Sudah tiga hari sejak pembasmian Umbras berlalu. Saat itu mereka menjadi pucat ketika mengetahui bahwa makhluk yang telah aku basmi merupakan teman mereka.
Namun, untungnya mereka menerima penjelasanku karena sebelumnya telah menyetujui misi ini. Mau bagaimanapun akhirnya, mereka tetap menerima hal itu, dan berterima kasih kepadaku.
Walaupun seperti itu entah mengapa masih menyisakan sesuatu yang tidak enak pada tenggorokanku. Aku merasa sedikit bersalah, tetapi di saat yang sama juga aku yakin ini adalah cara terbaik yang bisa aku pikirkan.
Aku sudah melakukan yang terbaik dan juga aku yakin perbuatanku adalah sesuatu yang benar. Ya... itu karena aku sudah memutuskan dan menguatkannya.
Saat ini aku berada di teras depan rumah menikmati pemandangan luar, sementara Fear sedang menikmati setiap kelezatan permen di sofa usang pojok kiri.
Langit biru seluas mata memandang, awan tipis berlayar stagnan dikala angin berhembus lembut. Keindahan tiada tara, apalagi jika dibarengi dengan segelas teh herbal, dan sepiring kecil kue kering.
Ini benar-benar yang terbaik. Tidak ada pengganggu, hanya ada aku, Fear, teh herbal, dan sepiring kue kering.
Aku pun membuang napas dengan ekspresi lega. “Jarang sekali aku bisa mendapatkan momen seperti ini. Mensyukuri waktu yang ada dan menikmati segala bentuk ketenangan dengan mengistirahatkan tubuh. Aku tidak bisa meminta lebih, bukan?”
Namun, aku baru sadar jika Sarung Gladius tempat Aeon bersemayam mengalami kerusakan. Aku juga tidak menyangka jika menggunakan aura pedang dan melepaskannya akan berdampak langsung pada Sarung Gladius.
Apakah aku harus meminta Gaston untuk memperbaikinya? Tetapi material yang dibutuhkan untuk membuatnya juga tidak sembarang. Mungkin aku harus pergi ke kota dan....
“Sepertinya aku terlalu asyik dengan pemikiranku sendiri, eh?” gumamku pelan sambil meraba-raba piring. “Hmm? Ternyata kuenya juga sudah habis.”
Mungkin aku akan pergi ke kota dan membeli beberapa persediaan tambahan. Selain itu juga ini kesempatan yang bagus untuk pergi mengunjungi Gaston. Aku tahu ia selalu bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
Aku pun menoleh. “Hei, Fear. Apa kamu mau ikut pergi ke kota atau tinggal di sini?” tanyaku sembari bangkit dan membersihkan celana bagian belakang.
“Aku? Pastinya tinggal di sini. Umm~ enak~”
“Baiklah. Ingin membeli sesuatu?”
“Uhh... lebih banyak permen. Hihihihi.”
Mulutku menyungging mendengarkan jawabannya. Setelah itu aku pergi ke dalam untuk mengambil uang dan mempersiapkan diri pergi ke kota.
“Jangan pergi ke mana-mana dan tinggal di sini. Mengerti, Fear?”
“Siap!” sahutnya dengan senyum lebar sambil memberiku hormat.
“Ada-ada saja... kalau begitu aku pergi dulu”
“Hati-hati di jalan, jangan lupa permenku juga, ya!” serunya sambil melambaikan tangan.
▼▼▼
Setiap kali aku masuk ke dalam kota ini selalu saja menemukan beberapa pedagang yang terhenti tepat di depan gerbang masuk. Entah karena mereka dicurigai membawa barang-barang berbahaya atau menjual sesuatu yang terlarang.
Namun, sejauh yang aku tahu tidak pernah ada kasus di mana pedagang ini menyelundupkan sesuatu. Mereka yang tertangkap berusaha menyelundupkan sesuatu biasanya langsung diadili dan di bawa ke dalam biro kejahatan dalam kota.
Walaupun begitu, Kerajaan Ronove tetap terjaga, dan tidak ada kecelakaan ataupun kejahatan yang luput dari pengawasan para penjaga.
Pertanyaanku adalah... mengapa saat ini raja mengumumkan pembentukan Kesatria Legiun? Apalagi syaratnya adalah setiap calon kesatria diharuskan untuk memenangkan Festival Kesatria Sihir?
Ini sedikit aneh, bukan? Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi tidak lama lagi. Sebatas insting tanpa kepastian, tetapi berkat insting seperti inilah aku selalu berhasil selamat dari masa-masa kritis.
