Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ini membuat kepalaku sakit, tetapi setidaknya Fear tidak ada sini, gadis kecil sedang menikmati permennya dengan santai di rumah.
Namun, mengapa hari-hari damai yang pantas aku dapatkan kembali menjadi seperti ini? Aku sudah memusnahkan Umbras dan Tenebris, garis bawahi, ok. Menyelamatkan Desa Kirius serta membantu pedagang keliling untuk mengistirahatkan teman mereka dengan damai.
Entah mengapa, tetapi aku merasa seperti dikutuk oleh sesuatu yang bahkan sama sekali tidak aku ketahui. Aku sudah berbuat baik ‘kan dalam beberapa hari ini?
“Sialannnnn!!!”
Tidak lama berselang setelah teriakan kekesalanku, langit-langit kota berguncang hebat, dan sebuah retakan kecil terlihat. Retakan itu kemudian menjadi lebih besar dan besar lalu akhirnya pecah.
Seharusnya bagian ini ditempatkan pada akhir cerita! Penulis sialan! Akan aku kutuk dan sumpahi!
Dari langit-langit yang kini telah pecah itu sebuah siluet terjun bebas tepat ke arah tempat Brad di rawat.
“Monster?!”
Tidak... itu bukan seekor monster. Itu adalah siluet yang menyerupai seorang manusia, lalu apa yang orang itu mungkin lakukan pada tempat itu.
Aku pun langsung melompat tinggi lalu menghalau siluet itu mencapai tempat Brad.
Pada akhirnya kami saling menyerang satu sama lain. Tubuhnya terhempas kembali ke langit sedangkan aku jatuh cepat dan untungnya mendarat tanpa mengalami luka.
“Oya? Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk bertarung dengan Anda, bukan?” tanyanya dengan nada yang dalam.
“Suara ini... jangan-jangan....”
Aku ingat sekali dengan suara ini. Suara yang aku temui di hutan dekat Desa Kirius. Pada saat itu aku sama sekali tidak bisa melihat seperti apa sosoknya, tetapi kali ini penglihatanku tidak terhalangi oleh kegelapan.
Sangat jelas seperti air bening yang bersih.
“Apa yang kau lakukan di kota ini?” tanyaku geram.
“Ohhooo. Saya hanya ingin menyapa Sang Raja. Apakah tidak boleh?” tanyanya balik lalu menyingkap tudung hitamnya.
Walaupun ia telah melepaskan tudung yang selama ini menutupi kepalanya, tetapi aku masih tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Karena saat ini ia memakai sebuah topeng hitam dengan garis mulut merah yang lebar.
Seluruh tubuhnya pun ditutupi oleh mantel kain yang besar. Benar-benar menjengkelkan, jika aku bisa melihat wajah aslinya, maka aku tidak akan segan lagi untuk menghajar wajahnya itu.
Tindakannya yang mungkin akan membawa bencana pada kerajaan ini memang sangat berbahaya. Apalagi ia juga bisa menghancurkan Pelindung Arkeos, tetapi mengapa laki-laki ini mengincar tempat Brad dirawat?
Bukan. Mungkin lebih tepatnya....
“Apa yang sebenarnya kau incar di tempat ini?” tanyaku sambil memicingkan mata.
Aku tahu Brad hanyalah penjaga gerbang kerajaan dan tempat ini juga tidak terlalu penting untuk dapat diincar oleh dirinya.
Ingin menghancurkan kerajaan dengan cara sederhana dan juga pengalih perhatian seperti itu tidak akan bekerja dengan sangat baik. Kerajaan ini juga memiliki para Kesatria Legiun, tetapi aku tidak tahu tepatnya berapa banyak orang yang dinobatkan sebagai kesatria elit itu.
Velia lalu ditambah dengan tiga orang lainnya menjadi empat. Apakah masih ada Kesatria Legiun yang tersisa di dalam kota ini untuk membantuku? Berharap pada kesatria kerajaan biasa tampaknya mustahil jika melihat bagaimana kemampuan laki-laki dapat menghancurkan Pelindung Arkeos.
“Hohoo. Sepertinya intuisi Anda tidak pernah meleset, saya kagum dengan hal itu. Bagaimana jika dengan sedikit permainan?”
“Jadi kau sudah berhasil mendapatkan apa kau incar, huh?”
Ia pun hanya memiringkan kepala sambil memegang dadanya dengan telapak tangan.
“Baik. Saya akan memulainya dalam hitungan tiga... “
“Tidak ingin menyerahkan diri?” tanyaku sambil melemaskan pergelangan lengan.
