“Tegapkan badanmu dan mulailah berbicara. Aku bisa melewatkan tidur siang kalau kamu terus-terusan memasang wajah depresi seperti itu,” tuturku dengan nada serius.
Sebenarnya orang ini tidak terlihat seperti mereka yang sulit untuk kuajak berdiskusi ataupun mengobrol, tetapi mungkin ada sesuatu yang sedikit mengganggunya sehingga sifatnya terasa kurang.
Ini mungkin masalahnya sendiri atau bisa saja kode etik yang dibangun ketika menjadi Kesatria Legiun. Mungkin juga bukan, sayangnya aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Walaupun aku tahu ini hanya masalah sepele, tetapi jika dilihat dari ekspresinya yang cukup berat. Aku ragu dengan pemikiranku sendiri.
“Ada masalah?”
Reya masih menunduk dan setelah kedua tangannya saling mengerat satu sama lain. Ia pun mengangkat kepalanya lalu melihatku seakan mengatakan “Sebutkan kata sandinya, aku tahu kamu pasti mengetahuinya” dengan mata memohon.
Hahhh... dasar tidak bisa diandalkan.
“Berhentilah dengan sikap bodoh itu, Reya...,” ucapku dengan nada setengah serius.
Kali ini Reya lah yang menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan ekspresi lega.
“Terima kasih. Tadi itu sangat melegakan,” tuturnya dengan senyum tipis.
“Apa kau tahu kata orang-orang di kedai saat itu?” tanyaku basa-basi.
“Kedai? Ohh! Maksudmu kedai makanan di tengah kota dekat dengan distrik makanan?”
Aku mengangguk. “Mereka menyebutmu sebagai berandalan hanya dengan tampang seperti itu”
“Yahh. Mau bagaimana lagi, ini adalah keinginanku sendiri. Apa aku harus berpura-pura seperti berandalan yang mereka sebut agar terlihat lebih nyata?” tanyanya balik lalu tertawa kecil.
Ada beberapa hal yang membuat setiap orang dapat menentukan keinginannya sendiri. Menginginkan dan diinginkan. Dalam kasus Reya, aku mulai mengerti mengapa ia melakukannya.
Tentunya aku tidak bisa langsung bertanya seperti itu meski aku menginginkannya atas niat ingin mengolok-oloknya. Namun, melihat sikapnya yang seperti ini mengingatkanku pada satu orang.
Tidak seperti Velia yang memiliki sifat lemah lembut nan bersahaja sesuai dengan identitasnya sebagai putri seorang duke. Laki-laki ini... ya, maksudku adalah lelaki yang tepat berada di hadapanku dengan tampang seadanya memiliki sesuatu yang membuatku sedikit tertarik.
“Lupakan saja.” Aku pun mengambil mangkuk pemberian Velia yang berisi bubur hangat. “Kau tidak kebaratan, ‘kan?”
Karena masih cukup panas, aku pun mencicipinya perlahan-lahan.
“Tentu, mengapa tidak? Lagi pula akulah yang mengganggu waktumu sekarang,” jawabnya sambil membuat pose tidak masalah.
“Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku? Mendengar pengakuanmu sebelumnya, pasti ada hubungannya dengan Festival Kesatria Sihir, bukan?”
“Akan lebih mudah seperti itu—“
“Aku tidak akan menerimanya jika permintaan itu tidak masuk akal,” potongku cepat sambil menutup mata sebelah.
“E-ehh?! Apa aku sangat mudah ditebak?” tanyanya gugup.
Ya. Persisnya semua pengakuan dan juga ucapannya mengarah pada hal-hal yang merepotkan. Mirip seperti Aresya.
“Karena kau berasal dari keluarga seorang pedagang...,” ucapku sambil menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut lalu mengarahkan sendoknya ke arah Reya. ”Pastinya cukup paham ‘kan tentang hukum pertukaran?”
“Jadi begitu... ya, aku sangat mengerti tentang ini.”
Jawabannya menuntunku langsung pada keraguanku sebelumnya. Kata “Sangat Mengerti” memiliki makna yang bisa aku jadikan sebagai acuan mengapa penampilannya seperti itu.
Dalam kasta bangsawan penampilan merupakan perwujudan dari seberapa tinggi kewibawaan mereka dalam menghadapi sorot mata para penduduk Kerajaan Ronove. Dengan kata lain ia menjadikan penampilannya itu sebagai perisai untuk menghadapi keluarganya.
