Kuncoro pulang tanpa jaket dinas. Sore itu ia hanya mengenakan kemeja biasa, dan tanpa kartu pengenal terselip di saku dadanya, ia merasa seperti orang asing yang menumpang tubuhnya sendiri berjalan pulang. Dua puluh tahun ia terbiasa disapa "Pak Juru Sita" oleh tetangga yang lewat di gang; sore itu tak ada yang menyapa, atau mungkin ia saja yang tak lagi mendongak.
Tuti sudah menunggu di depan pintu, bukan dengan wajah cemas seperti biasa saat suaminya lembur, melainkan dengan amplop putih di tangan yang dipegangnya seperti benda yang bisa meledak.
"Ini datang siang tadi," katanya, "dianter orang. Bukan pak pos."
Kuncoro membuka amplop itu di ruang tamu, masih berdiri, sepatu belum dilepas. Kop suratnya Koperasi Simpan Pinjam Sinar Mekar. Ia sudah menduga sebelum membaca isinya, dan dugaan itu benar: Surat Peringatan Pertama, perihal tunggakan angsuran atas nama Kuncoro Wignyo, dengan jaminan sertifikat hak milik nomor yang, ketika ia baca dua kali untuk memastikan matanya tidak menipu, adalah nomor sertifikat rumahnya sendiri.
"Ini keliru," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Tuti. "Kita nggak pernah pinjam di sana."
"Ada," kata Tuti pelan. "Dulu. Waktu atap bocor, tahun berapa itu—sebelum Bagus lulus SMA anak Bu Marni. Kau pinjam lima ratus, katanya lewat koperasi kantor."
Kuncoro terdiam. Ingatan itu memang ada, tapi sudah lama tertimbun: pinjaman kecil, cair cepat lewat rekan sekantor yang bilang koperasi itu ramah pegawai pengadilan, lunas dalam delapan bulan, dan ia bahkan masih menyimpan buku angsurannya di kotak sepatu bersama arsip-arsip lain yang belakangan ia bongkar. Delapan bulan, lunas, ada tanda tangan basah dari kasir koperasi di halaman terakhir. Ia ingat itu karena ia orang yang mencatat segala sesuatu—kebiasaan seorang juru sita, mencatat agar tidak bisa disalahkan.
"Lunas," katanya, hampir seperti perintah, seolah kata itu bisa menghapus kertas di tangannya. "Itu lunas delapan tahun lalu."
Ia mencari kotak sepatu itu di lemari, membongkarnya di lantai seperti mencari nyawa sendiri, dan menemukan buku angsuran kecil bersampul biru pudar. Halaman terakhir: lunas, cap basah, tanda tangan kasir bernama yang sudah tak ia ingat wajahnya. Ia menaruh buku itu di sebelah surat peringatan, membandingkan nomor rekening—sama. Membandingkan nomor jaminan—sama. Tapi surat itu menyebut tunggakan sepuluh bulan terakhir, dengan denda yang membengkak, dan ancaman bahwa bila dalam empat belas hari tidak diselesaikan, koperasi akan menempuh upaya hukum lewat pengadilan untuk mengeksekusi jaminan.
Empat belas hari. Angka itu ia kenal terlalu baik—jangka yang sama yang biasa tercantum di berita acara yang ia susun sendiri untuk orang lain.
Ia menelepon Sulastri malam itu, dari telepon rumah karena ponselnya sudah dua minggu ini terasa seperti barang yang diawasi. Suara Sulastri di ujung sana pelan, seperti orang berbicara dari sudut ruangan yang tak ingin didengar siapa pun.
"Pak, saya masih pegang foto papan nasabah macet yang Bapak ambil waktu di Sinar Mekar," katanya. "Saya cek lagi malam ini."
Sepuluh menit kemudian ia menelepon balik. "Nama Bapak nggak ada di foto lama. Ini... baru. Ditambahkan."
"Kapan?"
"Nggak bisa saya pastikan persis, Pak. Tapi papan itu diperbarui tiap bulan. Kalau dulu nggak ada, berarti dimasukkan belakangan ini." Ia berhenti sebentar. "Setelah Bapak diperiksa."
Kuncoro menutup telepon dan duduk lama di kursi ruang tamu, buku angsuran biru di pangkuannya, surat peringatan di meja, dan Tuti berdiri di ambang dapur menatapnya tanpa bicara. Ia mengenali mekanismenya karena ia sendiri yang pernah melihatnya bekerja pada orang lain: utang yang sudah lunas dibuat seolah masih berjalan, buku setoran yang sah dianggap tak berlaku tanpa alasan yang jelas, lalu jaminan dieksekusi sebelum korban sempat membuktikan sebaliknya. Persis yang terjadi pada Sumirah. Persis pola yang ia dan Sulastri gambarkan dengan garis merah di kamar kos, menghubungkan koperasi, notaris, hakim, panitera.
Bedanya kali ini garis merah itu berujung pada rumahnya sendiri.
"Kalau kau berhenti," kata Tuti akhirnya, suaranya datar karena sudah terlalu lelah untuk gemetar, "apa ini berhenti juga?"
Kuncoro tidak menjawab segera. Ia tahu jawabannya, dan jawaban itu tak menenangkan siapa pun: berhenti tidak akan membuat suratnya batal, karena surat itu bukan tentang uang lima ratus ribu yang sudah lunas delapan tahun lalu. Surat itu tentang memberitahunya—dengan cara yang hanya bisa dipahami seseorang yang dua puluh tahun menempelkan pita merah-putih di pintu orang lain—bahwa pintunya sendiri kini bisa dijangkau dengan cara yang sama.
Ia meraih pena, membalik buku angsuran ke halaman lunas, lalu menaruh telunjuknya di atas tanda tangan kasir yang sudah delapan tahun tak berarti apa-apa bagi siapa pun kecuali dirinya. Untuk pertama kalinya sejak menjadi juru sita, ia merasakan apa yang selalu ia lihat di wajah orang-orang yang pintunya ia datangi: bukan kemarahan, melainkan ketidakpercayaan bahwa kertas bisa dibuat berbohong sedemikian rapi, dan bahwa yang berbohong itu tahu persis alamat rumahmu.
Malam itu ia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Ia duduk dalam gelap dengan buku angsuran biru di tangan, mendengar Tuti mengunci pintu depan dua kali, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun bertugas, ia takut pada sesuatu yang bisa datang ke rumahnya sendiri—bukan sebagai juru sita, melainkan sebagai orang yang menunggu diketuk.