“Hahhh... hari yang mengerikan.”
Aku pun menghela napas panjang lalu menutup mata membayangkan pengalaman mengerikan itu berulang-ulang kali.
Dua hari telah berlalu sejak p*********n itu terjadi. Aku juga berterima kasih kepada Aresya dan Fear yang mau membantuku di saat aku sedang kesulitan. Namun, pertolongan mereka seperti sebuah neraka hidup yang tidak ingin aku lihat kembali.
Yang satu memaksaku untuk memakan permen agar lukaku cepat sembuh dan yang satu lagi membuatku ingin muntah karena memasakkanku sup setengah matang yang sangat asin. Aku seperti melihat dua buah warna yang bertolak belakang.
Hahh... setidaknya aku masih bersyukur karena Velia bisa menjadi penengah saat itu. Ini terdengar sederhana, tetapi sangat berarti.
Setelah pertengkaran siapa yang ingin merawatku selama satu hari penuh. Velia menyela argumen milik Aresya dan kini ia terkadang datang menjengukku hanya untuk memberikan semangkuk sup sungguhan... ya, semangkuk sup sungguhan, dan juga bubur hangat.
Ternyata mengandalkan penampilan tidak menjamin bagaimana kemampuan lainnya juga bagus. Selain itu aku juga jadi tidak enak karena menerima pertolongan dari Velia yang notabenenya adalah seorang bangsawan. Apalagi tingkatnya tidak sesederhana bangsawan lainnya.
Gelar yang ia sandang adalah yang paling tinggi di antara para bangsawan. Meskipun ia seorang anak angkat, tetap saja gelar itu ada bersamanya, terkecuali sang duke memiliki anak lain.
Namun, aku dengar-dengar Duke Heinrich sama sekali tidak memiliki keturunan. Aku tidak tahu apakah ada yang salah dengan istrinya atau karena ia sama sekali tidak berencana memiliki anak kandung atau apa pun itu. Yang pasti intinya Velia itu bukanlah orang sembarang.
“Berbaring di rumah seharian membuat pinggangku sakit... ughh. Aku ingin pergi keluar, tetapi dengan kondisiku sekarang tampaknya itu terlalu berlebihan.”
Selain tulang rusuk yang mengalami retakan, tulang kering, serta persendian kakiku berada dalam kondisi yang tidak memungkinkanku untuk berdiri. Apalagi sekarang aku memerlukan tenaga ekstra untuk bernapas.
Memang sialan sosok misterius itu. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa ia mengincarku, tetapi mendengar perkataan terakhirnya membuatku juga kebingungan. Apa arti dari perkataannya itu?
“H-hei... Fear! Berhentilah membawa segundukan permen ke arahku,” tuturku kesal.
“Umm? Tapi ini bagus buat kesehatanmu, Kuro,” sahutnya polos lalu melayang ke atas tubuhku.
“Jangan samakan pencernaan manusia dengan roh! Bhaghh!!—“
Tiba-tiba saja Fear memasukkan empat buah permen ke dalam mulutku. “Makan, makan, makan... yeayyy!!!” tuturnya sembari bersenandung gembira.
Roh sialan. Apa kau ingin membuatku mati tersedak permen, huh?
“Bhuaghh!!... hahh... huhh... hahh... huhh!”
Pada akhirnya aku menggigit semua permen itu erat-erat lalu menyemburkannya ke arah Fear.
Ia pun langsung menjauh dan melayang pergi sambil mencubit samping perutku.
“Ouww!! Fear!!”
“Buehhh!! Hihihihi” tawanya sembari mengejekku lalu menghilang entah ke mana.
“Awas kamu—Aghh. Ini benar-benar yang terburuk, hmm?”
Aku merasakan ada hawa keberadaan orang lain, tetapi ini bukanlah milik Aresya maupun Velia. Siapa? Siapa yang datang ke rumahku? Aku bahkan tidak pernah memberitahu siapa pun tentang lokasi rumahku selain kepada kedua perempuan itu.
Langkahnya berat, aku juga merasakan pernapasan yang tenang, dan terlebih lagi dari suara bising ini. Zirah? Pakaian zirah? Apa ada seorang kesatria yang datang menghampiri rumahku?
“Permisi. Apakah ini adalah kediaman milik Tuan Kuro?”
“Ya?”
Aku pun langsung berusaha bangkit dari ranjang dan berjalan tertatih-tatih menuju ke ruang tengah.
