Kuncoro memilih jalur yang paling masuk akal bagi orang seperti dirinya: jalur resmi. Ia bukan tipe yang akan datang ke wartawan atau membuat keributan. Ia percaya, atau ingin percaya, bahwa sistem yang membuat dirinya bisa menjadi alat juga menyediakan ruang untuk mengganjalnya. Ia menyusun keberatannya secara hati-hati, sebagai temuan administratif, bukan tuduhan. Cacat berkas. Tanda tangan yang patut diduga tidak sesuai. Selisih luas objek antara amar putusan dan sertifikat. Hal-hal teknis yang, dalam pikirannya, bisa menjadi dasar untuk setidaknya menunda eksekusi sampai diperiksa.
Ia mulai dari panitera. Pak Subroto, panitera muda yang ambisius, mendengarkan dengan wajah yang makin lama makin tidak nyaman. Ketika Kuncoro selesai, Subroto menggeser kacamatanya dan bicara dengan nada orang yang sedang menjelaskan hal mendasar kepada seseorang yang seharusnya sudah tahu.
"Pak Kun, saya hargai ketelitian Bapak. Tapi Bapak juru sita. Tugas Bapak melaksanakan amar, bukan menilai isi putusan. Soal tanda tangan, soal luas, itu materi pemeriksaan. Itu sudah lewat. Perkaranya inkracht, Pak. Sudah berkekuatan hukum tetap di semua tingkat. Kalau ada cacat, jalannya peninjauan kembali, dan itu hak para pihak, bukan juru sita."
"Kalau cacatnya menyangkut dugaan pemalsuan, itu pidana, bukan cuma perdata. Mestinya bisa jadi dasar untuk—"
"Untuk apa, Pak? Untuk Bapak menunda eksekusi atas inisiatif sendiri?" Subroto menggeleng. "Bapak tahu sendiri konsekuensinya. Menunda eksekusi yang sudah diperintahkan tanpa dasar yang sah, itu bisa ditafsirkan menghalangi pelaksanaan putusan. Pemenang lelang sudah pegang sertifikat hak milik atas namanya. Dia bisa lapor Bapak. Dan jujur, Pak, dengan rekam jejak Bapak yang bersih selama ini, sayang kalau dirusak di ujung karier cuma karena satu perkara."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan halus, hampir seperti perhatian, tapi Kuncoro mengenali bentuknya. Itu peringatan yang dibungkus pujian. Ia mencoba sekali lagi, naik ke Pak Hadi, atasannya langsung. Hadi mendengarkan sambil mengaduk kopinya, dan ketika Kuncoro selesai, ia menghela napas seperti orang yang sudah memperkirakan percakapan ini.
"Kun, berapa tahun kita kerja bareng?" tanya Hadi. "Kamu juru sita terbaik yang saya punya justru karena kamu nggak pernah nyari masalah di perkara yang sudah selesai. Sekarang kamu mau buka apa? Kamu mau bilang ke pimpinan bahwa selama tiga tahun kita salah laksanakan eksekusi di satu kawasan? Kamu tahu itu artinya apa buat kita semua? Buat saya, buat kamu, buat anak buahmu yang baru?" Ia menatap Kuncoro lekat. "Perkara ini lagi dipantau dari atas supaya cepat tutup. Kalau kamu macam-macam, bukan cuma kamu yang kena. Lakukan saja tugasmu seperti biasa. Mira sebentar lagi lulus, kan? Sayang kalau bapaknya pensiun nggak hormat."
Kuncoro keluar dari ruangan Hadi dengan pemahaman yang dingin dan jernih: koridor untuk seorang pelaksana berkata tidak ternyata jauh lebih sempit daripada yang ia kira. Ia selama ini membayangkan dirinya berdiri di tengah sistem dengan ruang gerak. Sekarang ia tahu ia berdiri di lorong selebar bahunya sendiri. Ke depan ada eksekusi yang menunggu. Ke belakang ada karier dan anaknya. Di kiri ada ancaman dilaporkan menghalangi putusan. Di kanan ada atasan yang menatap. Tidak ada pintu samping. Sistem yang menjadikannya alat juga telah memastikan bahwa alat tidak bisa menolak digunakan tanpa menghancurkan dirinya sendiri.
Malam itu, di kosnya, telepon rumahnya yang jarang berdering tiba-tiba berbunyi. Ia mengangkatnya. Hening sebentar, lalu suara lelaki yang tenang, sopan, tidak terburu-buru, suara yang justru karena kesopanannya membuat tengkuk Kuncoro dingin.
"Pak Kuncoro. Selamat malam. Maaf mengganggu istirahat. Saya cuma mau bilang, kerja Bapak selama ini bagus sekali. Rapi. Banyak orang menghargai itu. Tolong dijaga ya, Pak. Perkara Kebon Sirih itu sebaiknya cepat selesai. Demi semua pihak." Lalu sambungan terputus, tanpa nama, tanpa nomor yang bisa ia lacak di layar.
Kuncoro berdiri lama memegang gagang telepon. Bukan ancaman kasar. Tidak ada makian, tidak ada kata kasar. Justru itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan daripada preman yang menggebrak meja. Orang yang menelepon tahu nomor rumahnya, tahu jadwalnya, tahu perkara mana yang ia pegang. Orang yang menelepon tidak terburu-buru karena tidak perlu. Dan keesokan paginya, saat Kuncoro keluar dari kos untuk berangkat kerja, ada sebuah mobil hitam terparkir di seberang gang, dengan dua orang di dalamnya yang tidak melakukan apa-apa selain ada. Persis seperti tim pengamanan yang berdiri di mulut gang setiap eksekusi. Hanya saja kali ini, yang mereka jaga adalah dirinya.