Keluarga Leshar sendiri adalah keluarga yang berspesialisasi dalam perdagangan. Hampir semua keluarga mereka secara turun-temurun merupakan keluarga seorang pedagang dan lihatlah laki-laki berpenampilan pemberontak ini.
Mengapa aku mengetahuinya? Tentu karena informasi itu terus berputar di sekitar para pelanggan kedai dan itu adalah informasi yang umum diketahui oleh banyak orang.
Hmph... aku tidak menyangka ternyata ia sudah memasuki fase pemberontak di saat seperti ini. Dan keikutsertaannya pada Festival Kesatria Sihir lalu berhasil menuntunnya menjadi seorang Kesatria Legiun adalah pembelaan yang mutlak.
Sekarang aku ragu jika ayahnya sendiri bisa mengembalikan dirinya kembali ke jalan seorang pedagang. Kenapa aku membahas hal seperti ini, kata kalian? Tentu agar aku tidak bosan dan mengharapkan percakapanku dengan Reya dapat berakhir dengan cepat.
Selain itu aku juga sedang merancang sebuah serangan balik ketika ia memintaku sesuatu nanti. Hanya dengan satu kata... cukup itu, setidaknya biarkan aku tenang dalam beberapa hari ini.
Aku merasa seperti sebuah buah yang menyebarkan aroma manisnya. Dicari dengan sungguh-sungguh, ketika tidak dicari, terjatuh dan dikerumuni oleh banyak semut.
Dan semua itu berkat sesosok wanita antah berantah yang tiba-tiba saja menjadi penguntitku. Terima kasih Aresya karena telah datang ke dalam hidupku... sialan!
“Lalu apa yang bisa kutawarkan agar Anda bisa mengiyakannya?”
“Hmm. Aku memang memiliki nilai tawar yang lebih tinggi semenjak kamu penawarnya, tetapi hal ini harus kau pikirkan sendiri”
“Bagaimana dengan uang? Atau mungkin sesuatu yang lebih spesifik... mungkin aku bisa menawarkan seorang pelayan pribadi?”
Aku menggeleng. “Tidak tertarik. Aku saja enggan berurusan denganmu, apalagi jika penawarannya seperti itu”
“Hmm... ini membuatku bingung”
“Sebenarnya apa permintaanmu?”
“Bertarunglah denganku!” jawabnya tegas dengan ekspresi serius.
Sontak aku pun menyemburkan bubur yang baru saja aku ingin makan. Reya dengan sigapnya langsung memosisikan perisainya tepat di hadapanku.
“Ughh... kenapa lagi-lagi seperti ini?” gumamku sambil menutup wajah.
Aku membutuhkan beberapa menit sebelum akhirnya mendongakkan kepala.
Ketika aku melihat ekspresi Reya masih dalam kondisi biasa saja. Aku pun menghela napas... kali ini sangat panjang hingga aku sendiri merasa ragu jika paru-paruku kuat untuk menahannya.
“Lagi pula kenapa kau ingin menantangku?”
“Karena aku mengakui kelayakanmu menjadi seorang Kesatria Sihir,” jawabnya cepat.
“Hahh... layak?! Dari mana kau bisa menilai parameter seseorang yang bahkan belum tentu memiliki pandangan seperti dirimu?”
“Aku menonton... aku menonton pertandinganmu dari atas kursi penonton”
“Lalu?”
Mulutnya mulai mengerat seperti sedang menggigit giginya sendiri.
“Aku benci mengatakannya, tetapi bahkan sang raja pun mengakui kemampuan milikmu”
“Hanya itu? Tidak ada yang lain semisalnya... aku yang telah menyelamatkan satu negara? Mencuri tunangan atau kekasihmu lalu kau kesal dan akhirnya menantangku? Atau aku berhasil menghancurkan bisnis keluargamu dan kau marah lalu berusaha membalasnya berkali-kali lipat?” tanyaku beruntun.
Namun, tanggapan yang aku dapatkan hanya sebuah kepala yang menggeleng. Tanpa arti. Tanpa maksud nyata. Atau tanpa bukti kuat sebagai penunjangnya. Jadi tidak lain ini hanya sebuah kecemburuan... bukankah ini tidak ada bedanya dengan perkiraanku sebelumnya?
Ya. Perkiraan itu seperti kecemburuannya terhadap diriku yang bisa akrab dengan Velia meski aku sendiri tidak menganggapnya seperti itu.
