Telepon itu berdering pukul sepuluh lewat, saat Kuncoro sedang menatap tumpukan salinan di meja makan tanpa benar-benar membacanya. Suara Bagas di ujung sana pecah, tercekik, tak lagi menyerupai suara montir muda yang biasa menahan diri. "Ibu dibawa ke rumah sakit. Dari tadi sesak, terus jatuh di depan bengkel." Lalu sambungan itu putus sebelum Kuncoro sempat menjawab, seolah menelepon saja sudah lebih dari yang sanggup ditanggung Bagas.
Tuti menatapnya dari ambang dapur, tangan masih memegang gelas yang belum sempat diletakkan. Kuncoro tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya mengambil kunci motor dan jaket, dan istrinya tidak menahannya, hanya berkata pelan, "Hati-hati," dengan nada yang sudah lama tidak seperti nada seorang istri yang tenang.
Rumah sakit daerah itu berbau karbol dan keringat orang menunggu. Kuncoro menemukan Bagas di lorong unit gawat darurat, berdiri bersandar tembok, tangannya masih berlumur oli yang mengering. Di balik pintu, Sumirah terbaring dengan selang di hidung, dadanya naik-turun terlalu cepat. Perempuan yang dulu menunjukkan buku tabungan dengan tangan bergetar karena marah kini tampak begitu kecil di atas ranjang beroda.
"Tekanan darahnya naik tinggi," kata seorang perawat yang lewat, tanpa ditanya. "Kelelahan, mungkin ada beban pikiran. Kami tahan dulu di sini."
Bagas menoleh ketika mendengar langkah Kuncoro. Matanya merah, tetapi bukan oleh tangis. Oleh sesuatu yang lebih kering dan lebih tajam. "Ngapain Bapak ke sini?"
"Aku dengar—"
"Bapak dengar." Bagas menirukan, dan tawa yang keluar dari mulutnya tidak mengandung tawa sama sekali. "Bapak tahu apa yang bikin Ibu jatuh? Tadi sore ada orang datang lagi. Bawa surat dari koperasi. Katanya kalau dalam seminggu enggak dilunasi, rumah langsung dikosongkan. Ibu baca surat itu sambil berdiri, terus enggak sadar lagi."
Kuncoro tidak menjawab. Ia merasa lantai lorong itu miring sedikit.
"Bapak tahu siapa yang pertama datang ke rumah kami bawa pita merah-putih itu?" Suara Bagas turun, justru lebih menakutkan ketika pelan. "Bapak. Dua puluh tahun jadi juru sita, Bapak yang paling rapi, paling sopan, paling enggak pernah salah. Bapak yang ngukur pintu bengkel pakai meteran sambil bilang ini cuma prosedur. Sekarang Bapak datang ke rumah sakit, mau apa? Mau minta maaf biar Bapak bisa tidur?"
"Bagas—"
"Jangan panggil nama saya pakai suara kayak gitu." Bagas mendorong dirinya lepas dari tembok. "Ibu enggak butuh Bapak sekarang. Yang Ibu butuh cuma rumahnya balik. Bisa Bapak balikin? Enggak. Jadi pulang, Pak. Pulang."
Kuncoro berdiri di lorong itu beberapa saat setelah Bagas masuk ke ruang perawatan dan menutup tirai. Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang menandatangani berita acara, tangan yang mengukur pintu, tangan yang menerima map cokelat entah berapa ratus kali. Untuk pertama kalinya sejak lama, tangan itu terasa asing, seperti bukan miliknya.
Ia pulang menjelang tengah malam. Rumah gelap; Tuti sudah tidur atau berpura-pura tidur. Di meja makan, salinan-salinan itu masih menganga: relaas yang tak pernah sampai, tanda tangan Sumirah yang dipalsu, empat belas nomor perkara yang berbaris seperti nisan. Bukti-bukti yang selama berminggu-minggu ini ia kumpulkan dengan tangan gemetar, dengan bohong kecil kepada Darsana, dengan bahaya yang merambat ke rumahnya sendiri.
