Hari berlalu dengan sangat cepat dan kini langit pun telah menggelap. Bintang bersembunyi jauh di dalam kegelapan, sementara sang raja bersinar terang di takhta miliknya.
Angin yang berhembus pun menjadi semakin dingin dan suasana di dalam kerajaan ini juga menjadi lebih meriah.
Setelah menjalani hari yang terlewat penuh kejutan ini, aku memutuskan untuk pergi ke bar setempat yang tidak terlalu jauh dari taman kota. Biasanya di sana juga aku bisa menemukan Gaston yang sedang mabuk dan tertawa girang sambil menikmati daging bakarnya.
Waktu di pagi maupun siang hari sangat berbeda dengan malam hari. Kebanyakan orang akan memperingati hari yang luar biasa, berpesta dengan teman-teman mereka, ataupun sekedar bersantai dengan banyaknya makanan dalam satu meja. Itulah waktu malam hari, waktu di mana para penjelajah beristirahat menikmati hasil misinya.
Seperti yang aku lihat sekarang... orang-orang tertawa bahagia sambil berbincang-bincang dengan temannya.
Lampu jalanan bersinar terang selagi musik khas waktu malam berbunyi di jalanan. Musik ini bisanya diputar oleh toko musik atau para pemain musik jalanan yang melakukan konser lepasnya di malam hari.
Sementara itu aku masih belum bisa melupakan bagaimana reaksi Fear yang sangat kaget ketika aku memberitahunya tentang kedua laki-laki pedagang itu. Dengan wajah cemberutnya yang terbilang menggemaskan, aku langsung mencubitnya tanpa pikir panjang. Alhasil aku mendapatkan gigitan di pipi yang membekas sangat jelas itu pun kalau ada yang bisa melihatnya.
“Apa kita akan pergi ke sana lagi, Kuro?” tanya Fear yang kini mengambang di samping kiriku.
Aku pun berdeham lalu menutup satu mata. “Mungkin?”
“Ehhh?!”
“Pasti,” lanjutku dengan seringai kecil.
Setelah itu Fear melampiaskan rasa kesalnya kepadaku.
Tak berselang lama, kami tiba di tempat tujuan. Sebuah kedai makanan favorit yang sangat hidup nan ramai akan para pengunjung ramahnya.
Kekacauan yang pernah aku lihat paling hanya berupa dua orang keras kepala yang memutuskan taruhan mereka dengan adu panco. Lagi pula siapa pun yang mengakibatkan kekacauan di kedai ini akan langsung di tendang oleh para pengunjung lainnya.
Karena itulah yang menjadikan bar ini sebagai tempat ramah lingkungan alias ramah bagi para penjelajah baru.
Begitu aku membuka pintu depan, bunyi lonceng kecil berdering, dan suara yang tampaknya tidak asing memanggilku dari arah kanan. Sontak aku pun menoleh dan mendapati Gaston yang sedang mengunyah daging paha ukuran jumbo.
“Oii!! Jagoan!” serunya sambil mengangkat segelas Ale.
Berbicara mengenai favoritnya, tampaknya mejanya sudah penuh terlebih dahulu dengan semua pesanannya. Bahkan dari sini aku bisa melihat jajaran piring lengkap berisi menu varian daging panggang dan bakar, lalu ada satu drum besar minuman yang kemungkinan besar itu adalah Ale—minuman beralkohol lembut yang terbuat dari anggur bermutu.
“Lihatlah siapa yang sedang menghamburkan uangnya saat ini,” tuturku dengan senyum tipis.
“Kakhakhakha! Inilah hidup bocah, nikmati hidup selagi bisa. Apa salahnya menghabiskan hasil jerih payahku sesekali?” tanyanya lalu menenggak Ale dengan ekspresi puas. “Karena ini juga berkat dirimu, mari biar aku pesankan buatmu”
“Tumben pria alot ini baik,” sindirku sambil tertawa remeh.
“b******n! Cepat duduk, biar Kakekmu ini memberi beberapa sedikit nasihat.”
Ia pun langsung menarik lenganku dan mengapit kepalaku dengan keras. Alhasil aku terjebak di antara otot lengan kiri atas serta perut besarnya yang sedang memantul karena tubuhnya tidak bisa diam.
