Berikut isi Bab 47: Sidang Perlawanan (881 kata), tersimpan di:
C:\Users\user35\AppData\Local\Temp\59\claude\d--Users-user35-novel-aksara-backup\7ad0039b-2ef9-4ef3-beea-375b6ddb376b\scratchpad\bab47.md
---
Ruang sidang itu dulu miliknya. Bukan secara hukum, tentu, tapi dalam pengertian yang lebih diam-diam: dua puluh tahun Kuncoro Wignyo keluar-masuk lewat pintu samping yang sama, meletakkan berita acara di meja panitera yang sama, mengangguk pada penjaga yang sama. Sekarang ia duduk di bangku pengunjung, di antara orang-orang yang datang untuk menonton nasib orang lain diputuskan, dengan kartu juru sitanya tertahan di laci Darsana dan bajunya adalah kemeja biasa, bukan seragam.
Sumirah duduk di kursi terdepan pihak pelawan, ditopang Bagas di satu sisi dan tongkat kayu di sisi lain. Wajahnya masih pucat sisa opname, tapi matanya awas, mengikuti setiap kata yang diucapkan di depan majelis seolah kata-kata itu bisa dipegang seperti onderdil yang harus dipasang persis pada tempatnya.
Mahdi berdiri saat namanya dipanggil, map biru berisi salinan-salinan di tangannya—bukan cokelat, Kuncoro sempat berpikir, warna itu saja sudah mengingatkan pada apa yang hilang. Advokat itu membuka dengan tenang, membacakan dasar perlawanan: relaas panggilan yang tak pernah sampai, tanda tangan Sumirah yang berbeda dari KTP, keterkaitan koperasi Sinar Mekar dan notaris yang sama muncul di empat belas berkas lain.
"Yang Mulia," kata Mahdi, "klien kami tidak pernah menerima panggilan sidang gugatan perdata yang berujung pada putusan verstek ini. Dan tanda tangan pada surat kuasa yang diajukan pihak lawan, bila dibandingkan dengan KTP klien kami, menunjukkan perbedaan yang kasat mata."
Ketua majelis adalah Hakim Prasetyo. Kuncoro sudah tahu itu sejak nama itu muncul di jadwal sidang, tapi melihatnya langsung—duduk di kursi tertinggi, mengenakan toga yang sama yang pernah menandatangani empat belas putusan yang kini ia dan Sulastri petakan di dinding kamar kos—rasanya seperti melihat orang yang wajahnya dikenal dari foto lama, berubah lebih tua, lebih lelah, tapi tetap orang yang sama.
Prasetyo tidak langsung menjawab. Ia membolak-balik berkas di depannya, lalu menoleh ke kuasa hukum pihak lawan—seorang pengacara muda berjas abu-abu yang selama ini Kuncoro belum pernah lihat wajahnya di ruang sidang mana pun, tapi caranya duduk, caranya menaruh map di meja, terlalu rapi untuk seseorang yang baru menangani perkara kecil semacam ini.
"Keberatan, Yang Mulia," kata pengacara itu begitu Mahdi selesai. "Seluruh dokumen yang diajukan Saudara Mahdi adalah salinan. Bukan asli. Sesuai hukum acara perdata, bukti surat yang diajukan di persidangan harus berupa dokumen asli atau salinan yang telah dicocokkan dengan aslinya di hadapan majelis. Pemohon tidak bisa menunjukkan yang mana."
"Berkas induk perkara ini hilang dari arsip pengadilan, Yang Mulia," Mahdi menjawab, suaranya masih tenang meski Kuncoro bisa melihat rahangnya mengeras. "Itu sendiri adalah kejanggalan yang semestinya diselidiki, bukan dijadikan alasan menolak bukti."
"Hilangnya berkas adalah persoalan administrasi kearsipan, bukan hukum acara," sela pengacara muda itu cepat. "Tidak ada dasar hukum yang mewajibkan majelis menerima fotokopi sebagai bukti sah tanpa pencocokan."
Kuncoro menatap Prasetyo, mencari sesuatu di wajah itu—keraguan, ketidaknyamanan, apa saja. Yang ia dapati hanya kelelahan seorang pejabat yang sudah membaca ribuan berkas serupa dan tak lagi membedakan satu dari lainnya. Prasetyo mengetuk pena di meja, dua kali, lalu bicara datar.
"Majelis akan mempertimbangkan keberatan tersebut. Untuk sementara, bukti-bukti fotokopi yang diajukan pemohon dinyatakan belum memenuhi syarat formil sebagai alat bukti sempurna, sepanjang tidak dapat ditunjukkan aslinya atau dicocokkan sesuai ketentuan."
Ruangan diam sebentar sebelum bergerak lagi—panitera mencatat, pengacara muda tersenyum tipis pada berkasnya sendiri, dan di kursi depan Sumirah menoleh pada Bagas, tidak sepenuhnya paham istilah-istilah itu tapi paham nadanya: kalah.
"Itu artinya apa," bisik Bagas, terlalu keras untuk ruang sidang, hingga penjaga di pintu melirik.
"Itu artinya," Mahdi menjawab pelan sambil duduk, "kertas yang kita punya dianggap tidak cukup, dan kertas yang cukup sudah tidak ada."
Kuncoro merasakan sesuatu yang dingin turun dari tengkuk ke perutnya. Ia sudah dua puluh tahun berada di sisi lain meja itu, sisi yang menjalankan putusan, dan baru sekarang ia memahami betapa sederhananya cara sebuah kebenaran dibuat tak berlaku: bukan dengan membantahnya, tapi dengan menuntut bentuknya yang sempurna—bentuk yang justru sudah dirampas lebih dulu oleh pihak yang sama yang kini menuntutnya.
Ia melihat ke arah kursi hakim sekali lagi. Prasetyo sedang menandatangani sesuatu, kepalanya tunduk, tak menatap ke arah bangku pemohon sama sekali—seolah menghindari mata Sumirah bisa membuatnya kehilangan sesuatu yang selama ini ia jaga rapi dalam dirinya. Kuncoro mencatat itu diam-diam, seperti dulu ia mencatat nomor perkara yang tak cocok, tanpa tahu ke mana catatan itu akan membawanya.
Sidang ditunda dua minggu, menunggu tanggapan tertulis. Di luar ruang sidang, di bawah pohon yang daunnya sudah menguning oleh debu jalan raya, Mahdi menyalakan rokok yang jarang ia hisap dan berkata, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Kuncoro, "Mereka tidak perlu membuktikan berkas itu asli. Mereka cukup memastikan yang asli tidak pernah ada."
Kuncoro tidak menjawab. Ia menatap map biru di tangan Mahdi, membayangkan map cokelat yang dulu selalu ia bawa, penuh pita merah-putih dan wewenang yang kini dilucuti dari namanya, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya yang panjang ia mengerti: sistem yang selama ini ia layani dengan patuh bukan sekadar lamban atau cacat di sana-sini. Sistem itu punya pintu belakang yang dijaga rapi, dan pintu depan yang dibuka lebar-lebar hanya untuk orang yang tahu kata sandinya.
Sumirah dituntun Bagas menuruni tangga pengadilan, pelan-pelan, seperti dulu ia menaikinya dengan harapan yang sama pelannya kini menyusut. Kuncoro berdiri agak lama di anak tangga teratas, menatap gedung yang dulu ia sebut rumah keduanya, sebelum akhirnya turun mengikuti mereka, tangannya kosong, tanpa map, tanpa kartu, tanpa apa pun selain sesuatu yang mulai terasa seperti keharusan untuk tidak berhenti.