak menyangka ternyata semua nutrisi di otaknya langsung turun ke perut. Pantas saja ukurannya semasif bukit tinggi.
“Kau tadi menyela perkataanku, ingat?” tanyaku sambil menunjuk wajahnya. “Seharusnya kau harus mendengarkannya sampai akhir”
Gaston kembali mendengus lalu memijat keningnya sendiri.
“Aku memiliki firasat buruk tentang ini... cepat katakan apa maumu.”
Mulutku menyungging. “Aku memberimu dua hari untuk menyelesaikannya, pria gempal,” tuturku lalu menghantam sebuah lembaran model pembentukan Materia khusus tepat ke atas mejanya.
“I-ini? Mustahil! Mana mungkin aku bisa menyelesaikannya secepat itu—uhmm!”
Aku pun langsung menyumbat mulutnya dengan sebuah kue kering yang kuambil dari saku kemejaku.
“Jangan mengeluh. Ingat? Dengarkan dulu baru lampiaskan hasratmu itu, inilah akibatnya karena tidak mendengarkanku sampai akhir. Untuk pembayarannya... kau mengertikan?” tuturku dengan nada kemenangan sembari mengangkat kedua alisku beberapa kali.
Tubuhnya pun mulai bergetar dan aku tertawa puas melihatnya.
“Aku akan menunggumu dua hari lagi... Gaston~”
Setelah itu aku menyerahkan lima koin emas itu dan beranjak pergi menuju pintu keluar. Sebelum aku benar-benar berjalan ke luar toko, langkahku terhenti sesaat lalu menoleh sedikit ke arah Gaston.
“Apa jangan-jangan Gaston si pengrajin besi yang terkenal dengan karya-karyanya tidak bisa melakukan ini? Hehehe~ aku akan menantikannya wahai teman minumku, adios!” ucapku lalu kembali berjalan keluar.
Tidak lama kemudian aku bisa mendengar teriakan kemarahannya dari luar, bahkan sebelum aku benar-benar keluar ia melemparkan sebuah belati ke arahku. Dasar... hanya begitu saja marah, pantas sampai saat ini ia masih sendiri.
Hahh... Gaston, Gaston....
▼▼▼
Saat ini aku sedang menyusuri jalan distrik timur yang mengarah langsung menuju tengah kota. Tujuanku saat ini adalah taman kota, tidak ada yang lain, dan sepertinya juga tidak ada yang ingin aku lakukan untuk saat ini.
Aku hanya ingin duduk di bangku taman sambil menyandarkan bahuku lalu melamun untuk seharian.
Masalah ini memang tidak terlalu berat, hanya saja yang aku bicarakan kali ini adalah seorang individu. Itu artinya aku akan banyak sekali mendapat masalah ketika aku menjadi seorang instruktur di Akademi Magistra.
Aku tidak tahu apakah di sana akan baik-baik saja atau tidak. Pasalnya banyak sekali kalangan yang masuk ke dalam akademi itu. Tidak hanya orang biasa, tetapi para bangsawan juga pasti ada di sana.
Hal inilah yang membuatku tidak menyukainya. Bukan karena aku tidak suka kebanyakan bangsawan di kerajaan ini, tetapi aku lebih tidak suka jika mereka membangga-banggakan kebangsawanan mereka padahal semua pencapaian itu didapatkan oleh orang tua mereka.
Ini sama halnya memamerkan perhiasan milikmu yang tanpa kau sadari sendiri adalah palsu.
Aku tidak keberatan jika itu adalah pencapaian mereka sendiri. Pencapaian hasil kerja keras mereka, ditempuh dengan susah payah, dan ditempa dengan kegigihan serta ketekunan... semua itu memang patut mereka banggakan.
“Hahh... ini semua membuat kepalaku sakit.”
Jalanan yang ramai, berbagai macam orang berada di sini dengan tujuan mereka masing-masing. Bangunan-bangunan yang berdiri tegak kokoh tetap memberikan nuansa hangat meski diterpa oleh kebisingan suara.
Tawa anak kecil melintas sekilas ketika sebuah layang-layang terbang cepat dari arah depanku. Mereka berlari riang saling mengejar dan memamerkan mainan yang belum tentu bagus, tetapi nyaman untuk mereka perlihatkan.
Semua kehidupan ini terasa begitu sulit ketika membayangkan arti kata keberuntungan dan tidak keberuntungan. Kedua kata itu memiliki arti yang mendalam dan terkadang disangkutpautkan dengan sesuatu yang hebat.
Namun, bagiku sendiri kedua arti itu melambangkan kehidupan. Mereka yang terlahir bahagia memiliki semua yang menurut mereka nyaman adalah orang beruntung. Dan mereka yang terlahir menderita karena menganggap semua penderitaan dunia itu menyakitkan adalah orang yang tidak beruntung.
Dalam tatanan masyarakat yang penuh akan harapan dan juga kehangatan. Konsep kebahagiaan itu apa? Apakah dapat membuat perut kita kenyang? Apa bisa membuat semua orang merasa aman? Tidak... tidak ada sama sekali.
Awalnya konsep kebahagiaan itu terlahir atas penderitaan sebagian orang dan kita mengambilnya tanpa kita sadari.
