Surat itu diserahkan pukul sembilan pagi, sebelum Kuncoro sempat melepas jaketnya.
Petugas tata usaha—bukan orang yang biasa mengantar berkas ke mejanya, melainkan pegawai baru yang bahkan salah menyebut namanya—meletakkan map tipis di atas meja kerja Kuncoro Wignyo, lalu mundur dua langkah, seolah menjaga jarak dari sesuatu yang bisa menular.
"Bapak diminta menghadap Pak Darsana, jam sepuluh," katanya, tanpa menatap. "Diminta membawa kartu identitas juru sita dan kunci loker arsip."
Kalimat itu saja sudah cukup memberi tahu isi map tersebut, sebelum Kuncoro membukanya.
SURAT KEPUTUSAN PEMBEBASTUGASAN SEMENTARA. Ia membaca judulnya dua kali, seakan huruf-huruf itu bisa berubah kalau ditatap cukup lama. Di bawahnya, alasan yang ditulis rapi oleh seseorang yang pandai memilih kata: *diduga melakukan penundaan eksekusi tanpa dasar yang sah, serta diduga menerima gratifikasi dalam pelaksanaan tugas*. Tak ada nama Sumirah di sana. Tak ada nomor perkara yang selama tiga puluh hari terakhir memenuhi kepalanya. Hanya kalimat administratif yang menyulap dua puluh tahun kerjanya menjadi satu paragraf kecurigaan.
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku dalam jaket, dan duduk sebentar di kursinya sendiri—kursi yang mendadak terasa seperti dipinjam.
***
Di ruang Darsana, prosesnya berlangsung cepat, hampir tergesa, seperti sesuatu yang ingin lekas dituntaskan sebelum berubah pikiran. Darsana sendiri tidak banyak bicara. Ia menandatangani berita acara serah terima dengan pena yang sama yang biasa dipakainya menandatangani berkas eksekusi, lalu mendorong sehelai formulir ke arah Kuncoro.
"Tanda tangan di sini. Dan di sini," katanya, menunjuk dua kolom kosong. "Kartu, kunci, stempel dinas."
Kuncoro merogoh dompetnya. Kartu identitas juru sita—foto dirinya sepuluh tahun lebih muda, garis wajah yang belum seberat sekarang—ia keluarkan dan letakkan di atas meja. Tangannya tidak gemetar, dan justru itu yang mengherankannya sendiri: bahwa tubuhnya bisa sedemikian tenang sementara sesuatu di dalam dadanya runtuh perlahan, seperti dinding yang keropos lama sebelum akhirnya ambruk.
Darsana menariknya masuk laci, tanpa melihatnya lagi. Kunci loker arsip menyusul. Stempel kayu bergagang licin karena dua puluh tahun digenggam—itu pun ia serahkan.
"Ini bukan tuduhan final," kata Darsana, nadanya datar, hampir seperti pengumuman cuaca. "Ini hanya menjaga proses agar bersih. Kalau memang tidak terbukti, semua bisa dikembalikan."
Kuncoro tidak menjawab. Ia tahu betul makna kata *bersih* dalam mulut Darsana, karena kata itu pula yang dulu dipakainya untuk menekan eksekusi Sumirah diselesaikan minggu itu juga. Kata yang sama, dipakai berkali-kali, selalu untuk maksud yang berlawanan dengan artinya.
"Boleh saya tahu siapa yang menangani perkara Jalan Pasar Lama sekarang?" tanya Kuncoro akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia kehendaki.
"Itu bukan urusan Saudara lagi," jawab Darsana. Lalu, seolah baru teringat sopan-santun, ia menambahkan, "Nanti akan ditunjuk juru sita lain."
Nanti akan ditunjuk juru sita lain. Kalimat itu mengendap di telinga Kuncoro sepanjang jalan keluar dari ruangan itu.
***
Ia mencoba, dengan kebiasaan yang belum sempat dicabut dari tubuhnya, berbelok ke ruang arsip lantai bawah seperti setiap pagi selama bertahun-tahun. Petugas jaga—orang yang sama yang dulu berkilah berkas Sumirah 'sedang dipinjam'—kali ini berdiri lebih tegak dari biasanya, menghalangi pintu dengan tubuhnya sendiri.
"Maaf, Pak Kuncoro. Ada instruksi, sementara ini Bapak tidak boleh masuk."
"Saya cuma mau ambil map yang kemarin saya taruh di rak—"
"Sudah ada instruksinya, Pak." Petugas itu tidak berani menatap matanya. "Saya cuma jalankan perintah."
Kuncoro berdiri sebentar di depan pintu besi itu, pintu yang selama dua puluh tahun terbuka baginya tanpa perlu ia ketuk. Ia bisa memaksa, bisa berdebat, tetapi ia tahu di sakunya sudah tak ada lagi kartu yang bisa dipakai untuk melawan. Ia hanya warga biasa sekarang, berdiri di lorong pengadilan yang dulu ia hafal setiap retak lantainya.
Di koridor menuju pintu keluar, dua rekan sejawat berpapasan dengannya. Yang satu mengangguk canggung lalu mempercepat langkah; yang satu lagi berpura-pura sibuk membaca berkas di tangannya, seolah tak melihat. Tak ada yang bertanya kabar. Kabar buruk, ia tahu, menyebar lebih cepat daripada kebenaran, dan di gedung ini kebenaran selalu datang belakangan, kalau datang sama sekali.
***
Di mobil, sebelum menyalakan mesin, Kuncoro membuka dompetnya sekali lagi. Ada ruang kosong berbentuk kartu di sana, bekas gesekan plastik selama bertahun-tahun yang meninggalkan garis pudar di kulit dompet, seperti bayangan benda yang sudah lama pergi. Ia menatap ruang kosong itu lebih lama daripada seharusnya.
Tanpa kartu itu, ia tak bisa lagi membuka pintu arsip, tak bisa memeriksa berkas Sumirah, tak bisa memastikan siapa yang akan datang ke Jalan Pasar Lama menggantikannya membawa pita merah-putih. Semua alat yang selama ini membuatnya merasa berguna—map cokelat, stempel, kartu, wewenang untuk mengetuk pintu orang lain atas nama negara—satu per satu telah diambil, dan yang tersisa hanya seorang lelaki lima puluh tahun yang tahu terlalu banyak dan tak berdaya melakukan apa pun dengan pengetahuannya itu.
Ia teringat Sulastri, yang kini bertugas di pos jauh, tak lagi bisa dimintai bantuan seperti dulu. Ia teringat Sumirah, yang mungkin sedang menghitung hari yang tersisa tanpa tahu bahwa orang yang menunda eksekusinya kini sudah kehilangan kuasa untuk menunda apa pun.
Ketika akhirnya ia menyalakan mesin, tangannya sempat berhenti di kunci kontak. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia berangkat kerja—atau pulang dari yang seharusnya kerja—tanpa membawa satu pun benda yang biasa memberatkan sakunya. Kosong itu terasa lebih berat daripada map cokelat mana pun yang pernah ia panggul.