Gudang barang sitaan Pengadilan Negeri ada di basement sayap belakang, ruangan panjang berlampu neon yang separuhnya mati, dengan rak besi sampai ke langit-langit. Di sanalah segala benda yang pernah disita disimpan menunggu nasibnya: motor berdebu dengan ban kempes, lemari es yang tak lagi dingin, mesin jahit, televisi tabung, kardus-kardus berisi entah apa, semuanya berlabel kertas dengan nomor perkara dan tanggal, semuanya menua bersama dalam keheningan yang bau karat dan tikus. Kuncoro selalu menganggap gudang ini seperti makam benda. Setiap label adalah nisan kecil yang menulis riwayat sebuah kehilangan dalam bahasa administrasi.
Ia turun ke sana sore itu dengan dalih yang sah: mencocokkan arsip lama untuk kelengkapan berkas perkara Sumirah. Penjaga gudang, Pak Warno, lelaki tua menjelang pensiun yang lebih sering tidur daripada menjaga, hanya mengangguk saat Kuncoro menunjukkan buku agendanya, lalu kembali ke radio transistornya. Kuncoro punya akses; ia juru sita senior, namanya ada di banyak berita acara sita yang barangnya tersimpan di sini. Tidak ada yang akan curiga ia ada di sana.
Ia duduk di meja kayu di pojok, di bawah lampu yang menyala, dan membuka buku agendanya sendiri, buku yang ia simpan rapi selama bertahun-tahun, kebiasaan pegawai yang teliti. Di buku itu tercatat setiap eksekusi yang pernah ia jalankan, dengan nomor perkara, tanggal, dan alamat objek. Ia tidak pernah membacanya kembali sebagai satu kesatuan. Tidak ada alasan untuk itu. Eksekusi adalah peristiwa tunggal yang selesai begitu berita acara ditandatangani; menumpuknya menjadi satu daftar tak pernah terlintas di pikirannya. Sampai sekarang.
Ia mulai menulis ulang di kertas kosong, hanya eksekusi pengosongan dan lelang tanah dalam tiga tahun terakhir, dengan alamatnya. Tangannya bergerak pelan, mencatat satu per satu, dan saat daftar memanjang, sesuatu mulai terbentuk yang membuat tengkuknya dingin. Ia tidak menyusunnya berdasarkan tanggal. Ia menyusunnya berdasarkan alamat. Dan saat dikelompokkan begitu, polanya muncul seperti tulisan rahasia yang dipanaskan di atas api.
Kebon Sirih Lama. Gang Melati. Jalan Pasar Lama, tempat toko kue kemarin. Lorong Kapuk. Semua dalam radius yang sempit, satu kelurahan, sebagian malah satu RW. Dalam tiga tahun ia sendiri telah mengeksekusi sembilan objek di kawasan itu. Sembilan. Ia ingat masing-masing sebagai peristiwa terpisah, masing-masing dengan perkaranya sendiri, masing-masing sah. Tapi disusun bersama begini, sembilan eksekusi di satu kawasan kecil oleh juru sita yang sama bukan kebetulan statistik. Itu sebuah peta. Dan ia, tanpa pernah menyadarinya, telah berjalan menyusuri peta itu sambil membawa pita merah.
Kuncoro menyandarkan punggung. Lampu neon berdengung. Ia mencoba menjelaskan pada dirinya sendiri dengan logika yang menenangkan: kawasan tua, banyak rumah yang dijadikan agunan utang, wajar kalau banyak yang macet, wajar kalau menumpuk di satu area. Tapi penjelasan itu tidak menutupi selisih luas tanah, tidak menutupi tanda tangan yang membalik ke arah salah, tidak menutupi pengacara Sumirah yang tiba-tiba mundur. Penjelasan itu adalah mantra lama yang biasanya bekerja, dan kali ini mantra itu seperti kunci yang dipaksakan ke lubang yang salah.
Ia berdiri dan berjalan menyusuri rak, membaca label demi label, mencari barang sitaan dari perkara-perkara yang ada di daftarnya. Beberapa masih ada di sini, menunggu pemilik baru atau pemusnahan. Ia menemukan mesin las dengan label perkara dari Lorong Kapuk; ia ingat eksekusi itu, bengkel kecil juga, lelaki yang menangis di pojok sambil memegang KTP-nya seperti memegang bukti bahwa ia masih manusia. Ia menemukan kardus berisi piala-piala badminton anak dari rumah di Gang Melati. Benda-benda ini adalah serpihan hidup yang ia jadikan baris di buku agenda. Untuk pertama kalinya ia melihatnya sebagai milik orang, bukan sebagai lampiran.
Lalu, di rak paling belakang, terselip di antara dua kardus yang labelnya sudah pudar, ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Sebuah map berisi berkas, bukan barang. Gudang sitaan menyimpan barang, bukan berkas; berkas perkara ada di ruang arsip panitera, bukan di sini. Map itu nyasar, atau disembunyikan, atau ditinggalkan oleh seseorang yang tidak ingin ia ada di ruang arsip resmi. Kuncoro menariknya keluar dengan hati-hati. Sampulnya berdebu tebal. Di pojoknya, dengan tinta yang sudah memudar, tertulis nomor perkara dan satu nama yang membuat napasnya tertahan.
Ia kenal nama itu. Bukan dari kawasan Kebon Sirih. Dari belasan tahun lalu. Dari eksekusi pertama dalam kariernya yang berakhir dengan seorang tertagih gantung diri di rumah yang ia kosongkan, peristiwa yang membuatnya berhenti merasa dan mulai membaca mantra. Nama itu ada di sini, di sebuah map yang nyasar di gudang barang sitaan, bertahun-tahun setelah peristiwa yang ia kira sudah ia kubur.
Kuncoro berdiri lama di lorong rak itu, map berdebu di tangannya, lampu neon berkedip di atas kepalanya. Pak Warno mendengkur pelan di kursinya, radio transistor mengalunkan lagu lama. Di dadanya, pintu yang selama bertahun-tahun ia tutup dengan klik yang ia kenal, kini terbuka selebar yang tidak pernah ia izinkan, dan dari baliknya keluar bukan kenangan melainkan pertanyaan. Berapa kali tangannya yang bersih telah mengetuk pintu yang dipilih oleh tangan lain? Ia tidak tahu. Tapi untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, ia ingin tahu. Dan keinginan untuk tahu itu, ia menyadarinya dengan rasa takut yang dingin, jauh lebih berbahaya daripada mantra apa pun yang pernah ia baca.