Dengan melihat fakta yang kejam seperti itu, aku yang dahulu pernah berharap menjadi seseorang yang hebat kini jatuh menjadi sesosok laki-laki yang hanya ingin menikmati hidup penuh kepalsuan ini dengan senyuman.
Hanya sebatas rasa nyaman yang kuinginkan dan sebatas rasa hangat yang ingin aku peluk saat ini.
Sesuatu yang berasal dari kata senang terkadang memiliki makna ganda. Apa yang mereka tabur tidak akan lepas dari perkembangan waktu dan itu adalah roda yang berputar seiring dengan kepercayaan mereka.
Untuk saat ini semua tercipta atas perjuangan leluhur, itulah pemikiran mereka.
Berharap memiliki sesosok pahlawan yang dapat dijadikan sandaran, itulah keinginan mereka.
Memiliki kasih sayang dan kebaikan dalam kekurangan, itulah harapan mereka.
Bertahan dalam krisis demi melindungi yang terkasih, itulah anggapan mereka.
Dan berbaik hati kepada sesama, itulah kebiasaan mereka.
Namun, dari balik semua makna positif tersebut muncul sebuah konsep yang mengerikan. Konsep ini merupakan anggapan orang-orang yang mengharuskan mereka yang di atas menjadi atap, badan, tangan, serta otak demi kelangsungan hidup semua.
Begitu eksistensi ini lahir, maka konsep tertinggi dari kasta pun ikut terlahir. Memiliki kepuasan ego yang nyata, menganggap diri mereka lebih hebat dari yang lain, dan menjadikan sosok mereka sebagai penopang kehidupan.
Sungguh lucu sekali jika aku harus menganggap mereka lebih hebat dari yang lain. Mereka yang menganggap semua akan selesai hanya dengan menabur nilai berharga untuk menyelesaikan masalah adalah yang terburuk.
Tanpa berpikir lebih panjang dan mengetahui sebab akibatnya. Aku terlalu lama tenggelam dalam pemikiranku sendiri memang mengerikan. Bahkan aku tidak menyangka telah sampai di taman kota.
Taman yang tenang dikala langit senja memunculkan ombak oranyenya. Angin juga mulai berembus lebih dingin dari biasanya.
Setelah aku menemukan bangku kosong, aku pun langsung mengklaim tempat itu sebagai wilayah pribadiku untuk beberapa waktu kedepan. Menyandarkan punggungku sambil memandangi langit, aku kembali menghela napas.
“Mungkin aku juga yang terlalu sedikit keras... hahhh. Aku ingin pulang, aku ingin makan-makan enak, dan bawakan aku segelas cokelat hangat!” keluhku dengan nada lepas.
Aku tidak peduli jika orang-orang di taman ini melihatku dan menganggapku orang aneh. Yang penting aku bisa sedikit menenangkan pikiranku dengan datang ke tempat ini.
“Akademi Magistra, huh? Nama yang diambil dari kota, ah... tidak mungkin lebih tepatnya ibu kota. Aku masih tidak percaya tempat yang dulu pernah membuatku terpojok kini menjadi sangat ‘cerah’.”
Entah mengapa aku selalu memikirkan hal-hal yang aneh. Namun, saat ini aku hanya ingin menikmati waktu sore hari di taman ini sendirian. Maksudku sendiri adalah tanpa ada orang lain yang ikut menemaniku.
Begitulah nasibku saat ini, tanpa pasangan, dan hidup tenang bersama roh kontraktor meski saat ini roh itu diculik oleh anak ingusan.
Benar-benar hari yang buruk untuk memulai rehabilitasiku. Aku juga tidak tahu apakah dalam waktu dua hari yang tersisa luka ini bisa sembuh?
Mungkin memang benar Aresya telah melakukan penanganan pertama bersama Cecile. Namun, aku masih khawatir... orang itu... siapa sebenarnya sosok misterius itu?
“Hmm? Kuro? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini.”
Aku tidak tahu dari mana datangnya perempuan ini dan bisa berkata kebetulan, tetapi untunglah yang datang bukan wanita sialan itu.
“Kebetulan? Aku ragu dengan pernyataan itu...Velia”
“Hehehe. Lagi pula ada apa dengan wajah berantakan itu? Apa Anda—“
“Biasa saja... jangan terlalu sopan denganku dan jangan terus menatapku dengan kedua mata menyeramkan itu,” potongku cepat. “Apalagi berdiri seperti patung manekin yang sedang tersenyum, itu membuat bulu kudukku merinding”
“Benarkah? hehehehehe”
Velia saat ini sedang mencondongkan wajahnya tepat di belakangku yang tengah bersandar tenang selagi kepalaku menghadap ke langit.
Setelah itu ia memperbaiki postur tubuhnya dan berjalan menuju ke sisi bangku. Dengan tenang dan anggunnya ia pun duduk tepat di sampingku seperti tidak terjadi apa-apa.
“Baiklah... jadi kenapa tidak menceritakan masalahmu itu kepadaku?” tanyanya tiba-tiba dengan senyum tipis yang manis.
“Huh?....”