Nama-nama perusahaan cangkang itu adalah dinding. Untuk menembusnya, Kuncoro butuh seseorang yang tahu apa yang ada di balik dinding, dan ia teringat pada Pak Yatman, juru lelang lama di KPKNL yang sudah hampir pensiun, orang yang bertahun-tahun lalu pernah ia tolong dalam sebuah urusan kecil yang tak pernah ia ungkit. Mereka bertemu di sebuah rumah makan jauh dari kantor masing-masing, di sudut yang sepi, di siang hari biasa yang dipilih justru karena ketidakberartiannya.
Yatman mendengarkan tanpa banyak memotong saat Kuncoro menjelaskan apa yang ia temukan: sembilan eksekusi, satu kawasan, pemenang yang sebenarnya satu di balik banyak topeng, alamat kotak surat, notaris yang berputar. Wajah lelaki tua itu makin lama makin keruh, dan ketika Kuncoro selesai, ia tidak terkejut. Itu yang paling membuat Kuncoro dingin: Yatman tidak terkejut.
"Saya tahu pola itu," kata Yatman akhirnya, suaranya rendah, matanya ke arah jendela. "Kami yang di lelang lihat angkanya, lihat siapa yang menang terus, lihat penawar lain yang selalu mundur di menit terakhir seakan sudah diatur. Kami lihat, Kun. Tapi kami juga cuma pelaksana, sama seperti kamu. Risalah lelangnya sah. Pesertanya cukup. Prosedurnya jalan. Mau bilang apa?" Ia menyeruput tehnya. "Kamu nyari nama. Saya kasih kamu satu nama, dan setelah itu kamu yang tanggung apa yang kamu lakukan dengan nama itu."
Yatman menyebut sebuah nama. Bukan nama yang muncul di dokumen mana pun, bukan direktur perusahaan cangkang, bukan kuasa hukum yang tanda tangan di lelang. Seorang lelaki yang namanya tidak pernah tertulis di mana pun, yang berdiri jauh di belakang semua topeng, yang menggerakkan gugatan dengan memilih bank mana yang menjual piutangnya, menggerakkan putusan lewat jaringan yang Yatman tidak mau sebut rincinya, dan menggerakkan lelang dengan memastikan penawar yang menang adalah penawar yang ia kehendaki. Seorang yang melihat sebuah kawasan kota tua dan melihatnya bukan sebagai rumah-rumah orang melainkan sebagai sebidang masa depan yang nilainya berlipat kalau giginya dicabut satu per satu lalu disatukan menjadi satu kompleks komersial. Bukan preman. Bukan penjahat film. Seorang yang rapi, sabar, dan berhati dingin dengan cara yang Kuncoro kenali dengan ngeri, karena cara itu mirip caranya sendiri menempel pita merah tanpa berkedip. Lelaki itu juga hanya menjalankan rencana. Hanya saja rencananya adalah merampas.
"Dan satu lagi," kata Yatman sebelum mereka berpisah, ragu, seperti orang yang menimbang apakah belas kasihan menuntutnya bicara atau diam. "Kamu masih ingat perkara pertamamu? Yang orangnya... yang gantung diri itu?"
Kuncoro merasakan darahnya berhenti. Map berdebu dari gudang. Nama yang membuatnya gemetar. "Kenapa kamu tahu soal itu?"
"Karena rumah itu, Kun. Tanah itu. Lokasinya. Saya pernah lihat di risalah lama waktu masih arsip kertas." Yatman menatapnya dengan mata orang tua yang lelah membawa rahasia. "Itu di kawasan yang sama. Belasan tahun lalu. Pemenang lelangnya, kalau kamu telusuri sampai ke akarnya, berputar ke lingkaran yang sama. Kawasan itu sudah mereka incar sejak dulu, pelan-pelan. Kamu eksekusi pertama kariermu, yang bikin kamu jadi kamu yang sekarang, itu bukan kebetulan jatuh ke tangan kamu. Atau mungkin kebetulan. Saya nggak tahu. Tapi polanya sama."
Kuncoro pulang dengan kepala yang berputar pelan dan dingin. Selama belasan tahun ia telah membangun seluruh dirinya di atas satu peristiwa: eksekusi pertama yang berakhir dengan kematian, yang membuatnya memutuskan untuk berhenti merasa, untuk menjadi pelaksana murni, untuk membaca mantra setiap kali pintu di dadanya hendak terbuka. Ia selalu menganggap peristiwa itu sebagai kecelakaan tragis, ongkos manusia yang tak terhindarkan dari pekerjaan yang sah. Trauma yang ia jadikan alasan untuk mengeraskan hati. Tapi kalau Yatman benar, peristiwa itu bukan kecelakaan acak. Itu mungkin batu pertama dalam pola yang sama, perampasan yang sama, mesin yang sama, hanya belasan tahun lebih muda. Dan lelaki yang mati itu bukan korban dari nasib buruk; ia korban dari mesin yang sejak hari itu Kuncoro layani dengan setia, justru karena kematiannya.
Di kamar kosnya malam itu, Kuncoro duduk dengan map berdebu terbuka di pangkuannya, dan mantra yang telah menyangga hidupnya selama dua dekade runtuh sepenuhnya, batu demi batu. Aku hanya pelaksana. Aku cuma datang paling akhir. Ongkos manusia di baliknya bukan wewenangku. Setiap kalimat itu kini telanjang di hadapannya sebagai kebohongan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri agar bisa tidur. Ia bukan saksi yang tak bersalah dari sebuah tragedi. Ia bukan pengamat yang kebetulan ada di sana. Ia adalah tangan. Tangan yang dipilih justru karena ia paling bersih, paling teliti, paling bisa membuat perampasan tampak seperti keadilan. Lelaki pertama yang mati di awal kariernya tidak membuatnya menjadi korban keadaan; kematian itu menempanya menjadi alat yang sempurna, dan ia telah membiarkan dirinya ditempa, dengan bangga, selama belasan tahun.
Ia menutup map itu. Di luar jendela, kota tidur dalam gelap, dengan kawasan-kawasan tua yang giginya dicabut satu per satu oleh tangan yang bersih. Kuncoro tahu sekarang, dengan kejelasan yang tidak bisa lagi ia tutup dengan klik apa pun, bahwa ia tidak bisa lagi mengetuk pintu bengkel Sumirah dan berpura-pura ia hanya pelaksana. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi pahlawan. Ia tahu ia bukan pahlawan; ia tahu harga yang akan ia bayar. Melainkan karena mantra yang dulu memungkinkan ia mengetuk pintu itu telah mati, dan tanpa mantra itu, tangannya tidak akan bisa lagi melakukan apa yang selama ini ia lakukan tanpa berkedip. Subuh eksekusi tinggal beberapa hari lagi. Dan untuk pertama kalinya, Kuncoro tidak tahu apa yang akan dilakukan tangannya sendiri.