Surat penetapan hari eksekusi pengosongan keluarga Sumirah keluar pada hari Kamis, ditandatangani ketua pengadilan, dengan tanggal pelaksanaan dua minggu ke depan, subuh. Dokumen itu sampai ke meja Kuncoro lewat tangan Subroto, yang meletakkannya tanpa banyak kata, hanya tatapan yang berarti: sekarang tidak ada lagi ruang untuk menunda. Mesin hukum telah bergerak, dan mesin hukum tidak peduli pada keraguan seorang juru sita. Ia berjalan dengan ritme sendiri, dari putusan ke penetapan ke pelaksanaan, dan setiap roda giginya berputar tepat waktu, acuh pada tanda tangan yang dipalsukan dan tanah yang digelembungkan dan telepon tanpa nama di malam hari.
Kuncoro menyimpan surat itu di mapnya dan merasakan beratnya seperti benda fisik. Dalam dua minggu, kalau ia tidak melakukan apa-apa, tangannya yang terlatih akan mengetuk pintu bengkel itu di subuh hari, menempel pita merah, menandatangani berita acara dengan garis yang sama yang ia bubuhkan ratusan kali, dan kawasan Kebon Sirih Lama akan kehilangan satu gigi lagi. Semuanya sah. Semuanya bersih. Dan ia akan menjadi tangan yang melakukannya, sekarang dengan mata terbuka, yang membuatnya jauh lebih buruk daripada saat ia melakukannya dengan mata tertutup.
Kabar itu sampai ke Mira lewat jalan yang tidak Kuncoro duga. Anaknya ikut dalam program magang di sebuah lembaga bantuan hukum, dan lembaga itu kebetulan menerima pengaduan dari warga Kebon Sirih Lama tentang rentetan eksekusi di kawasan mereka. Saat Mira menelusuri berkasnya untuk tugas magangnya, ia menemukan nama juru sita yang menjalankan eksekusi-eksekusi itu, dan nama itu adalah nama ayahnya. Ia datang ke kos Kuncoro malam itu tanpa membawa lauk, tanpa basa-basi, dengan map di tangan dan wajah yang sudah merah menahan sesuatu sejak di jalan.
"Bapak yang ngerjain Kebon Sirih," katanya, berdiri di ambang pintu, tidak mau masuk. "Sembilan rumah. Sekarang yang kesepuluh keluarga Sumirah. Aku baca berkasnya di kantor. Tanda tangan ayahnya beda, Pak. Luas tanahnya nggak cocok. Warga ngadu ada yang maksa mereka jual murah sebelum dilelang. Dan yang ngetuk pintu mereka, yang nempel pita merah, namanya Kuncoro Wignyo." Suaranya pecah di nama itu. "Aku selama ini malu sama pekerjaan Bapak. Sekarang aku nggak cuma malu. Aku takut Bapak bagian dari sesuatu yang jauh lebih jahat dari yang aku kira."
Kuncoro berdiri di kamarnya, dan untuk sesaat, refleks lama mengambil alih sebelum ia sempat menahannya. Mantra itu keluar dari mulutnya, keras, hampir membentak, seperti tameng yang ia angkat tanpa berpikir. "Bapak hanya pelaksana, Mira. Bapak tidak memalsukan tanda tangan itu. Bapak tidak menggelembungkan tanah itu. Bapak tidak memutus perkaranya. Bapak datang paling akhir. Bapak cuma menjalankan putusan."
Kalimat itu menggantung di udara kamar yang sempit. Dan untuk pertama kalinya, saat ia mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri di hadapan anaknya, Kuncoro mendengar betapa hampa kedengarannya. Bertahun-tahun mantra itu menutup pintu di dadanya dengan klik yang menenangkan. Sekarang ia mengucapkannya keras-keras dan tidak ada klik. Hanya gema. Kata-kata yang dulu menjadi perisai kini menjadi pengakuan. Bapak cuma menjalankan putusan. Mira menatapnya, dan air mata mengalir di pipinya bukan karena marah lagi melainkan karena sesuatu yang lebih buruk, semacam kasihan, semacam kehilangan.
"Itu yang Bapak bilang ke diri sendiri tiap malam ya, Pak," katanya pelan. "Sampai Bapak percaya."
Mira pergi malam itu, dan Kuncoro tidak menahannya, karena ia tidak punya satu kata pun yang bisa ia ucapkan yang bukan mantra. Ia duduk di tepi kasur sampai larut, mendengar suara motor anaknya menghilang, lalu mendengar keheningan kos yang biasanya menenangkan kini terasa seperti tuduhan. Di luar, mobil hitam itu mungkin masih ada, atau sudah pergi; ia tidak memeriksanya. Ada hal yang lebih mendesak.
Menjelang subuh, tanpa tidur sama sekali, Kuncoro mengambil keputusan pertama yang ia buat sebagai bukan-pelaksana. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan eksekusi itu. Ia tidak tahu apakah ia berani menolak, atau bagaimana caranya. Tapi ia tahu satu hal yang bisa ia lakukan sekarang, diam-diam, sebelum tenggat menutup segala pintu: ia harus mengamankan bukti. Map berdebu dari gudang, catatan pola lelang, fotokopi tanda tangan yang tak cocok, salinan amar dan sertifikat dengan luas yang berbeda. Kalau mesin ini sebersih yang ia takutkan, maka satu-satunya yang tidak bisa mereka kendalikan adalah salinan yang ada di tangan orang yang sudah mereka percaya sebagai stempel.
Ia pergi ke kantor sebelum siapa pun datang, di subuh yang sama gelapnya dengan subuh-subuh eksekusinya. Ia menyalin berkas itu dengan tangan yang, ia perhatikan, tidak lagi sepenuhnya stabil, satu per satu, di mesin fotokopi tua di sudut ruang panitera, mendengar setiap kilatan lampu pemindai seperti detak yang bisa membangunkan seluruh gedung. Ia menyimpan salinannya di tempat yang tidak akan mereka cari. Lalu ia mengembalikan yang asli, merapikan map, dan duduk di mejanya menunggu fajar penuh dan pegawai pertama datang, seolah ia hanya juru sita teliti yang datang pagi. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, tangannya telah bergerak melawan arah mesin, bahkan kalau cuma selangkah, bahkan kalau cuma diam-diam. Dan langkah kecil itu, ia tahu, tidak bisa ditarik kembali.