Bau kertas hangus masih menggantung di dapur ketika Kuncoro bangun, meski api sudah lama padam semalam. Ia berdiri lama di ambang pintu, memandangi tong sampah logam di sudut yang biasa dipakai Tuti membakar daun kering dari halaman belakang. Tutup tong itu miring, tidak tertutup rapat seperti biasa. Ia tidak ingat menutupnya sembarangan.
Semalam ia telah membakar semuanya, atau begitu ia kira. Salinan berita acara, fotokopi relaas yang tanda tangannya berbeda dari KTP Sumirah, catatan tangan yang ia buat sendiri tentang empat belas eksekusi lama—semua ia jejalkan ke tong itu satu per satu, menyalakan korek dengan tangan gemetar, membiarkan api melahap kertas yang sudah dua bulan ia kumpulkan diam-diam. Waktu itu rasanya seperti satu-satunya cara untuk berhenti merasa. Sumirah kolaps, Bagas menudingnya dengan mata yang tak bisa ia lupakan—dulu Bapak yang membawa pita merah-putih itu—dan Kuncoro pulang dengan sesuatu di dadanya yang lebih berat daripada rasa bersalah biasa. Ia ingin semuanya lenyap. Bukti, jejak, bahkan niatnya sendiri untuk melawan.
Ia jongkok di depan tong, mengaduk abu dengan ujung sapu lidi. Yang tersisa hanya serpihan hitam rapuh yang hancur begitu disentuh, dan di antaranya, aneh, tidak ada bau minyak tanah seperti yang ia tuang semalam. Ia mengingat-ingat: apinya cepat padam. Ia kira karena angin malam. Tapi sekarang, melihat sisa abu yang terlalu sedikit untuk setumpuk kertas setebal itu, ada yang mengganjal.
Ia masuk ke dapur. Tuti sedang menuang air panas ke dalam teko, punggungnya menghadap Kuncoro, gerakannya lebih hati-hati dari biasa, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu di balik kesibukan.
"Kau bangun subuh sekali," kata Kuncoro.
"Kau juga," jawab Tuti tanpa menoleh.
Ia menaruh cangkir di meja, lalu duduk di kursi seberang Kuncoro seperti biasa mereka sarapan. Tapi tangannya tidak diam. Ia meremas ujung taplak meja, kebiasaan lama yang selalu muncul kalau ia menahan sesuatu.
"Semalam," kata Kuncoro pelan, "aku membakar semuanya."
"Aku tahu." Tuti masih tidak menatapnya. "Aku dengar dari kamar. Bunyi korek berkali-kali, lalu bau asap."
"Dan kau tidak keluar."
"Aku keluar." Baru sekarang Tuti mengangkat wajah. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau menahan sesuatu yang lain. "Tapi tidak untuk menghentikanmu."
Kuncoro menunggu. Ada jeda panjang, dan dalam jeda itu ia mendengar detak jam dinding yang biasanya tak pernah ia sadari.
Tuti bangkit, berjalan ke lemari pakaian di sudut dapur—tempat mereka menyimpan taplak cadangan dan kain lap—dan mengeluarkan sebuah kantong plastik hitam yang diikat rapat. Ia menaruhnya di meja, di antara cangkir teh yang mengepul.
"Aku mengambil sebagian sebelum apinya membesar," katanya. "Tidak semua. Beberapa sudah hangus di pinggirnya, mungkin tidak semua bisa dibaca. Tapi aku ambil yang masih bisa kupegang tanpa kepanasan."
Kuncoro membuka kantong itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa asing, seperti bukan tangannya sendiri. Di dalamnya ada lembaran-lembaran yang pinggirnya menghitam dan menggulung, beberapa berlubang di tengah, tapi tulisan di sebagian besar masih bisa dikenali. Fotokopi relaas panggilan dengan tanggal yang jatuh persis saat Sumirah dirawat. Catatan tangannya sendiri tentang koperasi Sinar Mekar dan nama Gunawan. Satu lembar yang menyebut Notaris Ratna Wulandari, agak gosong di sudut kanan atas tapi nomor akta masih terbaca jelas.
"Kenapa," kata Kuncoro, suaranya tercekat, "kenapa kau tidak bilang semalam?"
"Karena semalam kau bukan orang yang bisa diajak bicara." Tuti duduk kembali, kali ini menatapnya lurus. "Kau pulang seperti orang yang sudah menyerah pada sesuatu. Aku takut kalau aku bilang aku menyelamatkan sebagian, kau akan memaksaku membakarnya juga. Jadi aku diam. Aku simpan dulu."
Kuncoro memegangi salah satu lembar itu lama-lama, ibu jarinya menelusuri pinggiran yang rapuh, hati-hati seperti memegang sesuatu yang bisa hancur oleh napas sendiri.
"Aku pikir," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Tuti, "kalau semua ini hilang, aku bisa berhenti memikirkannya. Kembali jadi orang yang cuma menjalankan tugas. Tidak perlu tahu apa-apa lagi."
"Tapi kau sudah tahu." Tuti meletakkan tangannya di atas tangan Kuncoro yang masih memegang kertas itu. "Dan aku sudah tahu juga, Mas. Sejak amplop itu masuk rumah kita, sejak kau tidak bisa tidur, sejak kau menyebut nama Sumirah dalam mimpi. Aku dulu takut. Aku minta kau berhenti karena aku takut kehilangan kau, bukan karena aku pikir kau salah."
Kuncoro menoleh. Ini pertama kalinya dalam berminggu-minggu Tuti bicara begini, tanpa nada memohon atau cemas yang biasa menyelimuti setiap kalimatnya belakangan.
"Sekarang?" tanyanya.
"Sekarang aku masih takut." Tuti mengangkat bahu, kecil, hampir seperti permintaan maaf. "Tapi aku sudah bosan cuma takut. Kalau kau memang mau lanjut, aku tidak mau lagi jadi orang yang menariknya dari belakang. Simpan yang ini di tempat lain. Bukan di rumah ini saja."
Kuncoro menatap kantong plastik itu, lalu menatap istrinya. Ada sesuatu yang longgar di dadanya, bukan lega sepenuhnya—masih ada Sumirah yang terbaring lemah di rumah sakit, masih ada Sulastri yang entah sedang apa di kosnya sekarang, masih ada berkas induk yang raib dari arsip—tapi untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa berdiri di tanah yang tidak seluruhnya runtuh.
"Terima kasih," katanya, singkat, karena ia tahu kata itu tidak cukup, dan Tuti pun tampaknya tahu itu, sebab ia hanya mengangguk, menuang lagi teh yang belum habis, seolah pagi itu adalah pagi biasa, meski keduanya tahu sesuatu sudah bergeser dan tak akan kembali seperti semula.