Namun, daripada cemburu mungkin akan lebih masuk akal jika tindakannya ini didasarkan atas rasa iri. Hmm... ini baru tepat, rasa iri terkadang bisa mengubah seseorang atau hingga menjadi suatu mekanisme berbahaya yang memberikan mereka sebuah motivasi untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Baik rasa cemburu maupun iri sama-sama hal yang berbahaya jika tidak ditanggapi dengan positif. Aku merasa keiriannya ini menimbulkan sikap bersaing dan ingin menjadi lebih hebat daripada yang lain.
Mengingat Velia merupakan seorang kapten, aku jadi yakin ia juga pernah menantangnya bertarung satu lawan satu. Namun, apakah aku ingin menerimanya atau tidak itu semua tergantung pada diriku sendiri.
Setidaknya sejauh ini tidak ada hal yang dapat membuatku tergerak atau mengambil tindakan nyata. Ya... sejauh ini....
“Aku sama sekali tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menerima tantangan itu. Meski kamu memberiku sesuatu yang spektakuler pun percuma saja, kondisiku sekarang lebih dari cukup, dan aku tidak pernah meminta lebih,” jelasku dengan nada tulus.
“Aku sangat memahami orang sepertimu. Sayang sekali, tetapi aku masih memiliki satu cara terakhir”
“Hooo... dan itu adalah?”
“Aku mendengar desas-desus kalau kau sedang direkomendasikan oleh Nona Aresya selaku Kepala Sekolah Akademi Magistra untuk menjadi salah satu instruktur di sana, ‘kan?”
“Lalu?” tanyaku singkat lalu kembali memakan bubur.
“Bisa saja aku menggunakan kekuatan keluargaku untuk menghentikan itu—“
“HAHAhahahahAHAHa!!! Dasar bodoh!”
Reya pun langsung tersentak kaget dan ekspresinya menjadi pucat. Aku tidak tahu orang bodoh mana yang berani mengatakan hal seperti itu. Namun, aku bersyukur jika orang ini bisa melakukannya.
Dengan begitu aku tidak perlu pergi mengajar sebagai instruktur di sana. Selain itu aku juga bisa melunasi hutangku secepat mungkin dari pada harus terpenjara selama 15 tahun di akademi yang mungkin saja tidak sesuai dengan seleraku.
Jika ia bisa melakukannya, maka aku akan dengan senang menolaknya—tidak, bahkan mungkin mengabaikannya sebagai seorang badut sehingga rasa kesalnya memuncak dan berakhir dengan akhir yang bahagia.
Akhir bahagia untukku, tapi bukan untuk dirinya.
“Hei, hei, hei. Apa aku tidak salah dengar? Menghentikanku menjadi seorang instruktur? Hahahahaha! Kalau begitu aku akan menerima tawaranmu dengan senang hati,” ucapku puas sambil berusaha meredamkan tawaku sendiri.
“A-apa?! Bukankah setiap orang mendamba-dambakan hal ini? Mengapa... K-k-kau!”
Ia pun segera bangkit dan menunjukkan wajah kesalnya.
Aku sama sekali tidak peduli dengan kekagumannya tentang kesatria dan sejenisnya. Yang aku pedulikan saat ini adalah diriku sendiri.
Persetan dengan keinginan orang lain. Menjadi seorang instruktur saja aku sampai dijebak, apalagi mencoba untuk menantangku dengan imbalan yang menggiurkan. Percuma... aku sama sekali tidak tertarik dengan keinginan bodohnya tentang apa itu kesatria dan menjadi yang terhebat.
Walaupun banyak sekali seorang kesatria yang memiliki kekuatan luar biasa, tetapi aku bukan seperti mereka yang memandang tinggi suatu prestasi. Aku lebih menyukai pendapat kebebasan memilih dan bertindak seperti moto kesayanganku.
Jika aku bisa melakukannya cepat mengapa tidak? Sayangnya permintaannya sangat menyusahkan. Lebih baik menghemat energiku untuk menikmati hari yang cerah daripada harus bersusah payah melakukan sesuatu seperti itu.
Ngomong-ngomong tentang chapter awal-awal aku melakukan misi itu karena keuanganku menipis dan persediaan makananku sekarat. Jadi itu tidak dihitung, ok.
Kalian bertanya tentang permintaan Aresya? Ohh... kalau permintaan wanita sialan ini, aku memang tidak bisa menolaknya karena aku dijebak lalu diperas habis-habisan. Anggap saja itu sebagai kerja paksa.