Jauh-jauh datang ke rumah b****k ini dan mengatakannya sebagai kediaman, aku suka orang ini. Tidak pandang dulu meski tahu bahwa tujuannya bukanlah sebuah bangunan megah atau vila yang besar.
Dari suaranya... seorang laki-laki, kah?
Ketika aku membuka pintu, seorang lelaki yang hampir setinggi diriku berdiri menggunakan pakaian semi zirah lengkap. Selain itu aku juga bisa melihat perisai yang cukup besar serta sebuah pedang menggantung di pinggang kirinya.
Namun yang membuatku penasaran adalah tujuannya datang ke tempat ini dan juga barang yang ia bawa di kedua tangannya.
Mataku kembal menelisik sosok ini, entah mengapa aku merasa mengenali sosoknya. Tinggi berzirah dengan rambut pirang dan beranting. Wakil Kesatria Legiun?... ughhh.
“Maaf mengganggu, tetapi saya diminta untuk membawakan ini untuk Anda,” tuturnya sambil menatapku tajam.
Aku dapat melihat sebuah kontradiksi darinya. Mengapa ia menatapku seakan-akan aku adalah seorang penjahat.
“Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini, tetapi aku tidak ingat pernah memesan sesuatu.”
Tiba-tiba saja seorang perempuan muncul dari belakangnya. “Selamat pagi. Maaf mengganggu waktu Anda. Kami di sini ingin mengantarkan makanan yang disiapkan oleh kapten kami—“
“T-tunggu sebentar, kapten?! Jangan-jangan kalian adalah Kesatria Legiun?” potongku kaget.
Namun, perempuan itu hanya memberiku senyum ramah, sedangkan lelaki berambut pirang di sampingnya masih menatapku sinis.
Perempuan yang satu ini berbeda dari temannya di sebelah. Ia sama sekali tidak mengenakan pakaian kesatuan miliknya sebagai Kesatria Legiun, meski aku tidak tahu apakah mereka memiliknya atau tidak.
Berpenampilan santai dan rapi. Kemeja putih yang bawahnya masuk ke dalam rok biru laut, tetapi semua itu dibalut oleh blazer berdasi hitam kecil. Tampaknya sebuah seragam, apa jangan-jangan ia juga akan menghadiri Akademi Magistra sebagai siswa?
Selain itu model rambut hitam panjangnya terurai ke bawah, dengan poni yang menyamping ke kanan, dan dijepit oleh dua buah klip biru tua.
Paras dan juga penampilannya menyerupai wanita dewasa yang memiliki sifat tenang. Tidak seperti Aresya yang sedikit genit ataupun Fear yang kekanak-kanakan. Mungkin 11-12 dengan bagaimana impresi pertamaku terhadap Velia.
“Begitulah. Maaf jika kami mengganggu waktu istirahat Anda, tetapi tolong terimalah tanda terima kasih kapten kami,” tuturnya lembut. “Hei, Reya. Cepat berikan itu kepada Tuan Kuro,” lanjutnya sambil menyenggol lelaki di sampingnya.
Walaupun samar, tetapi aku bisa mendengarnya mendecakkan lidah. Mengapa Velia mengirim orang yang mungkin saja tidak menyukaiku kemari?
Laki-laki—Reya pun menyerahkan mangkuk yang di bawanya kepadaku.
Aku pun menerimanya dengan tangan terbuka....
“Ehmm... bisakah kau melepaskannya? Jika seperti ini aku tidak yakin bisa menerima barang yang kalian kirimkan padaku,” tuturku dengan senyum sejuta makna.
“Lepaskan, Reya!”
“Baiklah...,” sahutnya dengan nada masa bodo.
Ketika laki-laki berambut pirang itu melepaskannya, tarikan tanganku yang sebelumnya sudah kuat langsung menerbangkan mangkuk berisi sup atau bubur, mungkin? Itu jauh sekali.
Untungnya dengan refleksku yang cepat, aku bisa menangkapnya tanpa menumpahkan isi yang ada di dalamnya.
“Upss. Hampir saja jatuh. Kalau sampai jatuh, aku tidak bisa menjelaskannya kepada Velia kalau makanan buatannya jatuh karena sengaja, bukan?” tanyaku dengan nada bercanda.
Aku pun melirik mereka berdua dan tampaknya teman perempuan Reya kesal. Ia bahkan langsung menendangi kaki Reya dengan ekspresi marah.
Namun, ketika aku kembali pada mereka. Sikapnya pun kembali normal sama seperti impresi pertamaku kepadanya.