Mari kita pertanyakan keberadaan para Kesatria Legiun ini. Mereka yang dibentuk melalui kemenangan Festival Kesatria Sihir—Cheias Vastica, apakah para kesatria ini memiliki tujuan tertentu atau hanya menjadi “pajangan” sebagai bentuk keamanan?
Namun, bukankah raja sudah memiliki kesatria dalam kastil beserta para petingginya? Mungkin juga tidak? Aku sama sekali tidak mengerti mengapa di zamanku pada saat itu embel-embel pemenang hanya berupa uang dan kejayaan.
Mengingat beberapa hari ke belakang, aku mengalami hal-hal yang aneh meski telah mengetahui bahwa sebagian daratan yang telah dikuasai oleh kerajaan mendapatkan perlindungan dari Pelindung Arkeos.
Sayangnya keefektifan pelindung ini tidak seperti yang dirumorkan. Menghadapi Tenebris di Desa Kirius lalu mendapatkan misi khusus sekaligus permintaan pribadi dari Aresya yang mengharuskanku untuk memusnahkan Umbras.
Sepertinya memang ada yang tidak beres akhir-akhir dan apa yang aku pikirkan sebelumnya telah menjadi kenyataan, eh?
“Hei! Jangan lari, tangkap penyusup itu!” seru para penjaga gerbang kerajaan.
“Hahahaha! Kalian tidak akan bisa menangkapku, dasar lambat!”
Seorang lelaki dengan pakaian berantakan masuk menerobos pemeriksaan barang-barang. Ia juga meninggalkan sebuah gerobak kayu yang ditutupi oleh kain kusam.
Perasaan aku baru membicarakan tindak kejahatan dan seperti tersambar petir begitu saja. Kejadian ini benar-benar terjadi di sekitarku... hahhh.
“Puji Sang Penyelamat!” teriaknya lantang sambil berlari ke arahku.
“Mungkin mereka tidak bisa, tetapi perhatikan juga orang di depanmu saat berlari.”
Aku pun menendang kaki pelari itu tepat di bagian kedua lutut kakinya hingga jatuh tersungkur dengan dagu yang menghantam tanah. Saking kerasnya, aku bisa melihat bola matanya menjadi putih pasi untuk beberapa saat.
Para penjaga pun langsung mengepung dan mengikat lengannya ke belakang punggung. Setelah itu seorang penjaga datang menghampiriku.
“Seperti biasa, terima kasih, Kuro. Jika tidak ada kamu di sini, mungkin kami tidak akan bisa menangkapnya secepat itu. Ngomong-ngomong beberapa hari ini aku tidak melihatmu, apa kamu sedang berlibur?” tanya Brad dengan alis terangkat sebelah.
Memiliki tinggi yang hampir sama denganku, rambut bob cokelat tebalnya terkadang bergidik jika saja helm pasukan tidak menutupinya. Ia adalah Brad, salah satu penjaga gerbang yang mengenaliku.
Pria muda yang memiliki paras seperti telah berumur ini sebenarnya lebih muda dariku. Walaupun terkadang ia sering kali disalahpahami sebagai laki-laki yang telah tua, tetapi dengan santainya ia hanya menjawab tidak, dan kemudian menjelaskan mengapa penampilannya seperti itu.
Aku juga tidak tahu mengapa mereka bisa mengenaliku. Apakah para penjaga gerbang ini mendengar rumor yang tidak sedap tentangku? Dan lagi aku tidak mengerti sejak kapan mereka seperti orang-orang dekat dan memanggilku seakan-akan kami telah menjadi seorang teman.
“Begitulah. Sebelumnya aku mengerjakan misi yang cukup berbahaya, maka dari itu setelah menyelesaikannya aku mengambil waktu liburku, dan tinggal di rumah beberapa hari ini,” jawabku sambil mengintip laki-laki yang telah ditangkap. “Ada apa dengannya?”
“Ahh... hanya sedikit masalah. Laki-laki ini tidak mengizinkan kami untuk memeriksa barang-barangnya”
“Keras kepala, eh?”
Brad mengangguk. “Padahal kami tidak akan mengambil barang-barangnya, hanya ingin memeriksa apakah barang bawaannya tersebut berbahaya atau tidak. Itu saja dan tidak lebih,” tuturnya sambil menghela napas.
