HOARGHHHH!!!
Di awali oleh sebuah geraman aneh yang terdengar seperti rengekan anak kecil. Sang Umbras melampiaskan kekuatannya kepada ayunan pohon besar yang ia bawa sebagai senjatanya.
Bukan hanya ledakan debu dan tanah berguncang saja yang membuatku sedikit kerepotan, tetapi juga cipratan air ludahnya yang bahkan dapat melelehkan rumput di sekitarnya. Ughh... sepertinya kesabaranku akan diuji.
Aku pun mengambil langkah cepat dengan berguling ke depan. Pohon besar itu melewatiku seperti ranting ringan yang biasa terbawa angin. Aku kira serangannya akan memiliki sedikit jeda karena mengayunkan pohon sebesar itu pasti membutuhkan kekuatan yang besar.
Namun, tampaknya dugaanku itu meleset. Setelah serangan pohon yang luar bisa itu hampir saja mementalkanku, kini Sang Umbras menggunakan lengan kanannya untuk meninjuku dari depan.
“Hei, hei, hei... kau pasti bercanda, ‘kan? Aku merasa deja vu dengan gerakan seperti ini,” ucapku dengan sisi mulut yang berkedut-kedut.
Ya. Kalian tidak salah membacanya. Baik tubuh yang besar serta kekuatan dan kecepatannya mengingatkanku akan pertarunganku dengan Tenebris di Desa Kirius. Sudah besar, cepat lagi... ini sangat merepotkan.
“Ughh. Mungkin kau cepat, tetapi kawanku yang satu ini juga memiliki ketangguhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi,” tuturku sambil menahan pukulan besarnya itu dengan bagian bilah pipihnya.
Bagus... sepertinya kawanku ini memang bukan pedang murahan. Untung aku menggunakan bahan-bahan material berkualitas yang langka sebagai material pembuatannya. Semua itu aku lakukan demi saat seperti ini... saat di mana aku berhadapan dengan lawan yang tangguh tanpa perlu menggunakan kekuatan internal milik Fear.
Aku pun menghempaskan kepalan tangan Sang Umbras yang sedari tadi mencoba mendorongku lebih jauh lagi.
“Arhhhh!!!”
Berdentang keras bagai dua buah senjata logam yang saling beradu, begitu lepas melengking seperti bunyi yang memantul keras. Otot-otot pada tangannya benar-benar keras sekali, aku sendiri bahkan tidak menyangka bahwa makhluk ini telah jauh berkembang dari fase awalnya.
Fase awal Umbras diawali dengan bentuk tubuhnya yang menyerupai gumpalan daging hidup. Gumpalan ini saling menyatu sama lain dan menjadi kesatuan besar yang membentuk tubuh baru.
Dan gumpalan daging ini juga bukan hanya berasal dari manusia saja. Melainkan dari bangkai hewan, Kristal Mana, dan juga organisme lainnya. Dengan kata lain makhluk yang aku lawan saat ini lebih mendekati monster dari pada mantan manusia.
Aku jadi kembali mengingat dua orang itu, kuharap mereka bisa merelakan temannya yang akan aku musnahkan saat ini juga.
“Sayangnya aku tidak yakin bisa memakamkan teman kalian dengan layak jika keadaannya sudah seperti ini.”
Sang Umbras kembali menggeram hebat. Kali ini ia menggunakan lengan kanannya untuk melakukan pukulan hook, tetapi aku berhasil menghindarinya tepat waktu.
Namun, tidak seperti aku lengah begitu saja karena telah berhasil selamat dari serangan kuatnya. Bahkan sebelum aku berusaha mengambil napas, makhluk besar ini langsung mengayunkan pohon raksasa di panggulannya secara horizontal. Sontak aku pun melompat tinggi sambil menggunakan sihir angin untuk menyeimbangkan tubuhku.
Tidak lepas dari serangan pohon ganasnya, makhluk itu kini melempariku dengan gundukan tanah yang langsung ia gali dengan entengnya.
“Apa?!”
Sembari meneriaki sesuatu dengan kata-kata yang tidak jelas, ia juga menyerangku dengan serbuan tanah. Aku pun melepaskan lingkaran sihir angin di berbagai tempat sebagai pijakan kakiku.
Menari di udara, setiap serangan tanahnya berhasil aku hindari. Sekali lagi aku bisa bernapas lega dan berharap jika serangannya bisa berhenti hanya sedetik saja.
Aku juga perlu mengetahui seberapa tangkas monster ini bisa terus menyerangku dengan tubuh besarnya. Mungkin saja tidak terbatas, tetapi aku ragu jika makhluk besar ini memang memiliki stamina sebanyak itu.
Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kalau massa tubuhnya membebani daya tanggap serangannya. Selain itu juga kecepatan refleks dan proses pemikirannya juga mirip seperti manusia yang masih memiliki kesadarannya.
“Fiuhh... sekarang adalah giliranku untuk menyerangmu!” seruku lalu menerjunkan diri dari atas langit dengan bantuan sihir angin.
Proses berpikirnya mirip seperti manusia... benar, itu adalah hipotesisku. Namun, aku juga masih memiliki sedikit keraguan dalam berbagai aspek lainnya. Seperti bagaimana ia bisa memiliki refleks seperti itu, apalagi ketika aku melompat tinggi ke atas, ia langsung melempariku dengan gundukan tanah.
Jika Umbras ini merupakan kumpulan bangkai mayat yang terkontaminasi, maka kemungkinan besar fungsi otaknya tidak akan bekerja. Tentu saja karena makhluk hidup yang telah mati secara otomatis akan mengalami penurunan fungsi seluruh tubuhnya hingga tak tersisa lagi.
Dengan kata lain pematian mutlak yang terus bertahap dari mulai bagian tubuh bagian bawah hingga akhirnya tubuh bagian atas. Hal ini juga langsung mempengaruhi kinerja otaknya yang pada saat itu masih tersadar tiba-tiba saja kehilangan fungsinya dalam sekejap.
Karena itulah aku masih membutuhkan sedikit informasi lagi agar bisa membuat keputusan selanjutnya, tetapi saat ini aku harus bisa menemukan titik lemah makhluk besar ini. Setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan Mana yang banyak hanya untuk mengalahkannya.
“Efektif dan efisien... aku tidak perlu memboroskan Manaku. Jadi bersiaplah tewas di tempat, makhluk jelek! Arhhhh!!!”
Begitu aku mencapai jarak serangnya, aku pun melakukan manuver cepat, dan mengubah jalur terjun menjadi ke arah belakang tubuhnya. Sang Umbras yang berusaha berbalik dan menghempaskanku dengan lengan kanannya seketika itu juga langsung jatuh berlutut.
Sepertinya manuver cepat yang disertai tebasan kilat itu berhasil membuatnya tumbang. Sebelum aku mendarat di belakangnya, terlebih dahulu kusayat bagian punggung, persendian lengan atas, dan juga bagian belakang kaki dalam posisi membelakanginya.
Dengan persendian kaki yang tersayat, makhluk seperti apa pun pasti akan tumbang meski aku tidak tahu apakah jatuhnya makhluk tersebut akan berlangsung selamanya atau tidak.
Setelah itu aku berbalik sembari mengumpulkan kekuatan dari punggung dan juga otot perut. Ketika aku telah berada dalam posisi saling berhadapan dengan tubuhnya, aku pun melepaskan beberapa tebasan kuat dan mendengar suara pekikan yang cukup melengking darinya.
Selain dari sayatan yang aku torehkan di punggung besarnya dalam beberapa detik itu, aku pun melanjutkannya dengan memberi sebuah tendangan lurus yang keras. Alhasil Sang Umbras pun terhempas jauh ke depan hingga menumbangkan beberapa pohon dan mendaratkan kepalanya tepat pada sebuah batu besar.
Suara gemuruh terdengar hebat dan asap cokelat mengepul tak karuan.
Aku pun bersiul. “Ternyata tendanganku bisa menerbangkan seekor monster sebesar ini, huh? Mungkin sebaiknya aku lebih berhati-hati lagi jika menggunakannya pada orang lain,” ucapku sambil menggaruk belakang kepala.
Tidak lama kemudian sebuah siluet besar melesat cepat dari arah kepulan asap itu.
“Oi, oi, oi! Yang benar saja, monster biasa pasti akan langsung mati, lho! Tapi makhluk ini dengan entengnya kembali bangkit dan kini menerjangku? Hahahaha! Baiklah kalau begitu, mari kita selesaikan misi ini sekarang juga!” seruku sambil menyiapkan kuda-kuda.
Apakah ia memiliki tingkat pemulihan yang sangat cepat. Namun, aku juga tidak melihat darah di sekitar tubuhnya ketika aku tebas tadi. Mungkin memang benar makhluk ini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan sangat cepat.
Sang Umbras pun bersama dengan pohon yang ia cabut ketika menerjangku mulai mengamuk. Suaranya semakin terdengar serak, tetapi perlahan-lahan entah mengapa seperti menjadi lebih jelas.