Dan untuk apa. Sumirah tetap di rumah sakit. Bengkel tetap akan dikosongkan. Ia sendiri diskors, kartu juru sitanya ditahan, namanya sudah dinodai dengan tuduhan suap yang bahkan tidak ia lakukan. Setiap langkah maju hanya membuat orang yang ingin ia tolong makin remuk. Barangkali Bagas benar. Barangkali satu-satunya kebaikan yang tersisa untuk Kuncoro lakukan adalah berhenti.
Ia menarik kursi, duduk, dan menatap tumpukan itu lama sekali. Lalu ia mengambil beberapa lembar—salinan surat kuasa palsu, potongan daftar sasaran, catatan tangannya sendiri tentang koperasi Sinar Mekar—dan membawanya ke wastafel dapur. Ia menyalakan kompor. Api biru menyala, mendesis kecil di keheningan.
Tangannya menghampiri nyala itu dengan lembaran pertama. Kertas menghitam di ujungnya, melengkung, lalu tersulut. Nyala menjalar cepat, memakan tanda tangan yang dipalsu, memakan nomor perkara, memakan bulan-bulan kerja. Panas menyengat jarinya dan ia melepaskan lembar itu ke bak cuci, menatapnya menggeliat menjadi abu. Bau kertas terbakar memenuhi dapur, tajam dan manis dan memuakkan.
Ia mengangkat lembar kedua. Di kepalanya terdengar suara Sulastri: *kita lapor sekarang juga, Pak*. Suara Mahdi: *lawan punya tangan di dalam*. Suara Bagas: *bisa Bapak balikin?* Dan di antara semua itu, suara Sumirah yang bahkan tak sempat ia dengar malam ini, hanya deru napas di balik selang.
Lembar kedua bergetar di tangannya di atas api. Ujungnya mulai kecokelatan. Kuncoro memejamkan mata. Jika ia membakar semuanya, tak akan ada lagi yang bisa menyeretnya. Tak ada lagi pemeriksaan, tak ada lagi amplop yang dikirim ke rumah, tak ada lagi Tuti yang tidur memunggunginya karena takut. Ia bisa kembali menjadi juru sita yang tidak merasa. Ia sudah ahli dalam hal itu selama dua puluh tahun.
Api mulai menjilat sudut lembar kedua. Dan justru pada detik itu, ketika kertas sudah mulai menyala, sesuatu di dadanya menolak. Bukan keberanian—ia terlalu lelah untuk berani. Melainkan rasa jijik. Jijik pada betapa mudahnya. Jijik karena tahu, kalau ia meniup api ini sampai habis, ia akan tidur nyenyak malam ini, dan tidur nyenyak itulah kejahatannya yang sesungguhnya. Sama seperti dua puluh tahun ia tidur nyenyak setelah mengukur pintu-pintu orang.
Ia menepiskan lembar kedua ke lantai dan menginjaknya, mematikan nyala dengan tumit. Napasnya memburu. Ia mematikan kompor. Asap tipis mengambang di bawah lampu dapur. Di bak cuci, abu lembar pertama sudah tak bisa dikembalikan—hilang, sungguh-sungguh hilang. Ia menatapnya dengan perih yang baru, perih yang lebih tajam daripada yang tadi mendorongnya membakar.
Kuncoro mengumpulkan lembar-lembar yang tersisa dengan tangan yang masih gemetar, menekannya ke dada seperti melindungi sesuatu yang hampir ia bunuh sendiri. Ia duduk kembali di lantai dapur, bersandar ke lemari, dan di sanalah ia tinggal sampai subuh—tidak menyerah, tidak juga menang, hanya bertahan di malam terpanjang yang pernah ia lewati, menjaga abu agar tidak menjadi seluruh dirinya.