“Satu... akan sangat membosankan jika hadiah kecil yang telah saya persiapkan untuk para Kesatria Legiun selesai begitu saja, bukan?” tuturnya sambil membuat pose “Lihatlah” dengan melebarkan kedua tangannya ke samping.
“Tampaknya aku akan direpotkan lagi dengan sesuatu yang aneh. Hahhh... sebaiknya aku meminta Aresya menaikkan gajiku,” sahutku sembari menyamarkan perkataan terakhir.
“Dua... ahh! Saya baru ingat, penampilan Anda di Desa Kirius itu sangat menakjubkan. Jika berkenan, dari mana Anda mempelajari trik kecil itu?”
Trik? Ahh... ternyata ia juga menyadari ada yang aneh dalam setiap obor di sana, eh? Tidak buruk juga. Namun, aku lebih mengkhawatirkan sekitarku jika sampai pertarungan ini menimbulkan kekacauan yang sangat besar.
Bukan hanya sekedar bangunan yang hancur atau kepanikan orang-orang. Melainkan mereka yang masih terluka dan dirawat serta anak-anak yang tidak tahu menahu. Sial... aku merasa tidak mendapatkan hari lebih setelah beberapa hari berlalu.
Apakah nasibku terus menerus selalu bertemu dengan masalah?
“Hmm? Apa itu rahasia? Kalau begitu biarkan saya membayarnya dengan harga yang sepadan... tiga....”
Setelah itu sosoknya menghilang dalam sekejap, bahkan dengan refleks yang kumiliki, aku sampai dibuat lengah sesaat dengan percakapan kecil itu.
“Kiri….”
Telinga kananku bergetar dan sontak aku pun menunduk secepat mungkin. Suara bisikkannya itu membuat tengkuk leherku merinding dan aku tahu saat itulah aku harus bergerak, jika tidak, maka bisa dipastikan tubuh ini akan langsung terpotong menjadi dua.
“Ughh! Cepat sekali,” ucapku dengan napas berat.
Setelah itu aku berguling ke depan dan segera bangkit untuk melakukan serangan balik.
“Terima kasih. Pujian Anda akan selalu saya ingat hingga akhir hayat nanti,” sahutnya lalu melepaskan dua buah gelombang sabit dari pedang tipisnya.
Aku pun mengayunkan pedangku secara vertikal dari bawah dan langsung membelahnya menjadi dua bagian. “Teknik yang keren, tetapi perhatikan bawahmu,” ucapku lalu mengentak tanah dan menghempaskannya jauh ke langit dengan pukulan uppercut tangan kanan.
Aku juga tidak ingin mengambil risiko lebih jika harus menghadapinya di bawah. Bukan saja membuat orang-orang panik dengan apa yang sedang terjadi, tetapi juga aku takut menghancurkan bangunan di sekitarku.
Karena itulah aku akan membawanya ke atap bangunan dan melawannya di sana.
“Hei! Apa yang kau lakukan di atas sana?”
“Pergilah dari sini! Amankan orang-orang di bawah sana sebelum mereka menjadi korban!”
Mengapa para kesatria pengaman itu baru datang sekarang? Ini tidak akan berakhir dengan baik jika melibatkan mereka saat ini.
“Benar-benar berjiwa pahlawan. Saya menyimpan penghormatan ini untuk Anda,” tutur sosok misterius di depanku.
Setelah mengempaskannya jauh ke atas, kini kami berada di atap salah satu bangunan yang cukup luas. Berdiri saling berhadapan dan tampaknya ia juga tidak keberatan dengan ideku.
“Jadi selama ini kau mengincarku?”
Ia pun tertawa kecil. “Kurang tepat..., tapi cukup bagus. Sepertinya penilaian saya benar tentang Anda. Waktu terus bergulir, daripada membahas hal yang sia-sia, mari kita nikmati waktu yang tersisa ini sambil ‘menari’ dalam paduan musik yang panas”
“Musik?”
Seketika itu juga sebuah ledakan beruntun muncul dari arah gerbang utara, barat, dan timur.
Orang gila ini....
“Langkah yang andal!” serunya lalu menerjangku.
“Kau ingin pamer, huh?” tanyaku sambil melepaskan sebuah tebasan lebar.
Kakinya bergerak cepat seperti menari dan begitu aku sadar, sosoknya yang berputar cepat itu telah berada tepat di samping kiriku. Dia mengincar titik butaku!
Walaupun aku bisa menariknya kembali, tetapi aku sudah terlambat. Kemampuannya ternyata berada jauh di atasku.