Setelah itu kami pun saling berbincang-bincang ria sambil menikmati sajian hidangan super yang Gaston pesankan untukku. Aku juga tidak lupa memberikan Fear makanan yang ia inginkan.
Huh? Apa kalian bingung bagaimana caranya entitas roh dapat mengonsumsi makanan jika tubuhnya saja berasal dari kumpulan doa alam dan langit? Dengan kata lain transparan.
Ini mudah. Yang perlu kalian bayangkan adalah cukup dengan memberinya pengorbanan. Konteks dalam pengorbanan ini tidak bersifat negatif, melainkan secara positif memberikan rasa terima kasih dengan mengorbankan sebuah objek.
Objek di sini lebih menjurus pada makanan murni yang di ambil dari hewan, tanaman, ataupun hal-hal lainnya yang selalu kami selaku para manusia konsumsi. Begitu semua persembahan itu kami berikan, maka secara tidak langsung makanan itu pun akan masuk ke dalam alam mereka.
Sama halnya ketika aku memberinya permen atas izin dan juga keinginan tulusku. Permen itu pun langsung masuk ke dalam alam para roh dan Fear bisa langsung menyantapnya tanpa pamrih.
Namun, jika adat ini disalahgunakan dan melenceng dari jalinan jalan yang positif. Kemungkinan besarnya maka sang kontraktor dan juga roh yang menjalin kontrak dengannya akan mengalami deformasi menjadi Tenebris.
Inilah yang harus selalu aku perhatikan ketika menjalin hubungan kontrak dengan Fear. Aku tidak ingin melenceng dan mengakibatkan kami berdua berada di jalan yang tidak benar. Karena itulah aku selalu memberi makanan favoritnya setiap saat dan makanan itu lebih banyak condong ke arah manisan.
Untuk makanan biasa jarang sekali ia sentuh, misalnya daging bakar seperti ini.
Namun, sejujurnya entitas roh seperti Fear sama sekali tidak mengenal rasa lapar. Ya... itu karena mereka hanya memerlukan energi positif yang ada di sekitar mereka untuk mengatasinya.
Mengapa Fear menyukai makanan? Tentu karena ia penasaran dengan rasa serta sensasinya. Dari situlah terlahir sebuah kebiasaan yang sama seperti “kami”, yaitu sifat lapar meski sejatinya tidak ada.
Waktu yang aku dan juga Gaston habiskan penuh dengan sindiran yang terkadang membuat kami sama-sama jengkel. Namun, dari kejengkelan itu persahabatan kami semakin bertambah baik, dan akhirnya sesi perbincangan itu menjadi sesi lanturan Gaston.
Entah itu keluhan dan juga rasa puas hingga hal-hal berbau m***m yang sering kali aku tutupi dengan menamparnya beberapa kali. Terkadang kata-katanya selalu menyerempet masalah b****g atau d**a wanita, berkat itu juga aku tidak segan untuk menamparnya.
Setelah menjadi pria tua yang besar mungkin sebaiknya aku memberi julukan baru bagi si pengrajin besi ini... pria m***m?
Di sisi lain Fear sama sekali tidak terganggu dan fokus dengan makanannya. Namun, semua kemeriahan itu langsung menjadi hening karena muncul sesosok kesatria berambut pirang dan beranting berjalan menuju meja kosong.
“Aha! Hahaha... lihatlah Kuro, sepertinya kita kedatangan tamu penting yang terhormat,” ucap Gaston sambil cegukan.
“Penting?”
Gaston kembali cegukan lalu dengan cepatnya ia menarik leherku. “Dengar... menurut rumor orang itu adalah wakil pasukan Kesatria Legiun. Meski tampilannya seperti berandalan yang biasa aku temui di jalanan, tetapi kekuatannya bukan isapan jempol belaka,” bisiknya di telinga kiriku dengan pipi yang memerah seperti kepiting rebus.
“Hehhh. Wakil pasukan Kesatria Legiun, eh? Dari pada itu... menjauhlah dariku, dasar pemabuk!” sahutku sambil mendorongnya kembali ke kursi.
Ketika sudah begini mungkin lebih baik membiarkannya saja dan pergi keluar. Lagi pula aku sudah mencicipi bagaimana rasanya dibayarkan oleh orang lain dan kuharap tagihan miliknya membengkak agar bisa merasakan penderitaanku saat ini.... hahahahaha.
