Hujan turun tipis ketika Kuncoro memarkir motornya di seberang warung soto di pinggir Jalan Pasar Lama, tiga ratus meter dari titik yang mereka sepakati. Ia mematikan mesin, lalu duduk diam di atas jok, membiarkan gerimis menempel di bahu jaketnya. Di dalam saku dadanya, sehelai kertas terlipat: alamat sebuah rumah petak di gang sempit, dan sebuah nama yang selama tiga hari terakhir ia ucapkan berulang-ulang dalam hati seperti doa yang ia takut salah lafal — Ningsih.
Sulastri yang menemukannya. Mantan pegawai Notaris Ratna Wulandari, juru ketik yang keluar setahun lalu dengan alasan yang tak pernah jelas. Lewat seorang kenalan di kelurahan, Sulastri berhasil menghubunginya. Dan Ningsih, dengan suara bergetar di telepon, mengaku pernah mengetik ulang tanggal pada beberapa akta. Di-backdate, katanya. Dibuat seolah ditandatangani jauh sebelum tanggal sebenarnya. "Saya tahu itu salah, Pak," ucapnya waktu itu. "Tapi saya butuh kerja."
Pukul empat sore mereka berjanji bertemu. Sekarang pukul empat lewat sepuluh.
Kuncoro turun, menyeberang jalan yang basah, dan masuk ke mulut gang. Bau got dan asap dupa dari sebuah rumah bercampur. Anjing kurus menyalak sekali lalu diam. Ia menghitung pintu — rumah keempat dari ujung, pintu kayu bercat hijau yang catnya sudah mengelupas. Ia mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini dengan buku jari yang lebih rapat. "Bu Ningsih?" Suaranya ia jaga rendah. "Saya Kuncoro. Yang janji ketemu sore ini."
Angin menggeser sehelai daun pisang kering di depan pintu. Dari dalam tak ada langkah kaki, tak ada napas, tak ada apa pun kecuali suara televisi tetangga yang teredam dinding.
Ia menoleh. Di ujung gang, seorang perempuan tua menyapu sambil memperhatikannya. Kuncoro mendekat, menurunkan tudung jaketnya supaya tampak tidak mengancam.
"Permisi, Bu. Bu Ningsih yang tinggal di situ ke mana, ya?"
Perempuan tua itu berhenti menyapu. Matanya menyipit menakar. "Bapak siapa?"
"Kenalan. Mau ambil titipan," Kuncoro berbohong dengan tenang, kebohongan yang sudah menjadi otot setelah dua puluh tahun mengetuk pintu orang.
"Pindah," kata perempuan itu pendek. "Tadi pagi. Subuh-subuh malah. Ada mobil bak datang, barang-barangnya diangkut cepat sekali. Saya kira mau pulang kampung." Ia menggeleng, seolah masih heran sendiri. "Anak saya lihat, katanya ada dua orang laki-laki bantu angkat. Bukan tukang pindahan. Bajunya rapi."
Sesuatu dingin merambat ke tengkuk Kuncoro. "Baju rapi bagaimana, Bu?"
"Ya rapi. Kayak orang kantoran. Satu tinggi, tegap." Perempuan itu mengangkat bahu dan kembali menyapu, tak tertarik menambah cerita. "Bu Ningsih nggak pamit ke siapa-siapa. Padahal biasanya rajin nyapa."
Kuncoro berdiri di gang itu beberapa saat lebih lama daripada yang diperlukan. Tinggi, tegap. Ia tak mau langsung menyebut nama di kepalanya, tapi bayangan Jagur di parkiran pengadilan—senyum tipisnya, tepukan di bahu—muncul tanpa diundang. Ia menarik napas, lalu berjalan kembali ke mulut gang, memaksa langkahnya tetap biasa, tidak tergesa, seolah ia memang cuma kenalan yang gagal mengambil titipan.
Di warung soto, ia memesan teh tawar yang tak diminumnya dan menelepon Sulastri.