“Seharusnya kalian mengerti. Terkadang ada orang yang sedikit sensitif kalau barang pribadinya... mungkin? Diperiksa oleh orang lain”
“Tentu saja kami mengetahuinya, tetapi peraturan tetaplah peraturan”
“KHAHAHAHAHA!!! MATILAH KALIAN SEMUA MANUSIA-MANUSIA BODOH!!!” teriaknya dengan nada serak lalu meledak menjadi kepulan asap hijau.
Orang-orang di sekitarnya pun langsung jatuh pingsan. Setelah itu disusul oleh gerobaknya yang juga ikut meledak mengeluarkan asap hitam dan cairan aneh yang menyebar ke seluruh bagian gerbang depan.
Aku pun langsung melepaskan ayunan kuat lengkap dengan imbuhan Mana. Sebuah gelombang kejut meledak dan menghembuskan semua asap itu jauh ke depan sana.
Selain Brad yang sebelumnya aku lindungi dengan pelindung Mana. Hampir semua penjaga dan orang-orang di sini pingsan tak sadarkan diri akibat gas tersebut.
“Umbras?!! Kenapa makhluk ini muncul kembali?”
Brad yang telah berhenti dari batuknya kemudian meraih pundakku. “Makhluk apa tadi? Uhhuk-uhukk... bhuakss!! Ughh... baunya menjijikan,” lanjutnya sambil memuntahkan cairan hijau.
Jika aku terlambat sedikit saja, kemungkinan besar Brad mati sangat tinggi. Gas ini... jika aku tidak salah adalah gas beracun. Namun, seberapa besar keefektifannya aku tidak tahu, hanya saja aku cukup yakin gas ini bukan sekedar racun biasa.
Aku pun mengusap punggung Brad lalu menyentaknya sambil memberikan asupan Mana secara perlahan-lahan. Sayangnya aku tidak menguasai sihir penyembuhan atau bisa kubilang itu bukanlah ranahku.
Harus ada seseorang yang bisa menangani hal ini. Walaupun aku membawa mereka kembali ke dokter, aku ragu jika nyawa mereka akan selamat.
“Apakah kalian baik-baik saja?”
“Suara ini....”
Sebuah siluet tiba-tiba saja masuk menerobos. Aku yakin telah melenyapkan sebagian gas beracun, tetapi aku tidak yakin apakah efek dari gas di area sini benar-benar telah menghilang atau belum.
Saat ini aku masih sadar karena imunitasku terhadap racun, terutama yang langsung merenggut kesadaran tinggi. Ini juga salah satu manfaat yang bisa aku dapatkan setelah melakukan kontrak dengan Fear.
Namun, bagaimana dengan sesosok yang baru saja masuk ke sini? Aku ragu jika ia memiliki ketahanan terhadap racun. Ya... itulah pikiranku pada awalnya.
Semua itu pemikiran itu berubah ketika sosoknya diselimuti oleh aura violet yang hangat. Rambutnya putih pasi dan menggunakan sebuah seragam lengkap bersama perlengkapan tempur seperti; Rappier, pelindung lengan, kaki, dan sebuah sepatu metalik.
“Kamu?....”
Ekspresi khawatirnya pun perlahan meleleh menjadi lembut dan senyum mengembang di wajahnya.
“Kuro? Apa Anda baik-baik saja?”
Ya. Jika tidak salah perempuan ini pernah mengantarku pergi ke kantor Aresya. Aku masih cukup mengingatnya dengan baik....
“Velia?!”
Perempuan ini adalah Velia Priscelya, putri angkat Duke Heinrich. Seorang bangsawan yang memiliki kedudukan paling tinggi di kerajaan ini. Mengapa ia bisa ada di sini, gawat....
“Itu seharusnya pertanyaanku. Mengapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku panik.
Jika sampai seorang putri duke terluka atau mengalami masalah dalam insiden ini. Masalahnya bisa bertambah luas, sebaiknya aku—
“Tidak usah khawatir. Sekarang aku bersama dengan rekan-rekanku, kok,” ucapnya tiba-tiba sambil menggenggam tangan kiriku.
“Hei... kapten, bisakah aku menghabisi dalangnya sekarang juga?”
“Hahahaha! Reya, kamu ini memang tidak pernah sabaran. Mungkin sebaiknya kamu ditugaskan ke tempat yang jauh dari sini kalau mau mengamuk”
“Gawat! Banyak sekali yang terluka, aku akan melakukan pertolongan pertama dulu. Tolong jaga perimeter sekitar, Elias, Reya....”
Velia pun mengangguk. “Benar apa yang dikatakan oleh Cecile. Sebaiknya kalian berdua menjaganya selagi menyembuhkan orang-orang yang pingsan,” tuturnya lalu bangkit dan menoleh ke arah gadis tersebut.
