Sebelum melangkah lebih jauh, Kuncoro melakukan sesuatu yang tidak biasa baginya: ia menggali ke arah yang justru bisa meruntuhkan keberpihakannya sendiri. Ia menyelidiki keluarga Sumirah, bukan untuk membela mereka, melainkan untuk memastikan ia tidak sedang menjadi tolol yang membela orang yang sebenarnya pantas kalah. Karena Kuncoro tidak percaya pada korban suci. Dua puluh tahun di pintu paling pahit telah mengajarinya bahwa orang yang menangis di depan rumahnya sendiri kadang adalah orang yang juga pernah membuat orang lain menangis.
Ia mendatangi kelurahan dengan dalih kelengkapan administrasi, bicara dengan pegawai lama, membaca catatan-catatan yang tidak masuk ke berkas perkara. Ia menemui mantan pengacara keluarga itu, yang kini bekerja di kantor kecil dan enggan bicara sampai Kuncoro meyakinkannya bahwa ia tidak datang untuk menjebak. Dan apa yang ia temukan justru membuat dadanya berat, karena membenarkan kecurigaannya.
Keluarga Sumirah bukan keluarga tanpa cela. Bertahun-tahun lalu, jauh sebelum perkara ini, almarhum Darmaji pernah mengajukan pinjaman ke sebuah koperasi dengan menjaminkan surat kendaraan yang ternyata sudah ia jual ke orang lain. Jaminan ganda. Kecil, tapi curang. Perkaranya selesai damai, utang dilunasi, tapi catatannya ada. Lalu ada urusan tunggakan retribusi bengkel yang ditunggak bertahun-tahun, janji bayar yang berkali-kali diingkari. Dan yang paling menyangkut hati Kuncoro, dalam perkara utang yang menjadi pangkal eksekusi ini, keluarga itu memang berutang. Mereka benar-benar berutang. Darmaji meminjam untuk modal bengkel yang sedang sekarat, dan utang itu macet karena bengkelnya tak pernah bangkit, dan Darmaji meninggal meninggalkan tunggakan yang tidak sanggup dibayar siapa pun.
Jadi ini bukan cerita orang tak bersalah yang dirampok. Sumirah dan suaminya pernah berbohong, pernah ingkar, pernah berutang dan tak mampu bayar. Kalau Kuncoro mencari pembenaran moral yang bersih untuk memihak mereka, ia tidak menemukannya. Dan untuk sesaat, mantra lama menawarkan diri kembali dengan suara yang menggoda: lihat, mereka memang berutang, putusannya benar, mereka memang harus kehilangan. Pulang. Jadwalkan eksekusi. Tutup pintu.
Kuncoro duduk di warung kopi di seberang kelurahan, menatap catatan-catatan itu, dan untuk waktu yang lama ia membiarkan mantra itu bekerja. Mereka berutang. Itu benar. Tapi kemudian sesuatu di kepalanya, sesuatu yang baru tumbuh dalam beberapa hari ini, mengajukan pertanyaan yang berbeda. Bukan apakah mereka berutang. Tapi apakah utang yang sebenarnya tujuh puluh juta boleh berubah, lewat penjualan piutang dan bunga dan denda dan biaya, menjadi tagihan yang menelan tanah dan rumah seharga sepuluh kali lipat. Apakah orang yang berutang tujuh puluh juta pantas kehilangan seluruh tempat tinggalnya, bengkel tempat ia mencari nafkah, dan masih dengan amar putusan yang luasnya dipalsukan lebih besar dari yang ia miliki. Apakah tanda tangan suaminya yang sudah meninggal boleh dipalsukan dalam akta yang menentukan nasib janda dan anaknya.
Kuncoro menyadari bahwa ia sedang bergulat dengan dua kebenaran yang keduanya benar, dan justru di situlah letak getirnya. Keluarga Sumirah memang pernah salah. Dan keluarga Sumirah memang sedang dirampok. Kedua hal itu bisa benar pada saat yang sama. Selama bertahun-tahun mantranya bekerja karena ia membagi dunia menjadi yang sah dan yang tidak sah, dan ia berdiri di sisi yang sah dengan tenang. Tapi kebenaran yang ia temukan tidak menghormati pembagian itu. Yang sah bisa zalim. Yang bersalah tetap berhak. Orang yang pernah berbohong tentang surat kendaraan tetap berhak atas proses yang jujur, atas tanda tangan suaminya yang tidak dipalsukan, atas amar putusan yang tidak menggelembungkan tanahnya.
Ia teringat kuliah yang diceritakan Mira: banyak eksekusi yang formil benar tapi materiil zalim. Dulu ia mendengar itu sebagai retorika mahasiswa idealis. Sekarang ia memegang buktinya di tangan, dalam bentuk catatan kelurahan dan map plastik lusuh dan tanda tangan yang membalik ke arah salah. Membela keluarga Sumirah bukan berarti membela orang suci. Justru itu yang membuatnya layak. Karena kalau keadilan hanya untuk orang yang sempurna, maka itu bukan keadilan, itu hadiah untuk yang beruntung.
Malam itu Kuncoro pulang ke kosnya dan untuk pertama kalinya membuka map berdebu dari gudang, map dengan nama dari belasan tahun lalu, nama lelaki yang gantung diri di rumah yang ia kosongkan di awal kariernya. Ia membacanya pelan-pelan, di bawah lampu kamar yang temaram, dan menyadari tangannya gemetar, hal yang tidak pernah terjadi padanya saat menempel pita merah. Ia belum berani menyimpulkan apa pun dari map itu. Tapi ia tahu satu hal sekarang dengan pasti, sesuatu yang telah ia hindari selama dua dekade: ia tidak bisa lagi membagi dunia menjadi yang sah dan yang zalim dan berdiri nyaman di antaranya. Garis itu telah hilang. Dan tanpa garis itu, ia harus mulai memutuskan, untuk pertama kalinya, di mana ia berdiri.