Bagaimana aku menolak permintaan seorang penagih utang yang meminjamkanku uang sebanyak 1000 koin emas putih tanpa sekali pun memberitahuku? Memang kurang ajar, untung saja perempuan bukan laki-laki... hmm? Yah, kalian bisa menggunakan imajinasi kalian untuk membayangkan diriku menghajarnya saat itu juga.
“Bagaimana? Apa kau sudah menyerah?” tanyaku lalu menyimpan mangkuk bubur ke atas lemari kecil di sampingku. “Aku bukan tipe orang yang mudah untuk diajak, lhoo”
“Grrr... baiklah. Memang tidak ada cara lain... Archiver!” serunya sambil mengangkat perisai.
Di sisi lain aku mendengar suara senandung Fear yang mulai mendekat. Ketika Fear ingin menunjukkan permen lain kepadaku, sosoknya langsung terisap ke dalam perisai dengan cepat.
“K-Kurooo!!!”
FEARRRR!!!... jadi ini adalah rencana terakhirnya. b******k!
Sial! Jika aku bergerak dan mencoba untuk menyelamatkannya, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan kepada Fear. Selain itu aku juga tidak bisa mengambil risiko dengan bertindak gegabah.
“Sebelum aku masuk ke dalam rumah ini, aku merasakan sebuah roh berkeliling, dan sepertinya itu adalah roh kontrak milikmu, bukan?”
Apa? Bahkan ia sudah merasakan keberadaan Fear semenjak melihat rumahku? Ini menjadi semakin gawat.
“Apa begini caramu memaksaku?!” tanyaku geram sambil mengepalkan tangan kana.
“Aku akan mengatakannya lagi. Bertarunglah denganku... jika Anda menang, maka aku akan mengembalikan roh ini, tetapi jika kalah aku bisa saja membatalkan kontrak itu dengan paksa. Pikirkanlah baik-baik,” tuturnya lalu berbalik dan beranjak menuju pintu keluar.
Aku ingin sekali menghajarnya, tetapi aku tidak bisa membahayakan keselamatan Fear.
“Sebelum aku pergi, terima ini,” ucapnya sambil melemparku dengan sebuah sapu tangan putih dengan pola jahitan eksentrik. “Anggaplah hadiah pertemuan kita dan jangan lupa tentang pertarungan... Kuro. Aku akan menunggumu di Padang Rumput Graughas tiga hari lagi.”
Setelah sosoknya menghilang dari balik pintu, aku pun mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya setenang mungkin.
“Jadi ini caramu? Kalau begitu aku juga memilikinya,” ucapku dingin lalu menatap tajam ke arah pintu.
Saat ini aku harus menenangkan diriku sendiri apa pun yang terjadi. Jangan sampai kekesalan ini berakhir menjadi sebuah amarah karena kemarahan bukanlah gayaku.
Cepat... cepat... berpikir yang matang. Aku tidak boleh mengizinkan amarah ini merasuki batinku apa pun yang terjadi. Jangan pernah dan jangan sampai itu terjadi... aku... masih... memegang janjiku kepadanya.
Berpikirlah Kuro! Ayo pikirkan sesuatu... jangan sampai emosi memakan hatimu. Lakukan sesuatu! Bergeraklah! Angkat kepalamu! Positif, positif, positif... ingat janjimu agar tetap selalu berpikir dingin ketika menghadapi segala sesuatu.
Di saat batinku penuh dengan guncangan emosi itu, kepalaku dengan sendirinya menoleh ke arah kiri. Di sana aku melihat segelas air yang masih penuh sejak tadi pagi. Akhirnya aku bangkit dan berjalan ke arah gelas itu.
Tanpa pikir panjang aku pun mengambilnya dan juga sapu tangan milik Reya lalu pergi menuju ke kamar. Tepat di dekat lemari baju ada sebuah cermin yang jarang sekali kupakai.
Setelah aku tiba tepat di depannya, tubuhku terdiam beberapa saat sambil mencengkeram kuat gelas air di tangan kananku. Ketika pikiranku mulai kembali dingin, aku pun langsung mengguyurkan seisi gelas ke atas kepalaku.
Sambil menatap pantulan diriku sendiri, aku pun menatap sesosok laki-laki yang tenang dengan mata dingin, tetapi di balik semua itu menyimpan suatu kegelapan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata sederhana.
“Tunggu aku, Fear. Aku pasti akan menyelamatkanmu apa pun yang terjadi. Jadi tunggulah aku di sana...,” ucapku sambil meremas sapu tangan putih yang memiliki simbolik sebagai pertanda duel antar kesatria.