"Sudah ketemu, Pak?" Suara Sulastri langsung menyergap, penuh harap.
"Dia pindah." Kuncoro menahan cangkir dengan dua tangan agar tak terlihat gemetar, meski tak ada yang memperhatikan. "Subuh tadi. Diangkut orang."
Hening sejenak di seberang. Lalu, "Diangkut? Maksud Bapak—"
"Aku belum tahu maksudku apa," potong Kuncoro, lebih keras dari yang ia niatkan. Ia menurunkan suara. "Tetangganya bilang ada laki-laki berbaju rapi. Bukan tukang pindahan."
"Astaga." Napas Sulastri terdengar putus. "Pak, saya cuma telepon dia dua kali. Dari telepon kos. Nggak mungkin—"
"Nomor kos itu tercatat di mana, Sulastri?" Kuncoro menutup mata. "Di tagihan. Di daftar. Di mana saja. Kau tak salah. Cuma... mereka lebih cepat."
Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Mereka lebih cepat. Selama ini ia selalu jadi orang yang datang lebih dulu — yang mengetuk pintu sebelum penghuninya siap, yang memasang pita merah-putih sebelum keluarga sempat mengemasi kenangan. Sekarang ada tangan lain yang mengetuk lebih pagi darinya, mengangkut seorang saksi ke dalam mobil bak sebelum ayam berkokok, dan ia tinggal berdiri di gang yang sudah kosong, mencium bau got.
"Kita bisa lapor polisi," kata Sulastri. "Orang hilang. Kita—"
"Lapor apa?" Kuncoro membuka matanya, menatap hujan yang mengaburkan jalan. "Bahwa perempuan yang mau bicara soal akta palsu pindah rumah? Pindah rumah bukan kejahatan. Tak ada berita acara untuk itu. Tak ada nomor perkara." Ia mendengar dirinya sendiri dan hampir tertawa getir. Seluruh hidupnya adalah tumpukan kertas resmi, dan justru kertas-kertas itulah yang kini tak bisa ia pakai untuk menahan satu nyawa agar tidak lenyap.
"Jadi kita diam saja?" Suara Sulastri meninggi, marah bukan padanya. "Dia satu-satunya yang mau mengaku, Pak. Yang tahu tangannya sendiri yang mengetik tanggal palsu itu. Kalau dia hilang—"
"Maka kesaksiannya hilang bersama dia." Kuncoro menyelesaikan kalimat itu untuknya, pelan. "Aku tahu."
Di luar, seorang tukang becak menaikkan terpal, air menetes dari pinggirannya. Kuncoro memandanginya tanpa benar-benar melihat. Ia teringat suara Ningsih di telepon, cara perempuan itu menekankan kalimatnya — saya tahu itu salah, Pak, tapi saya butuh kerja. Kalimat yang bisa jadi diucapkan siapa saja. Kalimat yang bisa jadi ia ucapkan sendiri, seandainya ada yang bertanya kenapa selama dua puluh tahun ia terus memasang pita itu ke pintu-pintu orang.
"Sulastri," katanya akhirnya. "Jangan telepon siapa-siapa lagi dari kos. Jangan dari ponselmu. Mulai sekarang kita anggap setiap nomor yang kita hubungi mereka dengar."
"Baik, Pak." Suaranya lebih kecil sekarang, ketakutan mulai menggantikan amarah.
"Dan simpan salinan yang kita punya di tempat berbeda. Jangan satu tempat."
Ia menutup telepon. Uang teh ia letakkan di bawah cangkir yang penuh. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan sungguhan, dan Jalan Pasar Lama tenggelam dalam kabur kelabu. Kuncoro menyeberang menuju motornya, menyalakan mesin, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun ia merasa bukan sebagai orang yang datang mengetuk — melainkan sebagai orang yang sedang diketuk, dari suatu tempat yang belum bisa ia lihat, oleh tangan yang selalu selangkah di depannya.