Kabar itu sampai ke Kuncoro bukan lewat surat resmi, melainkan lewat cara paling tua yang dikenal sebuah kantor: bisik-bisik yang berhenti begitu ia lewat. Pagi itu ia menaruh map cokelat di mejanya seperti biasa, menyalakan kipas angin tua yang berderit, dan menyadari bahwa dua orang juru sita di sudut ruangan mendadak sibuk membalik-balik berkas yang sejak tadi tak mereka baca. Salah satu dari mereka, Warsito, mengangguk terlalu cepat ketika Kuncoro menyapa. Anggukan orang yang tahu sesuatu dan tak ingin ketahuan tahu.
Ia tidak bertanya. Dua puluh tahun mengajarinya bahwa pertanyaan langsung hanya membuat orang mengunci mulut lebih rapat. Ia duduk, membuka berkas, dan menunggu. Kantor punya cara sendiri untuk memuntahkan rahasianya, dan Kuncoro sudah cukup lama menjadi bagian dari perut itu.
Menjelang tengah hari, Sulastri masuk dengan wajah yang salah. Bukan wajah muda yang biasa dibawanya, yang penuh sengat dan tanya. Ini wajah orang yang habis mendengar sesuatu dan tak tahu harus menaruhnya di mana. Ia menghampiri meja Kuncoro, menunduk, berpura-pura menyerahkan salinan.
"Pak," katanya, suaranya nyaris tak terdengar di bawah derit kipas. "Mereka bilang Bapak menerima uang. Dari Graha Cakrawala. Katanya ada amplop."
Kuncoro tidak mengangkat kepalanya. Jarinya berhenti di satu baris berita acara, menahan diri agar tidak bergetar. "Amplop yang mana," ia berkata, meski ia sudah tahu jawabannya sebelum kalimat itu selesai. Amplop yang dulu dikirim Jagur ke rumahnya. Amplop yang ditemukan Tuti dan membuat istrinya tak bisa tidur. Amplop yang ia simpan justru sebagai bukti — bahwa mereka mencoba menyuapnya.
"Amplop yang ketahuan sampai ke rumah Bapak," Sulastri berbisik. "Warsito cerita ke orang arsip. Katanya sudah ada yang lapor."
Ia menutup map cokelat pelan-pelan, seolah gerak cepat akan memecahkan sesuatu di dalam dirinya. Ironi itu terasa seperti besi dingin di rongga dadanya. Uang yang ia tolak, kini menjadi kalimat pertama dalam dakwaan atas namanya. Umpan yang tak ia telan, dipakai untuk memancingnya keluar dari perairan yang selama ini melindunginya: reputasi bersih dua puluh tahun.
"Bapak simpan amplopnya?" tanya Sulastri.
"Aku simpan." Kuncoro menatapnya. "Untuk membuktikan mereka menyuap. Sekarang mereka pakai fakta yang sama untuk membuktikan aku disuap. Benda yang sama, Sulastri. Beda cuma siapa yang bercerita lebih dulu."
Perempuan muda itu terdiam. Di matanya Kuncoro melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sejak mereka mulai: takut. Bukan untuk dirinya sendiri. Takut karena ia baru mengerti betapa licin lantai tempat mereka berpijak.
Panggilan datang setelah waktu salat zuhur, disampaikan oleh pesuruh yang tak berani menatap mata. Ruang panitera. Darsana menunggunya berdiri di depan jendela, punggung menghadap pintu, dua map putih tergeletak rapi di meja. Ia tak menyuruh Kuncoro duduk.
"Kau tahu kenapa aku panggil," kata Darsana, masih memunggunginya.
"Katakan sendiri, Pak."
Darsana berbalik. Wajahnya menyusun keprihatinan yang begitu sempurna hingga Kuncoro nyaris kagum. "Ada laporan disiplin, Kuncoro. Dugaan gratifikasi. Kau menerima sejumlah uang dari pihak yang berperkara dalam eksekusi Jalan Pasar Lama. Ada saksi yang melihat amplop itu diantar ke rumahmu." Ia mengetuk salah satu map dengan satu jari. "Aku sudah dua puluh tahun kenal kau. Aku tak percaya. Tapi laporan tetap laporan. Aku harus memprosesnya."