Siapa yang akan menyangka di balik senyum lembut manis dan ekspresi hangatnya itu terdapat seekor monster yang setiap saat bisa saja menikam orang yang membuatnya kesal.
“Maafkan sikapnya. Saya sebenarnya tahu seperti apa ia ketika sedang bertugas ataupun sedang berkumpul dengan Kesatria Legiun lainnya, tapi baru kali ini saya melihatnya seperti ini. Jadi tolong maafkan sikapnya yang kekanak-kanakan ini,” tuturnya sambil membungkuk pelan.
“Ahh-hahaha. Jangan terlalu di anggap serius, aku hanya bercanda. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena merepotkan kalian,” sahutku sembari menggaruk kepala.
Namun, entah kenapa seperti tersambar sesuatu, tubuhnya mendadak tegang.
“Saya hampir lupa. Perkenalkan, saya adalah Cecile Arnest dan laki-laki menyeramkan yang satu ini adalah wakil kapten kami, Reya Leshar,” tuturnya dengan ekspresi hangat.
“Aku tidak perlu memperkenalkan diri, bukan?”
Cecile menggeleng. “Baiklah, tugas kami sudah selesai. Kami undur pamit dulu. Ayo, Reya... kita segera pergi menuju tempat pertemuan,” ajaknya lalu berbalik beranjak menuju pintu keluar.
Aku mencium sesuatu yang tidak beres darinya, mungkin instingku kembali bermain, dan tampaknya langsung mengenai jackpot.
“Aku akan meminta izin untuk tidak menghadirinya karena suatu alasan genting. Apakah itu diterima?”
Cecile pun memiringkan kepalanya. “Dan itu adalah?”
“Ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan Tuan Kuro—“
“Sepenting itu?” tanyanya tegas.
Untuk sesaat aku bisa merasakan hawa yang ganas muncul dari tubuh rampingnya. Cecile... perempuan ini mengerikan. Bahkan ekspresi Reya pun sedikit berubah, seperti melihat terkaman hewan yang terhenti akibat merasakan entitas yang lebih berbahaya daripada dirinya sendiri.
Reya pun mengangguk. “Ya. Sangat penting”
“Baiklah. Akan aku sampaikan langsung kepada kapten, tetapi ingat jangan menimbulkan masalah bagi Tuan Kuro. Jika sampai melanggar, aku tidak akan bisa menjelaskannya langsung kepada kapten, mengerti? Kalau begitu sampai jumpa, Reya. Aku akan menantikanmu di pertemuan selanjutnya,” tuturnya panjang lebar lalu menghilang begitu pintu depan tertutup perlahan-lahan.
Cecile menghela napasnya lalu melambaikan tangan sambil berjalan keluar rumahku.
Setelah Cecile benar-benar telah meninggalkan kami berdua, aku pun mempersilakan Reya untuk dudu di kursi tunggal sementara aku duduk di atas sofa.
Pembicaraan penting, huh? Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran para Kesatria Legiun ini. Pertama adalah Velia yang terasa sangat tidak asing bagiku, kami bertemu dua kali, tetapi sikapnya menunjukkan kepedulian yang cuku membuatku ragu dengan tindakkannya itu.
Di sini aku mendapati Reya yang entah mengapa memiliki pembicaraan penting denganku. Aku mungkin pernah melihatnya ada di Bar tengah kota, tetapi jika aku harus mengatakannya kenal secara tidak pribadi... aku akan langsung menggeleng dan bertanya kembali “Siapa?” seperti itulah.
Namun, sebelum aku memikirkannya lebih jauh lagi mari kita dengar apa yang akan dikatakan oleh laki-laki ini.
“Rumor tentang itu apakah benar?” tanyanya serius.
“Hmm? Rumor... rumor apa?”
“Kalau Anda adalah seorang kesatria gagal?”
Hei, hei, hei, hei... mengapa topiknya menjadi sangat sensitif sekali. Selain itu ke mana sikap sopanmu itu. Apa jangan-jangan sikap itu hanya ia perlihatkan ketika bersama dengan Cecile atau anggota Kesatria Legiun lainnya?
Mengingat masa lalu memang pahit, apalagi kalau ada orang yang mengetahui seperti apa masa lalumu.
“Itu terdengar sensitif dan... err, kurang sopan. Apa kau paham itu?” tanyaku sambil mengangkat alis sebelah.
“Karena itulah aku ingin memastikannya. Jadi apakah rumor itu benar?”