“B-b-bunuh... a-a-aku... a-a-aku tidak, i-i-ingin men-me-menjadi mons-ter...,” ucapnya lirih.
“Huh?! Ughhh!—“
Makhluk besar ini terus mengayunkan pohon dalam genggaman tangan kirinya ke arahku. Aku pun terpaksa mengubah jalur arah serangnya dengan menggunakan bagian bilah pipih Aeon.
Aku tidak salah dengar, ‘kan? Umbras ini berbicara... itu berarti hipotesisku benar. Kesadaran yang termakan oleh gumpalan daging hidup itu ternyata masih hidup.
Setelah aku berhasil menetralisirkan setiap serangannya dan berhasil membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Aku pun langsung memanfaatkan momentum itu untuk menghancurkan pohon besar dengan menebasnya secara vertikal.
Begitu pohon itu terbelah menjadi dua dan hancur lebur, Sang Umbras pun akhirnya jatuh terduduk.
GHOARGGGG!!!
“Akan kukabulkan permintaanmu itu....”
Namun, seperti sebelumnya, makhluk besar ini berhasil bangkit dengan cepat, dan segera melesatkan pukulan tangan kirinya ke arahku.
Aku pun memfokuskan diri dan mengabaikan segala objek di sekitarku terkecuali Sang Umbras. Mengandalkan keterampilan, kepandaian, keahlian serta kemampuan yang telah aku asah selama belasan tahun sebagai Kesatria Sihir.
Pada saat itu juga dengan mudahnya aku menghempaskan kepalan tangan Sang Umbras kemudian melepaskan aura pedang dalam bisikkan yang halus. “Sphare....”
Seketika itu juga Aeon mengeluarkan aura tipis dengan tingkat kepekatan yang teramat gelap. Berwarna hitam dan merah samar di saat yang sama, aku mengambil napas lalu menajamkan penglihatanku ke arah Sang Umbras.
Setelah itu aku menebas lengan kiri dan kanannya sekuat mungkin. Disusul oleh kedua kakinya yang kini telah terpotong, aku pun mengubah pegangan Aeon menjadi terbalik, dan menggenggamnya dalam posisi ke belakang.
“Beristirahatlah dengan tenang di sana... Lucentius,” ucapku dengan membisikkan kata terakhir sambil melepaskan aura pedang secara vertikal dari bawah ke atas kemudian memutarnya kembali menjadi dua tebasan ganda beruntun yang menciptakan dua buah pilar cahaya tinggi yang kemudian menyatu menjadi satu.
Perlahan-lahan tubuh Umbras pun lenyap ditelan oleh aura pedang, tetapi samar-samar aku melihat ekspresi wajah tulusnya meneteskan air mata sembari tersenyum lega.
“Semoga kehidupanmu selanjutnya menjadi lebih baik,” gumamku tanpa sadar.
Aku ingat saat itu Aresya memberiku sebuah kantung hitam dan kebetulan sekali sekarang aku membawanya. Ketika aku memeriksa barang di dalamnya, ternyata itu adalah sebuah gulungan sihir penanda lokasi.
Sepertinya ia telah menyiapkan semuanya dengan baik, kalau begitu sisanya aku serahkan pada wanita itu.
Aku pun membuka gulungan itu dan mengimbuhinya dengan sedikit Mana. Sebuah garis cahaya berputar di tengah-tengahnya. Rune penanda... itulah yang muncul setelah garis cahaya memudar.
“Hari masih cerah dan pekerjaanku juga selesai. Mungkin aku akan berbaring sebentar selagi mereka datang kemari,” tuturku lalu menguap lebar. “Ah! Tempat yang tepat, aku berhasil menemukan satu di sana.”
Dengan langkah yang ringan aku mulai berjalan ke arah pohon besar tidak jauh dari tempat Umbras lenyap. Setelah itu aku membaringkan diri di bawah rindangnya dedaunan dan pada akhirnya penglihatanku menjadi gelap....
▼▼▼
Beberapa tahun sebelumnya....
“Ughh...tubuhku. Ahkk!—“
Aku tidak tahu mengapa bisa sampai di tempat ini setelah jatuh dari jurang. Namun, aku cukup beruntung karena mendarat di tempat yang tampaknya aman.
Tempat ini mungkin sebuah bagian paling dalam dari gua. Melihat bagaimana kristal-kristal indah itu menggelantung di atas dan menempel pada beberapa bagian dinding batu hitam yang dingin. Aku cukup yakin jika saat ini aku berada di bagian paling dalamnya.