"Siapa yang melihat, Pak?"
"Itu bukan wewenangmu untuk tahu sekarang."
"Amplop itu memang diantar ke rumah saya." Kuncoro membuat suaranya rata, tanpa geram, karena ia tahu geram justru yang mereka tunggu. "Diantar orang bernama Jagur. Saya tidak membukanya untuk saya. Saya simpan sebagai bukti percobaan penyuapan. Kalau Bapak mau memproses laporan, proses juga itu."
Untuk sepersekian detik ada sesuatu yang bergeser di wajah Darsana — bukan kaget, melainkan perhitungan. Seolah ia sedang menakar seberapa banyak yang sudah diketahui Kuncoro dan seberapa cepat pintu harus ditutup. Lalu keprihatinan itu kembali terpasang.
"Justru itu masalahnya," kata Darsana lembut, dan kelembutan itu yang paling menusuk. "Kau menyimpan uang. Kau tidak melaporkannya ke atasan. Berapa lama, Kuncoro? Berminggu-minggu? Orang bersih melapor di hari yang sama. Orang yang menyimpan, menyimpan untuk suatu keperluan." Ia membiarkan kalimat itu menggantung. "Aku hanya menyampaikan bagaimana ini akan terbaca di sidang etik."
Di situlah Kuncoro merasakannya sepenuhnya. Jaring itu bukan hanya di luar. Jaring itu dirajut oleh tangan yang menepuk bahunya bertahun-tahun, oleh mulut yang menyebut namanya di daftar penghargaan. Setiap kebajikan yang ia kumpulkan — kehati-hatian, penolakan, kesabaran menyimpan bukti — dibalik satu per satu menjadi pisau yang menghadap ke dadanya sendiri. Ia datang membawa map cokelat berisi kejanggalan orang lain; kini map putih berisi namanya sendiri.
"Bapak sudah tahu ini akan diajukan," kata Kuncoro pelan. "Sebelum saya masuk ruangan ini, Bapak sudah tahu isinya."
Darsana tidak menjawab. Ia hanya mengangsurkan salah satu map. "Baca. Tanda tangani tanda terima. Kau punya hak menjawab dalam tujuh hari." Ia duduk, mengambil pena, seolah percakapan telah usai. "Saranku, Kuncoro — dan ini saran seorang kawan lama — selesaikan urusan Sumirah dulu. Bereskan eksekusinya. Orang yang taat tugas selalu lebih mudah dipercaya waktu membela diri."
Jadi itu harganya. Bukan uang. Ketaatan. Serahkan Sumirah, dan laporan ini bisa jadi kabut yang menguap; bertahan, dan kabut mengeras jadi jerat. Kuncoro mengambil map putih itu. Kertasnya dingin dan tipis, jauh lebih ringan dari beban yang dikandungnya.
Ia membacanya berdiri. Namanya tercetak di sana, di bawah kata dugaan, dieja dengan huruf yang sama seperti puluhan berita acara yang pernah ia tulis untuk orang lain. Ia menandatangani tanda terima dengan tangan yang, ia paksa, tidak gemetar.
Di luar ruangan, koridor terasa lebih panjang dari biasanya. Warsito lewat, mengangguk cepat lagi, lalu berlalu. Kuncoro berdiri sejenak di depan jendela koridor, memandang halaman pengadilan tempat mobil-mobil terparkir rapi di bawah matahari. Ia teringat pagi-pagi ketika ia keluar dari pintu itu membawa pita merah-putih, merasa dirinya adalah tangan yang bersih dari sebuah tata yang benar. Kini tangan itu memegang map yang menuduhnya, dan ia mengerti — untuk pertama kalinya dengan jelas — bahwa sang pemburu telah menjadi yang diburu, dan mereka mulai memburunya dengan senjatanya sendiri.