“Andante!” Ia pun melepaskan pukulan tangan kiri yang kuat pada rusuk kiriku.
“Bhuaghks!—“
Setelah itu ia memiringkan tubuhnya yang kemudian disusul oleh tendangan rendah cepat layaknya pecut kilat yang menyentak kedua kakiku.
Serangan itu berhasil menghancurkan keseimbanganku sepenuhnya. Dengan tubuhku yang ambruk, ia langsung memanfaatkan momentum yang ada sambil menyatukan kedua kepalan tangannya menjadi sebuah palu lalu menghantamku kuat dari atas.
“Aghkss!!!—“
Dalam serangan kombinasi yang cepat nan mematikan itu. Tubuhku langsung tak berdaya begitu menghantam keramik genting hingga hancur. Meski singkat, tetapi rasa sakit yang diterima olehku sangat menyeluruh.
Napas memberat karena d**a yang tersentak kuat menghantam tanah serta pukulan kejut. Bahkan seluruh kakiku langsung menjadi kaku saking kerasnya tendangan itu.
“Uhukss... k-kau s-s-siapa?...,” tanyaku lirih sambil berusaha mengangkat kepala.
Saat ini aku sedang dalam posisi merangkak memegangi Aeon, sedangkan sosok misterius itu berdiri di depanku dengan kepala yang mendongak seperti sedang memandangi ke kejauhan sana.
Ia pun menyembunyikan kedua tangannya ke belakang badan. “Hanya pecahan masa lalu yang sedang menunggu tuannya datang,” tuturnya lalu merendahkan tubuhnya.
Kekuatan, daya tanggap, refleks, kecepatan, dan juga kemampuannya dalam melancarkan setiap serangan kombinasi tadi seperti sabit kematian. Sangat mematikan, bahkan aku yang telah terbiasa diserang oleh Tenebris atau Umbras tidak pernah berada dalam kondisi seperti ini.
Kekuatannya itu seakan-akan berada di tingkat yang berbeda. Jauh sekali di atasku... apakah di luar sana masih ada orang yang sekuat dirinya….
“Ahh! Sepertinya kita kedatangan tamu.”
Aku tahu siapa orang yang dimaksud olehnya. Suara ini memang sangat tidak asing ditelingaku. Siapa lagi jika bukan Fear... tunggu, Velia?
“Padahal saya masih ingin sedikit berbincang-bincang dengan Anda, tapi s**u yang telah tumpah tidak akan bisa kembali sedia kala,” tuturnya sambil mengangkat daguku lalu mendekatkan wajah bertopengnya. “Sampai waktunya tiba. Kita pasti akan dipertemukan kembali... wahai pangeranku,” lanjutnya lalu menghilang dalam balutan aura hitam.
“T-t-tunggu....—“
Aku pun merangkak sekuat mungkin sembari mencoba meraihnya berharap dapat menahannya meski hanya sebentar. Namun, sosoknya langsung lenyap begitu aura gelap itu menghilang.
“KUROO!!!”
Ini sangat menyedihkan jika aku pingsan di sini. Selain itu aku juga sudah tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhku.
Ahhh... menyedihkan sekali. Pada akhirnya penglihatanku pun perlahan-lahan mulai mengabur dan sebelum semuanya menjadi gelap aku merasa ada sesuatu yang sedang memegangi tanganku kuat-kuat.
“KUROO!! KUROO!! Bertahanlah!—”
▼▼▼
Aku berjalan melewati hutan lebat sendirian. Bertelanjang kaki, aku terus berjalan, dan berjalan.
Langit yang gelap, suara misterius berkicau dalam rindangnya pepohonan. Selagi bulan purnama bersinar terang menerangi tempatku berdiri, aku pun berhenti sejenak, dan berpikir sebentar.
Apakah bulan merupakan pengganti matahari di kala langit cerah berganti? Atau hanya sekedar hiasan langit yang ditujukan untuk sekedar menjadi imajinasi liarku?
Aku tidak mengerti, tetapi aku penasaran. Aku ingin menggapainya, tetapi lengan kecil ini sama sekali tidak bisa meraih buah yang dekat. Aku bergerak atas kemauan sendiri dan kini tibalah pada malam penentu.
Lahan yang luas dan awan dingin membelai tengkuk serta lingkar leherku selagi angin malam yang tenang berlayar di lautan tanpa batas ini. Bergerak lambat seakan perahu kertas dalam kubangan air, aku pun berdiri di penghujung bukit kecil yang mendekatkanku dengan Sang Raja Malam.