Selain dirinya, aku juga mendapati tiga orang lainnya. Seorang anak kecil yang sedikit congkak dengan potongan rambut pendek cokelat dan membawa sebuah tongkat sihir. Seorang perempuan berambut hitam panjang yang kini mulai memberikan pertolongan pertama pada orang-orang.
Dan yang terakhir... aku sangat tidak asing dengan penampilannya. Jika kalian melihatnya sekilas, mungkin apa yang muncul dalam pikiran kalian adalah seorang lelaki berandalan berwajah arogan.
Tatapan matanya tajam seperti sedang mencari mangsa dan hanya dirinyalah yang menggunakan zirah serta perisai dan pedang. Sisanya menggunakan seragam dan perlengkapan seadanya.
“Serahkan saja kepada kami Kesatria Legiun, Kuro. Sebaiknya kamu segera membawa orang ini ke tempat pemeriksaan di dekat taman kota.”
Walaupun aku sedikit kaget dengan kemunculan mereka, tampaknya selain seorang putri duke, ia juga merupakan salah satu anggota Kesatria Legiun. Namun, apakah aku tidak salah dengar?
Sebelumnya lelaki berambut pirang dan bocah itu menyebutnya kapten. Jangan-jangan Velia memanglah seorang kapten Kesatria Legiun? Kalau begitu kenapa aku harus mengkhawatirkannya?
“Kapten! Aku menemukan sesuatu lagi“
“Apa ada sesuatu, Cecile?” tanya Velia lalu menghampiri gadis tersebut.
“Ini adalah racun pemikat. Aku tidak tahu seberapa besar efeknya, tetapi aku yakin tempat ini tidak lama lagi akan diserbu pasukan monster,” jelasnya sambil memeriksa nadi seorang perempuan yang kini ada di dalam perawatannya.
“Kata-kata yang bagus, Cecile. Itulah yang kutunggu-tunggu sejak tadi“
“Kalau begitu aku akan menemanimu, Reya. Sepertinya ini akan semakin mengasyikkan. Hehehe.”
Aku pun yakin dengan mereka dan langsung membopong Brad yang masih sadarkan diri. Setelah itu pergi meninggalkan tempat perkara menuju rumah sakit. Seandainya aku membawa Brad menuju klinik, pasti akhir-akhirnya akan dirujuk ke rumah sakit.
Daripada menyia-nyiakan waktuku, lebih baik aku langsung pergi ke rumah sakit.
Tidak lama setelah itu aku tiba di depan rumah sakit dan segera membawa Brad menuju ruang unit gawat darurat. Aku tidak menjelaskannya langsung kepada perawat, tetapi begitu aku telah mengetahui bahwa kondisi Brad akan baik-baik saja. Aku pun mulai menjelaskan kejadian yang menimpanya.
Baik biaya perawatan ataupun sisa administrasinya telah aku selesaikan bersamaan dengan penjelasan itu.
Walaupun aku mengatakan rumah sakit, tetapi ini hanya sebuah bangunan besar yang mana para pegawai atau perawatnya berasal dari gereja. Mereka yang memiliki kekuatan penyembuh ditugaskan untuk menjadi perawat di tempat-tempat publik seperti ini.
Sedangkan mereka yang memiliki kekuatan penyucian akan ditempatkan pada gereja pusat di tengah kota. Tergantung seberapa parah kutukan yang mereka terima, para gadis suci—Saint akan menyembuhkan mereka dengan bantuan Roh Suci yang telah menjalin kontrak dengan mereka.
Ini memang merepotkan, tetapi aku tidak menyangka akan terjadi sesuatu seperti ini. Selain itu juga para kesatria kerajaan mulai berdatangan menjaga kota. Apakah kejadian gerbang depan itu membuat heboh kerajaan sampai-sampai mengerahkan kesatria khusus seperti mereka?
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi setelah pergi meninggalkan tempat itu, tetapi mengingat Velia, dan pasukan Kesatria Legiunnya berada di sana. Aku tidak perlu khawatir dengan kondisi gerbang depan.
Berawal dari sarung yang sedikit rusak dan permintaan Fear untuk dibelikan permen, kini berubah drastis menjadi sebuah insiden ledakan gas beracun. Jika aku tidak salah dengar gadis bernama Cecile itu mengatakan gas pemikat monster, huh?
Tunggu sebentar, jika seperti itu....
“Brad!!”
Gawat tempat Brad sekarang mungkin akan menjadi incaran monster lain....