Hujan belum reda ketika Sulastri mendengar ketukan di pintu kosnya, tiga kali, pelan tapi mantap, seperti orang yang tahu persis berapa lama harus menunggu sebelum diberi jawaban. Ia menoleh ke jam dinding: pukul sembilan lewat empat puluh. Terlalu larut untuk tamu resmi, terlalu awal untuk dianggap mimpi buruk.
Ia menyisipkan hard disk eksternal yang sedang tersambung ke laptopnya ke dalam saku jaket, refleks yang baru ia sadari beberapa detik kemudian sebagai sesuatu yang penting. Di dalamnya tersimpan salinan foto-foto relaas kosong dari laci rekan Kuncoro, hasil pindai akta yang janggal, dan catatan yang mereka susun berdua di kamar ini pada malam-malam sebelumnya. Ia belum sempat mengunggahnya ke mana pun. Itulah satu-satunya salinan yang benar-benar utuh.
Ketukan kedua datang, kali ini disertai suara berdeham yang ia kenal.
"Ada orang, Mbak Sulastri?" Suara Jagur selalu terdengar ramah di permukaan, seperti orang yang terbiasa membuka pintu dengan senyum sebelum melakukan hal-hal yang tak pernah tersenyum.
Sulastri berdiri di depan cermin sebentar, membenahi kerudungnya bukan karena peduli penampilan, melainkan karena tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan sebelum sanggup membuka pintu. Ia menimbang: tidak membuka pintu sama saja mengaku takut, dan orang yang mengaku takut biasanya diberi alasan lebih banyak untuk takut.
Ia membuka pintu selebar rantai pengaman mengizinkan.
Jagur berdiri di teras sempit kos itu, tubuhnya basah sebagian, membawa map plastik bening berisi apa yang tampak seperti surat resmi. Di belakangnya, remang lampu jalan menampakkan sesosok lain bersandar di motor, tak turun, hanya mengawasi.
"Malam-malam begini, Pak Jagur cari siapa?" suara Sulastri lebih tenang daripada yang ia rasakan.
"Cari Mbak Sulastri. Ada titipan dari kantor koperasi." Ia mengangkat map plastik itu seolah benda paling wajar di dunia. "Soal pinjaman almarhum bapak Mbak, dulu. Masih ada tunggakan administrasi katanya."
Bohong itu begitu rapi sehingga hampir meyakinkan, kecuali fakta bahwa ayah Sulastri tidak pernah meminjam sepeser pun dari koperasi mana pun, dan Jagur tahu itu sama baiknya dengan Sulastri.
"Bisa ditinggal saja suratnya," katanya, mengulurkan tangan lewat celah rantai.
Jagur tidak menyerahkan map itu. Ia malah melangkah lebih dekat, sampai sepatu bootnya menyentuh ambang pintu, dan suaranya turun satu oktaf, kehilangan basa-basi yang tadi dipakainya sebagai sarung tangan.
"Saya cuma mau ngobrol sebentar, Mbak. Di dalam kalau boleh. Hujan-hujan begini nggak enak ngomong di teras."
"Nggak usah, Pak. Saya lagi nggak enak badan."
"Justru itu saya kasihan," Jagur tersenyum, dan senyum itu adalah senyum orang yang tahu ia bisa mendorong pintu itu terbuka penuh kapan pun ia mau, hanya belum memilih untuk melakukannya. "Kabarnya Mbak Sulastri sibuk sekali belakangan. Bolak-balik arsip, ke koperasi, ketemu orang-orang LBH. Buat juru sita baru, kok rajin amat urus perkara yang bukan tugasnya."
Dada Sulastri berdegup keras, tetapi ia menahan wajahnya tetap datar, seperti yang diajarkan Kuncoro tanpa pernah benar-benar mengucapkannya sebagai pelajaran: jangan biarkan wajahmu menjawab sebelum mulutmu memutuskan apa yang mau dikatakan.
"Saya cuma menjalankan tugas, Pak. Sama seperti Bapak."
"Nah, itu dia." Jagur mengetuk map plastik ke telapak tangannya sendiri, pelan, berirama, seperti orang menghitung. "Tugas itu ada batasnya. Kalau kelewat batas, biasanya ada yang kepentok. Kadang kepentoknya pintu. Kadang kepentoknya kepala."
Ia mengucapkannya sambil tetap tersenyum, dan justru itulah yang membuatnya jauh lebih menakutkan daripada bila ia berteriak.
Dari balik punggungnya, sosok yang tadi bersandar di motor kini melangkah dua tiga langkah, cukup untuk memastikan Sulastri melihatnya, cukup untuk mengingatkan bahwa Jagur tidak datang sendirian.
Sulastri merasakan tangannya sendiri gemetar di gagang pintu, dan ia membenci diri sendiri karena hal itu, sebab Kuncoro tidak pernah gemetar, atau setidaknya tidak pernah menunjukkannya. Tapi ia bukan Kuncoro. Ia baru satu tahun memakai seragam ini, dan tak seorang pun mengajarinya cara berdiri tegak di depan ancaman yang tersenyum.
"Bilang saja sama yang nyuruh Bapak," katanya, suaranya nyaris pecah tapi tak pecah, "kalau saya cuma juru sita yang menjalankan berkas. Kalau ada yang salah dengan berkas itu, ya harus dibetulkan. Itu bukan urusan pribadi."
Jagur menatapnya lama, seperti menimbang berapa jauh kata-kata itu bisa didorong malam ini. Lalu ia mundur setengah langkah, memasukkan map plastik itu kembali ke balik jaketnya sendiri, tak jadi menyerahkannya.
"Ya sudah. Saya cuma mampir, kok. Hati-hati, Mbak, malam-malam gini banyak yang licin." Ia menepuk kusen pintu dua kali, pelan, seperti orang mengetuk peti mati untuk memastikan pakunya rapat, lalu berbalik menuruni tangga bersama bayangan di belakangnya.
Sulastri menutup pintu, mengunci dua kali, lalu berdiri membeku di baliknya sampai suara motor benar-benar lenyap ditelan hujan. Baru setelah itu tangannya bergerak sendiri ke saku jaket, meraba hard disk yang masih di sana, dingin dan kecil, seolah benda paling ringan yang pernah terasa seberat ini.
Ia duduk di lantai, punggung menempel dinding, dan untuk pertama kalinya sejak menerima tugas ini, ia menangis bukan karena takut pada Jagur, melainkan karena menyadari betapa dekat jarak antara apa yang mereka simpan dan apa yang bisa direbut dalam hitungan detik. Ia meraih ponselnya dengan tangan yang masih gemetar, mengetik pesan pendek kepada Kuncoro sebelum keberaniannya kembali runtuh: *Pak, tadi Jagur ke kos saya. Filenya aman. Tapi saya rasa kita harus pindahkan semuanya, sekarang juga.*
Ia menekan kirim, lalu memeluk hard disk itu ke dada seperti memeluk sesuatu yang hidup, sesuatu yang lebih berharga daripada rasa amannya sendiri malam itu.