▼▼▼
“Angin yang pas. Sepertinya langit juga cerah....”
Setelah mempersiapkan semuanya, aku pun langsung pergi menuju Dataran Alv bersama Fear.
Saat ini kondisiku juga sangat baik karena makanan kemarin malam yang Gaston pesankan untukku. Kualitasnya juga terjaga dan semuanya sempurna.
Sedangkan saat ini... tepatnya pagi ini semua berjalan normal dan tidak ada yang aneh. Selain dari sarapan pagi yang tenang karena Fear tertidur pulas semalaman hingga matahari terbit. Tidak ada sesuatu yang mungkin saja menjadi pertanda buruk.
Aku juga mengenakan atribut lengkapku. Biasanya aku selalu menggunakan sandal jepit dan kemeja hitam lusuh yang tidak terlalu mewah. Namun, kali ini sedikit berbeda... agar terlihat lebih menjiwai, aku pun memutuskan untuk menggunakan semua atributku.
Dari mulai sabuk d**a dan sepatu hingga pin identitas diriku bersama dengan Aeon yang kini menggantung bersama sabuknya di pinggang kiri.
Inilah Dataran Alv atau sering dikenal sebagai padang rumput penuh kehidupan. Banyaknya rerumputan yang tumbuh subur dan di kelilingi oleh pohon tinggi berdaun tipis. Tempat ini merupakan tempat favoritku untuk tidur siang.
Suasana yang tempat ini keluarkan juga terbilang sangat nyaman. Bagi siapa pun yang datang kemari, aku yakin mereka akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakan waktunya hanya demi menjalankan misi daripada menikmati pemandangan spektakuler seperti ini.
Langit terlihat sangat jauh dari sini. Dari tempatku berdiri hingga ke kejauhan sana yang memperlihatkan betapa leganya suatu wilayah kosong yang hanya dihuni oleh rerumputan bergoyang. Aku merasa berada di pesisir laut yang sedang menunggu matahari terbenam dalam diam.
Tenteram dan senyap. Hanya suara angin yang bersiul dan sedikit gemeresik rumput ringan yang kini menghinggapi pendengaranku. Ahhh... akan sangat sayang sekali jika aku harus melakukan sesuatu yang merepotkan kalau tahu akan seperti ini.
Mungkin ini bisa menjadi tempat referensi bagiku... itu pun jika waktunya tiba.
Namun, kali ini aku datang bukan untuk menikmati bagaimana keindahan dari tempat ini. Selain itu karena lawanku kali ini adalah Umbras, aku tidak boleh lengah ataupun menganggap pertarungan seperti ini mudah... meski pada kenyataannya aku tidak tahu Umbras seperti apa yang akan kuhadapi sekarang.
“Jika tidak salah, Umbras yang mereka lihat saat itu memiliki tinggi sekitar dua sampai tiga meter. Menggunakan sebuah helm pelindung yang terbuat dari tengkorak, berkalung taring, kulitnya hijau dan sedikit kehitaman, dan terakhir adalah membawa senjata besar....”
Semua itu adalah informasi lanjutan yang aku dapatkan dari kedua pedagang kemarin. Berkat informasi ini juga aku bisa mengetahui seperti apa karakteristik Umbras yang akan kulawan.
“Baiklah saatnya sedikit pemanasan. Animus... Cor,” ucapku pelan lalu memejamkan mata.
Aku pun meningkatkan sensitivitas indra pendengaran serta penciuman.
Aroma yang tak asing... ini adalah aroma hangatnya padang rumput. Sedikit lebih dalam... selanjutnya adalah aroma hutan jauh di depan sana dan beberapa pohon muda. Lagi... ini adalah....
“Aliran sungai kecil? Hmm?”
Setelah itu aku memeriksanya kembali dengan pendengaranku dan suara ini memang benar adalah suara dari aliran sungai.
Ini mungkin adalah kemampuan peningkatan indra menggunakan Mana tingkat menengah. Namun, jika kalian bisa memperdalam serta memahaminya lebih jauh, istilah tengah itu akan lenyap begitu saja.
Selain itu aku juga berhasil mencium aroma yang sedikit amis nan busuk di sekitar sana. Bersama suara asing yang menggeram dan terkadang mendesis. Mungkin makhluk ini adalah monster yang sedang aku cari saat ini... Umbras.
