Surat keputusan itu tergeletak di meja Sulastri ketika Kuncoro melintas menuju ruang arsip pagi itu, terlipat rapi dengan kop Pengadilan Negeri dan cap merah yang masih basah di sudut kanan bawah. Ia tidak bermaksud membaca, tetapi kalimat pertama sudah cukup jelas terbaca dari jarak dua langkah: perihal pemindahtugasan, efektif awal bulan depan, ke pos di kabupaten seberang gunung, delapan jam perjalanan dari kota.
Sulastri duduk dengan punggung tegak, seperti biasa. Hanya tangannya yang tidak biasa — jemarinya menekan ujung kertas sampai pojoknya melengkung, lalu ia luruskan lagi, seakan lipatan itu bisa disetrika hilang dengan kesabaran.
"Sudah dengar?" tanyanya, tanpa menoleh.
Kuncoro tidak menjawab. Ia menarik kursi di seberang meja, duduk, dan membiarkan diam menjawab untuknya.
Panggilan ke ruang Darsana datang satu jam kemudian, dan kali ini bukan Sulastri yang dipanggil, melainkan dirinya. Ruangan itu masih tersusun rapi seperti biasa — map-map berjajar menurut abjad, foto keluarga di sudut meja, jam dinding yang detiknya terlalu keras untuk ruangan sesempit itu. Darsana tidak menyuruhnya duduk.
"Ini soal distribusi tenaga," kata Darsana, tangannya membolak-balik map tanpa benar-benar membacanya. "Pos itu kekurangan juru sita sejak dua tahun lalu. Sulastri masih muda, masih bisa ditempa di lapangan yang lebih berat."
"Kabupaten itu bukan kekurangan juru sita, Pak. Itu kekurangan orang yang mau ditempatkan di sana."
"Betul. Makanya dia yang dikirim." Darsana akhirnya mengangkat wajah. Ada sesuatu di matanya yang bukan kemenangan, melainkan kelelahan seorang yang tahu dirinya sedang melakukan hal yang tidak ingin ia jelaskan lebih jauh. "Kuncoro, saya cuma mengurus administrasi. Kau yang bikin ini jadi rumit dengan caramu sendiri."
"Cara saya apa, Pak?"
Darsana tidak menjawab. Ia hanya menyorongkan map lain ke tepi meja — isyarat bahwa pembicaraan selesai — dan berkata, hampir seperti nasihat orang tua kepada anak yang keras kepala, "Kau masih punya dua tahun sebelum pensiun. Jangan buat itu jadi susah untuk dirimu sendiri."
Kuncoro keluar dari ruangan itu dengan kepala yang terasa penuh gema. Ia tahu benar apa arti kalimat itu: bukan nasihat, melainkan ancaman yang dibungkus rapi seperti berkas resmi — dan bukan kebetulan bahwa mutasi itu datang seminggu setelah motornya tergores dan bengkel Sumirah dilempari batu.
Ia menemui Sulastri di ruang arsip, tempat mereka biasa menyalin berkas diam-diam di antara rak-rak yang berdebu. Sulastri sudah mulai mengemasi map-map kerjanya sendiri ke dalam kardus, gerakannya cepat dan tanpa suara, seperti orang yang memilih sibuk agar tidak sempat merasa apa-apa.
"Saya sudah dengar dari Bu Sri di kepegawaian," katanya, tanpa menghentikan tangannya. "Efektif tanggal satu. Delapan jam dari sini, Pak. Kalau naik bus malam, mungkin bisa sepuluh."
"Sulastri."
"Saya tahu ini bukan soal distribusi tenaga." Ia berhenti sebentar, menatap map di tangannya seolah map itu yang harus disalahkan. "Saya tahu ini soal memisahkan kita."
Kuncoro tidak membantah. Ia berdiri di ambang rak, tangannya bersandar pada besi yang dingin. "Kalau begitu jangan lawan. Terima saja. Kau masih punya karier panjang, Sulastri. Jangan korbankan itu untuk sesuatu yang bahkan belum tentu bisa kita menangkan."
"Bapak sendiri bilang begitu?" Sulastri menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena marah. "Bapak yang mengajari saya membaca tanggal relaas dengan teliti. Bapak yang menunjukkan tanda tangan Bu Sumirah yang berbeda. Sekarang Bapak menyuruh saya diam saja dan pergi ke seberang gunung seolah tidak terjadi apa-apa?"
"Saya menyuruhmu selamat."
"Selamat dari apa, kalau yang tidak selamat justru orang-orang seperti Bu Sumirah?"
Kuncoro tidak punya jawaban untuk itu, dan keheningan yang mengikuti terasa lebih berat daripada kemarahan. Di luar, suara mesin tik dari ruang panitera berdenting teratur, mengingatkan bahwa dunia di luar rak arsip ini tetap berjalan seperti biasa, tidak peduli siapa dipindahkan ke mana.
Sulastri menutup kardusnya, lalu duduk di atas meja kayu tua di sudut ruangan, meniru posisi yang biasa mereka pakai ketika menyalin berkas malam-malam. "Saya akan berangkat," katanya, lebih tenang sekarang. "Tapi saya tidak akan berhenti, Pak. Saya sudah menyalin semua yang bisa saya salin. Saya kenal orang di kantor pos sana, teman kuliah dulu — kalau ada yang perlu dikirim, saya bisa lewat dia, bukan lewat alamat resmi."
"Itu bisa memecat kariermu kalau ketahuan."
"Karier yang mana, Pak?" Ia tersenyum kecil, getir. "Karier yang menyuruh saya diam sementara berkas dipalsukan di depan mata saya? Saya lebih takut jadi seperti rekan juru sita yang menandatangani relaas kosong itu, daripada takut dimutasi."
Kuncoro menatapnya lama. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri dua puluh tahun lalu, sebelum ia belajar caranya "tidak merasa" — sebelum rutinitas mengajarkannya bahwa diam adalah bentuk lain dari selamat. Ia tidak tahu harus bangga atau cemas melihat versi muda dari keyakinan yang pernah ia miliki, kini justru berhadapan dengan risiko yang lebih nyata daripada yang pernah ia hadapi sendiri.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, suaranya lebih berat dari yang ia kira, "jaga dirimu. Dan jangan kirim apa pun yang bisa dilacak balik ke namamu."
Sulastri mengangguk, dan untuk sesaat mereka hanya duduk di antara rak-rak berdebu itu, dua orang yang tahu bahwa jarak delapan jam tidak akan cukup untuk memutus sesuatu yang sudah telanjur tumbuh — bukan persekutuan resmi, melainkan keyakinan yang sama-sama mereka pertaruhkan, diam-diam, di luar map cokelat dan tanda tangan yang sah.
Tiga hari kemudian, dari jendela kantor, Kuncoro melihat bus antarkota berhenti sebentar di halte seberang pengadilan, mengangkut satu penumpang berkardus, sebelum kembali melaju dan menghilang di tikungan jalan yang menuju ke luar kota — meninggalkan meja kosong di ruang arsip, dan satu kursi yang untuk sementara tidak akan terisi oleh siapa pun yang berani duduk di sana.