Kuncoro membeli koran itu dari kios di ujung gang, tempat yang jarang ia singgahi selama dua puluh tahun karena selalu berangkat pagi-pagi ke pengadilan sebelum kios-kios buka. Sekarang ia punya banyak waktu luang yang tak diminta. Skorsing memberi orang waktu, hanya saja waktu itu terasa seperti ruang tunggu yang tak berujung.
Halaman lima. Ia menemukannya setelah membolak-balik dengan tangan yang agak gemetar, bukan karena dingin pagi. "Jejak Kejanggalan di Balik Eksekusi Tanah Warga," tulis judulnya, tak menyebut nama-nama besar, hanya menyinggung "sebuah koperasi simpan pinjam" dan "oknum notaris" yang diduga terlibat dalam serangkaian sertifikat bermasalah. Tulisan itu hati-hati, seperti orang berjalan di atas es tipis—tak menyebut Handoko Reksa, tak menyebut Graha Cakrawala, hanya menyisakan jejak samar yang bisa dibaca siapa saja yang sudah tahu ke mana harus mencari.
Tetap saja, itu adalah yang pertama. Nama Ayu Prameswari tercetak kecil di bawah judul, dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan ia merasa sesuatu bergerak di luar map cokelat dan ruang sidang—sesuatu yang mulai punya bentuk di mata orang banyak.
Ia melipat koran itu, memasukkannya ke dalam tas selempang seperti dulu ia memasukkan berita acara, lalu berjalan ke arah kos Sulastri untuk menunjukkannya. Tapi baru dua blok, telepon genggamnya—nomor baru, murah, yang ia beli setelah kartu identitas juru sitanya ditahan—berdering. Suara Ayu di seberang terdengar terburu-buru, seperti orang yang berbicara sambil menoleh ke belakang.
"Pak Kuncoro, tolong jangan bilang siapa-siapa dulu soal artikel itu."
"Kenapa? Sudah terbit."
"Sudah. Tapi mungkin tidak akan lama."
Ia menunggu di depan pertokoan yang belum buka, mendengar Ayu menjelaskan dengan kalimat-kalimat pendek yang seperti disusun terburu-buru agar tak keburu putus asa: dua jam setelah cetakan pertama beredar, bagian iklan menerima telepon dari sebuah biro yang mewakili beberapa klien besar. Salah satu klien itu, tanpa disebut namanya secara langsung, adalah pengiklan tunggal terbesar suplemen properti di korannya—nilai kontraknya, kata orang pemasaran, cukup untuk menggaji separuh redaksi selama setahun. Biro itu menyampaikan "keberatan" atas nada pemberitaan yang dianggap "belum berimbang" dan "berpotensi mencemarkan nama baik pelaku usaha yang sah."
"Mereka tidak mengancam langsung," kata Ayu. "Mereka cuma bilang akan meninjau ulang kerja sama iklan untuk kuartal depan."
Kuncoro tahu persis apa artinya kalimat semacam itu. Ia pernah mendengar nada serupa dari Darsana—kalimat yang terdengar administratif, sopan, nyaris ramah, tetapi berfungsi seperti pita merah-putih: menyegel, mengunci, tanpa perlu berteriak.
Ia menemui Ayu siang itu di sebuah warung kopi di belakang gedung redaksinya, tempat yang dipilih Ayu sendiri karena tak ada wartawan lain yang biasa nongkrong di situ. Perempuan itu datang dengan map berisi print out artikelnya sendiri, seolah takut versi digitalnya akan lenyap sebelum sempat dicetak ulang di kepala siapa pun yang membacanya.
"Sudah dicabut dari situs jam sebelas tadi," katanya, mengaduk kopi yang tak ia minum. "Diganti keterangan 'dalam peninjauan redaksi'. Padahal tidak ada yang salah dari faktanya. Semua sudah saya cek dua kali."
"Aku tahu itu benar," kata Kuncoro. "Aku yang kasih sebagian datanya."
"Justru itu yang bikin saya takut, Pak. Kalau tulisan yang benar saja bisa dicabut secepat ini, apa gunanya saya kumpulkan bukti sekuat apa pun?"
Ia tak punya jawaban yang bisa menenangkan, karena pertanyaan itu juga miliknya sendiri sejak berbulan-bulan lalu—sejak map cokelat pertama yang angkanya tak cocok. Ia hanya bisa duduk diam, membiarkan Ayu bicara, seperti dulu ia membiarkan Sulastri bicara panjang lebar tentang idealisme yang menurutnya, saat itu, merepotkan.
"Redaktur pelaksana memanggil saya tadi pagi," lanjut Ayu, suaranya mulai bergetar meski ia menahannya rapat-rapat. "Bukan dimarahi. Cuma ditanya, apakah saya sanggup dipindah ke desk lain. Feature ringan. Wisata kuliner, mungkin. Katanya biar 'suasana lebih tenang' sampai semua ini reda."
"Itu bukan permintaan."
"Saya tahu itu bukan permintaan." Ayu menatapnya, matanya merah tapi kering, seperti orang yang sudah kehabisan air mata sejak lama dan sekarang hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Kalau saya menolak, mereka bisa bilang saya tidak profesional. Kalau saya diam saja, sama saja saya ikut menutup mata. Saya masih mikir mana yang lebih bisa saya tanggung."
Kuncoro memandang ke luar jendela warung, ke arah jalan yang ramai oleh orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang koperasi Sinar Mekar, tentang Ratna Wulandari, tentang empat belas pintu yang pernah ia ketuk dengan pita merah-putih di tangan. Dulu ia pikir kekuatan sindikat itu terletak di preman-preman seperti Jagur, di amplop-amplop yang diselipkan diam-diam. Ia baru sekarang benar-benar mengerti bahwa kekuatan yang sesungguhnya justru terletak di tempat yang jauh lebih senyap: di rapat anggaran iklan, di kontrak kuartalan, di kalimat sopan yang tak pernah menyebut ancaman sebagai ancaman.
"Simpan semua bahanmu," katanya akhirnya. "Jangan hapus apa pun. Kalau jalan ini buntu sekarang, itu bukan berarti buntu selamanya."
"Saya sudah dengar kalimat seperti itu dari terlalu banyak orang, Pak. Biasanya sesudahnya, tidak terjadi apa-apa."
Ia tidak membantah. Ia hanya menyesap kopinya yang mulai dingin, sambil melipat kembali map berisi artikel yang sudah tak bisa dibaca siapa pun lagi hari itu, dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya sendiri—bersebelahan dengan koran pagi yang, dalam beberapa jam ke depan, mungkin sudah dipakai membungkus ikan di pasar, seolah tak pernah ada tulisan apa pun di sana.
Ayu berdiri lebih dulu, merapikan blazernya, mengembalikan wajahnya ke bentuk yang biasa dipakai orang yang harus kembali ke ruang redaksi dan berpura-pura semua baik-baik saja. Sebelum pergi, ia menoleh sekali.
"Kalau nanti saya benar-benar dipindahkan, atau dipecat—jangan berhenti, Pak. Itu saja yang saya minta."
Kuncoro mengangguk, meski tak yakin permintaan itu bisa ia penuhi dengan kekuatan apa yang tersisa padanya sekarang: seorang juru sita yang diskors, tanpa kartu identitas, tanpa map cokelat resmi, hanya berbekal salinan-salinan yang mungkin, esok atau lusa, juga akan lenyap seperti berkas induk di ruang arsip lantai bawah.