Meski samar-samar, aku juga bisa menangkap suara tetesan air jatuh mencelup. Danau? Di dalam gua? Apakah ini adalah danau bawah tanah?
Aku pun berusaha membalikkan tubuhku sekuat mungkin. “Arghh... hahh... huhh... hahh... huhh...,” rintihku sambil mengambil napas dengan pelan-pelan.
Rasa sakit ini menjalar di seluruh tubuhku. Setiap kali aku ingin menggerakkan lengan atau kaki, tubuhku seperti disengat oleh sesuatu, dan itu membuatku ingin berteriak keras.
Namun, akhirnya aku bisa membalikkan tubuhku, dan mencoba merangkak untuk melihat sekitar.
Tempat ini cukup terang berkat pantulan sinar yang berasal dari danau. Warna airnya bahkan sebiru kristal murni, sangat bersih. Kemudian pandanganku akhirnya tertuju pada sesuatu yang asing.
Seorang gadis kecil terantai tanpa busana. Rambut panjang merah gelapnya berantakan dan terurai menutupi hampir seluruh tubuh mungilnya.
Mengapung tepat di tengah-tengah danau, mata kami saling bertemu satu sama lain. Aku yang pada saat itu ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa karena tenggorokanku bertambah sakit setiap kali aku mencoba mengucap.
Selain tubuh telanjangnya yang terekspos begitu saja. Aku juga bisa melihat beberapa luka yang membekas di sana. Itu benar-benar mengertikan... mungkin tidak separah milikku yang kini berlumuran darah.
Namun, bagi seorang gadis kecil yang mungkin lebih muda dariku. Mendapatkan luka sebanyak dan terlihat jelas seperti itu merupakan sesuatu yang mengerikan. Apa yang ia lalui hingga mendapatkan semua luka itu?
Ketika aku mencoba meraihnya walaupun aku tahu sebenarnya itu sia-sia saja. Samar-samar mulutnya bergerak perlahan.
Itu adalah sesuatu yang tidak jelas yang anehnya membuatku terpanas. Seluruh anggota badangku seperti berteriak dan jantungku berdetak kencang. “Aghkss!!—“
Pada akhirnya aku terbatuk-batuk sambil memuntahkan darah. Aku merasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Aku ingin sekali menutup mata dan mengistirahatkan tubuh ini.
Namun, aku tahu jika seandainya aku melakukan itu, maka hidupku pasti akan tamat.
Tidak... aku menolaknya. Masih ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Kumohon... setidaknya hingga aku bisa menepati janjinya... hanya itu yang aku inginkan....
Hidup terkadang tidak adil juga... huhh. Aku benar-benar merasa mengantuk... dan suara itu muncul tanpa aku sadari di telingaku. Sangat halus penuh ketulusan dan ringan, tetapi memberikan kesan yang hangat....
“Kuro... akhirnya aku menemukanmu....”
▼
▼
▼
“Kuro!! Kuro!! Oiii!!! KURO!”
“UWAHHH!!!—aghks!”
Aku tahu sebelumnya sedang tidur di bawah rindangnya pohon, tetapi kenapa aku malah mendapatkan karma seperti ini? Padahal aku tidak berbuat salah, ‘kan?
Selain itu mengapa roh gadis kecil ini meneriakiku sekencang itu sampai-sampai membuat kepalaku terbentur batang pohon cukup keras. Ughh... aku bisa merasakan ada sedikit benjolan di kepalaku.
“Kamu lagi mimpi apa sih? Kok mukanya bisa santai?” tanya Fear sambil menempelkan batang hidungnya ke batang hidungku.
“Hahh. Hanya kisah masa lalu, tidak terlalu penting juga, kok. Terus kenapa kamu teriak-teriak?”
“Ehhh... jadi Kuro bisa bermimpi indah juga, ya? Pasti lagi memimpikan diriku yang tumbuh besar cantik dan memiliki tubuh aduhai, ‘kan?” tanya Fear percaya diri sambil membusungkan dadanya yang seperti tanah datar itu.
Aku pun tersenyum remeh. “Sudahlah. Jadi?”
“Hehehehe. Antena kepalaku merasakan keberadaan si nenek!”
“Maksudmu, Aresya?”
“Umm! Iya, Nenek Aresya. Hihihihi!” jawabnya dengan tawa puas.
“Dasar. Kalau kena batunya jangan salahkan aku, oke?”
Tidak lama setelah itu Aresya pun muncul dari arah langit. Ia juga membawa dua orang pedang itu bersamanya. Dengan begini tugasku telah selesai dan hanya tersisa beberapa penjelasan sederhana.