Rumput-rumput kecil yang kuelus sepertinya senang, tetapi perhatianku tetap tertuju pada langit yang malam. Sangat besar dan megah... itulah Bulan dalam pandanganku saat ini—pandangan seorang pria kecil yang memiliki segudang keinginan dan harapan.
Di samping kananku seorang gadis kecil bergaun one piece sedang menggenggam tanganku. Rambut panjang merah mudanya terhempas pelan akibat belaian angin malam. Terlihat sangat lembut dan berkilauan.
Mata bundar besarnya pun ikut berkilauan. Sangat indah dan membuat hatiku tenteram.
Kami saling bergandengan tangan dengan erat, menatap objek yang sama, dan mungkin mengharapkan masa depan yang serupa. Namun, dari balik keindahan mata serta paras wajahnya itu, aku selalu memiliki perasaan yang buruk.
“Berjanjilah padaku..., kita akan selalu bersama,” tuturnya lembut sambil menoleh ke arahku.
Aku pun mengambil napas dalam-dalam. “Ya. Aku janji,” sahutku lalu ikut menoleh ke arahnya.
Sebuah memori indah yang bias, begitu biasnya hingga semua yang berada dalam pandanganku menjadi luntur. Tidak lama kemudian aku mendengar dari kejauhan sana ada yang sedang memanggilku dengan nada lirih.
Itu bukanlah nama asliku, tetapi nama yang aku gunakan sebagai bukti bahwa aku masih hidup, dan hingga sekarang terus melangkah maju untuk membuktikannya.
“Kuro....”
▼
▼
▼
Di dalam kenyamanan yang singkat itu, aku dibangunkan oleh sesuatu yang histeris. Sontak kedua mataku terbuka langsung dan ketika aku benar-benar tersadar. Sosok Fear sedang melihatku dengan mata berairnya.
Ternyata firasatku benar kalau Fear datang. Namun, apa yang lebih membuatku kaget adalah fakta bahwa baik Aresya dan Velia pun ada di sini.
“A-apa—d-d-di mana aku?”
“Kuro!” seru Fear lalu memelukku sambil berlinang air mata.
Ekspresi Aresya dan Velia yang sebelumnya gelap perlahan-lahan menjadi cerah. Aku bisa melihat mereka tampaknya sedang melakukan sesuatu di dekat meja sana.
“Akhirnya kamu bangun juga. Apa yang terjadi jika seandainya aku menjadi janda di umurku ini, Kuro?” tanya Aresya dengan nada genit.
“Nona Aresya, berhentilah dengan candaan itu. Sekarang prioritas kita adalah menyembuhkan Kuro,” sela Velia dengan ekspresi lelah.
“H-huh?....”
Aku pun mencoba bangun, tetapi Velia menahanku.
“Tenanglah, semua baik-baik saja,” tuturnya dengan senyum tipis.
Setelah itu ia mulai menjelaskan semuanya kepadaku perlahan-lahan selagi Aresya memberiku sihir penyembuh.
Menurut penjelasannya, aku tidak sadarkan diri selama tujuh jam. Itu adalah angka yang luar biasa dan banyak sekali hal yang sudah aku lewati.
Fear yang menemukanku terlebih dahulu dibantu oleh Aresya. Namun, Velia datang menyusul memastikan keselamatan penduduk kota, dan kebetulan melihat mereka berdua yang sedang membawaku.
Velia langsung menghampiri Aresya yang sedang membopongku di punggungnya. Mengetahui bahwa aku terluka parah, ia pun memutuskan untuk pergi bersama dengan mereka berdua—Fear dan Aresya, meski sebenarnya yang dilihatnya saat itu hanyalah Aresya.
Begitu aku telah dipindahkan menuju ruang perawatan di Akademi Magistra, Fear, dan Aresya membantu penyembuhanku dengan sihir mereka. Walaupun tidak terlalu berdampak besar, tetapi aku masih bersyukur atas bantuan yang mereka berikan kepadaku.
Baik mengenai keadaan kota sekarang, semuanya telah teratasi. Serangan monster yang mengguncang ketiga gerbang juga telah diatasi dengan baik oleh para Kesatria Legiun dan bantuan kesatria yang berjaga.
Serangan itu juga tidak memakan korban jiwa. Selain dari kerusakan material, semua orang yang berada di dalam parameter dekat gerbang juga tidak mengalami luka. Itu artinya dari awal target sosok misterius yang mencoba menyerang fasilitas kesehatan kota bukan orang di dalamnya, melainkan diriku sendiri.
Ini aneh... aku bahkan tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan atau mengancam seseorang. Selain itu... pangeran... apa maksud dari perkataannya itu?