“Aku menemukanmu,” gumamku lalu mengencangkan kedua kaki sambil mengambil napas. “Sepertinya makhluk ini berpindah lokasi setelah kedua pedagang keliling itu menemukannya. Hahhh... lupakan, sekarang saatnya untuk berburu.”
Aku pun melepaskan daya kejut dari Mana yang sebelumnya aku serap beberapa saat lalu. Begitu ledakkannya mengeluarkan suara berdengung, tubuhku langsung terdorong sangat keras dari belakang. Alhasil saat ini aku berlari dengan kecepatan suara.
Kemampuan ini membebankan tekanannya pada kaki beberapa kali lipat, tetapi aku bisa mengatasinya dengan cara menukar beban itu dengan Mana. Cara ini sekilas terlihat efektif, tetapi ada kalanya juga tidak.
Jika seandainya aku telat atau mengalirkannya terlalu banyak, bisa-bisa kakiku akan mengalami pembekuan sesaat. Aku kurang tahu berapa lama tepatnya, tetapi hal yang perlu dikhawatirkan adalah jika saat itu aku sedang berada dalam situasi kritis.
Entah apakah aku bisa lolos dari bahaya saat itu atau tidak. Karena itulah aku harus selalu memperhatikan sekelilingku ketika menggunakan kemampuan ini.
Tidak lama kemudian akkhirnya aku tiba dengan suara melengking dan bunyi debum keras yang mengeluarkan asap cokelat.
“Tampaknya kali ini aku disambut dengan tatapan tidak ramah....”
Saat ini aku sedang dikepung oleh beberapa serigala hutan. Namun, ada sesuatu yang aneh... aku merasa mereka ini sedang bersiaga. Meskipun aku menggertak mereka, sepertinya mereka tidak langsung menerjangku sama seperti serigala pada umumnya.
Apa yang mereka tunggu dengan kuda-kuda seperti ingin menerjang itu? Menungguku untuk membuat kesalahan? Atau melihat situasi terlebih dahulu lalu memutuskan tindakan seperti apa yang akan mereka gunakan agar bisa lebih memojokkanku?
Namun, tiba-tiba saja bunyi pohon retak yang seakan-akan ingin roboh terdengar keras dari arah belakangku. Sontak aku pun menoleh dan pada saat itu juga kawanan serigala yang sebelumnya terdiam langsung menerjangku.
Rupanya mereka menunggu saat aku lengah... kalau begitu aku juga tidak akan menahan diri.
“Ayo kita lakukan ini... Aeon,” ucapku pelan lalu membuka kunci sabuk pedang.
Ketika mereka semua melompat dalam satu waktu, aku pun merendahkan tubuh, dan memusatkan pandanganku menuju ke depan.
Semuanya menjadi terlihat lambat dan dalam waktu yang singkat itu, kakiku bergerak cepat sembari melakukan enam buah ayunan sekaligus dalam satu tarikan napas.
Begitu aku berkedip, mereka semua terhempas kuat secara bersamaan dengan cipratan darah yang membuncah. Meski tidak semua, tetapi aku yakin telah membelah tubuh mereka menjadi dua.
“Huh?!”
Aku pun melompat ke depan sambil meletakan pedang tepat dalam posisi bertahan.
Sebuah kepalan tangan besar tiba-tiba saja melesat ke arahku dan itu berhasil mendorongku beberapa meter ke belakang.
Bertubuh besar dengan warna kulit hijau. Urat-urat keluar, lengan kiri lebih besar dari kanan, dan pundak yang membungkuk ke atas dengan beberapa tulang punggung keluar. Memiliki dua mata merah menyala serta menggumamkan sesuatu yang aneh, selain itu monster ini juga memanggul sebuah pohon besar di bahu kirinya.
Sepertinya makhluk yang aku tunggu-tunggu sudah datang—
“Wah, wah ,wah. Apakah tidak ada obrolan basa-basi atau apa?” tanyaku remeh. “Membosankan sekali, persis seperti pria tua yang kukenal. Mungkin kau membutuhkan sedikit pemanasan? Atau ingin pantatmu kutendang saat ini juga?” lanjutku dengan seringai tipis.
—Makhluk mutasi akibat hasil serangan monster yang memiliki unsur khusus dalam tubuhnya, si pelumat kehidupan, Sang Umbras.