Kuncoro menghitung tiga puluh detik lagi sebelum ia berdiri dari kursinya sendiri dan berjalan ke meja Darmadi seolah-olah hendak meminjam stapler.
Ruang juru sita sore itu nyaris kosong. Dua rekan sudah pulang, satu lagi sedang di lapangan mengantar relaas ke kecamatan seberang kota, dan Darmadi—juru sita yang duduk tiga meja darinya, yang selama dua puluh tahun ini lebih sering ia anggap sebagai suara tawa yang lewat di lorong daripada rekan kerja sungguhan—sedang dipanggil ke ruang panitera oleh Darsana. Panggilan itu, kata resepsionis, "cuma sebentar, soal jadwal sidang." Tapi Kuncoro tahu betul berapa lama "sebentar" versi Darsana bisa berlangsung. Ia pernah mengalaminya sendiri, duduk di kursi seberang meja itu sambil digiring pelan-pelan menuju kalimat yang sebenarnya ingin didengar orang di baliknya.
Sejak saksi yang seharusnya bicara soal akta backdate menghilang tepat sebelum pertemuan, Kuncoro tidur dengan telinga yang seolah masih menyala. Ia mengingat-ingat lagi satu hal kecil yang sempat ia catat berbulan lalu, waktu ia dan Sulastri masih bisa duduk berdampingan tanpa harus berpura-pura tak saling kenal: dalam berkas-berkas verstek yang bermuara ke koperasi Sinar Mekar, ada tanda tangan juru sita yang bukan namanya sendiri, muncul berulang pada perkara-perkara yang semestinya bukan wilayahnya. Nama itu Darmadi.
Ia berhenti sebentar di depan meja itu, menoleh ke pintu. Lorong sepi. Dari kejauhan terdengar suara mesin fotokopi yang macet, seseorang menggerutu, lalu diam lagi.
Laci atas terkunci. Laci kedua tidak. Ia menariknya perlahan, berusaha membuat suara serodannya sepelan mungkin, seperti orang yang membuka pintu kamar anak yang sedang tidur.
Di dalamnya map-map biasa: surat tugas, salinan putusan lama, sebungkus permen jahe yang sudah setengah habis. Tapi di bagian belakang, terselip di antara dua ordner, ada satu tumpukan kertas yang bentuknya janggal—terlalu rapi, terlalu seragam, diikat karet gelang yang sudah agak mengeras karena lama tak disentuh dari luar.
Ia mengangkatnya sedikit, cukup untuk melihat lembar teratas.
Relaas panggilan. Formulir yang sama yang setiap hari ia isi sendiri: kop pengadilan, nomor perkara yang masih kosong, kolom nama tergugat yang masih kosong, kolom alamat yang masih kosong—tapi di bagian bawah, di kolom tanda tangan juru sita, sudah ada tanda tangan Darmadi. Sudah ada cap jari pengadilan, sudah ada stempel basah yang jelas ditera lebih dulu daripada isi dokumennya sendiri.
Kuncoro membalik lembar berikutnya. Sama. Lembar ketiga, sama. Ia menghitung dalam hati, jarinya bergerak pelan seperti menghitung uang yang bukan miliknya—delapan, sembilan, sepuluh—lembar demi lembar kosong, bertanda tangan, berstempel, siap diisi kapan saja dengan nama siapa saja, tanggal apa saja, alamat mana saja yang dibutuhkan. Formulir yang seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang benar-benar didatangi, benar-benar diberi tahu, benar-benar diberi kesempatan hadir di persidangannya sendiri—di tangan ini formulir itu sudah selesai sebelum peristiwanya pernah terjadi.
Ia teringat waktu ia dan Sulastri baru pertama menyadari tanda tangan Sumirah di berkas berbeda dari KTP-nya. Waktu itu terasa seperti menemukan satu retak di dinding. Ini bukan retak. Ini pabrik.
Tangannya sedikit gemetar saat ia meraih telepon genggam dari saku. Ia menoleh sekali lagi ke pintu, memastikan tak ada bayangan yang lewat di kaca buram, lalu memotret. Satu jepretan cepat menangkap seluruh tumpukan dengan karet gelangnya masih terpasang, sebagai bukti bahwa memang begitu ia menemukannya, bukan hasil susunannya sendiri. Jepretan kedua, lembar teratas diangkat sedikit, memperlihatkan tanda tangan dan stempel lebih jelas. Jepretan ketiga, ia menghitung dengan menyisir ujung tumpukan menggunakan ibu jari seperti menghitung kartu, memotret ketebalannya dari samping—dua puluh lembar lebih, mungkin lebih dari itu.
Dari lorong, suara langkah. Ia menutup laci dengan gerakan yang ia paksa selambat mungkin agar tak berbunyi, memasukkan telepon ke saku, lalu meraih stapler di atas meja Darmadi seolah memang itu yang ia cari sedari tadi.
"Cari apa, Pak Kun?"
Petugas kebersihan, bukan Darmadi. Kuncoro mengangkat stapler, menunjukkannya seperti barang bukti yang sah. "Punya saya macet."
Petugas itu mengangguk tak acuh, mendorong troli pelnya melewati ruangan, lalu menghilang ke lorong berikutnya. Kuncoro berdiri sebentar di tempatnya, merasakan jantungnya masih berdetak seperti orang yang baru lari, padahal ia sama sekali tak beranjak dari tempat semula.
Ia duduk kembali di mejanya sendiri, meletakkan stapler itu di sisi map cokelat Sumirah yang selalu ia bawa ke mana pun, seolah map itu kini menjadi semacam jangkar bagi dirinya. Ia membuka galeri telepon, memeriksa hasil jepretannya satu per satu. Buram di satu foto, cukup jelas di dua lainnya—jelas cukup untuk memperlihatkan bahwa tanda tangan itu memang tanda tangan Darmadi, bahwa stempelnya memang stempel pengadilan yang sama yang ia sendiri pakai setiap hari, bahwa jarak antara "yang sah" dan "yang direkayasa" ternyata hanya sejauh laci meja tiga langkah dari kursinya.
Ia memikirkan Sulastri, yang kini bertugas di pos jauh karena mutasi Darsana, dan bagaimana caranya mengirim foto ini tanpa meninggalkan jejak yang bisa dilacak balik. Ia memikirkan Gunawan yang menghilang. Ia memikirkan Mahdi yang pernah mengingatkan bahwa lawan punya tangan di dalam pengadilan—dan sekarang tangan itu bukan lagi metafora. Tangan itu duduk tiga meja darinya, minum kopi yang sama, tertawa pada lelucon yang sama di jam istirahat, dan menyimpan di dalam lacinya sebuah alat untuk menghapus hak orang lain untuk didengar sebelum diadili.
Darmadi kembali sepuluh menit kemudian, wajahnya biasa saja, membawa map tipis dari ruang panitera. Ia melempar senyum singkat ke arah Kuncoro sebelum duduk dan membuka laci yang sama—laci yang baru saja tertutup rapat oleh tangan Kuncoro sendiri.
Kuncoro membalas senyum itu, menunduk kembali ke berkasnya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun ia benar-benar merasakan betapa tipisnya jarak antara duduk berdampingan dengan seorang rekan kerja, dan duduk berdampingan dengan seseorang yang tanpa disadarinya sendiri sudah menjadi bagian dari mesin yang sedang ia coba bongkar.