Ruang itu dulu dipakai untuk rapat koordinasi juru sita setiap Senin pagi. Kini mejanya disusun ulang berbentuk U, dan Kuncoro duduk di ujung yang terbuka, sendirian, menghadap tiga kursi yang terisi: Darsana di tengah, seorang pengawas internal dari Sekretariat Pengadilan Tinggi di kanannya, dan seorang perempuan muda dengan laptop di kiri, jarinya sudah bersiap di atas tuts sebelum siapa pun bicara.
"Kita mulai," kata Darsana, tanpa menaikkan pandangan dari map biru muda di depannya. "Ini pemeriksaan internal, bukan sidang disiplin. Belum. Tapi semua yang kau katakan akan dicatat dan bisa jadi dasar untuk itu."
Kuncoro mengangguk. Ia sudah dua puluh tahun duduk di sisi lain meja seperti ini—menjadi orang yang mencatat, yang mengonfirmasi, yang menyerahkan berita acara untuk ditandatangani orang lain. Kini posisinya terbalik, dan ia menyadari betapa asingnya rasanya menjadi pihak yang harus menjawab.
"Amplop yang ditemukan istri Saudara di rumah," Darsana membuka map, "berisi uang tunai tiga juta rupiah. Tanggal pengirimannya bertepatan dengan masa Saudara menunda berita acara eksekusi Sumirah. Jelaskan."
"Sudah saya jelaskan sejak awal, Pak. Amplop itu tidak saya minta, tidak saya sentuh isinya, dan saya laporkan ke istri saya untuk disimpan sebagai barang bukti, bukan dipakai."
"Disimpan," ulang Darsana, seolah kata itu punya bau busuk. "Kenapa tidak langsung diserahkan ke bagian pengawasan waktu itu?"
"Karena saya belum tahu dari siapa, Pak. Saya ingin melacak dulu."
"Melacak sendiri." Darsana menoleh ke pengawas di sampingnya, seperti mempersilakan orang itu menyaksikan sesuatu yang sudah ia duga. "Dua puluh tahun jadi juru sita, dan baru sekali ini Saudara merasa perlu 'melacak sendiri' sebelum melapor. Kenapa?"
Kuncoro diam sebentar, mencoba menata jawaban yang tak akan dipelintir. Tapi ia sudah belajar, dalam beberapa minggu terakhir, bahwa di ruangan ini tidak ada jawaban yang aman.
"Karena perkara ini berbeda, Pak. Ada kejanggalan pada relaas—"
"Kejanggalan," potong Darsana. "Menurut siapa? Menurut Saudara sendiri, yang tiba-tiba, setelah dua puluh tahun menjalankan tugas tanpa pernah mempertanyakan satu putusan pun, memutuskan bahwa satu perkara ini—kebetulan perkara yang keluarganya menolak dieksekusi—patut ditunda?"
"Saya menemukan bukti. Tanggal relaas tidak masuk akal, Pak. Sumirah dirawat di rumah sakit saat panggilan itu katanya diserahkan langsung kepadanya."
"Bukti," kata Darsana lagi, kali ini pelan, hampir sabar, seolah bicara pada anak yang keliru mengeja. "Kuncoro. Kau tahu apa yang justru mencurigakan bagi tim ini?" Ia membalik satu halaman, lalu satu lagi, seperti sedang mencari halaman yang paling menyakitkan untuk dibacakan. "Rekam jejakmu. Tidak ada cacat. Tidak ada penundaan. Tidak ada keberatan tercatat, tidak sekali pun, dalam dua puluh tahun. Lalu, di perkara inilah—hanya di perkara inilah—kau menunda, kau menyimpan salinan tanpa izin, kau menyimpan amplop tanpa melapor resmi, kau mendekati notaris dan koperasi yang sedang tidak jadi urusanmu. Kalau bukan karena sesuatu, kenapa baru sekarang?"
Kuncoro merasa sesuatu di dadanya menciut, bukan karena tuduhannya, tapi karena logikanya. Ia mengerti sekarang bagaimana caranya bekerja: kepatuhannya sendiri, yang selama ini ia jaga seperti aset, dibalik menjadi bukti bahwa penyimpangan sekecil apa pun pasti punya sebab tersembunyi. Semakin bersih catatannya dulu, semakin mencurigakan ia hari ini.
"Karena baru sekarang saya melihat sesuatu yang salah," katanya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Atau," kata Darsana, menyandarkan punggung, "karena baru sekarang ada yang menawarimu sesuatu untuk melihatnya."
Perempuan di laptop mengetik cepat. Kuncoro melihat jarinya bergerak dan membayangkan kalimat itu, kata demi kata, menetap di berkas resmi selamanya, lepas dari maksud aslinya.
"Itu tidak benar, Pak."
"Lalu jelaskan salinan berita acara dan relaas yang kaubuat tanpa izin atasan," lanjut pengawas dari Sekretariat, bicara untuk pertama kalinya. Suaranya datar, seperti membaca daftar belanja. "Pasal berapa yang mengizinkan juru sita menggandakan dokumen resmi untuk kepentingan pribadi?"
"Bukan kepentingan pribadi. Saya menyimpannya karena berkas induk hilang dari arsip, Pak."
"Hilang," kata Darsana, mendengus pelan, hampir seperti tersenyum. "Atau dipindahkan karena kau terus mengorek-ngorek tempat yang bukan wewenangmu."
Kuncoro menatap map biru muda itu, lalu map cokelat tipis miliknya sendiri yang ia bawa masuk tadi—kini tergeletak di meja, tak seorang pun memintanya dibuka, seolah isinya sudah kalah sebelum sempat dibaca. Ia pernah membayangkan bertahun-tahun yang lalu bahwa jika suatu hari ia dipanggil untuk diperiksa, itu karena kesalahan prosedur yang sepele: salah alamat, salah tanggal, lupa menempelkan pita. Ia tak pernah membayangkan akan dituduh oleh kelalaiannya sendiri untuk tidak pernah bersalah.
"Saya bertanya sekali lagi," kata Darsana, meletakkan pena di atas map, gerakan kecil yang terasa seperti palu diketuk, "dan aku minta kau menjawab jujur, karena semua ini terekam. Apakah kau menerima sesuatu dari pihak mana pun terkait perkara Sumirah?"
"Tidak, Pak."
"Kalau begitu," kata Darsana, menutup map perlahan, "kita akan lanjutkan pemeriksaan ini pekan depan, dengan bahan tambahan. Sampai saat itu, aku sarankan kau menahan diri dari mengunjungi arsip, koperasi, notaris, atau siapa pun yang berkaitan dengan perkara ini." Ia menoleh ke pengawas, lalu ke notulis, seakan memastikan kalimat berikutnya tercatat persis seperti yang ia ucapkan. "Demi menjaga, katakanlah, reputasi Saudara yang selama ini bersih."
Kuncoro berjalan keluar ruangan dengan map cokelatnya sendiri, yang tak pernah dibuka siapa pun hari itu, terasa lebih berat di tangannya daripada saat ia membawanya masuk.