Map berdebu dari gudang itu ia simpan di laci mejanya, tidak ia baca dulu sampai tuntas. Bukan karena tak ingin; karena takut. Ia memutuskan mendekatinya dari arah yang lebih aman, dari arah yang sah, yang bisa ia jelaskan kalau ada yang bertanya: risalah lelang. Setiap eksekusi pengosongan tanah yang ia jalankan berakhir di kantor lelang negara, KPKNL, dan setiap lelang menghasilkan risalah, dokumen resmi yang mencatat siapa pemenangnya. Risalah lelang bukan rahasia; sebagiannya bahkan diumumkan. Mengeceknya adalah hal wajar bagi juru sita yang teliti.
Kuncoro menghabiskan dua hari di sela tugas rutinnya, menelusuri risalah lelang dari sembilan perkara di daftarnya. Ia mencatat pemenang masing-masing dengan tangan, di kertas yang sama yang ia mulai di gudang. Pada awalnya nama-namanya tampak berbeda, dan ia hampir lega. Sebuah PT untuk yang ini, koperasi untuk yang itu, perorangan untuk yang lain. Berbeda-beda. Tidak ada pola. Mantra hampir berhasil menutup pintu lagi.
Tapi Kuncoro adalah orang yang dilatih membaca dokumen sampai ke baris kecil, dan justru di baris kecil itulah pola yang sebenarnya bersembunyi. Bukan di nama pemenang. Di alamat. Sebagian besar perusahaan pemenang itu beralamat di gedung perkantoran yang sama, lantai yang sama, bahkan beberapa di nomor unit yang sama, satu ruangan yang mustahil menampung sekian banyak perusahaan kecuali kalau itu hanya kotak surat. Dan di bagian akta pendirian dan kuasa, nama notaris yang mengesahkan berputar pada lingkaran kecil yang sama, dua atau tiga nama yang muncul berulang. Para pemenang itu seperti topeng yang berbeda di wajah yang sama. Berbeda di permukaan, satu di belakang.
Kuncoro duduk di mejanya larut malam, kantor sudah sepi, hanya lampu mejanya yang menyala. Ia menatap kertas itu dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: dingin di perut yang bukan dari mantra, melainkan dari kebenaran yang sedang menyusun dirinya sendiri di depan matanya. Bukan kebetulan. Sembilan eksekusi di satu kawasan, dimenangkan oleh rangkaian perusahaan yang sebenarnya satu, lewat lelang yang sah, atas putusan yang inkracht. Seseorang, atau sekelompok orang, sedang mengambil sebuah kawasan kota, rumah demi rumah, bengkel demi bengkel, toko demi toko, bukan dengan menggusur paksa yang akan memancing kemarahan dan kamera, melainkan dengan mesin hukum yang setiap bautnya sah.
Dan ia menyadari, dengan kejelasan yang menyakitkan, peran apa yang ia mainkan dalam mesin itu. Bukan peran kecil. Bukan peran sampingan. Ia adalah peran kunci. Karena yang membuat perampasan ini tak pernah berhasil dilawan bukan kekerasannya, melainkan kebersihannya. Setiap berita acara yang ia tandatangani rapi. Setiap eksekusi yang ia jalankan sesuai prosedur. Tidak ada pita merah yang ia tempel dengan cacat formil yang bisa digugat. Tidak ada warga yang dipukul di depan kamera. Tidak ada penyimpangan yang bisa dijadikan dasar untuk membatalkan apa pun. Reputasinya, juru sita paling bersih, yang ia bangun selama bertahun-tahun sebagai perisai agar bisa tidur malam, ternyata adalah stempel sempurna yang dicari oleh orang-orang di balik topeng itu. Mereka tidak menyuapnya. Mereka tidak perlu. Mereka cukup memastikan perkara-perkara itu jatuh ke meja juru sita yang paling tidak bisa disuap, paling teliti, paling patuh prosedur, karena justru juru sita seperti itulah yang membuat perampasan tampak paling sah.
Kuncoro teringat ucapan Pak Hadi: saya kasih ke kamu karena yang lain pasti bikin ribut. Ia selalu menganggap itu pujian. Sekarang kalimat itu terdengar berbeda. Apakah Hadi tahu? Atau Hadi juga hanya satu baut lain dalam mesin, sama tidak sadarnya dengan dirinya, sama yakinnya bahwa ia hanya mengikuti prosedur? Kuncoro tidak tahu, dan ketidaktahuan itu membuat segalanya lebih menakutkan. Mesin ini tidak butuh banyak orang jahat. Ia hanya butuh banyak orang yang yakin bahwa mereka hanya menjalankan tugas. Orang seperti dirinya. Mesin ini berjalan justru pada bahan bakar kepatuhan orang baik.
Ia berdiri, menatap ke luar jendela ke halaman pengadilan yang gelap, ke tiang bendera, ke patung yang menjaga gerbang. Ia teringat Mira, kalimat anaknya: aku cuma nggak ngerti gimana Bapak bisa tidur. Dan ia teringat dirinya menjawab dengan bangga bahwa ia tahu batas tanggung jawabnya. Batas itu, ia kini paham, adalah pagar yang dibangun bukan untuk melindungi orang lain darinya, melainkan untuk melindunginya dari melihat apa yang ia lakukan. Batas itu adalah tempat ia menyembunyikan tangannya sendiri.
Mantra itu, aku hanya pelaksana, tidak lagi menutup pintu. Pintu itu kini terbuka lebar dan dingin masuk dari sana, dan Kuncoro berdiri di tengah kantor yang gelap, lima puluh tahun kurang setahun, juru sita paling bersih di pengadilan ini, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya ia merasa kotor. Bukan karena ia melanggar prosedur. Justru karena ia tidak pernah melanggarnya. Karena ketaatannya yang sempurna itulah yang menjadi tangan paling tajam. Ia mengumpulkan kertas-kertasnya, memasukkannya ke dalam map, dan menyadari bahwa ia tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat. Pertanyaannya kini bukan apakah ia melihat. Pertanyaannya adalah apa yang akan ia lakukan setelah melihat, dan berapa harga yang harus ia bayar untuk mulai bergerak setelah belasan tahun memilih diam.