“Kuserahkan pada imajinasimu.”
Ia pun menghela napas.
“Sejujurnya aku sangat menghormati para kesatria yang memiliki kemampuan dan juga keterampilan yang andal. Namun, setelah aku mendengar rumor ini, dan memastikannya kembali... apa Anda sedang bercanda?” tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
“Masa lalu adalah masa lalu. Jangan terlalu dipikirkan—“
“Sayangnya aku tidak melakukan itu,” selanya cepat. “Aku memiliki alasan dan juga kebanggaan sebagai kesatria. Dengan tingkatku saat ini aku masih kalah dengan Kapten Velia. Kecakapannya dalam bermain seni pedang berada jauh di atasku, tetapi setelah aku membandingkannya dengan dirimu....”
Perkataannya itu terhenti sesaat seperti sedang merenungkan sesuatu. Setelah itu ia melihat tangan kanan lalu mengepalnya erat-erat.
“Teknik itu, kecepatan itu... dan lagi dengan bagaimana gerakan kaki yang tak bisa k****a. Apa Anda seorang hantu?”
Aku pun langsung terbatuk-batuk. Hantu? Apanya yang hantu?
“Sekarang jawab pertanyaanku. Apakah hantu bisa terluka?”
Ia pun menatapku cukup tajam dengan mulutnya yang sedikit membuka, tetapi tidak jadi seperti ingin mengatakan sesuatu, dan memilih untuk tidak mengatakannya.
“Camkan itu baik-baik. Mana mungkin sesosok hantu bisa terluka,” ucapku dengan tawa kecil. “Ketika kalian sedang disibukkan oleh serangan monster di gerbang kerajaan, aku sedang mempertahankan fasilitas kesehatan kota karena temanku sedang di rawat di sana. Buktinya kau bisa melihat kondisiku saat ini dan mengapa mangkuk bubur yang kau bawa itu lebih cenderung pada ucapan terima kasih. Tidak ada yang spesial,” lanjutku kesal.
“T-tunggu sebentar... mengapa kau membawa-bawa kapten?”
“Karena aku mencium bau iri dari dirimu. Aku tidak tahu apakah kau menyukai perempuan bernama Velia ini atau tidak, tetapi jangan membawa diriku ke dalam permasalahan asmaramu. Mengerti?!”
“Ughh... tidak, bukan seperti itu. Anda salah paham, saya tidak iri padanya melainkan dirimu,” ungkapnya grogi.
Aku pun langsung memijat hidungku sendiri.
“Demi sekaleng makarel. Apakah ini pembicaraan penting yang kamu maksud?” tanyaku kecewa.
Ekspresi Reya kini menjadi sedikit kompleks dan tampaknya ia juga kebingungan. Apakah ini yang dinamakan seorang “penyair”?
“Lebih baik utarakan apa yang ingin kau sampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sekarang aku mengerti kenapa Cecile menendang kakimu tadi, apa jangan-jangan tingkat stres miliknya sudah tidak terbendung lagi?” tebakku usil.
Namun, apa yang aku dapatkan adalah kepala Reya yang menunduk lesu. Demi p****t Odeus... ternyata tebakan asalku mengenai jackpot. Ngomong-ngomong hiraukan saja bagian p****t Odeusnya karena aku sendiri asal sebut... hehehe.
Aku kira laki-laki ini memiliki sifat yang lebih sedikit panas. Dengan kata lain ia sering mengeluarkan aura permusuhan dengan tatapan serta perkataannya yang sering kali disalah pahami.
Cecile... meski ini sebentar, tetapi aku mulai mengerti bagaimana perasaanmu.
“Aku sendiri tidak mengerti, tetapi karena kau berasal dari Keluarga Marquis Leshar, sebaiknya pikirkan kembali apa yang ingin kau ucapkan sebelum terjadi mala pe... taka? Jangan katakan....”
Ekspresinya kembali menggelap dan kepalanya terus menunduk. Ternyata aku bukan hanya mengenai jackpot biasa, tetapi bingo beruntun... hahhh.
Aku pun menghela napas panjang. Setelah itu bangkit dan mencoba berjalan bulak-balik dari sisi kiri ke sisi kanan, ketika aku yakin pikiranku kembali jernih. Mataku kini langsung tertuju pada Reya.
“Tegapkan badanmu dan mulailah berbicara. Aku bisa melewatkan tidur siang kalau kamu terus-terusan memasang wajah depresi seperti itu,” tuturku dengan nada serius.